Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 70 Deklarasi Cinta


__ADS_3

Miranda hanya menatap ramen di depannya. Teringat kembali akan ucapan Cindy bahwa mitos ramen hanya ada di Korea.


"Tidak kubuat pedas. Aman untuk lambungmu," ujar Renan.


Miranda mulai mengambil sumpit, mencoba telur sebagai topping. Tidak banyak topping yang mengisi ramen itu. Hanya telur, rumput laut dan tteok. Bibir Miranda menyinggung senyum. Masakan Renan tak pernah gagal.


"Kau pasti suka bukan?" tanya Renan.


Miranda hanya mengangguk. Dia makan dengan semangat. "Apa kau buat tteok sendiri?"


"Tidak, itu dalam bentuk frozen. Aku menggunakan yang ada di kulkas. Karena jarang ke sini hingga tak banyak bahan makanan yang tersedia."


Miranda mengambil segelas air dan meneguknya. "Kalau ada kimchi akan tambah nikmat."


"Lain kali kita buat," ucap Renan sembari menyantap ramen-nya.


Miranda menoleh. "Apa kau bisa membuat kimchi?"


"Ya," jawab Renan singkat.


Lagi-lagi Miranda hanya mengulum senyum. Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Menikmati seluruh isi mangkuk hingga tandas, bahkan kuah pun dilahap habis oleh Miranda. “Terima kasih atas makan malamnya. Aku akan secepatnya pergi.”


Miranda berdiri, dia mulai mengambil tasnya yang berada di meja samping tempat tidur. Tak peduli lagi dengan pakaiannya yang kotor, dia akan pergi menggunakan pakaian Renan.


“Apa kau akan pergi begitu saja setelah menyantap ramen bersamaku?” tanya Renan yang sukses menghentikan langkahnya.


“Apa aku harus mencuci mangkuknya?” tanya Miranda menatap Renan.

__ADS_1


Renan berjalan menghampiri Miranda hingga akhirnya mereka saling berhadapan. “Bukankah seharusnya begitu?”


Miranda menaikan alisnya sebelah, dia meletakan kembali tas yang sudah menjadi beban pundaknya. “Baiklah, aku akan mencuci piring dulu.”


Renan menarik lengan Miranda hingga tubuh mereka saling bertubrukan. “Sudah terlalu malam untuk mencuci piring. Kau bisa lakukan esok hari.” Jarak mereka terlalu tipis, Renan bahkan bisa melihat jelas pori-pori kecil Miranda.


“Kalau begitu, kau cuci sendiri karena aku akan pergi sekarang,” timpal Miranda. Dia tak ingin terintimidasi. Miranda menatap Renan tanpa berkedip.


Renan menatap dalam gadis keras kepala di depannya. “Kau sudah memakan ramen bersamaku. Kau tahu apa yang seharusnya kita lakukan selanjutnya.”


“Bukankah kau yang bilang untuk tak saling bertemu?” tantang Miranda dengan bulu mata bergetar.


“Kalau aku bilang … aku menginginkanmu?” tanya Renan parau.


Mata Miranda bergerak, dia menajamkan pendengarannya mencari sebuah keyakinan dari pria di depannya.


Miranda masih terdiam di tempat. “Apa kau ingin memperjuangkanku?” tanya Renan lagi.


Renan hanya bisa menanti jawaban Miranda. Hatinya gusar, benarkah keputusannya ini? Dia terus menatap lekat Miranda hingga akhirnya sang gadis memberikan sedikit anggukan kecil. Renan hanya bisa mengedipkan mata. Dia langsung menarik dagu sang gadis lalu menciumnya.


Miranda yang terkejut tak memberikan rekasi atas ciuman Renan. Namun, perlahan ia tersadar dan mulai membalas ciuman lelaki yang disukainya. Renan menggiring Miranda hingga ke ranjang tanpa melepas tautan bibir mereka. Hingga akhirnya mereka berdua roboh di atas kasur.


Cukup lama mereka saling membelit. Renan melepas tautan bibir dengan dirinya masih berada di atas Miranda. Mereka bersitatap, napas mereka saling berebut. Namun, tak ada kata yang keluar dari keduanya.


Punggung tangannya membelai pipi Miranda. Memandang dari dahi hingga ke dagu dan berakhir ke bibir manis sang artis. Renan mulai mencium Miranda lagi. Tidak hanya di bibir, ciuman itu berpindah ke seluruh wajah sang artis.


Miranda hanya bisa mengatur napasnya saat Renan mulai bertindak sesuka hati. Tangan pria itu menyusup ke dalam kaos yang ia gunakan. Mengelus perut datar sang artis. Ciuman Renan turun ke leher dan terus ke bawah. Tentu memberikan tanda strawberry di sana.

__ADS_1


Dirinya hanya bisa menerima apa yang dilakukan oleh Renan. Sensasi basah ada di ceruk lehernya. Entah bagaimana caranya, dirinya sudah menyentuh punggung polos Renan. Tak sadar kapan sang pria telah melepas kemejanya sendiri. Miranda hanya bisa menatap langit-langit di kamar itu.


Menggigit bibirnya sendiri saat Renan menyentuh bagian kenyal tubuhnya. Klik! Lampu kamar mati, tidak ada cahaya sama sekali di dalam kamar itu. Hanya ada kegelapan di atara mereka.


“Apa keputusanmu sudah bulat untuk bersamaku?” bisik Renan.


“Ya,” jawab Miranda pasti.


“Kau tidak bisa menarik perkataanmu lagi. Kau milikku sekarang, Miranda!”


“Dan kau pun milikku! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Karena aku, tak akan membiarkan itu!” ucap Miranda tegas.


Renan sudah membuat keputusan untuk mereka bersamanya. Karena itu, dia tak akan membiarkan orang lain mengambil Renan darinya. Miranda akan mempertahankan sang pria, apapun rintangan yang ada di depan mata. Dia tak akan segan untuk berkelahi dengan orang yang akan merusak hubungannya dengan Renan. Siapapun orangnya, entah itu pria atau wanita.


“Aku milikmu, aku milikmu,” lirih Renan.


Dia menyembunyikan kepalanya di ceruk sang gadis. Menutupi kesedihan sekaligus kebahagiannya. Bahagia karena dia yakin dirinya telah mencintai Miranda. Sedih karena dia tahu, hubungan mereka belum tentu berjalan mulus. Menyesal, karena dirinya telah melakukan kesalahan di masa lalu.


Miranda menarik kepala Renan, dia menyentuh wajah sang pria. Merasakan basah di pipi Renan, dia tahu pria itu sedang menangis. “Apapun yang ada di depan mata. Kita akan hadapi bersama. Jangan pernah berpikir kau sendiri. Karena ada aku di sampingmu,” jelasnya.


Renan menghela napas, menatap Miranda meskipun tak ada cahaya yang terpancar. Jendela kamar Renan tertutup oleh gorden cukup tebal hingga tak mengizinkan cahaya bulan untuk masuk. “Aku mencintaimu,” lirihnya.


Seketika Miranda menangis mendengar ucapan Renan. Kalimat yang sangat ingin dia dengar. “Aku pun, aku pun mencintaimu,” lirihnya.


Mereka menangis bersama, tak pernah terbayangkan oleh Renan bahwa ada wanita yang menginginkannya. Bukan tak ada cerita seorang gay tak bisa berumah tangga dengan seorang gadis. Namun, dari beberapa kisah yang ia tahu, para pria gay itu menyembunyikan orientasi mereka dari sang istri. Bahkan, masih ada pula menjalani dua kehidupan. Memiliki istri seorang wanita dan memiliki kekasih seorang pria.


Miranda tahu siapa dirinya, dan gadis itu bisa menerima masa lalunya. Dirinya pun tak ingin kembali ke masa lalu kelamnya. Merasakan kebahagian bersama dengan Miranda. Tak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini. Ya, dia benar-benar merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


Dalam kegelapan, sepasang kekasih menangis bersama. Mereka baru saja mendeklarasi hubungan mereka. Bukan tawa bahagia, melainkan tangis kebahagian dari keduanya. Renan mulai mencium kembali Miranda dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.


__ADS_2