Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 2 Melati


__ADS_3

“Sebenarnya, di mana rumahmu?” tanya Krisan.


Dia sudah mengendarai motornya cukup jauh. Namun, Anyelir belum mengatakan alamatnya. Krisan memutuskan membantu Anyelir, dia tak akan tega melihat seorang gadis bunuh diri.


“Jalan saja, aku tunjukan jika sudah sampai,” imbuh Anyelir.


“Di depan ada pertigaan. Kita ke mana? Kanan, kiri atau lurus?”


“Lurus,” jawab Anyelir singkat.


Malam yang gelap, jalanan yang sepi. Samping kanan dan kiri terdapat pepohonan. Mereka melewati sebuah pemakaman. Wangi bunga melati menyerbak. Krisan tak berani menoleh pada kanan dan kiri, pandangannya lurus ke depan. Entah di mana pohon melati tersebut. Baunya sangat kuat menusuk hidung.


“Hei, apa benar ini jalan menuju rumahmu?” tanya Krisan kesulitan menelan salivanya sendiri.


“Ya,” lirih Anyelir.


Krisan ingin mempercepat laju kendaraanya. Namun, motor bututnya tak bisa diajak bekerja sama. Beruntung masih bisa dinyalakan, yang sebelumnya mogok.


“Oh ya, kita belum berkenalan. Siapa namamu?”


“Anyelir,” jawab Anyelir singkat.


Krisan mencoba menaikan kecepatan. Namun, motornya tetap berjalan dengan lambat. Ingin sekali dia keluar dari area pemakaman tersebut.


“Kau tidak menanyakan namaku?” tanya Krisan.


“Aku sudah tahu namamu.”


“Aku rasa, aku belum memberitahu namaku.”


“Ya, kau memang belum memberitahu namamu. Tapi aku sudah tahu.”


Bulu kuduk Krisan berdiri, tiba-tiba dia merinding. Wangi bunga melati menusuk hidung. Meskipun, jalanan tidak gelap. Namun, karena masih daerah pemakaman, suasana horor tetap terasa.


“Apa kau menggunakan parfum bunga melati?”


“Tidak! Aku menggunakan parfum bunga anyelir. Sama seperti namaku.”


Alis Krisan menaut, jelas dia mencium bunga melati, sedikit menoleh. Dia melihat kepulan asap di dalam area pemakaman. Seketika, Krisan mengalihkan pandangannya lagi lurus ke depan.


Dia ingin melirik Anyelir yang duduk di belakang melalui kaca spion. Namun, sayang motor bututnya tak memiliki spion. Hingga akhirnya, pundaknya ada yang menepuk.


“Jangan ganggu aku! Jangan ganggu aku! Pergilah!” ujar Krisan tanpa menoleh ke belakang. Cengkraman tangannya sangat kuat pada hand grip. Dia semakin memaksa mempercepat kecepatan laju motornya. Hingga, akhirnya dia kehilangan keseimbangan.


“Argh!” teriak Krisan dan Anyelir bersamaan.


Bruk!


Motor Krisan terjatuh. Mereka berpelukan dengan aspal untuk kedua kali. Beruntung motor Krisan tak bisa melaju cepat hingga mereka jatuh tidak dengan kecepatan tinggi.


“Auw!” pekik Anyelir. Dia merasakan sakit di kakinya.


Tidak hanya Anyelir, Krisan pun tak kalah sakit.


“Kenapa bawa motornya kaya orang mabok?” tanya Anyelir dengan emosi.


Krisan memijat sikunya yang tergores aspal. Sambil meringis dia mulai membuka suara. “Aku pikir kamu berubah menjadi k*ntilanak!”


Anyelir melebarkan mata saat mendengar Krisan menganggapnya sebagai hantu. “Sembarang! Mana ada hantu mau bunuh diri!” hardiknya.

__ADS_1


“Abis, dari tadi jawabnya singkat banget. Terus nggak ada semangatnya. Mana bau melati lagi!” dengus Krisan.


“Bukan melati! Ini parfum bunga anyelir!” tandas Anyelir.


Krisan mendecak. Dia berdiri, menarik stang motor. “Sudah, ayo kita jalan lagi!”


Anyelir menepuk-nepuk tangannya yang kotor, dengan cemberut naik ke atas motor krisan.


Sang pria menyalakan mesin, dan melajukan kendaraannya lagi.


“Hi … hi … hi ….”


“Nggak usah ketawa deh!” dengus Krisan.


“Siapa yang ketawa sih!” elak Anyelir.


“Jelas kamu tadi ketawa!” seru Krisan, sedikit menoleh pada Anyelir.


“Aku nggak bilang apa-apa! Apalagi ketawa!” sanggah Anyelir.


“Hi … hi … hi ….”


Grep!


Anyelir memeluk tubuh Krisan, sekarang dia mendengar suara tertawa seorang wanita. “Lebih cepat bawa motornya!” hardik Anyelir dengan terbata.


Krisan langung gas motornya agar kendaraan lebih cepat melaju. Dia pun mendengar suara tertawa untuk kedua kali. Hati mereka berdegup kencang, tidak lama lagi mereka menjauh dari area pemakaman.


Mereka bisa bernapas dengan lega saat sudah memasuki jalan raya. Meskipun, sudah larut. Namun, masih banyak kendaraan berlalu lalang di tengah kota.


“Kita lewat mana?” tanya Krisan.


“Dari tadi terus saja, sebenarnya di mana rumahmu?” kesal Krisan.


Anyelir menggigit bibirnya. “Jalan kenanga No 9,” jelasnya.


Krisan menuju alamat yang diberikan oleh Anyelir.  Setelah dua puluh menit, mereka tiba di rumah mewah. “Apa ini rumahmu?” tanyanya melebarkan mata.


“Dulu,” jawab Anyelir singkat.


“Dulu?”


“Ya.”


“Rumah yang sekarang di mana?” tanya Krisan. Dia melihat papan keterangan sita di rumah tersebut. Anyelir hanya menggelengkan kepala.


Krisan menghembuskan napasnya. “Oke, ini dulu rumahmu. Kemarin kau tinggal di mana?”


“Di sini.”


“Maksudmu, mulai hari ini bukan rumahmu?”


“Ya,” ucap Anyelir menunduk.


“Apa kau punya tempat untuk tinggal?”


Anyelir hanya menggeleng.


“Orang tuamu? Saudaramu?”

__ADS_1


Anyelir hanya menggeleng lagi.


“Apa rencanamu?”


“Rencanaku sudah digagalkan olehmu,” jawab Anyelir, mengingat dirinya gagal untuk bunuh diri.


Krisan hanya menghembuskan napasnya. “Untuk sementara, kau bisa tinggal bersamaku. Apa kau mau?”


Anyelir memicingkan matanya. Menelisik Krisan dari atas hingga bawah. Seolah menilai pria di depannya dapat dipercaya atau tidak.


“Aku tidak punya uang jika menyewakan mu tempat tinggal. Namun, jika kau ingin sementara tinggal di tempatku. Aku mengizinkan, rumahku ada dua kamar. Kau bisa gunakan sementara.”


“Apa kau bisa dipercaya?”


“Kalau aku orang jahat, aku sudah membiarkanmu melompat dari jembatan,” timpal Krisan.


“Aku mau,” ujar Anyelir.


Krisan yang saat ini melihat Anyelir. “Apa kau tidak punya barang yang dibawa? Seperti pakaian atau barang penting untukmu?”


“Tunggu sebentar.”


Anyelir pergi ke samping rumahnya, mengambil tas ransel cukup besar. “Hanya ini yang aku punya.”


Ya, dia tak memiliki barang apapun, semua aset yang ada di dalam rumahnya menjadi barang sitaan. Hanya keperluan pribadinya yang masih bisa ia miliki.


“Ayo kita pergi,” ujar Krisan.


Krisan hanya fokus berkendara, tetapi pikirannya berkelana. Memikirkan apakah tindakannya benar dengan membawa seorang gadis yang tak dikenal ke rumahnya.


Hampir satu jam mereka baru tiba di rumah kontrakan Krisan. Anyelir melihat rumah sederhana. Dia mengerutkan dahinya, tak pernah sekalipun hidup miskin, dan saat ini dia harus menerima kebaikan orang yang menolongnya meskipun, bukan hal yang mewah.


“Ini rumahku. Ayo masuk,” ajak Krisan.


“Ya,” jawab Anyelir. Dia mengikuti Krisan yang masuk ke dalam rumah.


Mata Anyelir mengedar, sangat berbeda dengan rumah yang selama ini dia tinggali. Krisan menunjukan sebuah kamar.


“Ini kamarku. Sementara, kau bisa tinggal di kamarku,” ujar Krisan.


“Bukankah kau bilang ada dua kamar?”


“Ya, benar. Namun, selama ini, kamar ini kujadikan gudang. Besok, aku rapihkan dulu. Sementara, aku akan tidur di ruang tamu.”


“Baiklah.”


Krisan mengerutkan dahi, selama perjalanan mereka ke rumah. Tak ada ucapan terima kasih dari gadis itu.


“Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di luar.”


“Di mana kamar mandinya?”


“Oh, ada di sana. Samping dapur.”


“Aku mau mandi dulu.”


Anyelir masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi sempit, hanya ada wc jongkok dan bak air dengan satu keran. Dia keluar lagi dari kamar mandi dan menghampiri Krisan.


“Ada apa?” tanya Krisan.

__ADS_1


“Apa tidak ada shower dan air hangat?”


__ADS_2