
“Perusahaan mana yang akan kita ajak kerja sama?” tanya Sean, salah satu direksi Dekashi.
“Tentu bekerja sama dengan GLK,” jawab Lukas.
“Aku lebih suka bekerja sama dengan AYL, aku rasa lebih menguntungkan jika kita kerja sama dengan perusahaan itu,” timpal Sean.
Dari presentasi yang dipimpin oleh Krisan. Lukas pun bisa melihat bahwa perusahaan itu menjanjikan. Namun, dia pun tak ingin mengecewakan Anyelir. Terlebih lagi, presentasi yang disuguhi Anyelir pun hanya dibawah Krisan sedikit.
“GLK juga cukup bagus. AYL hanya perusahaan baru yang masih berkembang,” ujar Lukas.
“Jangan membawa perasaan pribadi dalam pekerjaan. Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Terserah kau mau berbuat apa. Namun, aku akan campur tangan jika itu menyangkut perusahaan,” ucap Sean tegas.
Lukas hanya menghembuskan napasnya pelan. Bekerja sama dengan GLK membuatnya akan sering bertemu dengan Anyelir. Wanita itu tak mudah ditaklukkan, dia merasa tertantang untuk mendekati wanita tersebut.
Dari hasil rapat direksi, mereka semua setuju untuk bekerja sama dengan AYL. Namun, sifat ketidak profesionalitasnya hadir saat bertemu dengan Anyelir.
*
*
*
“Hari ini aku akan bertemu dengan Lukas. Sepertinya, dia setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kita,” ujar Anyelir.
“Dekashi?” tanya Renan.
“Ya,” jawab Anyelir singkat.
“Kita pergi bersama.”
“Jangan. Aku bisa sendiri.”
“Aku tahu Lukas seperti apa! Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri.”
“Percayalah padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan buktikan bahwa aku bisa menjalankan perusahaan,” ucap Anyelir mengedipkan matanya.
“Selalu aktifkan ponselmu,” ujar Renan. “Aku yang akan menghadapi demo di pabrik. Hal seperti ini jangan sampai terdengar keluar. Perusahaan lain yang akan bekerja sama dengan kita akan menilai performa kita buruk.”
“Ya, deal! Seperti itu saja. Anggap saja aku marketing yang menarik perusahaan lain untuk bekerja sama dan kau yang mengurus segala operasionalnya.”
“Oke. Aku pergi dulu. Jangan pernah bertemu di tempat yang dia tentukan. Kau yang harus menentukan tempatnya.”
Anyelir hanya mengerutkan dahinya. “Dia terlihat baik.”
“Aku tahu Lukas, Fransisca!”
“Oke. Aku patuhi semua ucapanmu."
***
__ADS_1
Anyelir hanya mengeratkan genggaman tangannya setelah tiba di kantor. Dia sudah menerima hasil dari Dekashi Corporation bahwa perusahaannya gagal bekerja sama dengan Dekashi.
Ponselnya berdering, melihat sekilas yang menghubunginya. “Hallo,” ujar Anyelir menetralkan nada bicaranya.
“Maafkan aku. Keputusan tidak sepenuhnya di tanganku,” ujar Lukas.
“Tidak masalah,” ucapnya. “Siapa yang berhasil bekerja sama dengan perusahaanmu?”
“PT AYL,” ucap Lukas.
“AYL?”
“Ya, semua sepakat bekerja sama dengan perusahaan itu.”
“Oke.” Anyelir hanya menahan emosinya. Dia sudah tahu bahwa perusahaan itu milik mantan suaminya.
“Bisa kita makan siang bersama hari ini? Aku usahakan agar perusahaan kita bisa bekerja sama,” bujuk Lukas.
“Sepertinya tidak bisa. Masih ada yang harus aku kerjakan,” tolak Anyelir.
Dia tidak akan merendahkan dirinya untuk menjalin kerja sama atas dasar koneksi. Dia ingin diakui atas kemampuan dirinya. Karena sudah tak bisa bekerja sama, Anyelir memilih untuk menghindar dari Lukas. Dia akan mencoba peruntungannya pada perusahaan lainnya.
Pertemuannya dengan Lukas sebelumnya, bukan untuk menggoda Lukas. Selain mereka ternyata saling kenal sebelumnya, bisa dibilang membahas masa lalu. Pertemuan itu dimanfaatkan Anyelir untuk meyakinkan bahwa perusahaannya pantas untuk diajak kerja sama. Jika memang performanya kurang, dia akan berlapang dada menerima hasilnya.
*
*
*
Krisan langsung menuju ke Dekashi untuk menjalin kerja sama. Tidak hanya Lukas yang hadir. Sean pun ikut hadir. AYL akan menyediakan furniture untuk hotel di bawah naungan Dekashi. Tidak ada bahasan selain tentang bisnis.
Hari terus berlanjut. Anyelir dan Krisan tak bertemu selama beberapa hari ini. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Namun, Krisan masih mencari tahu tentang Anyelir. Dirinya bahkan belum menemukan tempat tinggal Anyelir yang terbaru.
“Apa sudah menemukan alamat Anyelir?” tanya Krisan.
“Ada sebuah rumah atas nama istri Anda. Namun, dari penyelidikanku, dia tak tinggal di sana,” jawab Albert. Dia melihat wajah Krisan yang kecewa. “Tapi, aku mendapatkan nomor ponsel pribadinya,” tambahnya.
“Berikan padaku,” pinta Krisan.
Krisan menerima nomor ponsel Anyelir dari Albert. Anyelir cukup tertutup untuk data pribadinya. Sangat terbatas orang-orang yang memiliki nomor ponselnya. Aryo bahkan sudah meminta nomor telepon Anyelir melalui Vinnie. Namun, gadis itu tak memberikan.
Krisan melihat photo profil Anyelir di aplikasi messenger berwarna hijau. Tampak photo close up istrinya yang sangat menawan. Riasan bold yang membuatnya menjadi lebih tegas. Sangat berbeda dengan istrinya dahulu.
“Aku akan membawamu kembali,” gumam Krisan.
***
Dalam beberapa hari ini, Lukas selalu meminta janji temu dengan Anyelir. Namun, selama itu juga dia menolak. Bukan karena mereka menjadi musuh karena telah gagal bekerja sama. Namun, Anyelir memang sedang sibuk mencari perusahaan baru untuk bekerja sama dengannya.
__ADS_1
Dia tak mungkin meminta bantuan Renan yang sudah disibukan dengan segala macam urusan operasional. Tidak mungkin juga meminta bantuan pamannya Petra. Dia ingin menunjukan dirinya mampu membangun perusahaan.
“Vinnie, apa pimpinan PT Galazy bersedia bertemu?” tanya Anyelir.
“Ya Nona. Mereka tak ingin bertemu di kantor. Mereka ingin bertemu di restoran. Namun, mereka meminta bertemu after work.”
“Kalau begitu, booking tempat untuk malam ini.”
“Baik Nona.”
Anyelir datang ke restoran yang sudah ditentukan. Dia bertemu dengan pimpinan PT Galazy. “Maaf menunggu lama Tuan Andy,” ucap Anyelir.
“Aku baru saja tiba. Tak usah meminta maaf,” jelas Andy dengan tatapan tak lepas dari Anyelir.
Anyelir tersenyum. “Vinnie, berikan berkasnya.”
Vinnie memberikan berkas pada Anyelir. Dia duduk di samping bos-nya. “Ini berkas yang ….”
“Bisakah kita membicarakan hanya berdua saja,” potong Andy. “Aku tidak terbiasa ada pihak lain.”
Anyelir sedikit menyunggingkan sudut bibirnya. Dia meminta Vinnie keluar dari ruangan. Tidak hanya Vinnie. Yudha, asisten Andy pun ikut keluar dari private room.
Anyelir mulai menerangkan maksud dan tujuan dirinya. Dia menjelaskan segala bentuk keuntungan jika bekerja sama. Selama itu juga, Andy hanya menjadi pendengar yang baik.
“Apa cukup jelas penjelasanku?” tanya Anyelir.
“Kita bisa bekerja sama,” ucap Andy.
Seketika Anyelir mengembangkan senyum. “Kalau begitu, secepatnya kita buat perjanjian kerja sama.”
“Sebelum membuat perjanjian. Sebaiknya kita bicarakan lebih lanjut.”
“Tentu. Kita bisa atur jadwal untuk membahas kerja sama. Akan lebih nyaman jika kita membahas di kantor saja. Mau di kantormu atau di kantorku?”
“Membahas kerja sama di kantor sangat membosankan. Bagaimana jika kita membicarakan di hotel saja?”
Anyelir mengerutkan dahinya. Bukan tak tahu maksud dari Andy. Namun, dia mencoba untuk berpikiran positif. “Kalau begitu, aku akan menyiapkan meeting room di salah satu hotel.”
“Kita bahas di kamar hotel. Bukan di meeting room,” ujar Andy mengulas senyum.
Anyelir langsung berdiri. “Sepertinya, kerja sama kita tak bisa dilanjutkan. Aku tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda!”
“Hei, jangan munafik. Perusahaanmu bukan perusahaan besar. Kau tidak terlihat seperti orang suci. Terlebih lagi, aku sudah banyak melihat wanita sepertimu,” ucap Andy tersenyum lebar. “Lebih baik, kita percepat kerja sama kita. Aku yakin, kita akan saling menguntungkan.”
“Melihat wanita sepertiku?” tanya Anyelir tersenyum sinis. “Kalau begitu, kali ini matamu bermasalah. Karena kau tak bisa melihat perbedaan setiap wanita! Dan satu lagi, aku bukan wanita jallang yang mudah menyerahkan diri hanya untuk bekerja sama!” ucap Anyelir tegas.
Dia keluar dari ruangan tersebut. Apa salah dengan penampilannya? Apakah dia tampak seperti wanita penggoda? Tidak bisakah wanita berekspresi sesuai dengan keinginannya?
Dia merasa tidak menggunakan pakaian terbuka. Dia hanya menggunakan riasan di wajah. Namun, tetap saja kerap kali dirinya dianggap sebagai wanita penggoda.
__ADS_1
Anyelir keluar dari ruangan, sudah ada Vinnie yang menunggunya. “Bagaimana hasilnya Nona?”
“Gagal!”