
Hari berganti, Anyelir pun seperti biasa akan menghabiskan waktu untuk bekerja. Masih pukul 11, Anyelir baru saja selesai bertemu klien. "Kau kembalilah ke kantor. Aku masih ada urusan," titah Anyelir pada Vinnie.
Anyelir mengemudikan kendaraannya menuju tempat yang dulu sering dia sambangi. Menatap gedung sang suami mendirikan perusahaan. Bukan ke gedung perusahaan AYL, dia datang ke KRS. Anyelir masuk ke dalam basement dan menuju lift khusus, dia mencoba peruntungannya dengan langsung masuk ke dalam lift khusus tanpa mampir ke lobby dan bertemu resepsionis untuk meminta kartu visitor.
Sebelum masuk ke dalam lift, dia akan melewati pintu pembatas dan memasukan kode khusus, Anyelir menekan kode tersebut. Klik, pintu pembatas terbuka, dia tersenyum lembut. Krisan tak mengubah kode tersebut. Lift khusus memang sengaja dibuat oleh Krisan untuk jalur pribadinya.
Pintu lift terbuka, dia melihat meja sekretaris di luar ruangan suaminya. Anyelir menyapa Maryam sang sekretaris. "Apa Kris ada di tempat?" tanya Anyelir.
Maryam tampak mengerutkan dahi, dia melihat wanita cantik di depannya, meskipun sebagian wajah wanita di depannya tertutup kaca mata hitam. Dia yakin, wanita itu sangat cantik dan tak asing. Namun, Maryam tidak mengenal wanita tersebut.
Anyelir mengulas senyum, dia masih sangat mengingat sekretaris suaminya. Tak banyak berubah dari Maryam. Seorang sekretaris dengan tubuh yang berisi. Bukan tipe sekretaris yang selalu tampil modis. Maryam adalah sekretaris yang tak terlalu mementingkan penampilan. Namun, dia sangat profesional dalam bekerja.
"Maryam, apa Kris ada di ruangannya?" tanya Anyelir lagi.
"Oh maaf saya melamun. Apa Anda mengenal saya?" tanya Maryam karena wanita di depannya mengetahui namanya.
Anyelir membuka kaca matanya. "Apa Kris ada?"
Maryam langsung membuka mulutnya dengan lebar, matanya membulat. "Nyonya!" serunya.
"Kau masih mengingatku?" tanya Anyelir tersenyum.
"Tentu," jawab Maryam antusias. "Aku merindukanmu, Nyonya." Dia menelisik Anyelir dari atas hingga bawah. "Anda sangat berbeda. Menjadi sangat ... luar biasa," puji Maryam. Dia ingin mengatakan nyonyanya sangat menggoda. Namun, dia urungkan.
Anyelir hanya tersenyum. "Apa aku boleh masuk ke ruangannya?"
"Tentu, Tapi Tuan sedang ada di ruang pertemuan di lantai 23. Apa Nyonya mau aku antar?"
__ADS_1
"Apa sedang meeting?"
"Tidak, hanya sedang ada wawancara offline untuk produk baru. Apa mau di antar?"
"Boleh. Tapi aku mau mampir ke ruangannya dulu," ujar Anyelir mengangkat barang yang sedari tadi dia bawa.
Maryam hanya tersenyum. "Silakan Nyonya. Jika sudah selesai, saya antar ke ruang wawancara."
Anyelir masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Tak banyak berubah dari ruangan tersebut. Anyelir menuju meja sang suami. Dia meletakkan hasil ikebana yang telah dibuatnya. Ya, semalam tak bisa tidur dan membuat rangkaian bunga seni jepang Ikebana. Bunga Krisan dan bunga Anyelir menjadi satu dalam satu pot.
Dia meletakan bunga tersebut di atas meja lalu tersenyum. Matanya tak sengaja menatap bingkai photo di meja sang suami. Photo pernikahan mereka, tampak dirinya begitu sangat belia. Ya, dia menikah diusia yang sangat muda. Anyelir keluar ruangan dan menemui Maryam. Tampak sang sekretaris begitu serius dalam bekerja.
"Maryam."
"Nyonya. Ayo saya antar."
"Tidak perlu, kau lanjutkan saja pekerjaannya. Aku bisa sendiri." Anyelir tak mau mengganggu Maryam.
"Iya, aku bisa sendiri."
Anyelir masuk ke dalam lift khusus, dia sampai di lantai 23. Dirinya mampir ke toilet terlebih dahulu. Mencuci tangannya di wastafel. Ada dua karyawan wanita yang juga sedang merapihkan riasan. Anyelir masuk ke dalam bilik toilet.
"Presdir sangat cocok dengan model itu. Apa jangan-jangan mereka sebenarnya kekasih? Sudah dua tahun tidak mengganti brand ambassador," ujar seorang wanita berbaju kuning. "Selalu Miranda yang menjadi modelnya."
"Bukankah Presdir sudah memiliki istri?"
"Data karyawan sih begitu, sudah tiga tahun aku bekerja di sini. Tapi tak pernah melihat istrinya. Tanya ke karyawan yang telah lama juga tak pernah ada sang istri. Kalau ada istrinya, setidaknya di acara ulang tahun perusahaan datang."
__ADS_1
"Apa jangan-jangan hanya rumor agar tak ada yang menggoda presdir?"
"Entahlah, apa sebenarnya Miranda adalah istrinya? Hanya dia model yang dekat dengan presdir. Meskipun Miranda yang menjadi brand ambassador, tapi masih ada beberapa model lain yang terikat bukan? Apalagi, pernikahan diam-diam lagi marak di kalangan artis. Siapa tahu agar karir Miranda tak meredup, dia menutupi pernikahannya dengan presdir. Dia 'kan artis yang lagi naik daun."
"Jangan buat gossip! Meskipun, dari bicara Miranda menyiratkan dirinya memiliki hubungan dengan presdir, kita tak tahu kebenarannya."
Anyelir hanya terdiam mendengar dua gadis yang sedang membicarakan suaminya. Dia memang tak pernah ditunjukan oleh Krisan ke muka umum. Tak aneh jika tak ada yang mengenal sosok dirinya yang merupakan seorang istri Krisan. Hanya beberapa karyawan yang mengenal Anyelir.
Anyelir keluar dari toilet dan menuju ruang pertemuan yang telah disulap menjadi ruang wawancara. Dia masuk dengan langkah pelan, tak ingin mengganggu acara wawancara.
"Tentu saya sangat senang telah menjadi brand ambassador untuk kedua kalinya," terang Miranda yang duduk di samping Krisan.
Anyelir melihat kecantikan artis tersebut. Sang suami tak melihatnya karena Anyelir berada di sudut ruangan. Sebuah wawancara offline untuk majalah bisnis. Tidak ada kamera yang merekam, hanya suara sang narasumber yang terekam. Bukan konferensi pers untuk launching produk terbaru. Hanya sebatas wawancara sebagai bocoran akan diluncurkan produk terbaru. Majalah tersebut, mendapat hak prioritas dari Krisan hingga bisa mewawancarainya.
"Boleh kami mengambil photo kalian berdua?" pinta sang jurnalis. Dia membutuhkan photo untuk kepentingan majalah mereka.
"Tentu," jawab Krisan.
Krisan dan Miranda berdiri menuju background yang sudah terpasang di salah satu sudut. Mereka berdiri berdampingan. Krisan berdiri tegap, sedangkan Miranda berdiri sedikit dibelakang Krisan dengan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan sang presdir. Tangan kanan Miranda terulur, menyentuh pundak kanan Krisan. Tatapannya lurus ke depan.
Sang fotografer tersenyum. Miranda punya banyak pengalaman di dunia entertainment. Tidak sulit baginya bergaya di depan kamera. "Oke, begitu bagus."
Krisan sedikit tak nyaman. Namun, Miranda hanya menyentuh pundaknya dan tak berlebihan. Dia membiarkan hal itu, Tatapan mereka ke depan. Satu buah photo terlihat sempurna. Acara wawancara telah usai.
Aryo masuk ke dalam ruangan, dia terkejut melihat Anyelir yang berdiri di sudut pintu. "Nyonya."
"Aku hanya mampir. Aku pergi dulu," ujar Anyelir. Dia melirik pada suaminya. Kebetulan, Krisan menoleh padanya, pandangan mereka bertemu. Tidak ada ekspresi di wajah Anyelir. Setelah itu dia melangkah pergi.
__ADS_1
Suara Aryo mengalihkan pandangan Krisan. Terlebih setelah itu mendengar suara orang yang dicintainya. Dia melihat Anyelir yang sedang berbicara dengan asistennya. Mencoba mengejar sang istri yang tampak sinis.
"Tuan, bisa photo sekali lagi?" pinta sang photografer menghentikan langkah Krisan yang ingin mengejar istrinya.