
“Jangan mendekat!” hardik Anyelir.
Dua orang berjas tak mempedulikan teriakan Anyelir, mereka bersiap meringkus Anyelir. Dia hanya mengangkat sling bag yang dipakai untuk menghalau para bawahan Andy.
Seorang pria berjas hitam menarik lengan Anyelir dengan kasar. Anyelir menggunakan high heels setinggi 18 cm. Tarikan paksa dari pria berjas hitam itu membuat dirinya tak stabil hingga membuat kakinya terkilir. Dia hanya menahan sakit di kakinya, tak ada waktu untuk hanya untuk sekadar meringis kesakitan.
“Jangan pernah menyentuhnya!” ujar Krisan dingin.
Suara serak dan dingin terdengar di telinga Yudha dan dua bawahannya. Begitu pula dengan Anyelir yang mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara yang selalu enak didengar di telinganya. Namun, suara itu juga yang telah menyakitinya.
Wajah Krisan begitu tenang. Namun, terdapat kemarahan di dalamnya, tatapan matanya tajam. Siapa yang berani bersikap kasar pada wanitanya? Dia selalu memperlakukan Anyelir bagai kaca yang rapuh. Jauh sebelum dirinya sukses, dia bahkan tak membiarkan Anyelir hanya sekadar membersihkan rumah.
Krisan rela jika dirinya harus bekerja keras untuk Permaisurinya. Bahkan dia rela mati untuk sang kekasih. Geram saat bertemu dengan Vinnie di tengah jalan. Gadis itu menceritakan apa yang terjadi pada Anyelir. Membuat Krisan tak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Dia menatap tajam orang orang yang telah mencengkram erat sang kekasih.
Dua orang berjas hitam menoleh kebelakang, begitu pula dengan Yudha. Mereka melihat seorang pria datang menghampiri mereka. Krisan berjalan dengan tenang. Tetapi sukses membuat dua orang bawahan Andy bergidik. Tanpa sadar, melepas cengkeramannya pada Anyelir.
“Tuan Krisan,” ujar Yudha yang mencoba bersikap tenang. Dia tahu, perusahaan Krisan jauh di bawah perusahaan bos-nya. Hingga membuatnya tak gentar berhadapan dengan Krisan.
Krisan terus melangkah, tatapannya hanya tertuju pada sang istri. Anyelir pun tahu, di wajah Krisan terdapat kemarahan. Memang Krisan selalu memperlakukannya dengan baik. Namun, Krisan akan marah jika dia melanggar aturannya. Aturan untuk berdekatan dengan laki-laki.
Sapaan Yudha tak dipedulikan Krisan. Dia sudah habis kesabaran menghadapi istrinya. Melihat Anyelir berdansa dengan Lukas sudah membuat dirinya terbakar cemburu. Namun, pada saat itu, dia masih mencoba menahan diri.
Saat ini, dia melihat Anyelir diganggu oleh pria lain. Membuatnya ingin menyembunyikan Anyelir seperti dahulu.
“Sudah kubilang untuk tidak menggunakan sepatu yang terlalu tinggi,” ujar Krisan setelah berhadapan dengan istrinya. Dia menarik pinggang Anyelir agar mendekat, setelah menelisik pakaian yang digunakan sang istri. Memang tak terbuka, tetapi cukup ketat digunakan oleh Anyelir. Apa dia tak merasa sesak menggunakan pakaian ketat seperti itu? “Nanti kakimu bisa sakit,” tambahnya.
Anyelir hanya menatap suaminya, jarak mereka yang terlalu dekat membuat Anyelir leluasa memandang suaminya. Rambut gondrong sang suami yang masih sebatas di atas pundak, dikuncir sangat rapih ke belakang. Suaminya tak pernah mengganti tatanan rambutnya. Dia tetap mempertahankan gaya rambut gondrongnya. Hanya saja, jika ada pertemuan atau acara resmi lainnya, terkadang Krisan akan menguncir rambutnya.
Anyelir mengedipkan matanya sekali. Tatapan mata Krisan tak bisa membohonginya. Dulu, Krisan sempat marah padanya saat pergi ke kampus dengan menggunakan rok selutut. Bukan tak suka istrinya terlihat feminim. Namun, karena dia tak suka jika pria lain melihat istrinya meskipun itu hanya betis sang istri.
“Bisa Anda menyingkir Tuan. Ini tak ada urusannya denganmu,” ucap Yudha.
Krisan menoleh setelah mendengar seseorang bersuara. Dirinya terlalu fokus pada sang istri sehingga lupa akan keberadaan orang lain.
“Kau pergilah! Dia tak akan ikut dengan kalian,” ucap Krisan.
“Aku masih memandang dirimu yang pernah bekerja sama dengan Tuan Andy. Namun, jangan campuri urusan kami. Kau tahu, Tuan kami tak akan tinggal diam jika kau mencampuri urusan pribadinya,” terang Yudha. Dia menoleh pada dua bawahannya. “Bawa Nona Fransisca.”
Krisan hanya menatap dua orang berjas hitam tersebut. Langkah kaki dua orang tersebut terhenti bagaikan terintimidasi hanya lewat dari sebuah tatapan.
“Itu mereka!” seru Vinnie.
Dia sedang berada di dalam mobil polisi. Setelah bertemu dengan Krisan di tengah jalan. Vinnie menghampiri seorang petugas polisi. Dia pun sudah menelpon kantor polisi sebelumnya.
Dua orang polisi turun dari mobil, begitu pula dengan Vinnie. Dia langsung menghampiri bos-nya. “Nona.”
“Bisa kalian semua ikut ke kantor polisi?”
Sang polisi memandang orang-orang yang ada di sana. Tidak ada baku hantam. Namun, jelas sekali suasananya mencekam. Dia tahu, situasi yang sedang dihadapi bukanlah suatu pertikaian geng jalanan. Sang polisi sadar, dia sedang berhadapan lebih besar dari sekelompok preman pasar.
Bisa dilihat dari pakaian yang digunakan. Para pria berjas hitam, dan hanya Krisan yang menggunakan jas abu-abu gelap. Kualitas dari jas pun terlihat berbeda tanpa harus menyentuhnya.
Yudha tersenyum. “Apa kau tak tahu siapa diriku? Aku adalah orang dari Tuan Andy Ignisus. Apa kau yakin ingin membawaku ke kantor polisi? Tanyakan terlebih dahulu pada Prambudi sebelum kau menangkapku!” tantang Yudha. Prambudi adalah polisi dengan jabatan cukup tinggi dan dialah yang selalu membantu urusan Andy.
“Aku tidak tahu siapa dirimu. Namun, kau sudah membuat seseorang tidak nyaman. Jadi, lebih baik ikut semua ke kantor polisi,” ujar Dermawan. Seorang polisi yang sedari tadi berbicara.
“Kalau begitu, kita ke kantor polisi. Kita lihat, siapa yang akan menyesal kemudian,” ujar Yudha tersenyum smirk.
Mereka semua ke pergi ke kantor polisi terdekat. Anyelir menceritakan semua yang terjadi. Begitu pula dengan Vinnie. Sedangkan Krisan bermain dengan ponselnya selama Vinnie dan Anyelir melakukan sesi tanya jawab.
Yudha hanya sedikit berkilah dengan mengatakan dirinya bukan menculik, melainkan mengundang untuk menghadiri jamuan. Yudha cukup tenang menjawab semua pertanyaan sang polisi karena dia yakin semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Anyelir dan Vinnie diperbolehkan pulang. Namun, tidak dengan Yudha dan dua orang anak buahnya. Yudha cukup terkejut bahwa dirinya tak dibiarkan bebas. Dia sudah membawa nama Prambudi untuk permasalahannya. Tidak biasanya hal seperti ini terjadi.
“Apa kau yakin menahanku di sini?” tanya nanar Yudha.
“Ya, sesuai dengan pengakuan saksi dan kau pun mengakui memaksa gadis itu untuk ikut denganmu, itu merupakan suatu tindak kriminal,” jelas Dermawan. Seorang polisi yang tak kenal rasa takut. Dia hanya menjalankan regulasi yang ada. “Oh ya, kau bisa menghubungi pengacaramu.”
Yudha hanya mengeram. Selama ini, tidak ada pihak kepolisian yang berani mengacaunya. Siapa yang lebih berkuasa dari Prambudi hingga oknum tersebut tak bisa menolongnya.
***
Anyelir mencoba berjalan stabil. Namun, wajahnya pucat karena menahan sakit di pergelangan kakinya. Krisan berjalan di samping Anyelir dan diikuti oleh Vinnie.
“Vinnie, panggil taxi,” titah Anyelir.
“Baik, Nona,” jawab Vinnie.
“Biar aku antar kalian berdua. Akan sulit mencari taxi di sini,” jelas Krisan.
Anyelir baru membuka mulutnya untuk protes. Namun, jari telunjuk Krisan terlebih dahulu menutup mulut Anyelir. “Tidak usah membantah. Kasihan asistenmu.”
Mereka masuk ke dalam mobil Krisan. Anyelir berada di bangku penumpang depan sedangkan Vinnie berada di bangku belakang.
“Di mana rumahmu?” tanya Krisan pada Vinnie melalui kaca spion.
“Jalan Kenanga Merah no 19,” jawab Vinnie.
Krisan langsung menjalankan mesin tanpa bertanya di mana rumah Anyelir. Tak ada yang bicara di dalam mobil hingga mereka tiba di rumah Vinnie.
“Nona, saya pamit dulu,” ujarnya pada Anyelir.
“Ya,” jawab Anyelir singkat.
Krisan hanya mengangguk sebagai balasan ucapan terima kasih Vinnie. Dia mulai menjalankan mobilnya kembali. “Mau diantar ke mana?” tanya Krisan.
“Turunkan saja aku di jalan raya. Aku akan naik taxi,” ucap Anyelir.
“Katakan di mana alamatmu. Aku akan antar kau dengan selamat.”
“Turunkan aku di depan. Kau tidak perlu mengantarku. Kau tak berkewajiban untuk itu!”
“Baiklah, jika kau tak memberi tahu alamatmu. Aku akan membawamu ke rumah … kita!” Krisan melirik sedikit sang istri. Wajah cantik istrinya sedikit pucat. Mungkin karena baru saja mengalami kejadian menegangkan.
“Royal High Apartment!” ujar Anyelir. Dia tahu maksud rumah yang disebutkan Krisan adalah rumah mereka dan Anyelir tak akan mungkin mau kembali lagi ke rumah megah itu.
Sudut bibir Krisan terangkat sedikit. Senyum samar terukir di wajahnya. Dia melajukan mobilnya menuju apartemen yang disebutkan oleh Anyelir.
Anyelir langsung keluar dari mobil Krisan tanpa mengucapkan terima kasih. Krisan hanya menatap punggung sang istri. Dia menelisik sang istri yang berjalan sedikit lambat.
Krisan langsung turun dari mobil, dia mengejar Anyelir dan langsung menggendong Anyelir ala bridal style.
“Apa yang kau lakukan?” hardik Anyelir.
“Kakimu sakit tapi menahan hingga wajahmu pucat!” dengus Krisan.
“Turunkan aku, aku bisa berjalan sendiri.”
“Diamlah! Aku hanya akan mengantarmu sampai unit apartemenmu.”
Anyelir mencoba memberontak. Namun, Krisan tak sedikitpun berkeinginan untuk menurunkan Anyelir.
Terpaksa Anyelir hanya patuh dan menunjukan kamarnya. Krisan menurunkan Anyelir tepat di depan pintu unit apartemen.
__ADS_1
“Sudah sampai. Pergilah!”
“Aku harus memastikan kau masuk terlebih dahulu.”
Anyelir mendecak, dia menekan pin dan masuk ke dalam apartemennya. Namun, Krisan bukannya pergi melainkan ikut masuk ke dalam unit apartemen Anyelir.
Tidak hanya masuk ke dalam unit apartemen. Krisan pun menggendong Anyelir seperti sebelumnya.
Anyelir panik. "Turunkan aku!" hardiknya.
Krisan tak peduli, dia menduduki Anyelir di sofa. Matanya mengedar, dia berjalan menuju dapur.
Krisan membuka kulkas, mengambil es batu dan juga handuk kecil lalu kembali lagi ke ruang tamu. Dia langsung duduk di lantai.
Menarik kaki Anyelir dan mulai mengkompres kaki Anyelir yang terkilir. Tak perlu bertanya kaki mana yang sakit. Dia bisa melihat kaki sang istri yang mulai kemerahan.
"Hentikan! Aku bisa sendiri. Pergilah."
"Diamlah, aku pijat agar membaik. Setelah merasa baik, aku akan pergi."
Krisan bersih keras memijat kaki Anyelir yang terkilir. Ingatan saat mereka berumah tangga hadir kembali. Di mana Krisan rajin memijat kakinya setelah lelah kuliah.
Bukan Krisan yang dipijat karena lelah bekerja. Namun, Anyelir lah yang selalu dimanja sang suami.
Mata Anyelir mengembun, mengingat masa lalu. Namun, tekadnya sudah bulat untuk berpisah dari Krisan.
"Rujuklah denganku," ucap Krisan memecah keheningan.
Anyelir tersadar, dia mengusap air mata yang dengan kurang ajar keluar dari sudut matanya. Tidak banyak, tetapi terdapat ketulusan di dalamnya.
"Itu tidak mungkin!"
Krisan berlutut, mensejajarkan wajahnya pada Anyelir. "Kau masih mencintaiku, masih ada harapan untuk kita bersama."
"Tidak ada yang perlu disambung lagi. Hubungan kita sudah tidak mungkin lagi bersama."
"Benarkah?" tanya Krisan, dia mendekatkan diri pada Anyelir.
Sang wanita mundur kebelakang, Krisan semakin mendekatkan diri.
Mereka saling bersitatap. Krisan menatap dalam Anyelir hingga akhirnya, bibir mereka saling menyentuh.
Mata Anyelir melebar, dia mencoba menarik kepalanya. Namun, Krisan menahan kepala sang istri agar ciuman mereka tak lepas.
Krisan menggigit pelan bibir Anyelir, hingga gadis itu membuka mulutnya. Hal itu, tak disia-siakan oleh Krisan.
Krisan mulai menginvasi rongga mulut sang kekasih. Perlahan, Anyelir mulai mengikuti ritme sang suami. Seketika, dia tersadar, dengan kasar mendorong Krisan.
"Pergi dari sini!" ujar Anyelir dengan dada kembang kempis. Dia menahan amarahnya. Bukan hanya marah karena Krisan menciumnya melainkan, karena dirinya yang ikut terlarut dalam ciuman itu. Dirinya terbuai akan tindakan sang suami.
"Sayang ...."
"Jangan panggil aku seperti itu! Kita akan segera bercerai!"
"Anyelir, kumohon ... kembalilah padaku. Kita masih saling mencintai. Tadi adalah buktinya, kamu menikmati ciuman ...."
"Pergi dari sini sekarang juga!" teriak Anyelir memotong ucapan Krisan.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" tanya Renan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Tidurnya terganggu karena suara berisik di ruang tamu.
Krisan menoleh ke sumber suara. Matanya membulat saat melihat seorang pria yang baru saja keluar dari dalam kamar. Pria itu hanya menggunakan celana pendek dan kaos singlet.
__ADS_1