
“Renan, kapan kau datang?” tanya Anyelir pada pria yang menjadi sopirnya.
“Baru beberapa jam yang lalu,” jelas Renan.
“Kenapa tak bilang padaku? Aku bisa menjemputmu di bandara!” dengus Anyelir.
Renan adalah sepupunya, anak dari Peter. Lebih tepatnya adalah anak angkat. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Renan hanya anak angkat.
“Aku menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat panggilan teleponku. Jadi, aku menghubungi asistenmu dan dia bilang kau ada di sini. Jadi, aku langsung ke sini. Koperku bahkan ada di mobilmu ini."
"Oh iya, aku meninggalkan ponselku. Tapi, bukannya kau bilang dari kemarin. Aku bisa atur jadwal untuk menjemputmu."
Renan hanya terkekeh. "Sampai harus atur jadwal segala. Sepertinya, kau sangat sibuk."
"Ya, aku sibuk. Tapi untukmu, aku pasti bisa meluangkan waktu. Berapa lama kau di sini?"
"Aku tidak akan lama tinggal di sini. Bukannya ayah sudah bilang padamu kalau aku akan ke sini untuk membantumu?”
“Ya. Paman memang sudah bilang padaku, kau akan membantuku sebelum melepasku. Tapi, dia tak mengatakan berapa lama kau di sini.”
“Emm ... sepertinya, kau tak perlu bantuanku. Kau bisa menjalankan GLK sendiri,” timpal Renan.
“Aku bukan apa-apa tanpamu. Semua aku pelajari darimu dan juga paman.”
“Sudah seharusnya kita saling membantu. Jadi mau ke apotik dulu?”
“Ya, aku sedikit pusing.”
Mereka mampir ke apotik terlebih dahulu untuk membeli obat. Setelah itu, Renan mengantar Anyelir ke apartemennya.
“Kau tinggal di mana?” tanya Anyelir.
“Aku belum pesan hotel.”
“Apartemenku ada dua kamar. Tinggal saja di sana. Toh kita tinggal di rumah yang sama selama ini.”
“Bolehlah, untuk menghemat pengeluaran,” ujar Renan lalu masuk ke dalam apartemen Anyelir.
__ADS_1
Anyelir hanya terkekeh. Terkesan berhemat. Tapi, siapa yang tahu pria itu adalah CEO sukses.
Renan tampak nyaman bersama Anyelir. Dua tahun tinggal bersama di Singapura membuat mereka cukup akrab. Setelah membersihkan diri, mereka menikmati cokelat panas di balkon apartemen.
“Apa kau sedang mengurus perceraianmu?” tanya Renan.
“Ya,” jawab Anyelir singkat.
Renan menelisik wajah Anyelir. “Kau masih mencintainya?”
“Jangan membahas tentang cinta!”
“Tapi masih terlihat jelas di matamu. Apa kau belum bertemu dengannya lagi?”
“Sudah. Baru saja bertemu dengannya.”
“Lalu? Bagaimana reaksinya saat bertemu denganmu?”
“Dia ingin rujuk.”
“Apa tidak ada harapan kalian bersatu?”
“Bukankah kau bilang, dulu dia sangat menyayangimu? Apa kau tak pernah berpikir dia punya alasan lain hingga dia menceraikanmu? Terlebih, sekarang dia minta rujuk padamu.”
“Aku sempat berpikir seperti itu. Namun, dia mengatakan hal yang menyakitkan. Dia meniduriku, setelah itu menceraikanku. Bahkan dia bilang masih ada pria lain yang akan memungutku! Jika aku memaafkannya, bisa jadi hal seperti ini akan terulang lagi. Dia akan berpikir, setelah meminta maaf, maka masalah akan terselesaikan. Bukan pula, aku ingin melawan takdir dengan mengatakan hal seperti ini akan terjadi lagi di masa depan. Namun, aku hanya tak ingin terluka untuk kedua kali. Meskipun, masih dalam bentuk praduga."
Renan menaikan alisnya sebelah. “Ya, kau sudah beberapa kali cerita itu padaku. Aku sampai hafal dialognya,” sindir Renan. “Tapi, kesalahan suamimu bukan berselingkuh ataupun berbohong padamu. Jika hal itu yang terjadi, di masa depan bisa saja terulang kembali. Dia menceraikanmu tanpa alasan.”
“Dia menceraikanku karena bosan denganku. Terakhir sebelum tragedi, dia sedang memeluk seorang wanita!” ketus Anyelir.
“Bukankah kau bilang tak ada tatapan cinta di mata Kris?”
“Tak tahu lah. Aku sudah lupa! Selesai memeluk wanita lain. Lalu bercinta denganku. Tadi pun dia berdansa dengan wanita lain. Mungkin, kasih sayang yang ia tunjukan padaku bertujuan untuk menutupi perselingkuhannya. Saat dia bosan, dia melepaskanku.”
“Tapi sekarang dia minta kau kembali padanya,” sambung Renan.
“Itu karena sekarang aku berbeda! Aku menjadi diriku sendiri, tak perlu orang lain mengaturku lagi. Sikap posesifnya telah mengekangku selama ini. Bahkan tak banyak yang tahu kalau kami itu suami istri. Mungkin, dia akan mengatakan pada orang lain bahwa dia itu lajang!” ujar Anyelir sinis. “Mungkin juga, dia ingin kembali rujuk karena merasa tertantang dengan diriku yang sekarang!” tambahnya.
__ADS_1
“Dari menggebunya kau bercerita tentangnya. Terlihat jelas kau masih mencintainya.”
“Bukan cinta! Tapi benci!” ujar Anyelir membetulkan ucapan Renan.
“Ya, ya, ya. Apalah namanya! Kita sudahi perbincangan tentang suamimu.”
Renan mengambil cokelat panas dan menyeruputnya. Anyelir melihat setiap gerakan Renan yang elegan.
“Kau, benar tak ingin menikah denganku?” tanya Anyelir.
Renan tersendak. Hampir saja dia menyemburkan cokelat panas yang sedang diminumnya. “Bukankah kita sudah sepakat untuk mengakhiri perjodohan ini?”
“Tapi aku tidak keberatan memiliki suami sepertimu.”
“Bukankah kau bilang trauma dengan pernikahan?”
“Tidak jika denganmu,” ujar Anyelir menatap Renan serius.
Meskipun dia tak mencintai Renan. Namun, dia rela jika memang harus menjadi istrinya. Tak berharap kembali lagi pada Krisan. Renan sudah banyak membantunya, dia rela jika menghabiskan sisa umurnya bersama dengan Renan. Dia pun ingin menarik Renan dari jurang yang gelap. Menarik pria itu menuju cahaya, menegakan kepalanya pada dunia.
Renan hanya tertawa kecil. Dia menangkup wajah Anyelir dan mengecup keningnya. “Kau sudah kuanggap adikku, sekaligus sahabatku. Jangan ubah status sepupu kita. Kau tahu itu tak akan pernah berubah. Meskipun, aku hanya anak angkat ayah.”
“Apa kau tidak ingin mencoba? Kita sama-sama terluka. Setidaknya, kau akan membuat paman Petra bahagia. Dia pun menginginkan kita menikah.”
“Ingin sekali aku menikah denganmu, memiliki anak dan menua bersama. Tapi, hati tak bisa berbohong. Aku tak mencintaimu, dan kau tak mencintaiku. Meskipun kita paksakan menikah, itu hanya akan menjadi pernikahan pura-pura.”
Meskipun hati bisa berubah. Banyak pula kisah cinta yang berawal dari kawin kontrak yang berakhir bahagia. Namun, mereka hidup bukan dalam dunia drama yang dari gengsi menjadi cinta. Bukan pula dari benci menjadi cinta.
Mata Anyelir sendu, dia mendekat pada Renan dan mulai memeluk sepupunya itu. Renan tak menolak pelukan Anyelir. “Jika kau butuh bantuanku, kau bisa kapan saja datang padaku. Aku tahu kau sudah berusaha keras, aku tahu kau ingin membahagiakan paman Petra. Aku tahu beban besar yang sedang kau pikul. Aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan melindungimu.”
“Terima kasih, bukankah seharusnya aku yang melindungimu?”
“Ya, kau bisa berdiri di sampingku. Kau bisa menghajar Kris jika dia menggangguku.”
“Ya, kita akan saling membantu.”
Anyelir mengurai pelukan, dia yang seorang anak tunggal merasakan memiliki sosok kakak laki-laki. Berbeda dengan Krisan yang selama ini di sampingnya. Krisan memang memperlakukan dia dengan baik selama ini. Namun, perasaan Krisan padanya berbeda dengan perasaan Renan padanya.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Anyelir menutup matanya, berbeda dengan Renan yang sedang memandang photo seseorang di layar ponselnya. Menatap orang itu penuh rindu. Dia harus merelakan cintanya berakhir, dia tahu hubungannya akan ditentang oleh sang ayah. Tidak hanya ditentang. Cinta mereka pun akan menyakiti hati ayahnya itu.
Petra tak tahu bahwa selama ini Renan memiliki kekasih. Namun, selama ini Renan tak pernah berani menunjukan pada Petra. Hanya Anyelir yang menjadi tempat curahan hatinya. Anyelir pun tahu, pamannya itu tak akan setuju jika Renan bersama kekasihnya.