
Anyelir menatap dalam Krisan. Jika memang dia adalah wanita yang sangat dicintainya, tidak mungkin sang suami menceraikannya tanpa alasan yang jelas. Dia yakin, suaminya menyembunyikan sesuatu.
Krisan kesulitan menjawab pertanyaan istrinya. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Tidak mau membuat Anyelir kecewa terhadap orang tuanya.
Bisa jadi Anyelir tidak percaya ucapannya. Namun, bukti yang dipegang Krisan sudah cukup kuat bahwa orang tua Anyelir yang menghancurkan keluarganya.
Sangat berat baginya menerima kenyataan. Namun, cintanya pada Anyelir begitu besar hingga dia harus menerima anak dari orang yang membunuh orang tuanya.
"Itu ... hanya suatu kekhilafan diriku. Aku tak serius saat mengatakannya," ujar Krisan.
"Tak serius? Apa kau sedang mempermainkanku? Apa aku yang terlalu bodoh?" tanya Anyelir dengan bergetar.
Dia dengan bodoh mengakhiri hidupnya dan pria yang dicintainya hanya mempermainkannya.
Krisan menarik tangan Anyelir, dia tak ingin permasalahan semakin terlarut-larut. "Aku mohon padamu untuk memberikan kesempatan kedua padaku."
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya menjadi alasan kau menceraikanku? Jangan bohongi aku dengan mengatakan kau tak serius mengatakannya! Kau bohong padaku Kris!"
Krisan bingung harus mengatakan apa. Dia hanya bisa mengedipkan matanya dua kali.
"Itu ... itu ... sebenarnya hanya ingin sedikit mempermainkanmu, membuatmu kesal. Aku berencana memberikan sedikit kejutan padamu di ulang tahun pernikahan kita yang ke enam. Hanya saja, aku tak menyangka hal itu membuatmu sangat terpukul. Aku tak menyangka kau akan berbuat seperti itu, dulu kau pernah berjanji tak akan melakukan hal bodoh itu. Jadi, kupikir kau tak akan melakukan hal seperti itu," papar Krisan.
Tenang? Tentu tidak. Hanya kegusaran yang ada di hati Krisan. Rentetan kalimat kebohongan dilontarkan oleh Krisan untuk menutupi kebenaran yang pahit. Namun, apakah sebuah kebohongan akan membuahkan kebahagiaan?
"Tidak masuk akal!" tandas Anyelir.
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Harus bagaimana lagi agar kau percaya padaku?" Krisan menampakan wajah memelas. "Kau datang ke kantorku untuk kembali padaku. Jadi, jangan ubah pikiranmu itu."
"Kau masih berkilah Kris! Kau berbohong padaku!" ujar Anyelir penuh kekecewaan.
"Kau mau aku bagaimana lagi? Apa aku harus terjun dari jembatan, agar kau percaya padaku?" tanya Krisan.
"Apa itu menyelesaikan masalah?"
"Setidaknya, kau percaya bahwa aku sungguh-sungguh," ucap Krisan penuh penekanan.
"Jangan konyol!" gumam Anyelir.
"Aku serius. Hal apapun yang kau inginkan, pasti akan aku lakukan."
Anyelir hanya bergeming, dia masih meragukan ucapan Krisan.
Sang suami beralihlah ke bangku depan. Duduk di depan kemudi dan menjalankan mesin mobil. Dia mengunci pintu agar sang istri tak melarikan diri.
"Mau ke mana?" tanya Anyelir mulai panik. Krisan langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Membuktikan bahwa aku hanya mencintaimu," kata Krisan.
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi yang stabil. Hingga, akhirnya mereka tiba di jembatan penuh kenangan.
__ADS_1
Awal pertemuan yang membuat mereka saling mencintai dan tempat di mana Anyelir dua kali mencoba mengakhiri hidup.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Anyelir bingung.
Krisan keluar dari mobil. Dia langsung menuju ke pinggir jembatan. Naik pada handrail jembatan.
Anyelir ikut keluar dari mobil saat melihat Krisan mulai berpijak pada handrail jembatan yang berada di sisi luar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Anyelir mulai panik.
"Aku akan buktikan padamu, bahwa aku sungguh-sungguh denganmu. Aku benar-benar mencintaimu. Tidak hanya dirimu yang berani mengorbankan diri demi cinta. Aku pun rela mati untukmu."
"Apa ini kau yang sesungguhnya? Bukankah kau bilang bukti cinta bukan dengan cara bunuh diri?"
"Ya, aku memang pernah bilang seperti itu. Tapi, jika ini bisa meyakinkanmu bahwa aku mencintaimu. Aku akan melakukannya."
Anyelir mendengus, Krisan adalah pria paling rasional yang pernah ia temui. Baginya, hanya orang-orang bodoh yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
"Baiklah, terserah dirimu saja!" ketus Anyelir. Dia yakin, Krisan tak akan berbuat nekad, pria itu tak mungkin menceburkan diri.
"Hiduplah dengan baik setelah ini."
"Ya, kau tenang saja. Setelah ini, aku akan mudah mengurus surat cerai karena alasannya adalah cerai mati. Aku bisa dengan mudah menikah dengan pria lain dan hidup bahagia!" papar Anyelir, dia berbalik badan, bersiap meninggalkan Krisan.
Krisan hanya melebarkan matanya mendengar penuturan Anyelir, tak menyangka wanita itu bisa mengatakan hal kejam padanya.
"Anyelir! Aku sungguh-sungguh!"
"Kau mau ke mana?" tanya Krisan berteriak.
"Tentu mencari pria lain untuk menjadi suamiku!" tandas Anyelir berjalan meninggalkan Krisan.
Krisan langsung membayangkan Anyelir menggunakan pakaian pengantin yang indah dan bersanding dengan pria lain. Tak akan rela melihat pria lain menjamah istrinya.
"Anyelir berhenti! Jangan pernah berpikir untuk menikah dengan pria lain!" hardik Krisan.
Bukan cintanya lemah hingga tak bersedia mati demi kekasihnya. Namun, membayangkan Anyelir bersama dengan pria lain membuatnya murka.
Krisan mulai menggerakkan kakinya, mencoba menaiki handrail demi handrail untuk beralih ke jembatan. Namun, gerakan tergesanya membuat pijakan kakinya tak seimbang. Hingga membuat Krisan tak seimbang dan terjatuh.
"Ah!" teriaknya.
Anyelir menoleh, dia tak melihat Krisan. Suaminya terjatuh dan bergelantungan di handrail jembatan. Kakinya tak berpijak, tangannya menggenggam erat pada handrail.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Anyelir. Dia langsung menghampiri Krisan dan meraih tangan sang suami.
"Tarik aku!"
"Bukankah kau bilang rela mati untukku?" tanya Anyelir masih dengan berusaha menarik suaminya.
__ADS_1
"Ya, tapi bukan berarti membiarkanmu bersama dengan pria lain! Jangan harap kau bisa bahagia dengan pria lain setelah kematianku. Hal itu tak akan terjadi!"
Tubuh Krisan mulai naik, dia mengangkat kakinya untuk berpijak pada handrail. Meringankan beban Anyelir yang sedang menyelamatkannya.
Anyelir mendecak setelah berhasil menyelamatkan suaminya. Dia pergi meninggalkan Krisan.
Krisan mengejar sang istri, lalu memeluknya dari belakang. "Apa yang aku katakan bukan bualan. Aku tak akan membiarkanmu masuk dalam pelukan pria lain. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi, jangan harap kau bisa menikah dengan pria lain. Kau pun masih sangat mencintaiku, terbukti kau telah menyelamatkanku."
"Lepaskan aku! Aku menyelamatkanmu hanya karena kemanusiaan."
"Benarkah? Tapi yang kulihat tidak seperti itu. Kau khawatir, meskipun kau berpura-pura tetap tenang."
Cup! Krisan mengecup pipi sang istri. Anyelir hanya mengedipkan mata saat Krisan mencium pipinya.
Krisan membalik Anyelir hingga mereka berhadapan. "Kau tidak bisa lepas dariku, Sayang."
"Tidak tahu malu!" ucap Anyelir sinis.
"Pria tak tahu malu ini suamimu!"
Anyelir mencoba untuk berbalik badan. Namun, Krisan menarik pinggangnya hingga tak berjarak.
"Lepas!"
"Tidak mau. Berjanji padaku, jangan pernah meninggalkanku!"
"Aku tidak pernah meninggalkanmu. Tapi kau yang melepasku. Apa kau lupa?"
"Kesalahan terbodohku tak akan terulang kembali. Aku akan mengikatmu dengan erat agar kau tak bisa pergi dariku."
Sudah di titik puncak, Krisan tak akan membuat hubungan mereka renggang kembali. Dia yakin, Anyelir datang ke kantornya untuk rujuk, sudah terbukti dengan bunga yang dibawa istrinya.
Hanya karena photo shoot bersama Miranda membuat istrinya cemburu. Tak akan Krisan membiarkan hal tersebut merusak hubungan mereka yang mulai kembali bersatu.
Krisan menatap Anyelir . "Aku mencintaimu. Kita rujuk ya?"
Anyelir menautkan alisnya, bibirnya terbuka. Namun, belum sempat dia mengeluarkan sepatah kata, bibirnya sudah disumbat oleh Krisan.
Ciuman berlangsung cukup lama, Krisan tak memberikan celah bagi Anyelir untuk menghentikan ciuman mereka.
"Anggukkan kepalamu," bisik Krisan sesaat melepas ciuman mereka.
Anyelir menganggukkan kepalanya pelan, hampir tak seperti anggukan. Namun, itu sudah cukup bagi Krisan.
Krisan tersenyum lebar melihat anggukan tersebut. Dia menarik Anyelir ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu."
"Apa kita akan kembali bersama?" tanya Anyelir.
"Ya, tentu."
__ADS_1
Anyelir mengangkat tangannya, dia membalas pelukan sang suami, mengedipkan matanya sekali. "Baiklah, kita bersama. Aku pun ingin tahu apa yang kau sembunyikan, Kris!" monolognya dalam hati. Ya, dia akan mencari tahu segalanya.