Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 40 Bukit Cinta


__ADS_3

“Kenapa ke sini?” tanya Anyelir. Mereka tiba di sebuah bukit wisata. Krisan memang bilang akan mengajaknya ke suatu tempat. Namun, yang tak diduga adalah mereka pergi ke sebuah bukit. Membutuhkan waktu satu setengah jam untuk tiba di tempat tujuan.


“Sesekali menikmati alam. Bukan kah kau bilang perutmu terlalu penuh? Jadi, kita jalan-jalan dulu sebentar,” ujar Krisan.


“Kita naik ke bukit itu?” tanya Anyelir menunjuk bukit di depan mata.


“Ya.”


“Pasti melelahkan! Sampai atas sudah lapar lagi!” keluh Anyelir.


“Kita belum juga naik. Tapi kamu sudah mengeluh. Naik bukit bisa menurunkan kalori. Anggap saja kau sedang diet!”


“Baiklah! Baiklah! Kau akan lihat sendiri aku itu kuat!”


“Awas ya kalau sampai minta gendong!” goda Krisan.


Anyelir hanya melirik sekilas pada sang suami. “Jangan banyak bicara, kita buktikan saja!”


Mereka naik ke atas bukit. Tidak membutuhkan tas carrier ataupun hiking shoes. Bukan pegunungan tinggi yang biasa didaki oleh pendaki gunung. Mereka hanya mendaki bukit wisata. Jalan yang ramah untuk pengunjung. Beruntung Anyelir menggunakan flat shoes hingga tak membuatnya kesulitan.


Mereka berjalan berdampingan. Tak ada jalan terjal membuat mereka berjalan santai. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke puncak bukit. Tidak banyak pengunjung, hanya ada beberapa pasang remaja, ada beberapa pedagang menjajakan barang dagangan di area wisata tersebut.


Krisan melirik sekilas pada para remaja yang sudah sampai terlebih dahulu. Bukit yang lebih banyak dikunjungi oleh para pasangan. Tidak jarang para remaja tersebut berpelukan. Bahkan, Krisan melihat ada sepasang remaja yang dengan santainya berciuman. Entah apa yang dipikirkan oleh remaja tersebut, apakah karena tidak saling kenal dengan para pengunjung lainnya, maka dengan tak tahu malu melakukan hal itu di depan umum?


“Tidak buruk,” ujar Anyelir menatap pemandangan di depan mata. Warna hijau dari tumbuhan membuat mata menjadi teduh.


“Sini.” Krisan menarik tubuh sang istri agar duduk di kursi panjang yang sudah disediakan di tempat wisata tersebut.


Anyelir menghirup udara segar di sana. Dia melihat sekeliling. “Bisa belikan aku manisan pala?”


“Tentu.” Krisan bangkit dan menghampiri sang pedagang. Dia kembali lagi duduk di samping sang istri.


“Lengkap sudah menikmati pemandangan dengan manisan pala,” ujar Anyelir seraya memasukan makanan tersebut ke mulutnya.


Mereka hanya sekadar memanjakan mata sembari menikmati udara segar yang tak dapat di pusat kota. Krisan menarik sang istri hingga membuat Anyelir terkejut. Didudukan Anyelir ke pahanya.


“Apa yang kau lakukan? Ini tempat umum!” keluh Anyelir.


“Aku hanya mengikuti pasangan-pasangan lainnya. Tidakkah kau lihat?” tanya Krisan. Meskipun, sebenarnya sedikit menyesal membawa Anyelir ke tempat itu, tak di sangka banyak anak remaja yang berpacaran.


Anyelir melihat sekeliling. Beberapa pasang kekasih memang duduk dengan jarak yang dekat. “Apa ini yang disebut bukit cinta?”


“Sepertinya,” gumam Krisan.


“Kita seperti remaja saja!”


“Kau masih terlihat seperti remaja,” puji Krisan. Dia semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin kalah keromantisan dari para remaja.


“Kris, turunkan! Ini bisa menjadi contoh tak baik untuk para remaja!”


“Hey! Ada yang lebih parah dari kita. Tidak lihatkah pergaulan anak sekarang?”

__ADS_1


“Itu yang bikin miris. Kita jangan sampai dianggap pasangan ilegal!” Anyelir mencoba melepas tangan Krisan yang melingkar di perutnya. Namun, Krisan semakin tak ingin melepas tangannya. “Kris, lepas!”


“Kenapa jadi kamu yang malu aku peluk?” tanya Krisan meninggikan volume suaranya. Sontak semua mata yang berada didekat mereka mengalihkan pandangan.


“Pelankan suaramu!” bisik Anyelir. Dia berdiri dari pangkuan sang suami.


“Kenapa? Kau malu dipeluk suamimu sendiri? Kita itu pasangan sah! Kita sudah menikah dan tak ada yang melarang kita berpelukan atau bermesraan di depan umum. Yang seharusnya malu itu adalah pasangan muda mudi yang tanpa status pernikahan tapi dengan tidak tahu malu bermesraan di depan umum!” cerocos Krisan tanpa henti.


“Kris, pelankan suaramu,” bisik Anyelir.


“Kita pasangan sah kenapa menjadi yang tidak enak pada pasangan diluar nikah? Seharusnya kita bangga akan status hubungan kita. Kita tak pernah bermesraan sebelum menikah. Bahkan ciuman pertama, kita lakukan setelah kita resmi menjadi sepasang suami istri.”


Anyelir hanya membulatkan mata, apa perlu mengungkapan ciuman pertama mereka? Krisan tetap tak menghentikan ocehannya. “Kris, sudah,” ucap Anyelir pelan. Semua mata tertuju pada mereka. “Ya. Aku beruntung mendapatkan mu yang selalu bisa menjaga kehormatanku,” tambahnya, berharap Krisan tak mengoceh lagi.


“Sekarang kau baru merasa beruntung!” dengus Krisan.


Ingin sekali dia menghajar para remaja tersebut yang dengan mudahnya berbuat mesum di tempat umum. Namun, dirinya tak bisa menghakimi karena pergeseran hubungan batas antara pria dan wanita seolah berubah seiring berjalannya waktu.


Mungkin ada yang menganggap tabu hubungan pacaran. Ada pula hal tersebut biasa saja dan hanya sebatas peluk dan cium. Namun, sebagian lagi menganggap wajar tinggal bersama layaknya suami istri tanpa status pernikahan. Itu semua tergantung pada keyakinan diri masing-masing. Namun, bagi krisan, dirinya yang sudah jatuh cinta pada Anyelir jauh sebelum mereka menikah. Tak sekalipun dirinya mencoba mencari kesempatan pada Anyelir. Dia memilih menikah muda dari pada harus masuk ke lembah hitam yang akan disesali.


“Ya aku beruntung, kau membuktikan cintamu dengan cara yang benar. Bukan rayunan semata, bukan juga sentuhan memabukan. Kau benar-benar pria idaman!” puji Anyelir. Dia sadar banyak mata yang sedang mencuri dengar obrolan mereka. Sedikit meninggikan suara agar para remaja itu tak kesulitan mencerna ucapannya. “Sudah duduk sini, kita nikmati manisan pala,” bujuknya.


Anyelir mengambil sepotong manisan pala dan menyodorkan pada bibir Krisan. “Makanlah.”


Krisan membuka mulut lalu menerima suapan dari sang istri. “Enak.”


“Memang enak,” timpal Anyelir seraya memakan manisan tersebut.


“Kalau sudah sah pasti lebih enak melakukan apapun,” timpal Krisan. Dia mencubit hidung Anyelir.


“Biarkan saja, siapa tahu karena mendengar obrolan kita mereka tidak berbuat mesum lagi.”


“Ish! Seperti kita sudah menjadi orang benar saja!” dengus Anyelir.


“Meskipun tampak masih sangat belia. Kalau mereka pasangan sah. Mereka tak akan tersinggung. Dilihat dari wajah-wajah mereka, jelas mereka bukan pasangan sah. Apa kau tadi tak lihat, ada yang berciuman hingga tangan pria bergerilya!”


“Lihat. Tapi kau juga seperti itu!” dengus Anyelir.


“Tapi itu semua aku lakukan setelah kita menikah. Mudah bagiku mengambil kesempatan darimu. Apa aku pernah melakukannya saat kita masih tinggal satu atap tanpa pernikahan?”


“Itu dia, meskipun kita tak melakukan hal diluar norma. Tapi kita juga salah tinggal satu atap tanpa status pernikahan!” timpal Anyelir.


“Karena itu aku menikahimu!”


Anyelir menoleh menatap sang suami. “Jadi, bukan karena cinta kau menikahiku?”


“Tentu saja karena cinta. Bisa saja aku langsung menikahimu. Tapi aku butuh waktu untuk mencari jawaban hatiku. Dalam pemantapan hati, aku tidak mengajakmu berpacaran. Namun, mencari tahu dalam doa.”


Anyelir hanya terkekeh. Mereka tidak bisa dikatakan umat yang taat. Namun, mereka masih memiliki batas mereka. Krisan benar menjaga Anyelir, meskipun sebuah kesalahan membuat mereka sempat terpisah.


Perlahan langit berubah menjadi jingga. Warna biru telah sirna. Matahari mulai meredup, menampakan keindahan alam diujung mata. “Indah sekali,” gumam Anyelir.

__ADS_1


“Karena itu aku mengajakmu ke sini,” ujar Krisan seraya memeluk Anyelir dari belakang.


Mereka menikmati keindahan alam bersama hingga matahari benar-benar tenggelam. “Ayo kita pulang,” ajak Krisan.


“Ya.”


Mereka bangkit, bersiap untuk turun bukit. Namun, Krisan berjongkok di depan Anyelir. “Naiklah.”


“Apa?”


“Naik ke punggungku.”


“Tidak, nanti kau lelah.”


“Sudah naik saja, jangan ragukan kekuatan suamimu ini.”


“Tidak mau. Aku tidak mau menjadi bebanmu.”


“Kau tidak pernah menjadi bebanku karena selama ini aku yang selalu berada di atas.”


“Maksudmu?”


“Biarkan aku menggendong mu sekarang. Biar nanti malam kau yang menjadi bebanku.”


“Apa maksudmu?” tanya Anyelir tak mengerti.


“Naik ke punggungku dulu. Nanti akan aku beri tahu.”


Anyelir mematuhi perintah sang suami. Krisan mulai menggendong Anyelir dan mulai menuruni bukit. Melangkah dengan stabil. Tidak lambat atau terlalu cepat. “Kau tahu mengapa aku mengajakmu ke sini?”


“Bukankah karena ingin melihat sunset?”


“Ya, benar. Tapi bukan hanya karena sunset-nya."


"Karena apa?"


Krisan terus melangkah. "Sunset adalah sebuah garis waktu penanda bergantinya siang ke malam. Waktu tidak selamanya siang. Setelah penuh dengan aktivitas, dengan adanya sunset berubah menjadi waktu untuk beristirahat. Waktunya pulang. Tidak hanya itu, sunset pun mengajarkan kita bahwa segala sesuatunya akan berakhir dengan perpisahan. Namun, perpisahan tidak selamanya buruk, bukan juga merupakan kesedihan. Perpisahan juga bisa penuh warna yang indah. Perpisahan yang hanya sementara. Mengajarkan kita tentang sebuah harapan untuk kembali bertemu dengan mentari esok hari."


Anyelir mendengar dengan seksama ucapan sang suami. "Berharap, pertemuan kembali menjadi lebih indah," sambungnya.


Krisan hanya tersenyum. "Kita pulang ya."


"Bukankah kita memang sedang menuruni bukit untuk pulang?"


"Ya, benar. Kita pulang ke rumah kita," ucap Krisan hati-hati.


Anyelir mengeratkan tangannya. Memeluk lebih erat lagi pada sang suami. Kata pulang yang dilontarkan oleh Krisan bermakna pulang ke rumah mereka yang sesungguhnya. Bukan apartemen, melainkan rumah yang dibangun oleh Krisan dari hasil kerja kerasnya. Rumah impian mereka saat ekonomi mereka di bawah.


Tak ada jawaban dari Anyelir membuat Krisan membungkam mulutnya, dia hanya bisa bersabar hingga sang istri bersedia kembali pulang. Meskipun mereka telah tinggal bersama di apartemen. Namun, Krisan tahu, penolakan Anyelir untuk kembali pulang ke rumah menandakan dirinya masih meragukan hubungan mereka.


Krisan terus melangkah. Tidak ada yang berbicara lagi. Hingga setelah lima menit berjalan. Anyelir berbisik di telinga Krisan. "Ayo kita pulang."

__ADS_1


Langkah kaki Krisan berhenti sejenak. Dia ingin memastikan pendengarannya. Namun, dia enggan untuk mengkonfirmasi. Memilih mempercayai indra pendengarannya bahwa sang istri bersedia untuk pulang. "Ya, kita pulang," ujarnya penuh dengan senyuman.


Anyelir hanya tersenyum, tidak ada lagi yang berbicara. Namun, mereka seolah memilki ikatan batin. Tak lama, mereka bersenandung lagu romantis kesukaan mereka secara bersamaan. Mereka tertawa bersama setelah bernyanyi. Pemandangan yang indah, suasana hati yang damai. Semakin menguatkan cinta mereka.


__ADS_2