
Miranda mulai sesak, dia dikelilingi banyak orang. Bukan pertama kali dikerubungi banyak orang. Namun, dirinya kini sendiri. Tak ada Cindy, tak ada bodyguard yang menjaganya.
Cercaan dan hinaan ditujukan padanya. Ingin menjelaskan yang sesungguhnya. Ingin pula membela diri bahwa tak sekalipun dirinya menyebutkan nama secara gamblang siapa yang menjadi tunangannya. Namun, panic attack membuatnya tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Flash beberapa kamera pengunjung Mall menyilaukan mata Miranda. Campuran orang yang berkerumun. Ada yang membencinya, ada juga yang membelanya. Dia bisa mendengar dari beberapa pengunjung yang iba padanya.
Miranda tak bisa berpikir. Dirinya hanya bisa menunduk, ingin lari pun tak bisa. Dalam kelilungan, tiba-tiba tangannya ada yang menarik.
Sebuah tangan putih dan bersih menggenggam tangannya dengan kuat. Dirinya digiring seseorang, yang dirinya sendiri tak tahu kemana mereka pergi.
Dirinya didorong dan dimasukan ke dalam mobil tanpa menyadari siapa yang menariknya dari kerumunan.
Brak! Pintu mobil tertutup. Miranda mendongak melihat pria yang berada di bangku kemudi. "Kau ...."
Renan hanya melirik sekilas dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Miranda melirik ke jendela, menatap sekumpulan orang yang sebelumnya mengerumuninya. Dia mengalihkan pandangannya ke depan. Menatap jalan lurus. "Kenapa kau ada di sana?" tanyanya.
"Hanya kebetulan lewat saja. Kita baru sesaat keluar dari restoran, tentu aku masih ada di sekitar mall," jelas Renan.
Renan tak berbohong, dirinya memang masih berada di mall. Dia tak bertemu dengan Aryo karena dirinya mampir terlebih dahulu ke apotik yang berada di mall.
"Oh," lirih Miranda.
"Mau turun di mana?" tanya Renan datar. Tak mau berbasa-basi. Hanya tindakan kemanusiaan menolong Miranda dan tak lebih dari itu.
"Turunkan saja aku di depan," ucap Miranda tak pikir panjang. Dia pun tak ingin banyak merepotkan Renan, dia tahu pria itu hanya terpaksa menolongnya.
"Kau mau turun di bawah lampu lalu lintas? Nanti akan ada yang menawar dirimu!" ketus Renan.
"Kau pikir aku wanita apa?" kesal Miranda. Dia sampai meninggikan suaranya.
"Karena itu, kalau bicara dipikir dulu! Di Mall saja bisa dengan mudah dikenali bagaimana jika aku turunkan di tengah jalan?" cerocos Renan.
"Kalau aku bilang antar aku ke rumah. Apa kau mau mengantarku?" tantang Miranda.
"Kau tenang saja, aku akan melempar mu hingga depan rumahmu!" sungut Renan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terima kasih telah mengantar kami," ujar Anyelir setibanya di kantor.
"Sudah merupakan kewajibanku menjagamu selama suamimu tak di sini," ucap Aryo.
Vinnie hanya melirik sekilas pada Aryo setelah itu keluar dari mobil bersama Anyelir. Aryo keluar dari mobil dan memanggil Vinnie hingga membuat gadis itu berhenti melangkah.
"Ada apa?" tanya Vinnie melihat Aryo yang berlari ke bagian belakang mobil.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" seru Aryo.
Dia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan paper bag dari dalam mobil. Dia berjalan menghampiri Vinnie. "Untukmu," ucap Aryo seraya menyodorkan paper bag cukup besar pada Vinnie.
"Apa ini?" tanya Vinnie melirik sekilas ke dalam paper bag.
"Tas," jawab Aryo.
Vinnie mengeluarkan isi dari dalam paper bag. Dia terkejut karena di dalamnya terdapat tas dengan merk dagang yang sama dengan yang digunakan oleh Anyelir. Tas yang baru siang tadi didapat Anyelir dari Krisan.
Satu merk dagang yang sama tetapi dengan model yang berbeda. Anyelir melirik sekilas pada tas tersebut. Dia yakin, harga tas tersebut tidak lebih tinggi dari punyanya. Bukan iri, dirinya hanya mengerti banyak barang mewah.
"Ini untukku?" tanya Vinnie memastikan.
"Tentu, itu untukmu," jawab Aryo.
"Dari siapa?" tanya Vinnie lagi. Anyelir baru saja mendapat tas baru dari suaminya. Tidak mungkin Krisan pun memberikan hadiah untuknya.
"Tentu saja dariku. Jangan berpikir Krisan memberikan hadiah untukmu, yang dia ingat hanya istrinya. Meskipun, di samping istrinya ada wanita yang setiap saat membantu istrinya," timpal Aryo.
Aryo tahu tugas Vinnie melayani Anyelir, sebagai asisten dalam pekerjaan ataupun pribadi, tak jarang Vinnie pun yang turun langsung dalam berkendara. Meskipun, saat ini lebih banyak Anyelir diantar oleh sopir.
Anyelir hanya sedikit mendecih mendengar celoteh Aryo.
"Kenapa memberiku ini?" tanya Vinnie nampak bingung.
"Hanya sebagai hadiah kecil saja," ujar Aryo. "Aku pergi dulu."
"Orangnya sudah pergi. Apa yang kau lihat?" Anyelir memecahkan lamunan Vinnie. Dia memperhatikan setiap interaksi Vinnie dan Aryo.
"Oh, tidak ada Nona," ucap Vinnie sedikit salah tingkah.
"Kau menyukainya?" tanya Anyelir menyipitkan mata.
Pertanyaan Anyelir menyadarkannya bahwa Aryo sudah memiliki kekasih. "Tidak" jawab Vinnie.
"Aku juga wanita. Aku tahu bagaimana seorang wanita jatuh cinta!" tutur Anyelir.
Vinnie hanya mengedipkan matanya sekali. Jelas, dia tak bisa membohongi bos-nya. "Perasaanku tidak penting."
"Kenapa bicara seperti itu? Aku rasa, dia cocok untukmu. Dia pun bukan pria playboy." Anyelir cukup mengenal Aryo. Selama dia mengenalnya, Aryo tak pernah bersikap layaknya seorang bad boy.
"Kami hanya berteman. Lagi pula, dia sudah memiliki kekasih," jelas Vinnie merendahkan suaranya.
"Kekasih?" tanya Anyelir memastikan.
"Ya, mereka dijodohkan dan merasa saling cocok," papar Vinnie.
__ADS_1
"Apa dia tahu perasaanmu?" tanya Anyelir.
Vinnie menggeleng. "Aku rasa dia tak perlu tahu."
"Apa kau bahagia?"
"Maksud Nona?"
"Apa kau bahagia dengan menyimpan perasaan sendiri? Bukankah itu menyakitkan?"
"Cinta tak harus memiliki. Aku hanya ikut bahagia jika dia bahagia," jelas Vinnie.
"Dan kau akan lebih bahagia lagi jika suatu saat dia menikah lalu bercerai dari istrinya itu?" tanya Anyelir seraya menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa bicara seperti itu?"
Anyelir hanya menghembuskan napasnya pelan. "Kalau tidak bisa bersama. Lebih baik lupakan dia. Jangan buang waktumu, apalagi sampai memenuhi hatimu untuk pria yang tidak bisa diraih. Cinta tak harus memiliki, aku rasa hal itu tak masuk akal. Cinta itu harus memiliki, jika tak bisa memiliki, harus membuang jauh rasa cinta itu. Aku percaya Tuhan menciptakan manusia berpasangan. Jika hatimu kau berikan pada pria yang tidak bisa bersamamu. Maka, akan ada hati yang akan tersakiti, yaitu pasanganmu yang sesungguhnya. Saatnya tiba bertemu dengan pasanganmu sesungguhnya, bukankah menjadi tidak adil untuk pria itu jika kau masih menyimpan hati pada pria lain?" Anyelir memberikan petuah pada Vinnie. Bukan berarti dirinya dan Krisan sudah benar. Namun, dia sedang menata kembali hatinya pada pria yang sama.
Vinnie hanya mengangguk kecil mendengar ceramah cinta dari Anyelir. Sedikit setuju dengan perkataan Anyelir. Perkataan bosnya seolah jangan pernah menyakiti diri sendiri dengan menyimpan cinta sendiri.
Lalu, bagaimana dengan bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia meskipun tidak bersamanya? Apakah itu bisa juga dikatakan cinta? Second lead dalam drama yang merasa bahagia melihat sang pemeran utama bahagia. Melihat senyum orang yang dicintai sudah cukup baginya tanpa harus memiliki.
"Aku akan mencoba melupakannya," ucap Vinnie.
"Kau bisa menyatakan perasaanmu padanya. Bukan untuk meminta menjadi kekasihmu melainkan sebagai pernyataan agar hatimu bisa tenang. Setidaknya, dia tahu kau pernah menyukainya. Ada yang bilang, mengungkapkan perasaan akan membuat hati kita menjadi lega," jelas Anyelir.
"Apakah Nona akan seperti itu?"
"Tidak!" jawab Anyelir pasti. Vinnie hanya mengerutkan dahinya tak mengerti. Anyelir mengerti kebingungan Vinnie. "Aku tidak akan pernah menyatakan cintaku terlebih dahulu, karena selama ini, para pria lah yang jatuh cinta padaku terlebih dulu," ucap Anyelir dengan menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu, untuk apa mengatakan panjang lebar padaku!" dengus Vinnie.
Anyelir membulatkan mulutnya. "Ternyata kau bisa santai juga," godanya.
"Apa maksud Nona? Apa selama ini Nona mengganggapku gadis kaku?"
"Apa kau tak merasa?" tanya Anyelir masih dengan tawa kecil di bibirnya. Vinnie hanya memajukan bibirnya karena kesal.
"Sudah, jangan pikirkan cinta! Biarkan cinta yang datang dengan sendirinya," ujar Anyelir.
"Ya," lirih Vinnie.
"Aku ingin kau yang menjadi moderator meeting sore ini," ucap Anyelir seraya berjalan di depan Vinnie.
"Apa?" tanya Vinnie.
"Aku yakin pendengaranmu tak bermasalah. Apa aku harus mengulang perkataan ku?"
__ADS_1
"Tidak Nona. Aku paham," jawab Vinnie.
Ya, Anyelir tak suka jawaban tak bisa. Vinnie hanya menghela napas, sedikit tekanan dalam pekerjaan, bisa membuatnya sekilas melupakan Aryo.