
"Ayo masuk," ujar Renan pada Aryo.
Mereka masuk dalam acara jamuan. Meskipun Aryo hanya orang kepercayaan Krisan. Namun, dirinya cukup dikenal di kalangan bisnis, tak jarang beberapa tindakan perusahaan adalah keputusannya.
Mata Renan menangkap sosok dikenalnya, begitupula dengan Miranda yang tak sengaja melihat ke arah Renan. Dirinya pun diundang ke acara tersebut. Mata mereka saling bertemu tetapi tak ada gurat ekspresi apapun di wajah keduanya.
"Kenapa ada gadis itu di sini," gumam Renan.
"Apa?" tanya Aryo yang tak mendengar jelas ocehan Renan.
"Tidak ada," ucap Renan.
Acara berjalan sebagaimana mestinya. Hingga acara pun selesai. "Aku pergi dulu."
Belum juga Renan menjawab, Aryo sudah meninggalkannya. Renan hanya memandang Aryo yang sedang berjalan sedikit berlari. Jelas pria itu terburu-buru.
Renan pun ikut keluar, berencana untuk langsung pulang. Kehidupannya monoton dan hanya dihabiskan pada pekerjaan. Tak ingin kembali ke kehidupan kelamnya, karena itu, dirinya tak pernah berkumpul dengan teman-temannya. Terlebih lagi, semua temannya tidak di negri ini.
Langkah Renan berhenti, melihat Miranda yang sedang berdiri di lobby. Baru akan melangkah, Miranda pun menoleh padanya.
“Hai,” sapa Miranda.
“Hai,” jawab Renan datar.
“Kau mau pergi?”
“Ya.” Renan berjalan menghampiri Miranda. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Apa kau pikir hanya pelaku bisnis saja yang diundang?” tanya Miranda sembari menyelipkan rambut di telinga. “Tapi … kalau kau berpikir seperti itu, aku pun pantas untuk hadir. Karena aku, juga seorang pelaku bisnis!”
Ya, Miranda mencoba peruntungan untuk menjadi seorang pengusaha. Meskipun hanya menanam saham pada salah satu perusahaan, dirinya tak ingin tinggal diam mendapatkan pendapatan hanya dari industri hiburan.
Renan hanya menaikan alisnya sebelah, dia tak peduli apa yang dilakukan oleh Miranda. “Baiklah, semoga bisnismu lancar.”
Tiba-tiba Miranda mengangkat tangannya menutupi matanya, flash cahaya masuk ke dalam netranya. Renan pun menyadari bahwa mulai banyak media yang menghampiri mereka. Tanpa sadar, Miranda langsung merangkul lengan Renan.
“Miranda, bisa klarifikasi sebentar?”
“Apakah rumor hubungan Anda dengan seorang pengusaha muda hanya sebuah gimmick agar karir Anda tetap meroket?”
“Siapakah tunangan Anda sesungguhnya?”
“Penyataan Anda sebelumnya merucut pada satu pria dan kini Anda menyangkal tak ada hubungan apapun setelah istri dari pria itu klarifikasi. Bagaimana Anda menjelaskannya? Apakah Anda menjalani hubungan gelap?”
Pertanyaan beruntun keluar dari mulut para reporter. Miranda menghela napasnya. Tidak ada jalan lagi untuk menghindar, dia harus meluruskan permasalahan. Tidak ingin dikatakan mendongkrak popularitas hanya dari skandal asmara. Dirinya pun punya bakat dan patut diapresiasi.
Miranda tersenyum ramah pada para reporter. Meskipun kesal dengan para reporter yang mengganggu kehidupannya. Namun, karena mereka juga dirinya bisa terkenal. “Tidak ada gimmick, tak ada hubungan dengan direktur Krisan. Kami hanya sebatas rekan kerja,” jelasnya.
__ADS_1
“Lalu, siapa tunangan Anda? Bukankah Anda pernah bilang sudah bertunangan?” tanya seorang reporter. Sang reporter melirik ke samping Miranda. “Bukankah pria ini adalah pria yang bersama Anda di mall? Apakah dia tunangan Anda?” tambahnya.
“Kami ….”
“Ya, ini tunangan saya,” jelas Miranda memotong ucapan Renan. Dia berharap Renan bisa bekerja sama. Bosan dengan tuduhan dirinya yang membual hubungan dengan Krisan.
Renan langsung menatap Miranda. Sang wanita mengeraskan genggamannya pada lengan Renan. Senyum lembut terukir di sudut bibir Miranda. Tampak senyum tulus tetapi Renan tahu itu adalah senyum memohon.
“Apa kalian memiliki hubungan khusus?” tanya seorang reporter. “Kalian tak pernah terlihat bersama sebelumnya? Apa karena untuk menutup berita sebelumnya?”
Para reporter tak melihat mimik wajah Renan yang bahagia. Membuat para reporter menduga bahwa Renan bukan kekasih Miranda sesungguhnya.
“Emm, kami menjalani hubungan jarak jauh. Tentu kami jarang bertemu,” ucap Miranda menutupi kegugupannya.
“Tuan, apakah benar kalian bertunangan?” tanya seorang reporter pada Renan.
Renan melepas tangan Miranda yang melingkar di lengannya. Miranda mulai panik, takut Renan mengatakan hal yang merugikannya. Jika pria itu mengatakan mereka tak ada hubungan apapun, dirinya pasti akan malu seumur hidup. Semua mata melihat tindakan Renan. Namun, kepanikan Miranda hanya sebentar. Renan menggenggam erat tangan Miranda.
“Ya, aku tunangannya. Aku lama di luar negri dan baru kembali akhir-akhir ini,” ucap Renan santai.
Para reporter bersorai, artis yang selama ini tak pernah mengungkapkan identitas kekasihnya tampil di muka publik dengan bergandengan tangan.
“Kenapa baru mengungkap hubungan kalian sekarang? Sudah banyak spekulasi bahwa Miranda memiliki hubungan dengan pria beristri. Apa hubungan kalian hanya settingan?”
“Ada hal yang tidak perlu kami publikasikan,” jelas Renan.
“Jadi, hubungan kalian sungguhan?” tanya seorang reporter memastikan.
Tentu kamera mengabadikan kejadian tersebut. Miranda hanya melebarkan mata saat dirinya dicium oleh pria yang kerap berseteru dengannya. Ciuman yang berlangsung tidak sampai satu menit.
“Apa sudah ada rencana menikah?” tanya seorang reporter lagi.
“Kalian akan mendapat undangannya jika hal itu terjadi,” ucap Renan.
Renan langsung menarik lengan Miranda langsung menuju mobilnya. Miranda hanya memberi senyum pada para wartawan. Para wartawan tak luput terus merekam kebersamaan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ehem ...." Vinnie membuka bungkus obat tablet sakit tenggorokan. Setelah beristirahat tidak juga membuatnya lebih baik. Tubuhnya semakin lemah, tetapi enggan untuk ke rumah sakit.
Setelah meminum obat, berencana untuk kembali beristirahat. Namun, pintu rumahnya ada yang mengetuk. Dia bangkit dan menghampiri pintu untuk melihat tamu yang datang malam-malam.
“Kau ….” Vinnie tak melanjutkan perkataannya, dia sangat terkejut dengan kedatangan Aryo.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Aryo.
“Kenapa di sini?”
__ADS_1
“Katanya kau sakit. Jadi, aku mampir.”
“Aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat sejenak.”
Aryo menelisik Vinnie. “Wajahmu pucat. Pasti ada yang salah dengan dirimu.”
“Aku tidak apa-apa.”
Aryo mengulurkan tangan dan menyentuhkan punggung tangannya pada dahi Vinnie. “Tubuhmu panas.”
“Sungguh aku baik-baik saja.” Vinnie mendorong tangan Aryo di dahinya, mencoba menolak sentuhan pria itu.
Tangan Aryo hanya menggantung di udara. Dia sadar terlalu khawatir berlebihan. “Apa sudah minum obat?”
“Ya,” jawab Vinnie dengan suara serak. “Sebaiknya kau pulang, aku ingin beristirahat.”
“Apa tidak ingin ke rumah sakit?”
“Tidak. Aku sangat tahu tubuhku sendiri. Hanya butuh rehat saja.”
“Baiklah. Jaga kesehatanmu.”
“Ya. Terima kasih telah berkunjung.”
Aryo hanya tersenyum, enggan untuk pergi. Namun, sang pemilik rumah sudah mengusir tersirat. “Aku pulang dulu.”
“Ya, hati-hati.”
Vinnie yang berdiri lemah, tiba-tiba menggenggam handle pintu. Pusing di kepalanya mulai bertambah. Aryo yang melihat itu langsung panik. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Aryo memegang lengan Vinnie.
Vinnie tak bisa menjawab pertanyaan Aryo, dirinya sudah sangat lemah. Dirinya merasa melayang, tak terlalu mengerti keadaan. Kakinya seperti tak menapak lantai.
Aryo menggendong Vinnie menuju kamarnya. Perlahan meletakan sang gadis di atas ranjang. Mata Vinnie berkedip lemah.
“Kita ke rumah sakit ya?” bujuk Aryo.
“Tidak! Aku hanya butuh istirahat,” jawab Vinnie lemah. Kesadarannya masih ada meskipun tak stabil.
“Tubuhmu panas sekali,” terang Aryo menyentuh dahi Vinnie lagi.
“Hanya perlu minum obat dan dikompres saja,” ucap Vinnie.
“Baiklah, tunggu di sini.” Aryo langsung pergi dari kamar. Dia menuju dapur, mengambil air dalam wadah dan juga handuk kecil. Dia kembali lagi menuju kamar Vinnie dan mulai mengompres dahi gadis itu. “Aku akan beli obat untukmu.”
“Tidak perlu, aku masih ada persedian obat. Bisa ambilkan aku obat demam di meja?” pinta Vinnie.
“Tunggu sebentar.”
__ADS_1
Aryo menuju meja dekat ranjang. Matanya mengedar mencari keberadaan obat. Dia hanya melihat obat radang di atas meja. Tak menemukan obat demam, Aryo membuka laci di meja tersebut.
Bukan obat demam yang ia dapat. Matanya tertuju pada sebuah kotak kaca, menampilkan secara jelas apa yang ada di dalam kotak tersebut. Tangan Aryo terulur dan mengangkat kotak tersebut. Membuka kotak kaca dan menyentuh bunga mawar berbentuk mawar.