Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 57 Mencoba Berdamai


__ADS_3

Ada penyesalan dalam hati Krisan. Seharusnya, dia tak perlu melakukan penyelidikan yang membuat dia dan Anyelir tak bahagia. Jika kebenaran membuat hubungan mereka renggang, dia tak akan pernah melakukan penyelidikan itu. Namun, semua telah terjadi. Setidaknya, dia tak merasa bersalah pada orang tuanya. Dia sudah mencoba mencari kebenaran tentang kematian orang tuanya. Meskipun, kebahagiannya terganggu.


Krisan mengusap lembut punggung sang istri. Meyakinkan diri sendiri bahwa mereka berhak bahagia. Anyelir memberi jarak di antara mereka, dia menatap wajah sang suami. Krisan memberikan senyum lembut pada sang istri. “Matamu seperti habis ditonjok,” ujar Krisan diiringi tawa kecil.


“Kau juga,” timpal Anyelir.


Krisan bangkit dan menggendong istrinya. “Di lantai dingin, kita ke atas.” Perlahan meletakan Anyelir di ranjang. Dia ikut berbaring di ranjang sang istri.


“Kris ….”


“Ya.”


“Em … aku …” Sangat sulit bisa langsung menganggap tak terjadi apa-apa. Anyelir pun tak ingin terus menerus dihantui rasa bersalah bercampur dengan penolakan akan kenyataan.


“Kita hanya perlu fokus pada masa depan kita. Aku tak ingin kau merasa bersalah. Seperti yang kau bilang, kau sulit menerima kenyataan ini karena kau merasa dibesarkan dengan orang tua yang penyayang. Aku hanya tahu kebenaran dari hasil penyelidikan. Namun, yang mengetahui sesungguhnya adalah orang tua kita sendiri. Aku tidak akan bilang siapa yang salah dan siapa yang benar. Belum tentu juga aku yang benar. Kau tahu, keadilan yang sebenarnya bukanlah di dunia ini tapi keadilan Tuhanlah yang seadil-adilnya. Kita sebagai manusia hanya menjalani hidup saja. Berusaha menjalani dengan baik,” jelas Krisan. Dia sudah tak ingin terbelenggu masa lalu.


Anyelir mendengarkan suaminya. Sejak mereka bertemu, Krisan memang selalu mengayominya. Meskipun, pria itu begitu posesif. “Jadi maksudmu, orang tua kita menyelesaikan di alam baka sana?”


Krisan mengerutkan alisnya. “Entahlah.”


Anyelir terdiam, dia pun tak tahu kehidupan setelah kematian seperti apa. Bukti sudah sangat kuat, tetapi masih ada penyangkalan di hatinya bahwa ayahnya bukan seorang pembunuh. “Jika aku melakukan penyelidikan ulang … bolehkah?”


“Terserah dirimu. Jika ingin melakukannya, silakan. Namun, aku tak ingin mengorek masa lalu lagi. Semenjak perpisahan kita, membuatku berpikir panjang. Aku lebih memilih untuk mengejarmu kembali karena kuyakin, kita tulus saling mencintai. Bukan berarti aku meyakini seutuhnya sejarah kelam yang didapatkan orang suruhanku. Bukan juga ingin membuatmu merasa bersalah. Aku … hanya ingin melihat masa depan kita dengan bahagia dan melepaskan masa lalu. Aku … hanya ingin melihatmu sebagai Anyelir, dan hanya ada Krisan di matamu.”


Anyelir tak lagi bicara. Mereka hanya saling berpelukan tanpa berbicara lagi. Lelah menangis, lelah berdebat, membuat mereka perlahan menutup matanya. Mencoba berdamai dengan masa lalu.

__ADS_1


...****************...


Renan hanya menatap sepupunya yang sibuk dibalik komputernya. Dia tak tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi Anyelir dan Krisan. Namun, dilihat pagi hari yang berangkat bekerja bersama, sudah menunjukan bahwa mereka baik-baik saja.


“Matamu bisa keluar jika terus menatapku seperti itu! Aku memang cantik. Jadi, tak usah menatapku berjam-jam!” dengus Anyelir. Dia sadar sedang ditatap sang sepupu.


“Ah, menyebalkan!” ketus Renan. Dirinya baru tiba beberapa menit lalu. Namun, Anyelir sudah mengejeknya.


“Dari pada kau hanya duduk di sana. Lebih baik kau mengunjungi pabrik! Bisa sekalian pantau produksi!”


“Semua sudah berjalan lancar. Demo karyawan pun sudah teratasi. Untuk apa lagi aku ke sana! Lagi pula ini sudah sore.”


“Kalau begitu, mengapa duduk di sana? Memangnya tak ada yang harus dikerjakan lagi?”


“Aku ditugaskan di sini hanya untuk membantumu. Kalau semua aku yang bertindak, sama saja aku yang pegang kendali!”


“Bekerja keras itu baik. Tapi, bekerja cerdas lebih baik lagi!” ucap Renan penuh bangga.


Pluk! Anyelir melempar pulpen pada Renan dan mengenai tubuh pria itu. “Kau mau bilang aku kurang cerdas dan hanya bermodal berusaha dengan giat!” ketus Anyelir. Dirinya pernah gagal mendapat project dari Dekashi Group. Dia juga gagal bekerja sama dengan PT Galazy. Akhirnya Renan turun tangan dan mendapatkan mitra bisnis dari perusahaan lain. “Tapi itu memang kenyataan sih,” tambahnya.


“Bukan kau yang kurang cerdas. Hanya jam terbang saja yang kurang. Kau baru belajar bisnis. Jangan samakan aku yang sudah tua di dunia bisnis. Kalau aku tidak lebih baik darimu. Berarti aku yang bodoh, sudah bertahun-tahun tetap tak ada perkembangan!”


Anyelir hanya menganggukkan kepala. Dia menatap lekat Renan. “Apa kau pernah bertemu dengan orang tuaku dulu? Kau lebih tua dariku.”


Renan hanya menghela napas pelan. “Tidak pernah. Bahkan aku tahu memiliki sepupu saat menjagamu di rumah sakit.”

__ADS_1


“Apa kau pernah bertanya, mengapa ayah dan paman Petra berseteru? Mereka bersaudara, tapi aku tidak memiliki kenangan terhadapnya. Bahkan aku tidak menemukan photonya di rumah. Ayahku pun tak membahasnya. Jika bukan karena mirip dengan ayah dan juga semua bukti yang menunjukan aku keponakannya. Mungkin, aku tidak pernah percaya memiliki seorang paman.”


“Aku tidak tahu apapun. Kau tahu sendiri, aku tidak terlalu akrab dengan ayahku. Aku hanya berusaha menjadi kebanggaannya,” ucap Renan.


Anyelir menatap jam didinding. “Sudah waktunya pulang kerja, kau ingin pulang? Kau bisa kembali ke apartemenku, karena aku akan pulang ke rumah.”


Renan menyinggung senyum mengejek. “Jika sudah tak bertengkar dengan suami saja menawarkan apartemenmu!” dengusnya.


“Kalau mau tinggal di apartemen Krisan juga boleh,” ujar Anyelir menaikan alisnya.


“Kau tak perlu khawatir. Kedua apartemen itu sudah menjadi milikku!”


Anyelir hanya terkekeh, dia mengambil tasnya. “Kau mau pulang tidak? Kalau tidak ada pekerjaan, antar aku ke kantor Krisan.”


“Apa kau pikir, aku sopir!” dengus Renan. Dia pun ikut bangkit, bersiap untuk meninggalkan kantor.


“Siapa tahu kau berbaik hati mengantarku,” ucap Anyelir menyunggingkan senyum.


“Sudah berbaikan saja mulai bucin lagi!” ejek Renan. Meskipun tidak tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh Anyelir dan Krisan. Namun, melihat senyum Anyelir membuatnya cukup bahagia.


Anyelir hanya tersenyum smirk. Mereka masuk ke dalam lift. Mereka berpisah setelah sampai lantar dasar. “Aku pergi dulu.”


“Ya,” jawab Renan. Dia langsung menuju mobilnya sendiri. Melajukan mobilnya dengan pikiran kosong. Hingga akhirnya tiba di tempat tujuan.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Kaca jendela mobil Renan ada yang mengetuk, dia langsung menoleh ke arah jendela. Miranda yang telah mengetuk kaca jendela mobilnya. “Kenapa aku ke sini?” gumamnya. Dia membuka jendela mobilnya.


“Kau datang terlalu cepat. Acaranya pukul 7 malam. Tapi tidak apa, kita bisa mampir ke butik terlebih dahulu dan memilih pakaian yang sesuai dengan kita,” jelas Miranda dengan senyum lebar.


__ADS_2