
"Apa?" tanya Renan. Dia tak mendengar jelas apa yang diucapkan Miranda.
Miranda sedikit menggeleng kepalanya. "Karena aku, bajumu kotor," ucap Miranda.
"Tidak masalah,” ucap Renan masih sibuk membersihkan bajunya.
Miranda kembali memakan makanan yang dibelikan Renan. Dia memakan banyak, meskipun dia tak menikmati makanan itu. Pikirannya berkelana, mengusir apa yang ada di benaknya. Makan adalah salah satu caranya mengalihkan pikirannya.
“Katamu kau diet? Kau bahkan menghabiskan setengah dari makanan tinggi kalori ini,” ucap Renan memecahkan pikiran Miranda.
“Sesekali tidak masalah. Aku bosan hidup dengan banyak kekhawatiran. Khawatir akan berat badan. Aku harus selalu menjaga penampilanku. Mengatur pola makanku setiap hari, meskipun aku tak menyukai itu,” jelas Miranda.
“Bukankah bagus? Selain menjaga penampilan bisa menjaga kesehatanmu bukan?”
“Tapi terkadang aku merasa tersiksa. Aku seperti hidup bukan menjadi diriku. Harus selalu tersenyum, seolah aku adalah gadis yang polos dan suci. Semua yang melekat pada diriku diatur sesuai kemauan pasar. Ya, agar para penggemar tak meninggalkanku. Aku tidak boleh ada celah keburukan. Bahkan dalam kehidupan nyatapun, aku masih harus berpura-pura,” jelas Miranda.
Renan hanya mendengar curahan hari gadis itu. Tidak jauh dengan dirinya yang selalu bersikap baik. Bahkan ayahnya tidak tahu akan penyimpangan yang ia alami karena dia terlalu menutup rapat hal itu. “Itu semua sudah menjadi pilihanmu. Kau memilih untuk terlihat baik. Terkadang kita selalu berpikir apa yang kita lakukan adalah sebuah tekanan, yang membuat kita ingin tampak sempurna. Kau mabuk-mabukan, seolah itu adalah gaya hidupmu bukan? Merasa di saat itu, kau menjadi dirimu sendiri, dan di hari esok kau harus memerankan gadis yang lugu lagi.”
Miranda menoleh pada Renan. Dia yakin, mungkin Renan sudah tahu gaya hidupnya dulu. Terlebih, Krisan pernah menggendongnya saat dirinya mabuk. Dia menyunggingkan senyum. “Ya, seburuk itu aku.”
Renan menggeleng. “Bukan buruk. Tapi, terkadang kita menyangkal kebaikan. Merasa terjebak dalam kata sempurna, terlihat baik bak malaikat. Hal-hal baik yang dilakukan secara terus menerus dan berulang. Lalu, melakukan pembelokan dengan alasan ingin menjadi diri sendiri. Aku rasa, kita hanya terjebak dalam kebosanan dalam kebaikan itu. Merasa bahwa keburukan yang kita lakukan adalah sesuatu yang menyenangkan meskipun itu semua salah. Jika dipikirkan kembali, sesuatu yang sudah benar. Jalan yang sudah baik, akan terasa baik jika kita tulus menjalaninya. Aku rasa, tidak ada salahnya jika kita buang sedikit-sedikit keburukan yang kita lakukan. Bukan untuk dipandang sempurna, melainkan untuk hidup lebih baik.”
“Maksudmu, terus jalani saja?”
“Ya, tetapi tetap menjadi dirimu sendiri. Bukankah baik meninggalkan alkohol? Tidak mengkonsumsinya bukan berarti kau menjadi orang lain. Tapi, dengan meninggalkannya kau sudah berusaha mencintai dirimu sendiri. Kau pasti tahu, minum-minuman itu tak baik untuk kesehatan.”
Miranda mengedipkan matanya sekali. “Ya kau benar. Tapi, apa aku hanya boleh makan kentang rebus setiap hari? Itu sangat menyiksa.”
Renan terkekeh. “Kalau itu beda soal. Makanlah makanan yang baik untuk tubuh. Namun, bukan berarti kau hanya memakan kentang rebus saja. Makanlah, selama itu baik. Kau bisa menjaga berat badan diimbangi dengan olah raga. Ingat, yang terpenting bukan untuk penampilan melainkan untuk kesehatan. Jika niatmu tidak untuk kesehatan. Maka, akan timbul kejenuhan dalam prosesnya.”
"Tapi kau sangat menjaga penampilanmu!" sindir Miranda.
"Penampilan adalah bonus saat aku memulai hidup sehat. Belajar untuk rajin menjaga badan. Apa kau tahu, aku pernah obesitas saat masih sekolah?"
"Kegemukan?" tanya Miranda tak percaya. Dia menelisik Renan, tidak ada tanda bekas peralihan dari gemuk ke kurus. Lemak di leher tak tampak menggelambir. Lengannya juga kuat.
Renan hanya mengangguk. Wajahnya tampak sedih. "Ya."
"Apa kau korban bullying?" tanya Miranda melihat kesedihan di wajah Renan.
Renan menggeleng. "Tidak. Tapi dimanfaatkan. Aku anak yang cukup pendiam dan gila belajar. Mereka mengajakku berteman sebagai kunci jawaban berjalan. Di sekolah mereka sangat baik padaku. Kami mengobrol layaknya sahabat. Aku dengan senang hati memberi contekan pada mereka. Namun, semua itu tidak tulus. Mereka pergi bersama setelah pulang sekolah tanpa mengajakku. Mereka membuat group chat yang tidak ada diriku. Aku hanya dibutuhkan untuk tugas dan ujian sekolah," lirih Renan.
"Bagaimana kau tahu mereka memiliki group chat tanpamu?"
"Serapat apapun menutupi, pasti ada celah yang tak disadari oleh mereka. Terkadang manusia memilik insting. Dari sana, aku menjauhkan dari mereka. Aku mulai berolah raga. Menjadikan diriku berarti. Tubuhku lebih ringan, aku tidak mudah lelah. Otot mulai terbentuk, aku bahkan mengkonsumsi obat pembentuk otot. Perlahan, penampilanku semakin menunjang. Semakin percaya diri dan ...."
Renan tak bisa lebih lanjut bercerita. Dia menundukkan kepala. Lingkup pertemanannya setelah itu berubah total. Menemukan pria yang dianggapnya cinta sejati. Perhatian pria itu tampak begitu tulus, sangat berbeda dari teman-temannya saat sekolah.
Renan yang belum mengerti cinta. Renan yang sangat gila belajar hingga tak pernah terpikirkan untuk menjalin kasih dengan seorang gadis, bertemu dengan pria yang awalnya hanya sebagai teman. Pertemanan mereka yang sangat akrab. Sangat tulus dan sangat perhatian. Hingga akhirnya ... tercipta pendeklarasian sebagai kekasih.
__ADS_1
"Dan?" tanya Miranda.
Renan hanya menghela napas. "Terus saja memperbaiki diri."
"Tidak ada orang yang sempurna. Semua orang memiliki kisahnya sendiri. Entah itu kelam atau bahagia," timpal Miranda.
"Ya."
"Sudah malam. Ayo pulang."
Mereka bangkit menuju mobil terparkir. Seseorang menyadari keberadaan Miranda. Beberapa orang meminta photo. Karena sudah larut, Miranda dengan sopan undur diri.
"Masuklah, sudah sampai."
"Besok bisa menjemputku bukan? Aku akan kirim alamatnya padamu," ujar Miranda seraya meletakan sweater Renan yang ia pakai sebelumnya.
"Apa kau pikir aku tidak ada kerjaan?"
"Kenapa selalu mengatakan itu!" keluh Miranda. "Aku memintamu jemput setelah syuting. Selesai malam hari. Aku takut pulang terlalu larut."
Renan tersenyum mengejek. "Alasan saja! Aku sudah bilang, ini terakhir kali aku membantumu. Kau punya asisten, bahkan kau punya bodyguard bukan? Ke mana mereka? Jangan bilang kau bangkrut. Kau sedang naik daun!"
"Karena aku maunya dirimu yang menjadi bodyguard-ku. Kasihan ototmu jika diabaikan."
"Mana ada alasan seperti itu. Aku tidak akan datang besok. Jadi jangan menungguku."
"Aku akan menunggumu datang."
"Kenapa?"
"Sudah kubilang, ini yang terakhir."
"Tapi kenapa?"
"Apa harus ada alasan?"
"Tentu."
"Kita tidak seakrab itu untuk bertemu setiap hari."
"Lalu kenapa kalau sekarang kita akrab?"
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Jangan selalu bertanya kenapa!"
"Apa keberadaanku mengganggumu? Apa aku begitu buruk? Apa tidak ada sedikit hati untukku?"
__ADS_1
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Apa aku tidak cantik?"
"Cantik," jawab Renan singkat.
"Kalau begitu, tidak salah bukan untuk menjalin hubungan serius?"
Renan hanya tersenyum kecut. "Jangan bicara sembarangan."
"Aku serius!" ucap Miranda tanpa berkedip.
Renan menatap mata Miranda yang menatapnya secara intens. Tiba-tiba, dia menjadi gugup. "Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Tidak ada yang tidak mungkin," timpal Miranda.
"Miranda ... itu hal yang mustahil."
"Tidak ada yang mustahil."
"Suatu hubungan tidak bisa begitu saja terjadi. Harus ada hati di...."
"Aku menyukaimu," ucap Miranda memotong ucapan Renan. "Aku tahu kau juga menyukaiku."
Renan hanya mengerutkan kening. Dia bahkan tak tahu perasaannya sendiri. Dia pun tak ingin menyakiti gadis di depannya dengan harapan-harapan yang dia sendiri belum tentu bisa memenuhinya.
"Aku ...." Ucapan Renan terputus. Tak tahu harus mengatakan sejujurnya atau tidak. Dia ingin menghapus masa lalu kelamnya. Namun, dia pun tak ingin dikira membohongi.
"Kau menyukaiku, bukan?" sambung Miranda.
"Seandainya aku menyukaimu. Kita tak akan bisa bersama." Wanita mana yang mau menerima masa lalu kelam dirinya. Sulit bagi Renan mengatakannya.
"Siapa yang bisa menjamin?"
"Kita tak mungkin bisa bersama. Aku tidak sebaik yang kau pikirkan."
"Aku pun bukan wanita baik. Setiap orang memiliki sisi buruknya."
"Ini sangat sulit. Kau berhak bahagia dengan pria yang sempurna."
"Kau sempurna di mataku."
"Aku jauh dari kata sempurna. Masa laluku buruk."
"Aku pun sama. Masa laluku buruk. Aku seorang pemabuk. Hampir masuk dalam dunia narkotik." Ya, Miranda pernah menjadi pengguna ganja, meskipun tidak sampai menjadi pecandu dan berhasil keluar dari dunia itu. "Buruk bukan? Aku bisa menerimamu bagaimanapun masa lalumu. Mantan pecandu, mantan playboy ... Aku bisa menerimanya."
Renan hanya menggeleng pelan. "Aku lebih buruk dari itu. Kita tak bisa bersama ...."
Grep! Miranda menarik kemeja Renan. Dia mendekatkan wajahnya pada sang pria. Renan hanya melebarkan mata saat wajah Miranda membesar di depannya.
__ADS_1
Tanpa ragu, Miranda mencium Renan. Ciuman yang hanya menempel. Setelah beberapa saat, Miranda melepas bibir mereka. Mereka hanya bersitatap. Miranda memajukan kembali wajahnya. Memberikan ciuman kedua kali.
Renan menarik kepalanya kebelakang. Namun, Miranda mengalungkan tangannya untuk mempererat ciuman mereka. Perlahan, Miranda menyesap bibir Renan lebih dalam. Lalu ... Renan mulai membalas ciuman paksa Miranda.