Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 21 Rahasia Renan


__ADS_3

Anyelir hanya menatap tajam Renan. Bagaimana mungkin dia mengajak makan mantan suaminya, sedangkan mereka sedang berperan sebagai sepasang kekasih.


Krisan hanya mengukir senyum, dengan tak tahu diri, dia duduk di salah satu kursi. Renan dengan sigap mengambil sebuah mangkuk kecil dan menyiapkan isi hotpot untuk Krisan. “Kau bisa makan apa saja bukan?”


“Ya,” jawab Krisan.


“Ini untukmu,” ucap Renan setelah selesai menyiapkan semangkuk steamboat untuk Krisan.


“Terima kasih. Kau sendiri yang memasak suki ini?” tanya Krisan.


“Ini bukan suki tapi hotpot atau sering juga disebut steamboat,” jawab Renan.


Krisan hanya menaikan alisnya sebelah. “Apa beda? Bukankah sama saja? Tampak seperti shabu-shabu juga.”


“Tentu beda. Hotpot dari China. Sedangkan suki dan shabu dari Jepang.”


“Kau tahu banyak tentang kuliner,” puji Krisan. Dia memakan steamboat yang diberikan. “Enak sekali. Sepertinya, kau sering memasak.”


“Ya, aku lama tinggal sendiri saat kuliah. Menjadikan memasak sebagai hobby,” jawab Renan.


“Kekasihmu pasti sangat bahagia memiliki pacar sepertimu yang pandai memasak.”


“Tentu, dia sangat menyukai ….”


“Tentu aku sangat bahagia. Karena itu kami tinggal bersama,” timpal Anyelir memotong ucapan Renan.


Dia melirik sekilas pada Renan dan memberi kode agar pria itu diam. Renan terkadang tak terkontrol saat ada orang yang membicarakan kekasihnya. Apalagi jika orang itu memuji hubungan mereka. “Sayang, kau makan ini.” Anyelir menyodorkan sebuah bakso dengan menggunakan sumpit pada Renan.


Renan langsung menerima suapan dari Anyelir, dia teringat bahwa dirinya saat ini sedang membantu Anyelir untuk berperan sebagai pacar pura-puranya. Krisan hanya tersenyum simpul. Dirinya tak sedikitpun cemburu.


Mereka makan bersama dengan sesekali Krisan dan Renan berbincang. Renan bagaikan sebuah koran yang selalu penuh dengan topik. Sangat pandai berbicara. Apapun topiknya, dia selalu bisa membahasnya.


“Apa kau ingin nambah?” tanya Renan.


“Boleh, sedikit saja,” jawab Krisan.


Renan mengambil mangkuk Krisan lalu menuangkan steamboat. Krisan hanya memperhatikan Renan menuangkan steamboatnya. Jari kelingking Renan tidak menyentuh ladle spoon. Jari kelingkingnya sering menjauh dari jari manisnya.


Krisan tersenyum simpul, dia melirik sekilas pada Anyelir. Istrinya pun sedang menatapnya sinis.


“Ada apa?” tanya Anyelir yang juga sedang menatapnya.


“Tidak apa.”


“Kau belum menandatangani surat cerai?” tanya Anyelir.


“Aku sibuk. Belum sempat melihatnya. Aku pun harus melihat dengan benar isi gugatan tersebut.”


Anyelir mendecak. “Aku hanya ingin bercerai dan tak meminta harta darimu!” dengusnya.


“Tetap aku harus melihatnya. Aku tak ingin ada sesuatu yang merugikan diriku.”


“Ini,” ujar Renan memberikan semangkuk steamboat.

__ADS_1


“Terima kasih. Kau membuat seperti ini pasti karena permintaannya,” ujar Krisan menunjuk Anyelir dengan dagunya. “Dia pasti terbawa drama yang ditonton. Jadi memintamu membuatkannya.”


“Tidak. Kebetulan aku pun suka hotpot. Jadi, aku buat ini,” jawab Renan.


“Biasanya, Anyelir terbawa suasana. Dia akan menangis saat menonton drama. Terkadang dia akan tertawa seperti orang gila. Bahkan terkadang dia memaksaku untuk juga menonton bersamanya,” jelas Krisan mengingat masa lalu.


Sangat membosankan baginya ikut menonton drama Korea. Hanya saja, rasa cintanya pada Anyelir membuat dirinya bersedia menemani sang istri menonton drama Korea. Meskipun, Krisan tak pernah serius menontonnya, dia lebih sibuk memainkan tubuh sang istri saat Anyelir serius menikmati drama Korea. Krisan senang memainkan rambut hitam Anyelir.


“Iya, kami pun sering menonton bersama,” ujar Renan, dia menoleh pada Anyelir. “Itu film apa yang anak kecil terkena AIDS ? Sangat sedih, kita sampai berebut tisu.”


“Aku lupa, yang main kalau nggak salah Gong Hyo Jin,” ujar Anyelir.


“Lakinya, Jang Hyuk. Keren banget dia jadi dokter di sana,” timpal Renan.


Krisan hanya tersenyum smirk. Bisa-bisanya mereka membahas sebuah drama Korea lengkap dengan nama tokohnya. Memuji kemampuan sang aktor dalam berperan.


Anyelir mengusir secara halus agar Krisan pergi meninggalkan unit apartemennya. "Kami masih ada urusan pribadi. Apa kau tak punya urusan lain?" tanya Anyelir seraya merangkul lengan Renan.


"Ya, aku baru pindahan. Masih banyak yang harus kukerjakan. Lain waktu datanglah ke apartemenku, kita tetangga."


"Kau tenang saja. Meskipun kita bukan pasangan lagi. Aku tidak menolak berhubungan baik dengan mantan suami. Apalagi kita tetangga," timpal Anyelir.


"Baik. Kalau begitu, aku pamit terlebih dahulu." Krisan bangkit dari duduknya.


Renan tersenyum, ponselnya berdering. "Kau antar," ujarnya pada Anyelir.


Dengan terpaksa Anyelir mengantar Krisan keluar. Renan hanya tersenyum dan sedikit mengangguk pada Krisan sebagai tanda kesopanan dirinya yang tak bisa mengantar Krisan keluar.


“Kau sengaja pindah ke sini?” tanya Anyelir tanpa menatap Krisan.


“Ya,” ujar Krisan singkat.


“Kenapa?” tanya Anyelir.


Dia ingin langsung mengatakan bahwa dialah penyebab Krisan pindah. Namun, dia tak mau terlalu percaya diri meskipun dia yakin 90% dugaannya benar.


“Di rumah terlalu besar untuk tinggal sendiri. Lagipula, istriku tak melarang diriku pindah ke apartemen.”


Anyelir hanya mengalihkan pandangan. “Segera tanda tangani surat cerai. Aku tidak ingin menghambatmu.”


“Menghambatku? Atau menghambat dirimu?”


“Apa bedanya? Yang terpenting, segera selesaikan masalah kita. Aku pun tak meminta harta darimu. Seharusnya, bisa cepat terselesaikan!”


“Datanglah ke kantorku, suratnya sudah kurobek. Kita bahas dulu, aku tidak mau asal tanda tangan. Kita menikah baik-baik. Jadi, kita selesaikan baik-baik.”


Anyelir menelan salivanya yang terasa keras. Entah mengapa saliva yang cair bisa terasa keras. Sesak rasanya saat Krisan sudah setuju untuk berpisah. Laki-laki di depannya, sudah tak memohon seperti sebelumnya.


“Baiklah. Aku akan membawa yang baru.”


Krisan menelisik Anyelir sepintas. Sang istri masih tak bersedia menatapnya. “Aku minta maaf,” lirihnya.


“Apa?” tanya Anyelir yang tak mendengar ucapan Krisan.

__ADS_1


“Tidak apa. Aku pamit pulang dulu.”


“Ya.”


“Aku pergi ya.”


“Ya.”


“Boleh aku minta satu ciuman?”


“Ha?” Anyelir mengerutkan dahi, dia takut salah dengar. Dia mendengar dengan jelas suaminya minta cium.


Cup! Krisan mengecup bibir Anyelir secepat kilat.


“Apa yang kau lakukan?” Mata Anyelir nyalang karena Krisan menciumnya tanpa izin.


“Kenapa? Kita belum resmi bercerai. Aku masih berhak atas dirimu.”


“Kau tidak bisa seenaknya seperti ini padaku! Ini namanya pelecehan! Apalagi, aku sudah punya kekasih! Kau harus sadar, sekarang aku memiliki Renan dan kita akan segera bercerai!” dengus Anyelir.


“Pelecehan? Apa ada seorang suami dipenjara karena mencium istrinya sendiri? Dan untuk Renan, kau dan dia saudara sepupu.”


Krisan sudah mengetahui identitas Renan yang merupakan anak Petra, dia memang mencari tahu tentang pria itu untuk menguatkan dugaannya. Namun, hanya sebatas mengetahui bahwa Renan adalah anak Petra. Sepertinya, Petra memang sengaja menutup rapat tentang keluarganya. Begitu sulit bagi Krisan mencari informasi tersebut.


Anyelir membuka lebar mulutnya, pantas Krisan tak meledak saat mengetahui dirinya dan Renan tinggal seatap. “Kau mencari tahu tentang dirinya?”


“Ya, meskipun sangat sulit mendapatkan informasi tersebut.”


Anyelir memutar bola matanya jengah. “Apa detektif suruhanmu juga mengatakan bahwa kami dijodohkan?”


“Ya. Tapi kalian tidak mungkin menikah!”


“Jangan kau pikir karena kami sepupu kami tidak bisa menikah.” Anyelir melangkah mendekat pada Krisan, dia berbisik di telinga Krisan. “Aku kasih tahu sebuah rahasia padamu. Aku memang tak mungkin menikah dengan sepupu sendiri. Namun, satu hal besar yang harus kau tahu—bahwa Renan bukan anak kandung pamanku. Jadi, tidak ada masalah jika kami menikah. Sekarang kau tahu bahwa aku dan dia akan segera menikah setelah aku bercerai darimu! Maka, cepat tanda tangani surat cerai kita."


Krisan menaikan bahunya. “Benarkah? Aku cukup terkejut mendengar kenyataan ini. Detektif bayaranku memang tak menemukan informasi lebih dalam. Namun, apa benar dia bisa menikahi mu?”


“Apa maksudmu? Kami sudah tinggal bersama. Tentu saja kami akan segera menikah!” ketus Anyelir.


Krisan melangkah ke depan Anyelir. Mendekatkan wajahnya pada sang istri. Anyelir mundur selangkah. Koridor apartemen mereka tidak ada orang selain mereka. Ya, hunian apartemen exclusive yang cukup besar satu unitnya. Membuat satu lantai tersebut hanya tersedia 4 unit.


Tangan Krisan menjulur, dia menyentuh wajah sang istri. Tangan satunya meraih pinggang Anyelir. Jantung Anyelir berdegup kencang. Entah mengapa dia tak mendorong Krisan, aroma khas tubuh suaminya menusuk hidung. Aroma yang selalu membuatnya nyaman.


Ditariknya pinggang sang istri hingga tubuh mereka berdekatan. Anyelir mencoba menarik kepalanya. Namun, dengan cepat Krisan menahan tengkuknya. Krisan langsung mencium bibir sang istri.


Ciuman lembut diberikan oleh Krisan. Anyelir hanya memejamkan matanya, perlahan sesuatu lembut dan basah menerobos mulutnya. Lidah mereka saling membelit. Krisan semakin gila, dia sangat merindukan sang istri. Namun, dia tak ingin hal sebelumnya terulang lagi. Dia tak ingin didorong sang istri, dia hanya akan memberikan ciuman manis yang membuat istrinya tak melupakannya.


Ciuman yang cukup panjang. Perlahan Krisan mengakhiri ciuman panjang mereka. Dia tersenyum, melihat reaksi Anyelir. Dia yakin, sang istri masih sangat mencintainya. Namun, kebodohan yang dilakukan di masa lalu. Luka yang didapat Anyelir, membuat gadis itu ingin menyerah akan hubungan mereka.


Mereka saling bersitatap. Tatapan Anyelir penuh cinta dan benci. Dia hanya bisa merapatkan bibirnya. Berbeda dengan Krisan yang memberikan senyum hangat.


“Apa Renan bisa mencium seperti itu? Aku rasa, sangat sulit baginya melakukan itu padamu. Tapi … maybe he can do with his boyfriend,” bisik Krisan.


Mata Anyelir membulat. Rahasia Renan yang hanya dirinya yang tahu. Bagaimana mungkin Krisan mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2