Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 48 Ikan Dalam Wajan


__ADS_3

"Bagaimana ini?" gumam Miranda.


Dia menatap ikan yang baru saja dia keluarkan dari dalam kulkas. Di dalam kulkas terdapat beberapa bahan makanan. Namun, hanya ikan yang sudah dalam keadaan bersih. Satu ekor utuh yang siap untuk dieksekusi, terdapat sesetan di daging ikan dan juga berbumbu.


Dia memilih ikan karena daging sapi masih dalam bongkahan besar dan beku, begitu juga dengan ayam yang masih dalam keadaan utuh belum terpotong. Malas untuk memotong, lebih tepatnya tak tahu mengeksekusi bahan makanan itu.


Perut Miranda sudah sangat lapar. Dirinya yang tak pernah memasak mencoba untuk membuat makanannya sendiri.


Dia mulai menyalakan kompor, meletakan wajan dan mengisi dengan minyak. Setelah merasa minyak panas, dia mulai menceburkan ikan tersebut ke dalam wajan.


"Auw!" teriak Miranda saat dirinya terciprat minyak panas. Dia hanya menggunakan hotpants dan crop top milik Anyelir. Ya, dia mengambil pakaian yang ada di dalam lemari kamar Anyelir.


Letupan minyak semakin banyak, ingin sekali mematikan kompor tetapi minyak tak henti meletup. Dia hanya bisa berteriak dengan mengacungkan spatula yang ada di tangannya.


"Bagaimana ini? Bagaimana ini!" rancau Miranda. Dirinya panik, minyak terus meletup bagaikan percikan kembang api.


Renan masuk ke dalam apartemen dan melihat kekacauan yang ada di dalam. "Apa yang sedang kau lakukan?" teriaknya menghampiri Miranda.


Renan langsung mematikan kompor. Melihat Minyak yang bercecer di lantai dan juga sekitar kompor, dia mengerenyitkan dahi. Entah apa yang dilakukan gadis itu hingga membuat kekacauan itu.


"Aku lapar, aku hanya mencoba untuk memasak," jelas Miranda saat melihat raut kemarahan Renan.


"Memasak atau perang?" cibir Renan. Dia mulai membersihkan kekacauan yang ada. Mengelap minyak yang bertebaran ke segala arah.


"Aku tidak tahu kenapa jadi seperti ini," bela Miranda.


Renan menoleh menatap Miranda. "Kalau tak tahu cara memasak, kenapa tidak pesan makanan saja?" Dia masih kesal dengan gadis itu.


Miranda menundukkan kepala. "Aku tidak tahu cara memesan makanan," jelasnya dengan suara pelan.


Renan melebarkan matanya tak percaya. Dia hanya mendecak. "Apa bisamu!"


Renan masih sibuk membersihkan minyak yang tercecer. Miranda merasa bersalah, dia mencoba membantu Renan. Mengambil kain lap dan membasahi lap tersebut dengan air, lalu membantu membersihkan cipratan minyak.


"Apa yang kau lakukan? Kau membersihkan minyak dengan air? Apa kau begitu bodoh? Membersihkan minyak dengan air yang bertolak belakang!" cibir Renan.


Miranda melempar pelan lap basah yang dipegangnya. "Aku hanya ingin membantu. Kenapa kau begitu kasar padaku? Apa salahku? Kenapa sampai memakiku bodoh? Apa yang membuatmu begitu membenciku?" teriaknya dengan mata berembun. Kesal karena Renan sangat keterlaluan padanya. Dia baru menemui pria yang begitu membencinya.


Air mata mulai menetes di pipi mulus Miranda. Renan sedikit tercekat melihat gadis yang sedang menangis itu. Air mata tak henti keluar dari matanya.


"Aku ...." Renan tak bisa mengatakan apapun lagi. Entah mengapa lidahnya kelu melihat Miranda yang begitu tampak sedih.


"Maaf telah merepotkan mu. Kau tenang saja, besok kau tak akan melihatku lagi. Kau tidak akan merasa terganggu akan keberadaan diriku lagi!" tegas Miranda seraya menghapus air mata yang ada di pipinya.


Miranda meninggalkan dapur dan langsung masuk ke dalam kamar Anyelir. Dia langsung telungkup dan menutup kepalanya dengan bantal. Melanjutkan tangis yang belum selesai.

__ADS_1


Renan hanya menghembus napasnya pelan. Dia sedikit tak tega dengan gadis itu. Mulai membuka pintu kulkas dan mengambil ayam dan beberapa bahan makanan lainnya. Renan mulai memasak masakan sederhana.


Miranda masih meratapi nasibnya di dalam kamar. Menghapus kasar sisa-sisa cairan bening di wajah. "Aku tidak boleh menangis karena pria itu!" ujarnya bersemangat.


Dia mulai mencari ponsel dan menghubungi asistennya. Merencanakan kepergiannya esok hari. Beruntung Cindy setuju untuk menjemputnya besok pagi. Miranda pun mengatakan pada Cindy apa yang terjadi hari ini, termasuk kedatangannya ke kantor Anyelir. Cindy tak bisa marah lagi pada Miranda. Mereka akan memberikan klarifikasi secepatnya. Cindy akan menyusun kalimat untuk dilontarkan oleh Miranda. Tak ingin sang artis salah bicara lagi.


“Baiklah, aku akan datang ke apartemen besok pagi,” ucap Cindy.


“Sudah pergi bukan para reporter?” tanya Miranda.


“Hanya tinggal beberapa. Mereka berpikir kau akan pulang malam ini,” kata Cindy.


“Biarkan saja mereka menunggu. Kau datang diam-diam saja!” ujar Miranda.


“Ya, kau istirahatlah.”


“Kau juga.”


Miranda memutuskan panggilan teleponnya dengan Cindy. Pintu kamar ada yang mengetuk. Dengan malas menyibakkan selimut yang digunakan dan berjalan mengarah pintu. Dia tahu yang datang adalah Renan. Enggan untuk membuka pintu namun, posisinya adalah tamu di rumah itu.


“Ada apa?” tanya Miranda setelah membuka pintu.


“Bukankah kau bilang lapar?”


“Aku memasak, terlalu banyak untuk dimakan sendiri. Kau bisa memakannya.”


“Aku sedang diet.”


Renan menghela napas pelan, tak ingin bertengkar lagi dengan Miranda. “Dietnya besok saja. Terakhir makan siang tadi bukan? Ini sudah tengah malam, kau pasti sangat kelaparan. Kalau tidak, tidak mungkin kau mencoba memasak.”


“Aku ….”


“Sudah, ayo makan.” Renan memotong ucapan Miranda. Dia menarik lengan sang gadis menuju meja dapur.


Mata Miranda membelalak melihat hidangan di atas meja. “Apa kau yang memasak semua ini?” tanyanya tanpa melihat Renan. Dia terlalu fokus dengan tiga macam hidangan di atas meja.


“Ya, makanlah.”


Renan dan Miranda duduk berhadapan. Miranda mengambil nasi dan juga lauknya. Dia langsung mencicipi masakan Renan, matanya melebar saat mencicipi masakan Renan. “Enak sekali. Bagaimana kau bisa memasak tiga jenis masakan sekaligus? Kau delivery ya?” Miranda bertanya dengan daging di mulutnya.


“Apanya yang beli! Ini semua aku yang masak. Bukan sesuatu yang ribet juga. Hanya oseng daging, sup tahu dan udang saus tiram,” papar Renan.


“Wah, bagaimana bisa memasak dengan cepat?” tanya Miranda antusias.


Renan mengambil udang dan memindahkan ke piringnya. “Masaknya jangan satu-satu. Tungku kompor tidak hanya satu. Masak terlebih dulu sopnya, selagi menunggu menindih bisa mengerjakan yang lain. Potong daging dan sedikit marinasi. Selama daging di marinasi, masak udang saus tiram, hanya perlu di tumis dan beri saus tiram setelah itu oseng daging,” papar Renan.

__ADS_1


“Masakanmu sangat enak,” puji Miranda. Tak bohong, dia makan dengan lahap. Setelah menelan suapan terakhirnya, dia menatap Renan sekilas. “Maaf telah membuat onar dapurmu.”


“Tidak apa. Wanita tak pandai memasak tidak hanya dirimu. Anyelir pun tak pandai memasak. Meskipun, dia masih lebih baik darimu. Setidaknya, dia masih bisa menggoreng ikan.”


“Ya kau benar, aku bodoh,” lirih Miranda.


Renan menggigit bibirnya pelan. “Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Kau hanya tidak tahu cara menggorengnya. Jika menggoreng ikan, masukan sebelum minyak terlalu panas. Minyak yang terlalu panas akan membuat meletup. Diusahakan juga, setidaknya setengah badan ikan terendam minyak.”


Miranda hanya menganggukkan kepalanya. “Suatu hari nanti aku akan mencobanya lagi.” Dia mulai mengangkat piring kotor menuju kitchen sink.


“Sedang apa kau?” tanya Renan.


“Kau sudah memasak, biarkan aku yang mencuci piring.” Miranda meletakan piring kotor pada drainboard sink cuci piring.


Renan mulai membantu Miranda, mengangkat sisa peralatan makan menuju sink. “Apa kau tahu cara mencuci piring?” tanyanya memperhatikan Miranda.


“Ya, tentu,” jawab Miranda sembari mengambil spons dibasuh sabun dan mengusap ke piring kotor tanpa menggunakan sarung mencuci piring.


“Benarkah?” tanya Renan mengangkat sebelah alisnya. Dia meletakan barang yang ia pegang ke drainboard.


“Ya.”


Renan hanya sedikit terkekeh. “Seharusnya kau buang dulu sisa-sisa makanannya baru mencuci piringnya,” jelas Renan.


“Salahkah?”


“Tidak ada yang salah. Hanya saja, saluran pembuangan airnya akan mampet.” Renan mengambil sarung tangan mencuci piring. “Jangan lupa menggunakan sarung pencuci piring. Kalau tidak, tanganmu akan menjadi kasar.”


Miranda mengangkat tangannya yang berbusa. Memicingkan matanya sekilas dan menoleh pada Renan. “Tidak semua orang menggunakan cara yang sama dalam mencuci bukan?”


“Maksudmu?” tanya Renan bingung.


Miranda hanya menyunggingkan senyum. “Aku akan mencuci dengan caraku sendiri.”


Miranda menyalakan keran, memindahkan semua alat bekas makan mereka dari drainboard ke bowl cuci piring. Membiarkan air menenggelamkan piring-piring. Lalu, dia menambahkan sabun cuci piring hingga berbusa. Miranda mencuci piring di dalam air yang berbusa. Dia melirik Renan sekilas dan tersenyum bangga.


Renan terkekeh melihat cara Miranda mencuci piring. “Jika seperti itu, tanganmu akan basah semua. Biar aku bantu.”


Renan mulai memasukan tangannya pada bowl sink yang berisi busa, mencoba membantu Miranda yang mencuci piring. Gadis itu tak mengangkat piring yang dicucinya. Tangan Renan tenggelam dalam busa, begitu pula dengan tangan Miranda. Bowl sink yang tidak besar, ditambah pula dengan piring, membuat tidak ada ruang lebih. Sehingga, tangan Renan dan tangan Miranda saling bersentuhan.


Gerakan tangan Miranda terhenti, begitu pula dengan Renan. Namun, tangan mereka masih saling bersentuhan. Terdiam sejenak, hingga akhirnya mereka saling tatap. Tatapan Renan masuk ke dalam netra Miranda, menatapnya dalam.


“Biar aku yang bilas,” ujar Renan memecah keheningan.


Miranda mengedipkan matanya sekali. “Ya, begitu lebih baik.”

__ADS_1


__ADS_2