
Miranda menghembuskan napasnya. Hatinya berdebar, takut akan apa yang dilihatnya nanti. Tak pernah datang ke club khusus seperti itu. Namun, bayangan menakutkan seketika lenyap. Suasananya biasa saja, seperti club malam pada umumnya. Pria tinggi besar, kekar, bahkan memiliki cambang serta wajah yang tampan. Yang berbeda, tak sedikit dari para laki-laki itu saling bergandengan tangan, bahkan lebih.
Miranda terus melangkah, mencari pria yang disukainya. Hampir semua yang berada di club khusus tersebut adalah pria. Dia berjalan dengan tenang, tak ada yang menggodanya seperti dirinya berada di club heterogen.
Mata Miranda menyipit saat melihat dua pria yang wajahnya saling menyentuh. Ya, saling cium tak terelakan lagi. Membayangkan Renan melakukan hal itu dengan pria membuatnya sesak. Urung untuk bertanya, belum tentu juga mereka mengenal satu sama lain. Miranda terus berjalan untuk melihat situasi.
Dia menelisik setiap pria yang ada di sana. Setelah berkeliling, tak ada sama sekali pria yang dicintainya. Miranda memesan satu minuman, hampir memesan yang beralkohol. Namun, dia teringat Renan hingga akhirnya dia memesan ari mineral. Menatap air mineral itu sangat dalam. Dia tahu, beberapa temannya pun ada yang LGBT. Namun, Miranda tak pernah bergaul lebih dalam, mereka masih bersembunyi karena masyarakat masih menganggap tabu hal itu.
“Apa kau sendiri?”
Miranda yang tertegun langsung tersadar, seorang gadis menghampirinya. “Ya, tidak. Maksudku … aku datang untuk menemui temanku,” jelas Miranda. Tentu, mereka berbicara dengan bahasa inggris.
“Sepertinya kau salah masuk club,” ujar sang gadis. Menelisik Miranda dari ujung kepala hingga kaki.
“Kau sendiri?” tanya balik Miranda. Dia menyentuh tengkuknya, tak nyaman ditatap seperti itu. Lebih mengerikan dari digoda oleh seorang pria. Dia tak tahu gadis di depannya gadis sepertinya atau masuk dalam kaum pelangi.
“Tidak. Aku memang datang ke sini. Namaku Raline.” Raline menyodorkan tangan.
Miranda menyambut sodoran tangan itu. “Miran,” jelas Miranda singkat.
Miranda berpindah posisi. Semula berdiri di depan Miranda. Kini, dirinya berada di samping Miranda. “Temanku sedang berada di toilet. Ini adalah pertama kali aku datang ke sini. Jangan menatapku seolah aku LGBT. Hanya untuk mencari pengalaman. Kau tidak akan diganggu pria brengsek di sini,” ucap Raline terkekeh. Miranda hanya mengulum senyum. “Aku ke sini hanya ingin melihat Drag Queen,” sambung Raline.
“Drag queen?” tanya Miranda memastikan.
'Drag' adalah singkatan dari 'Dressed As Girl'. Kata yang muncul dari William Shakespeare, seorang pujangga yang melahirkan drama kisah cinta Romeo dan Juliet, karena zaman dahulu wanita tidak diperbolehkan untuk bermain peran di teater dan para prialah yang berperan sebagai wanita.
Di mana Shakespeare menulis dramanya dengan mempertimbangkan kekuatan dan bakat rekan-rekan pemainnya. Pemain laki-lakinya yang berbakat mengambil peran perempuan termasuk peran penting Juliet.
William Shakespeare In Love adalah judul film yang pernah ditonton Miranda. Film yang berkisah kan tentang penulis novel Romeo and Juliet tersebut. Dia tahu, di dalam film tersebut sangat sulit untuk seorang wanita berkarya. Hanya pria yang diperbolehkan menjadi dramawan. Hingga pada zaman itu, para pria yang berperan menjadi seorang wanita.
Namun, kata Drag di zaman sekarang mengartikan penjelasan yang sangat berbeda karena, 'Drag' zaman sekarang bukan untuk lelaki menggantikan wanita tapi lelaki yang suka berpenampilan seperti wanita.
__ADS_1
“Ya, sebentar lagi akan tampil,” jelas Raline.
Benar yang dikatakan Raline, Drag Queen pun tampil. Miranda bisa melihat Raline yang sangat menikmati penampilan Drag Queen. Namun, tidak bagi Miranda, dia masih sangat sadar keberadaan dirinya untuk mencari Renan. Dia tak menikmati pertunjukan tersebut.
“Seperti menonton konser Ariana Grande sungguhan!” seru Raline bersemangat. Tidak lama, teman Raline dari toilet pun datang. Miranda hanya mengangguk sejenak.
“Aku harus pergi,” bisik Miranda pada Raline.
“Sudah bertemu dengan temanmu?” tanya Raline.
“Belum. Aku rasa, dia tak ada di sini,” ucap Miranda.
Raline memicingkan mata. “Mungkin, dia ada di club sebelah. Club yang lebih besar. Di sana sedang ada pesta.”
“Bisa beritahu aku tempatnya?” tanya Miranda penasaran.
Raline hanya menghembuskan napasnya pelan. “Baiklah, tapi aku tidak yakin kau bisa masuk,” ucapnya ragu.
Raline mendekat dan berbisik. Miranda hanya melebarkan matanya. Namun, tekadnya sudah bulat. Dia pamit pada Raline dan temannya dan menuju club yang disebutkan Raline. Dia hanya bisa berdiri di depan club. Dirinya tak diperbolehkan masuk, bar yang hanya boleh di masuki oleh para pria. Club yang disebut sebagai surga dunia para gay.
Miranda mengusap kasar wajahnya. Dia menatap bar di depannya. Para pria yang datang menunjukan ticket pass dan pemeriksaan oleh security. Dia hanya melihat sampai para pria masuk. Namun, ucapan Raline masih menggema di otaknya.
Setelah itu, para pria akan mengganti pakaian mereka. Tidak sedikit yang hanya menggunakan harness dan ****** ***** saja. Selain tempat pesta, club itu juga menyediakan dark room, yang memperbolehkan hubungan one on one atau group.
Membayangkan apa yang ada di dalam sana membuat Miranda meneteskan air mata. Tak bisa terlalu lama di tempat itu, dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
...****************...
“Aku sudah mengantarmu,” ucap Renan di balik kemudi. Mobilnya terparkir di club yang sama dengan Miranda berdiri.
“Kau tidak ingin masuk?” tanya Ell.
__ADS_1
“Tidak,” jelas Renan.
“Kalau begitu, kita pergi saja.”
“Kau mau aku antar pulang?”
“Malam ini saja, bolehkan?” tanya Ell menatap Renan.
Renan tersenyum getir. Dia tahu maksud Ell untuk datang ke apartemennya. Mereka sudah sepakat untuk putus secara baik-baik. “Kita sudah tak ada hubungan apapun,” jelas Renan.
“Apa kau sudah menemukan penggantiku?” tanya Ell. “Aku bisa memperbaiki kesalahanku,” tambahnya. Berharap sang kekasih menerimanya kembali.
Renan hanya melirik sekilas pada Ell. Dia sudah tak memiliki perasaan khusus pada Ell. Mereka putus bukan hanya karena Ell melakukan kesalahan. Namun, Renan yang mencoba untuk keluar dari lingkaran itu. Ya, meskipun sangat sulit.
“Kita berjalan di jalan masing-masing. Itu lebih baik untuk kita tak saling menyakiti,” ucap Renan hati-hati. Dia tahu sifat posesif mantan kekasihnya. Tak ingin ada pihak yang disakiti, dia memilih untuk lebih berhati-hati.
“Apa kau benar akan pergi dariku selamanya?”
“Kita masih bisa berteman. Namun, hubungan kita tak bisa seperti dulu lagi.”
“Antar aku pulang,” jelas Ell. Dia membuang muka. Tatapannya tertuju ke depan.
Renan mulai menjalankan mesin mobilnya. Miranda yang sedang berjalan, melihat ke dalam mobil yang bergerak. Tampak jelas dari balik jendela itu adalah pria yang dicari. “Renan,” lirihnya.
Miranda mulai berteriak memanggil Renan dan mulai mengejar mobil. Namun, suaranya tak terdengar oleh orang yang di dalam mobil.
“Sepertinya ada orang yang mengejar mobil kita,” ucap Ell. Dia tak melihat jelas orang yang mengejar mobil mereka.
Renan melirik spion mobilnya. Matanya sedikit memicing. “Aku rasa tidak,” ucapnya datar.
“Renan!” teriak Miranda lagi. Dia terus berlari, berharap mobil tersebut berhenti. Hingga ... dia lelah berlari dan akhirnya berjongkok di tengah jalan.
__ADS_1