Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 65 Ajakan Makan Ramen


__ADS_3

“Sudah malam. Apa tak ingin pulang?” tanya Renan.


Miranda menyandarkan kepalanya di pundak Renan. “Belum ingin. Aku masih ingin menikmati angin laut.”


“Tapi ini sudah larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatan.”


“Tidak setiap hari. Kali ini saja.”


Miranda mengangkat kakinya. Menjadikan sofa sebagai tumpuan kakinya. Lalu, menggaruk kakinya sendiri.


“Ada apa?” tanya Renan.


“Hanya gatal.”


“Apa digigit nyamuk?”


“Mungkin.”


“Sudah, ayo kita pergi. Nanti kulitmu merah-merah.”


Miranda hanya sedikit terkekeh. “Kau begitu perhatian padaku,” gumamnya.


Renan hanya terdiam. Dia pun tak tahu mengapa bisa sangat mempedulikan gadis yang dulunya sangat ia benci.


“Besok aku libur. Kau tidak ada niatan untuk mengajakku pergi?” tanya Miranda tanpa ada niat memindahkan kepalanya di pundak Renan.


“Besok bukan hari libur.”


“Ya aku tahu. Jadwal liburku memang bukan tanggal merah!”


“Besok aku ke Singapura. Aku masih bolak-balik ke sana. Di sini hanya untuk membantu Anyelir.”


Miranda diam sejenak. “Boleh aku ikut?” pintanya. Dia membenarkan posisi duduknya dan memberi jarak dirinya dengan Renan.


“Untuk apa?”


“Hanya ingin ikut saja.”


“Aku hanya dua hari. Setelah itu kembali lagi.”


Miranda hanya mengangguk. “Kau harus menghubungiku setiap hari.”


Renan hanya mengerutkan dahi. Miranda langsung mendekati Renan dan memeluknya. “Sesibuk apapun dirimu, kau harus selalu menghubungiku!”


Renan tak memberikan janji, dia hanya mengusap punggung Miranda. “Sepertinya … kita harus bicara serius.”


Miranda menggeleng. “Seperti ini saja! Tidak perlu ada yang berubah. Kita akan seperti ini selamanya. Kita sudah sangat cocok bukan?”


“Aku bisa berada di sampingmu. Aku akan datang jika dibutuhkan. Tapi … kita tak bisa seperti pasangan lainnya.”


Miranda melepas pelukannya. Dia menatap Renan. “Ya, kita tak bisa seperti pasangan lainnya. Karena kita bukan mereka. Ini adalah hubungan kita. Hanya ada kita. Jangan pernah menyangkal lagi. Kita sudah membuktikannya!”


“Miranda … aku mohon padamu. Kita tak akan berhasil.”


“Kenapa kau meragukannya? Bukankah selama ini kita baik-baik saja? Aku tahu perasaan kita belum dalam. Tapi aku yakin, kita bisa memupuknya lebih dalam.”

__ADS_1


Renan terdiam sejenak. Dia ingin menjauh dari Miranda. Namun, lagi-lagi dia datang pada gadis itu. Dia pun tak ingin mengecewakan gadis itu kelak. Dia harus mencoba memberi pengertian pada gadis itu untuk mengakhiri segalanya. “Aku merasa kita tak cocok,” ujarnya memberi alasan.


“Apa yang tidak cocok?” cecar Miranda.


Renan tampak bingung. “Banyak.” Dia mencoba berpikir cepat. “Seperti tadi, aku tidak suka dengan gadis yang makan berantakan. Aku orang yang bersih dan teratur. Kau sangat berbeda jauh denganku. Aku yakin kau pun tak nyaman bersama denganku.”


“Yang berhak mengatakan aku nyaman atau tidak adalah diriku sendiri. Jika kau tak nyaman denganku. Kau tidak akan membersihkan sisa ice cream di mulutku. Sedangkan diriku sendiri, aku tidak pernah merasa tidak nyaman denganmu!” terang Miranda.


“Aku tidak seperti yang kau bayangkan. Aku … aku ….”


“Kau mau bilang dirimu pria metros*ksual? Ada apa dengan itu? Tidak semua wanita menyukai pria yang cuek!” jelas Miranda memotong ucapan Renan.


Ya, dia lebih memilih mengidentifikasi Renan sebagai pria metros*ksual. Pria yang straight, dan sangat mempedulikan penampilan. Itu yang ingin diyakini oleh Miranda dan menolak pikiran buruk yang ada dipikirannya.


“Aku lebih dari ….”


“Aku tidak peduli seperti apa dirimu di masa lalu,” potong Miranda. Dia tak ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Renan. Mata Miranda mulai mengembun, menangis karena seorang pria. Bukan karena diselingkuhi. Tetapi, tak ingin mendengar sesuatu yang buruk. “Aku menyukaimu. Cukup kau menyukaiku juga, yang lain tidak penting.” Dia meneteskan air matanya.


Renan hanya menatap Miranda yang menangis. Rahangnya mulai mengeras. “Apa kau tahu kalau ….”


Miranda menggeleng keras. “Yang aku tahu kau menyukaiku. Itu sudah cukup bagiku.” Renan tak pernah mengatakan suka padanya. Namun, dia yakin pria itu menyukainya.


Renan mengulurkan tangan, menghapus air mata yang terjatuh di pipi Miranda. Lagi-lagi perasaan aneh ada di hatinya. Dia ikut sedih saat melihat sang gadis menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Renan mengantar Miranda pulang. Mereka turun dari mobil. Renan mengantar Miranda hingga depan pintu.


"Masuklah," ucap Renan.


"Sudah malam. Aku pulang saja."


"Kran air di dapur rusak. Apa kau tak berniat membantuku?"


"Apa kau tak ada pekerja di rumahmu?" tanya Renan. Dia melihat sekeliling, tak pernah sekalipun melihat asisten rumah tangga di rumahnya.


"Tidak ada. Aku tidak suka ada orang lain di rumahku. Tiga hari sekali akan ada orang yang membersihkan rumah," jelas Miranda. Dia tak bohong. Dirinya memang tak suka ada orang lain di rumahnya. "Bisa kau lihat sebentar?"


Renan menuju dapur dan mencoba memperbaiki kran air di dapur. "Apa yang rusak?"


"Lihatlah, tidak berhenti menetes. Memang tidak deras ataupun membuat banjir, tapi tetesan air yang cukup banyak sangat mengganggu," keluh Miranda.


Miranda hanya memperhatikan Renan yang mencoba membenarkan kran. Kemeja yang digulung ke atas. Terlihat sangat macho di mata Miranda. Ya, kedua kalinya dia melihat Renan layaknya pria perkasa.


"Sudah selesai," ucap Renan membuyarkan lamunan Miranda.


"Benarkah?" tanya Miranda memastikan.


"Coba saja. Itu hanya kurang kencang," timpal Renan.


Miranda mencoba kran air tersebut dan benar saja sudah tidak ada yang menetes lagi.


"Sudah selesai. Aku pulang dulu," ucap Renan.


"Duduklah dulu. Aku buatkan teh untukmu sebagai bentuk terima kasih," sahut Miranda.

__ADS_1


Renan hanya tersenyum dan menuju ruang tamu. Sedangkan Miranda sibuk di dapur untuk membuat teh dari bubuk. Dia tak menggunakan teh instan.


Ponsel Renan berdering. Dia mengambil ponselnya dari kantung celana. Tangannya bergetar saat melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.


Menarik napas dalam sebelum mengangkat panggilan telepon itu. "Hallo," sapa Renan.


"Hai," sapa orang di sebrang telepon.


"Hai," lirih Renan.


"Bagaimana kabarmu?"


"Kau sendiri?" tanya balik Renan.


"Buruk," lirihnya. "Aku sudah berusaha, tetapi tetap sulit melupakanmu."


Renan mengepalkan tangannya. "Kau harus bisa."


"Apa kau sudah bisa melupakanku? Kau pun sulit bukan melupakanku?"


"Bisa kita bicarakan yang lain?" pinta Renan.


"Bisa kau datang besok?" mohon Ell.


"Ell ... aku tidak bisa. Aku masih banyak pekerjaan," tolak Renan. Besok dia harus terbang ke Singapura. Namun, selama ini tak pernah bertemu dengan Ell, mantan kekasihnya.


"Bukankah kau akan ke Singapura?" tanya Ell. Dia tahu Renan akan datang ke Singapura. Rekan bisnis Renan pun merupakan temannya juga. Sehingga dia tahu jadwal Renan kembali ke Singapura.


"Ya, aku hanya singgah sebentar ke Singapura untuk menghadiri rapat offline. Setelah itu aku akan kembali lagi. Kau tahu, aku diutus di sini untuk membantu Anyelir," papar Renan.


"Aku hanya ingin bertemu untuk yang terakhir kali. Aku akan menunggumu di tempat biasa," ucap Ell lalu memutuskan sambungan telepon.


Renan langsung menangkup wajahnya frustasi. Sedangkan Miranda hanya berdiri terpaku di belakang Renan. Ruangan sunyi membuatnya mendengar dengan jelas apa yang Renan katakan. Meskipun tak mendengar jelas orang yang berada di sebrang telepon. Namun, cukup dirinya mengetahui garis besar pembicaraan mereka.


Renan menoleh saat merasa ada seseorang di belakangnya yang terhalang sofa ruang tamu. "Miranda ...."


"Siapa yang meneleponmu?" tanyanya nanar.


Renan tak berani menatap wajah Miranda. Dia hanya menundukkan kepala. "Mantan kekasihku," lirihnya.


"Dia ingin mengajakmu bertemu?"


Renan mendongakkan kepalanya. Dia menatap Miranda yang juga menatapnya sendu. "Sudah malam. Aku pulang dulu." Dia bangkit dari duduknya.


"Aku sudah buatkan teh."


"Lain kali saja."


"Jangan pergi!" ucap Miranda. Entah melarangnya untuk ke Singapura atau melarang Renan pergi dari rumahnya.


"Aku ...."


"Makan ramen lah denganku!" ajak Miranda menatap Renan dengan lekat. "Malam ini juga!" tambahnya.


Renan hanya menatap Miranda yang dengan tegas mengajaknya makan ramen. Dia yakin, kali ini Miranda tahu arti makan ramen sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2