Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 68 Ciuman Perpisahan


__ADS_3

Renan tetap melajukan mobilnya meskipun dia tahu Miranda sedang mengejar mobilnya. Ya, Renan sengaja melakukan itu. Bukan untuk menjaga perasaan Ell yang selama ini mengisi hatinya. Namun, dia tak ingin Miranda masuk ke dalam masalahnya.


Renan tahu sifat Ell. Dia pun tahu lingkup pertemanan mereka seperti apa. Tak ingin Miranda terluka, mencoba menjauh dari Ell tanpa harus menyinggung mantan kekasihnya itu.


Mobil terus melaju hingga sampai di apartemen Ell. Renan menghentikan mobilnya. Namun, sang penumpang enggan untuk turun.


“Sudah sampai,” ujar Renan.


“Kau sudah menemukan penggantiku bukan?” cecar Ell.


“Tidak,” jawab Renan singkat.


Ell tersenyum sinis. “Aku sudah membaca beritamu,” terangnya.


Tidak ada keterkejutan di wajah Renan. Cepat atau lambat hubungannya dengan Miranda pasti akan sampai ke telinga Ell. Ya, meskipun Miranda bukan artis internasional dan berita hubungannya dengan Miranda hanya ada di dalam negri. Namun, bukan suatu hal sulit untuk mendapatkan berita.


“Dia bukan kekasihku. Aku hanya membantunya untuk menjadi kekasih pura-puranya. Gadis itu yang berseteru dengan sepupuku. Namun, semua sudah terselesaikan,” papar Renan. Ell tahu tentang Anyelir karena Renan sering membicarakannya agar Ell tak cemburu.


Ell hanya mengangguk. “Kau akan sering ke sini?”


“Aku tidak bisa berjanji. Anyelir membutuhkanku. Dia masih memerlukan bimbingan. Aku pikir kita akan jarang bertemu,” jelas Renan.


Mungkin … kita tak akan bertemu lagi.


“Apa kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?” tanya Ell.


“Ya,” jawab Renan singkat.


Ell hanya menghembuskan napasnya pelan. Keputusan Renan sudah bulat. Dia tahu, Renan bukan orang yang mudah mengubah keputusan. “Boleh aku minta ciuman perpisahan?”


...---------------...


Miranda terus berjalan hingga tak tahu arah tujuan. Dia hanya bisa datang ke apartemen Renan. Berharap pria itu segera pulang. Berdiri tepat depan pintu apartemen dengan putus asa. Namun, dia tetap berharap kedatangan Renan meskipun kemungkinan itu kecil.


Air mata menetes dari netra sang artis. Bukan akting, air mata yang lolos dari mata indahnya bergulir begitu saja. Dia memang melihat Renan di dalam mobil. Namun, dia juga melihat pria yang duduk samping kemudi.


Miranda mulai memukul dadanya karena sesak. Tak pernah sesakit ini karena cinta. Dia mulai luruh dan hanya bisa terduduk di lantai dengan air mata yang berlinang.


Tangisan Miranda tak bisa menghentikan waktu. Jarum jam pendek sudah menunjuk ke arah dua. Namun, pria yang ditunggu tak juga datang.


Tap! Tap! Tap! Derap langkah khas sepatu pantofel kulit semakin mendekati Miranda.

__ADS_1


"Bangunlah!"


Miranda mulai mendongakkan kepala. Mengucek mata untuk memastikan penglihatan. "Kau sudah pulang?"


"Ini sudah malam. Pulanglah," lirih Renan.


Miranda menggeleng. "Aku mau di sini. Sudah tidak ada penerbangan," ucapnya masih dengan suara yang tertahan.


Renan hanya menghembus napas pelan. "Aku pesankan hotel untukmu. Akan ada sopir juga yang akan mengantarmu."


Miranda tetap menggeleng. Dirinya diminta untuk pergi dan diantar sopir sedangkan Renan telah mengantar pria lain. "Biarkan aku di sini hingga esok," ucapnya.


Renan hanya menghembuskan napasnya. "Masuklah."


Miranda mulai bangkit. Namun, terlalu lama berjongkok membuatnya tak bisa berdiri stabil, dia hampir jatuh dan berusaha memegang pintu.


Renan dengan sigap meraih lengan Miranda. Dia memapah sang artis untuk masuk ke dalam apartemen. "Duduk dulu. Aku ambil minum untukmu."


Miranda hanya mengangguk kecil. Dia hanya menundukkan kepalanya. Mengejar seorang pria hingga harus menjatuhkan harga dirinya. Menunggu bagai orang bodoh di depan apartemen pria yang disukainya.


Renan sibuk di dapur untuk membuat teh. Dia melirik sekilas pada Miranda dari jauh. Tak lama, dia membawa dua cangkir teh dan menghidangkan di depan Miranda.


Miranda meraih cangkir dan mulai menyesap teh hangat itu. "Terima kasih."


Mereka hanya diam di ruang tamu. Tidak ada yang memulai berbicara. Miranda hanya membuka mulutnya lalu terkatup lagi. Ingin menanyakan tentang pria yang bersama Renan. Namun, dia takut akan ucapan yang akan dikeluarkan oleh Renan.


Renan menatap Miranda yang ragu akan berbicara. "Tolong hentikan semua ini. Hiduplah dengan baik."


"Apa kau hidup dengan baik?" tanya Miranda. Matanya masih ada sisa-sisa air mata.


"Aku sedang berusaha hidup dengan baik," timpal Renan.


"Bukankah lebih baik kita bersama untuk menjadi lebih baik?"


"Miranda, aku dan dirimu berbeda. Kau berhak bahagia dengan pria lain."


"Bukankah kau pun bisa memberikan kebahagiaan untukku?"


Renan hanya tersenyum miris. "Kau tahu siapa aku. Aku tidak akan bisa membahagiakanmu."


Miranda menggelengkan kepala. "Aku yakin kita bisa bahagia bersama."

__ADS_1


"Ada hal yang tampak sederhana. Namun ternyata itu sangat kompleks. Kau tidak bisa mengerti kaum seperti kami," lirih Renan menundukkan kepala. "Tidak ada yang bisa menerimaku. Jangan buang waktumu untuk orang sepertiku. Aku tak akan mampu menjadi yang kau mau." Ya, pria gagah yang akan melindungi wanitanya. Renan ragu bisa melakukannya. Dalam dirinya, masih ada sisa-sisa kelam masa lalunya.


Air mata keluar dengan tak tahu diri. Seberapa kuat Miranda mencoba menahannya untuk tak lolos dari mata. Namun, tetap saja mengalir bagai keran yang rusak.


"Tidak ada yang sulit asal kau punya keyakinan!" isak Miranda.


"Tak ada satu pun yang mungkin bisa terima kaum seperti aku. Aku bukan pria biasa yang bisa mencintai wanita sepertimu. Aku tidak pantas untukmu,” ucap Renan tak berani menatap Miranda.


Otak Miranda lelah memikirkan semuanya. Dia muak dengan Renan yang selalu mengatakan tentang kaum.


"Memangnya seperti apa dirimu? Kaum apa dirimu? Kau memang bukan pria biasa karena bisa mencuri hatiku. Mungkin kau menyakini dirimu tak bisa mengubah segalanya. Namun, aku yang akan menarikmu untuk masuk dalam duniaku!" tegas Miranda.


"Miranda," lirih Renan putus asa. "Maaf," ucapnya menundukkan kepala.


Aku takut akan menyakiti hatimu karena tidak mampu membuatmu bahagia.


Apa yang terjadi pada dirinya, meskipun sudah menutup rapat. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dia tak ingin Miranda ikut dicemooh karena penyimpangan yang pernah dia lakukan.


“Aku mencintaimu!” tegas Miranda. “Apa tidak ada sedikitpun perasaan untukku?” sambungnya. Menyatakan cinta terlebih dahulu, Miranda merendahkan dirinya sendiri di depan pria yang disukainya. Namun, rasa mencintainya lebih besar dari martabatnya.


Bibir Renan bergetar ragu, dirinya pun tak yakin akan hatinya. Dikatakan nyaman, dia sangat nyaman bersama gadis itu. Namun, siapa yang bisa menjamin masa depan dirinya tak akan melakukan penyimpangan kembali? Jika hal itu terjadi, maka Miranda yang akan tersakiti.


Dia memang ingin keluar dari lembah hitam. Bisa saja memanfaatkan Miranda untuk membantunya. Namun, Renan tak ingin menyakiti siapapun, tak ingin memanfaatkan gadis di depannya ini yang sedang menangis.


“Cinta yang tulus dan murni tak memandang apa-apa akan lebih indah jika rasa cinta utuh itu kita jaga. Maka ucapan cintamu padaku tak lebih dari seorang sahabat yang mengatakan cinta pada yang lainnya.”


“Apa kau pikir kita masih bisa bersahabat? Apa kita masih bisa berjalan berdampingan? Apa kita masih bisa berciuman tanpa ada perasaan cinta?” tantang Miranda.


Renan menautkan alisnya. Dia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan Miranda. Terlalu berdekatan membuat jantungnya berdegup kencang. Pelukannya menyalurkan kehangatan. Ciumannya membangkitkan hasr*tnya. Namun, bisakah dirinya diterima? Seandainya dia memaksa menjalin hubungan dengan Miranda, apakah tidak ada yang akan mengganggu hubungan mereka?


“Bahkan hanya untuk menjadi sahabatpun akan sulit. Maka, bukankah lebih baik kita tak saling bertemu kembali?” lirih Renan.


Miranda memejamkan matanya, air mata terus mengalir. “Baiklah, seperti yang kau katakan. Kita tak seharusnya bertemu lagi. Namun, kau harus ingat, ada seorang gadis yang sangat tulus mencintaimu. Seorang gadis yang mencintaimu tanpa peduli siapa dirimu. Bahkan, jika kau seorang monster sekalipun!”


Miranda mencoba berdiri, dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Cukup lama berlari, cukup banyak air mata yang ia keluarkan. Bahkan dia belum makan dari terakhir dirinya bertemu dengan Renan. Dirinya lemah, tetapi berusaha untuk kuat.


“Aku pesankan taxi ke hotel,” ujar Renan. Ingin mengatakan untuk tetap tinggal. Namun, dia takut hatinya akan berubah.


Miranda mengangkat tangannya setelah mendengar ucapan Renan. Dia hanya akan mengandalkan dirinya sendiri tanpa bantuan pria itu. Miranda terus melangkah tanpa menoleh. Hingga dirinya sampai di depan pintu dan akhirnya ambruk karena kelelahan.


“Miranda!” teriak Renan.

__ADS_1


__ADS_2