
Miranda mulai mengerjapkan mata. Bulu matanya bergetar sebelum matanya terbuka lebar. Saat membuka mata, orang yang pertama dilihatnya adalah Renan.
“Pagi,” sapa Renan tersenyum manis.
“Pagi,” jawab Miranda dengan suara serak.
“Apa tidurmu nyenyak?”
“Ya,” jawab Miranda malu-malu. Dada bidang Renan masih tampak di depan mata. Dia menundukkan kepala. Menghindari kontak mata dengan Renan. Namun, dagunya ditahan oleh sang pria. Renan memberikan ciuman selamat pagi.
Ciuman itu tak lama. Namun, sukses membuat Miranda tertegun. Dirinya tak menyangka bisa seperti ini dengan pria yang disukainya.
Mereka masih saling pandang. "Terima kasih telah menerimaku," lirih Renan.
"Kalau begitu, kau harus baik padaku seumur hidup," timpal Miranda.
"Ya, ya, ya. Kau akan menjadi ratuku seumur hidup," kata Renan.
"Hanya ada ratu dan tak ada selir!" ucap Miranda penuh penekanan.
Renan hanya tersenyum lebar. "Bangunlah, aku buatkan sarapan untukmu," ucapnya lembut
Renan bangkit dan meninggalkan kamar untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Miranda tertegun melihat kepergian Renan. Dia langsung bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi.
Menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut yang sangat berantakan. Dia bisa melihat tanda merah di leher dan tulang selangka. Entah berapa banyak tanda merah lagi di bagian tubuh lain. Dia tersenyum mengingat yang terjadi semalam.
Miranda lekas membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dirinya dikejutkan dengan paper bag di atas ranjang. Dia membaca note yang ada di atas paper bag itu. Catatan dari Renan bahwa baju itu dipersiapkan untuk Miranda.
Tak pikir panjang, Miranda langsung menggunakannya. Dia langsung mencari keberadaan Renan. Menatap punggung kokoh laki-laki yang dicintainya sedang sibuk di dapur.
Dia memperhatikan secara seksama bagaimana Renan memasak. Sangat luwes menggunakan semua peralatan dapur. Pria gagah yang tampak sangat lembut.
Berjalan mendekat dan memeluk Renan dari belakang. "Sedang masak apa?"
"Pizza," jawab Renan sedikit menoleh pada Miranda.
"Pizza?"
"Ya, pizza sederhana hanya dari roti tawar. Masaknya pun hanya menggunakan wajan anti lengket, tidak perlu menggunakan oven. Jika buat adonan awal akan lama. Kau tidak keberatan bukan?"
Miranda menggeleng pelan. "Tentu tidak."
"Sebentar lagi matang." Renan menutup wajan. Dia berbalik untuk melihat kekasihnya. "Aku siapkan susu untukmu."
"Biar aku bantu," ucap Miranda mencegah Renan menyiapkan minuman mereka.
__ADS_1
Miranda membuka kulkas dan mengambil sekotak susu ukuran 1 liter. Tak lupa mengambil dua gelas kosong. Dia menuangkan susu. Sedangkan Renan meletakan pizza ke atas piring datar. Menggunakan pisau untuk memotong pizza tersebut.
Miranda menunggu pizza dihidangkan dengan mata selalu mencuri pandang. Renan mengambil satu potong pizza dan meletakan di atas piring Miranda.
Miranda hanya tersenyum simpul. Gerakan Renan tak setegas Krisan. Jari kelingkingnya sedikit terangkat saat menghidangkan pizza ke atas piring. Namun, Miranda tak menyesal akan keputusannya.
Tidak selamanya seorang pria memiliki suara bariton. Tidak selamanya seorang pria bersikap lugas. Ada kalanya seorang pria bersikap lembut.
"Ada apa?" tanya Renan memecah lamunan Miranda.
"Tidak apa," ujar Miranda.
Mereka sarapan bersama dengan damai. "Kapan rencana pulang?" tanya Renan.
Miranda mengedipkan mata sekali. "Aku libur hari ini."
"Bukan kemarin?" tanya Renan.
"Dua hari," timpal Miranda.
"Tidak keberatan jika kita pulang sore?"
"Apa kau pulang denganku?" tanya Miranda penuh harap.
Miranda tersenyum lebar. Tak lama, ponselnya berdering. Dia meminta izin pada Renan untuk mengangkat sambungan telepon. Sedikit menjauh dari Renan. Cindy yang menghubunginya.
"Hallo," bisik Miranda.
"Di mana kau? Aku menghubungimu sejak kemarin!" hardik Cindy di sebrang telepon.
"Aku sedang di luar negri. Sore ini pulang," papar Miranda masih berbisik.
"Apa kau bilang? Hari ini ada jadwal syuting! Dengan siapa kau di sana? Jangan karena cinta kau jadi gelap mata. Apa kau pergi mencari pria itu?" cecar Cindy.
"Aku tidak akan syuting hari ini. Bilang saja aku tidak enak badan," ucap Miranda. "Jangan hubungi aku dulu, kau jangan khawatir. Kupastikan pulang dengan kondisi baik-baik saja."
Miranda langsung menutup teleponnya. Lalu menghampiri Renan. Tak peduli jika dia mangkir dari pekerjaan. "Mau ke mana kita?"
"Emm. Aku masih ada urusan di kantor. Apa kau tidak keberatan menunggu di sini? Siang aku akan kembali. Setelah itu kita pulang," papar Renan.
Raut wajah Miranda sedikit berubah. Bayangannya, mereka akan kencan sebentar. Menikmati keindahan kota lalu kembali. Namun ternyata, ajakan Renan pulang di sore hari karena masih ada urusan pekerjaan. "Oh, tentu tidak keberatan," ucapnya. Ada nada kecewa dari jawabnya.
Renan bersiap ke kantor setelah sarapan. Miranda hanya bisa memandang Renan yang sedang membenarkan dasi.
"Aku tidak akan lama. Setelah ini, kita akan pulang."
__ADS_1
"Ya," lirih Miranda.
Setelah kepergian Renan. Miranda hanya berkeliling di apartemen. Ingin menelepon Cindy. Namun, dirinya belum siap menceritakan pada sahabatnya itu.
Bagai sedang sidak. Miranda memeriksa seluruh ruangan Renan. Dia membuka lemari pakaian Renan. Tidak ada yang aneh di dalam lemari. Dia takut tiba-tiba menemukan harness.
Namun, matanya tercengang melihat koleksi dasi yang beragam. Jejeran kemeja dan jas tersusun rapi dengan berbagai model. Tidak hanya itu, jam tangan pun tak kalah banyak.
Miranda terus menyisir. Deretan sepatu tersusun rapi. Tentu, sepatu tersebut beragam jenis. "Sepertinya kita akan berebut lemari," gumamnya terkekeh.
Bosan dengan menyisir. Miranda menyalakan televisi. Dia sejenak menonton siaran drama. Namun, lambat laun dirinya mengantuk. Dia mematikan saluran tv, beranjak ke jendela, berharap mencari udara segar. Namun, tak membuatnya terlepas dari kebosanan.
Dia duduk kembali ke depan televisi. Tetapi kali ini yang ia tonton adalah siaran fashion internasional. Model papan atas internasional berjalan dengan sangat apik. Tatapannya ke layar televisi. Namun, otaknya menjelajah ke tempat lain. Wanita adalah makhluk multitasking. Bisa mengerjakan dua hal atau lebih sekaligus.
"Bagus sekali bajunya," lirih Miranda.
"Jika kau suka, aku akan memesannya," bisik Renan di telinga Miranda.
Miranda terkejut. Dia bahkan tak mengetahui kedatangan Renan. "Kau sudah pulang?"
"Bukankah aku bilang hanya sebentar?"
"Aku pikir kau akan pulang sore," timpal Miranda.
"Ayo kita pulang," ajak Renan.
"Sekarang? Bukankah nanti sore?"
"Kalau bisa lebih cepat, mengapa tidak?"
"Oh, iya." Miranda bangkit dan bersiap.
Mereka berjalan menuju bandara, bersiap kembali. Sepanjang perjalanan, tangan mereka saling tertaut.
Duduk bersebelahan, Miranda menyandarkan kepala di bahu sang pria. Lalu dirinya mulai memejamkan mata. Sedangkan Renan hanya menatap awan dari jendela. Melihat awan putih yang indah. Bagaikan kesucian yang terjaga.
Dia menoleh, menatap sang kekasih yang sedang tertidur. "Apa kau tahu, awan itu bisa saja kelabu? Namun, bisa juga berwarna putih bersih? Begitupula dengan manusia yang memiliki masa kelamnya. Tapi, bukan berarti tidak bisa menjadi bersih kembali. Meski aku tahu, tidak mungkin bisa menyatukan kembali kaca yang terpecah secara sempurna. Kaca itu akan terus meninggalkan bekas."
"Lalu kenapa dengan kaca yang tak sempurna?" tanya Miranda dengan mata tertutup. Dia mendengar semua yang Renan katakan. Sedangkan Renan terkejut karena sedari tadi menganggap sang gadis terlelap.
Miranda mengangkat kepalanya. "Kita tak bisa mengubah masa lalu. Namun, bukan berarti tak bisa mengubah masa depan. Bukankah ada takdir yang bisa diubah? Jika kau terlahir miskin, tidak ada jaminan kau akan selamanya miskin. Kau bisa berusaha untuk menjadi kaya. Meskipun, dalam prosesnya kau akan mengalami jatuh bagun. Berbeda dengan orang yang tak berkeinginan mengubah takdirnya, selamanya akan tetap miskin. Bekas yang tertinggal adalah bukti akan masa lalu kita. Tidak bisa disingkirkan. Namun, bisa menjadi pelajaran berharga," lanjutnya.
"Meski sudah berusaha, jika Tuhan berkata 'tidak' bukankah tak akan terjadi?" tanya Renan.
"Ya, kau benar. Tapi jangan pernah lupa, Tuhan itu baik. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap makhluknya."
__ADS_1