
Sang fotografer tersenyum. Miranda punya banyak pengalaman di dunia entertainment. Tidak sulit baginya bergaya di depan kamera. "Oke, begitu bagus. Satu kali lagi ya.”
Miranda melangkah ke depan hingga dia berdiri tepat di samping Krisan. Sang fotografer memberikan kursi pada Miranda. “Bisa gunakan ini.”
Sang fotografer mengarahkan gaya, Miranda duduk di kursi dengan posisi miring sedikit ke kiri. Sedangkan, Krisan berdiri sedikit miring ke kanan dengan tangan masuk ke dalam kantung celana.
Tatapan mereka ke depan tepat pada kamera. Tiba-tiba Miranda mengulurkan tangannya dan masuk ke sela lengan dan pinggang Krisan. Dia merangkul lengan Krisan tanpa menoleh ke arah Krisan dan tatapan tetap ke arah kamera.
Satu jepretan sukses didapatkan. Krisan langsung menjauh dari Miranda karena dirinya merasa kurang nyaman.
“Sangat bagus,” gumam sang fotografer.
“Benarkah?” tanya Miranda. Dia berjalan mendekati sang fotografer. “Bukan seperti photo majalah bisnis,” gumamnya.
Sang fotografer tertawa. “Untuk jadi photo prewedding juga bisa,” celotehnya.
“Anda bisa saja,” ujar Miranda tersenyum malu.
Sang fotografer menelisik wajah Miranda. “Ah … apa jangan-jangan sebenarnya kalian memiliki hubungan khusus?”
“Jangan buat spekulasi sendiri,” ucap Krisan.
Miranda hanya tersenyum kecut. “Untuk saat ini kami hanya berteman, tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa,” ucapnya mengulas senyum malu. Dia bahkan menyentuh lengan Krisan sekali.
Aryo masuk ke dalam ruangan, dia terkejut melihat Anyelir yang berdiri di sudut pintu. "Nyonya."
"Aku hanya mampir. Aku pergi dulu," ujar Anyelir. Dia melirik pada suaminya. Kebetulan, Krisan menoleh padanya, pandangan mereka bertemu. Tidak ada ekspresi di wajah Anyelir. Setelah itu dia melangkah pergi.
Suara Aryo mengalihkan pandangan Krisan. Terlebih setelah itu mendengar suara orang yang dicintainya. Dia melihat Anyelir yang sedang berbicara dengan asistennya. Mencoba mengejar sang istri yang tampak sinis.
"Tuan, bisa photo sekali lagi?" pinta sang photografer menghentikan langkah Krisan yang ingin mengejar istrinya.
“Aku rasa sudah cukup!” Krisan langsung mengejar Anyelir. Dia berhadapan dengan Aryo. “Kau selesaikan sisanya.”
__ADS_1
Miranda hanya mengerutkan dahi saat Krisan pergi meninggalkannya begitu saja. Ingin rasanya marah. Namun, dia masih bisa mengendalikan emosinya.
Krisan melihat Anyelir masuk ke dalam lift umum. Namun, pintu lift terlanjur tertutup. Anyelir menatap Krisan yang mencoba mengejarnya, dia hanya memberikan senyum smirk.
Krisan melihat ke layar yang berada di atas lift menunjukkan lantai 22, posisinya berdiri sedang berada di lantai 23. Krisan langsung menuju tangga darurat dan menuju lantai 22.
Jari telunjuk Anyelir menekan tombol lantai 22 lalu menekan tombol 23 dan terus menekan setiap tombol menuju lantai atas. Gedung perusahaan Krisan memiliki 28 lantai. Maka, lift akan berhenti di lantai 22 dan akan kembali naik dan terus naik hingga ke lantai paling atas. Dan lift akan terbuka di setiap lantai.
Anyelir keluar dari lift, dia berada di lantai 22, dia pindah ke lift sebelahnya. Dan menekan lantai lobby. Lift turun ke bawah. Namun, jemari Anyelir tetap tak berhenti menekan lift. Dia menekan tombol lift. Mulai dari angka 21 hingga ke lantai dasar. Setelah itu, dia menekan tombol angka 23 hingga ke lantai 28.
Ya, Anyelir sengaja melakukan itu agar pintu lift terbuka di setiap lantai. Hingga di lantai 20, sudah banyak karyawan yang mengantri di lantai tersebut karena bertepatan dengan jam makan siang.
Anyelir keluar dari lift tersebut dan langsung mencari toilet. Dia berdiri di depan cermin, mengulas lipstik di bibirnya. Menyemprotkan sun screen spray di wajahnya agar lebih segar. Dia mengulas senyum di depan cermin.
Krisan sampai di lantai 22 tapi lift tertutup, di layar sedang menunjukan lantai 23. Krisan mencari sang wanita, naik ke lantai 23 melalui tangga darurat, kembali ke lantai wawancara.
Melihat layar lift menunjukkan angka 24. Dia menendang udara lalu memutuskan ke lantai ruang kerjanya dan bertemu dengan Maryam. “Apa Anyelir ke sini?”
“Bukannya menemui Anda,” jawab Maryam.
“Tidak Tuan. Sebelumnya, dia datang untuk menemuimu. Saya mengatakan Anda sedang ada sesi wawancara. Dia tak mau saya antar. Setelah meletakkan bunga, dia langsung ke lantai 23.”
“Bunga?”
“Ya, tadi nyonya membawa bunga.”
Krisan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan menuju meja kerjanya. Dia mengulas senyum saat melihat bunga krisan dan anyelir dirangkai begitu indah. Dia yakin itu adalah hasil kreasi tangan sang istri. Dia tersenyum lebar dan langsung mencari kembali sang istri.
Krisan berpikir sejenak dan memutuskan turun ke lobby. Dia tidak menuju lift umum melainkan lift pribadinya agar akses langsung menuju lantai dasar tanpa lift berhenti di setiap lantai. Dia tahu apa yang sedang dimainkan Anyelir. Dia menunggu sang kekasih di lobby.
Krisan menyandarkan tubuhnya di dinding. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Anyelir keluar dari lift ke tiga. Ada 4 lift yang tersedia. Dua lift berdampingan dan dua lift lainnya berada di seberangnya.
Anyelir berjalan dengan santai, dia tak melihat Krisan yang sedang menatapnya dari kejauhan. Krisan melihat sekeliling. Pakaian yang digunakan istrinya, ketat tercetak lekuk tubuhnya. Gaya rambut cokelat bergelombang, dan jangan lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung Anyelir.
__ADS_1
Penampilan Anyelir menjadi pusat perhatian, tidak hanya di lobby, dari masih berada di dalam lift pun sudah menjadi pusat perhatian para karyawan. Krisan mendengus kesal dengan mata-mata yang menatap sang istri. Dia berjalan dengan langkah cepat. Membuka jas-nya dan menghampiri istrinya.
Anyelir terkejut saat merasakan ada tangan di pundaknya. Dia menoleh, sebuah jas bertengger di pundaknya.
“Sudah cukup bermain liftnya?” tanya Krisan menaikan alisnya.
“Hai,” sapa Anyelir tanpa rasa bersalah. “Naik turun tangga baik untuk kesehatan,” ujarnya.
“Kekanakan!” dengus Krisan.
Anyelir hanya tersenyum, dia melepas jas Krisan yang bertengger di pundaknya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Krisan dengan nada protes.
“Kenapa? Aku tidak suka memakai barang orang lain,” dengus Anyelir dengan terus berjalan.
“Kau ingin dilihat orang dengan pakaianmu itu?”
“Ini tubuhku, jadi tidak ada urusan denganmu.”
“Tentu urusanku, karena kau adalah istriku.”
“Tidak lagi, aku ke sini untuk membahas perceraian kita.”
“Kau tidak ingin bercerai denganku, Anyelir. Kau masih mencintaiku,” ujar Krisan menarik lengan Anyelir dan berjalan keluar dari lobby dan hendak menuju mobil.
“Lepas! Apa yang kau lakukan?” protes Anyelir.
“Kau ke sini untuk rujuk bukan? Tidak mungkin kau merangkai bunga yang ada di meja kerjaku!”
“Itu kubuat sebagai tanda perpisahan! Aku tidak akan menghalangimu menikah lagi! Photo prewed yang cukup menarik menggunakan pakaian kerja!” sindir Anyelir.
“Aku sudah tahu kau cemburu dengan pemotretan tadi.” Krisan langsung menggendong Anyelir. “Kita selesaikan masalah kita secepatnya!”
__ADS_1
“Turunkan aku!” protes Anyelir. Dia melihat sekeliling, sudah banyak orang yang menatap mereka. Anyelir hanya bisa menundukkan kepala. Menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
Krisan tak peduli dengan tatapan orang lain yang melihat mereka. Para karyawan yang kebetulan sedang berada di sana sangat terkejut melihat sang presdir menggendong seorang wanita. Begitu pula dengan Miranda, yang juga menyaksikan Krisan menggendong Anyelir, dia hanya bisa mendengus sebal.