Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 69 Titah Mutlak


__ADS_3

Renan langsung membopong Miranda ke dalam kamar. Meletakan dengan hati-hati. Menyentuh dahi sang artis, hawa panas mengalir ke tangannya. Menuju ke sudut kamar dan mengambil termometer digital, 39° suhu tubuh sang gadis.


Renan langsung menuju dapur dan mengambil wadah berisi air hangat dan juga beberapa handuk. Dia kembali lagi menghampiri sang gadis. "Miranda," lirihnya. Hanya ada lenguhan rendah yang keluar dari mulut gadis itu.


Dengan hati-hati membuka jaket yang digunakan Miranda. Hanya tertinggal blouse berkancing, dia membuka dua kancing teratas agar sang gadis bisa leluasa bernapas. Tangan Renan terulur ke belakang, punggung Miranda begitu basah.


Miranda berkeringat hebat. Tak pikir panjang, Renan mulai melepas satu persatu kancing blouse Miranda dan melepasnya dari tubuh gadis itu. Dia tak berkedip saat melihat bagian atas sang gadis hanya tertutup dengan pakaian dalam saja. Bibir Miranda sedikit terbuka, bibir yang sedikit pecah dan kering karena dehidrasi. Wajah pucat mendominasi. Namun, nampak begitu cantik alami.


Renan menggeleng pelan, dia langsung mengambil handuk kecil untuk mengompres. Dahi, leher, ketiak, tak luput Renan kompres. Dia menyelimuti dengan selimut tipis.Renan kembali ke dapur untuk membuat teh panas.


Meletakan teh di atas meja dan memeriksa kembali tubuh Miranda. Lalu, mengulang mengompres kembali area yang menjadi titik yang dipercaya hipotalamus di otak akan menganggap area tersebut terasa panas. Sehingga, hipotalamus akan merespons dengan menurunkan suhu tubuh agar lebih dingin.


Begitu hati-hati merawat Miranda. Berulang kali Renan mengompres Miranda hingga teh menjadi hangat. Dia mengulur kembali suhu tubuh sang gadis.


Napas Miranda tampak berat, dia mulai membuka matanya. Dia bukan tak mendengar saat Renan memanggilnya. Namun, karena terlalu lemah membuatnya tak bisa merespon sang pria.


"Minumlah." Renan menyodorkan teh dengan pipet penyedot.


Miranda mencoba mengangkat sedikit kepalanya. Renan menahan kepala Miranda agar sang gadis bisa minum. Cairan teh masuk kedalam tenggorokan. Air manis sedikit memberikan kekuatan.


"Istirahatlah, meskipun panasnya sudah mulai turun. Namun, masih dalam kategori demam," terang Renan.


Miranda melihat sekeliling. "Aku baik-baik saja. Aku akan pergi sekarang," ucap Miranda mencoba untuk bangkit.


"Jangan keras kepala, kau masih demam," tegas Renan.


"Jangan baik padaku jika kau tak ingin aku salah paham!" hardik Miranda. Dia menatap tajam Renan. Dia tak sanggup jika harus berlama-lama dengan pria itu. Pertahanannya akan luruh.


Renan hanya menghembuskan napas. Tak tahu harus bicara apa. Miranda menyibak selimut yang ia pakai, matanya membulat saat melihat keadaan dirinya. Dia menoleh pada Renan.


Renan salah tingkah, dia membuang pandangannya. "Kau demam, bajumu basah karena keringat. Jadi, aku hanya membantumu."


Miranda mendecak, dia melihat sekeliling, mencari keberadaan pakaiannya. Melilitkan selimut dan meraih blouse-nya.


Saat akan meraih blouse itu, Renan pun mengulurkan tangan untuk mengambil terlebih dahulu. Miranda kalah cepat dari Renan. "Pakaianmu sudah kotor. Pakai punyaku saja."

__ADS_1


Hanya keringat dan Renan menganggap itu kotor. "Itu tidak kotor." Miranda mencoba merampas tetapi Renan tak ada niat mengembalikan blouse.


"Pakai pakaianku saja," tawar Renan. Tangannya tetap ke atas agar Miranda tak bisa meraihnya.


"Kembalikan!" hardik Miranda. Dia berjinjit untuk merampas pakaiannya. Tak akan pernah dirinya menggunakan pakaian Renan. Aroma pria itu pasti melekat di pakaiannya.


"Pakai pakaianku atau aku tak akan membiarkanmu pergi!" ancam Renan.


"Kalau aku tak mau, apa yang akan kau lakukan jika aku masih di sini?" tanya Miranda menatap lekat sang pria. Menantang sang pria apa yang akan dilakukannya.


Dia melangkah semakin mendekat pada Renan. Renan pun menatap Miranda yang semakin dekat dengannya. Jarak mereka terlalu dekat, tak ada niatan Miranda menundukkan kepalanya. Dia tetap menaikan dagu sehingga jarak wajah mereka begitu tipis. Hingga ... tanpa sadar Renan menurunkan lengannya.


Miranda tersenyum mengejek. "Kau bahkan tak tahu apa yang harus kau lakukan!" Dia langsung menarik pakaiannya dari tangan Renan.


"Pakai pakaianmu," ujar Renan lalu pergi meninggalkan Miranda sendiri. Dia mengedipkan mata sekali, jantungnya masih sama jika berdekatan dengan Miranda. Ya, jantungnya berdetak lebih cepat.


Miranda hanya bisa menggigit bibir dalamnya. Dia memaksa untuk terlihat kuat. Namun, kondisi fisiknya tak mendukung, yang pada akhirnya dirinya terjatuh kembali.


Mendengar sesuatu terjatuh, Renan langsung menghampiri Miranda. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Renan menyentuh lengan Miranda.


Renan tak mengindahkan protes Miranda. Dia langsung menggendong sang artis lalu meletakan di atas ranjang. "Istirahatlah," lirih Renan.


Miranda bersikeras untuk bangun. "Aku baik-baik saja!"


"Kau hampir jatuh, masih bilang baik-baik saja?" tanya Renan meninggikan suara.


"Aku lemas hanya karena belum makan lebih dari sehari ini. Setelah pergi, aku akan mencari makanan dan kondisiku akan semakin membaik!"


"Kau belum makan dari pagi?" Renan bertanya dengan nada khawatir.


"Dari kemarin," jelas Miranda membuang muka.


Renan hanya mengedipkan mata sekali. Mungkinkah Miranda belum makan dari terakhir kali mereka bertemu?


Renan beralih ke lemari baju, mengambil sepotong kaos dan memberikan pada Miranda. "Kau bisa menggunakan ini. Jangan membantah!"

__ADS_1


"Siapa kau berani memerintahku!" hardik Miranda.


Renan hanya tersenyum. Sifat Miranda tak berubah. Meskipun sebelumnya baru saja menyatakan cinta. Namun, gadis itu tetap angkuh dan bertindak sesuka hati.


"Siapa pun diriku, istirahatlah di sini. Aku akan buatkan makanan untukmu," jelas Renan. Dia membawa pakaian Miranda agar gadis itu tak menggunakan blouse lamanya.


Dengan langkah lebar, Renan pergi meninggalkan Miranda. Dia langsung menuju dapur. Menepati janjinya untuk membuatkan makanan.


Sudah lama apartemen kosong. Renan membuka kulkas dan hanya mendapati frozen food dan makanan kemasan.


Mata Renan menatap bahan makanan di depannya. Dengan ragu mengambil satu bungkus.


...----------------...


Miranda dengan kesal memakai kaos Renan. Seperti dugaannya, aroma Renan melekat pada kaosnya. Dia langsung merebahkan kembali dan menutup wajahnya dengan selimut.


Setelah menunggu beberapa lama. Akhirnya Renan kembali dari dapur. Di tangannya terdapat baki.


Miranda mendengar langkah kaki seseorang. Dia menyibak selimut dan menatap Renan. Sang pria pun tak luput memandang sang gadis. Kaos putih polos membuat Miranda tampak polos. Hanya 5 detik untuk menyadarkan kembali Renan yang mengangumi kecantikan alami Miranda.


Renan meletakan baki di atas meja yang berada di samping jendela. Terdapat pula dua kursi. Miranda mencoba bangkit, dia tak akan membuang waktu. Dia akan pergi dari kehidupan Renan selamanya.


Namun, dengan sigap Renan menghampiri Miranda dan menggiringnya ke meja samping jendela. Dia langsung menundukkan Miranda di kursi. Mau tak mau, Miranda hanya bisa duduk di kursi.


"Apa yang kau masak?" tanya Miranda melirik makanan di atas meja.


"Ramyeon," jawab Renan.


"Ramen?" tanya Miranda melirik pada dua mangkuk di atas baki. Ramyeon atau ramen Korea tampak menggugah selera. "Kenapa ada dua mangkuk?"


"Tentu saja satu untukku," ujar Renan. "Kita makan bersama," tambahnya.


"Apa?" tanya Miranda memastikan.


"Habiskan ramen-nya! Aku tidak akan memintamu bersedia atau tidak makan ramen denganku. Tapi, ini adalah titah mutlak, kau harus makan ramen denganku. Dan hanya boleh menyantap ramen denganku," jelas Renan.

__ADS_1


__ADS_2