Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 6 Cerai


__ADS_3

Anyelir tersentak mendengar bentakan Krisan. Enam tahun pernikahan mereka, tidak sekalipun dirinya dibentak sang suami. Apalagi mengatakan muak padanya. Krisan selalu menyayanginya, memanjakannya.  Bahkan, sejak dari mereka hidup sederhana.


Wajah Anyelir pias, menatap sendu sang suami. Sedangkan Krisan membuang muka tak sudi melihat sang istri. Mereka berdua hanya berdiam di tempat, Anyelir tidak puas mendapat jawaban dari suaminya untuk bercerai. Baginya, sangat sulit sang suami untuk berpaling darinya. Namun, pemandangan di depan mata, bagaimana sang suami memeluk wanita lain. Itu adalah pemandangan yang jelas terpampang di depan matanya.


“Pergilah, aku masih banyak pekerjaan. Aku akan urus perceraian kita secepatnya. Kau bisa menempati rumah, itu akan menjadi hakmu,” ujar Krisan tanpa menoleh pada sang istri.


“Aku akan menganggap tak mendengar apa yang kau katakan barusan. Kau pasti lelah, jadi … kau bicara sembarangan.”


Krisan menoleh pada sang istri. “Kau tidak salah dengar. Aku sudah memikirkan matang-matang. Kita tak cocok bersama, aku sudah bosan denganmu!”


Bosan? Benarkah?


Anyelir mundur selangkah, dia hendak pergi dari ruangan sang suami. Namun, langkah kakinya terhenti. “Apa karena kita belum memiliki keturunan?” tanyanya tercekat.


Mereka sudah pernah melakukan pemeriksaan dan tak ada masalah di antara mereka. Hanya Tuhan yang memang belum memberi mereka keturunan.


“Ini tak ada hubungannya dengan anak. Aku hanya merasa ... kita memang tak cocok. Aku sudah tak mencintaimu lagi,” ujarnya tanpa melihat sang istri.


Anyelir menggeleng, dia sangat yakin bahwa suaminya tak mungkin selingkuh. Wanita itu … wanita itu memang dipeluk suaminya. Namun, tak ada tatapan cinta yang terpancar dari suaminya. Berbeda saat mereka sedang bersama. Hidup selama enam tahun membuat Anyelir sedikit tahu setiap raut wajah suaminya.


Dia berjalan mendekati sang suami. “Tatap aku. Katakan bahwa kau tak mencintaiku!” tantang Anyelir. Suaminya tak berani menatapnya saat mengatakan tak mencintainya.


Meskipun tadi pagi sang suami bersikap dingin padanya. Namun, pria itu tak marah saat dirinya mencium sang suami. Krisan masih bergeming, tak berani menoleh pada istrinya.


Anyelir menarik dagu sang suami. “Kau masih mencintaiku. Kau milikku Krisan.”


“Tidak ….”


Ucapan Krisan terhenti karena Anyelir tiba-tiba menciumnya. Gadis itu mencium lembut sang suami. Perlahan mengalungkan tangannya di leher sang suami, merapatkan tubuhnya pada lelaki yang dicintainya.

__ADS_1


Ciumannya begitu menggoda, setiap sapuan bibirnya begitu lembut. Lidahnya mengobrak abrik rongga mulut Krisan. Perlahan Krisan menutup matanya. Sudah sebulan lamanya, dia tak merasakan ciuman intens seperti ini.


Anyelir memang masih sering memberi kecupan ringan setiap membangunkannya di pagi hari. Namun, tidak dengan ciuman hangat ini.


Tangan Anyelir meraba dada sang suami yang masih tertutup pakaian lengkap. Menyusup ke dalam jas yang digunakan sang suami. Krisan mulai membalas ciuman sang istri dan mulai terlarut ke dalam permainan sang istri.


Sebulan tak bercinta, mengobarkan sesuatu di dalam dirinya. Anyelir terlalu kuat untuk membuat dirinya gentar. Anyelir terasa terangkat. Suaminya membopongnya ke sofa besar yang ada di ruangannya.


Merebahkan Anyelir dengan posisi Krisan di atas. Bukan pertama kali mereka melakukan hubungan suami istri di dalam kantor. Krisan terkadang meminta sang istri untuk datang ke kantornya.


Anyelir menaikan alisnya sebelah. Sang suami masih menginginkannya, dia masih di hati sang suami. Dia tersenyum tatkala merasakan Krisan yang begitu bersemangat. Krisan memimpin permainan, Anyelir hanya bisa mencengkram sisi sofa karena Krisan begitu gila. Tak banyak bicara dan hanya fokus dalam bekerja.


Krisan menarik Anyelir, mereka saling duduk berhadapan. Lebih tepatnya, Anyelir dalam pangkuan sang suami dengan mereka yang masih menyatu. Krisan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada sang istri. Mengedipkan matanya sekali, setetes air mata jatuh ke pipinya.


Anyelir menangkup wajah sang suami, berniat memberikan ciuman. Namun, Krisan menolak untuk mengangkat wajahnya. Cahaya di dalam ruangan begitu terang, dirinya tak ingin Anyelir melihat wajahnya. Krisan semakin menenggelamkan wajahnya, menggigit kecil pada kesukaannya.


Hanya ada satu kali ketukan di luar pintu. Namun, mereka mengabaikan ketukan itu hingga sang pengetuk pintu tak lagi mengetuk pintu ruangan Krisan. Anyelir tak ambil pusing dengan sang suami yang tak mempedulikan orang yang akan masuk ke ruangannya.


Hingga akhirnya mereka menyudahi aktivitas panas, setelah keduanya mendapat kepuasan. Tak ada kecupan di kening Anyelir saat Krisan melepaskan b*nihnya. Hal itu membuat Anyelir mengerutkan dahi. Hal yang sering suaminya lakukan sesaat setelah mendapat kenikmatan.


Krisan dan Anyelir sudah berpakaian rapi. Anyelir memeluk sang suami dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung sang suami. “Aku mencintaimu.”


Krisan hanya menghembuskan napas, melepas pelukan sang istri. “Pergilah,” ujarnya dingin.


Anyelir membeku di tempat. “Apa maksudmu?”


“Keputusanku sudah jelas. Kita akan bercerai!”


Anyelir membuka lebar mulutnya, hendak berbicara tetapi tak ada yang keluar dari mulutnya. Dia diam sejenak untuk memastikan telinganya tak salah mendengar. Krisan yang berbicara membelakanginya, mungkin saja suaranya tersapu angin dan membelokan kata tak ingin bercerai menjadi akan bercerai.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Anyelir.


“Jangan panggil aku seperti itu, karena kita tak ada keharusan untuk panggilan itu lagi.”


“Krisan! Kumohon hentikan semua ini! Cukup mengerjaiku! Kita masih saling mencintai. Apa yang kita lakukan tadi adalah bukti cinta kita.”


Krisan berbalik menghadap Anyelir. “Apa yang aku lakukan adalah bentuk nafkah lahirku padamu, yang selama sebulan ini tak kuberikan padamu. Aku tak akan lepas tanggung jawab sebelum kita bercerai, dan itu akan menjadi nafkah lahir terakhir yang kuberikan padamu!” Krisan melirik dari atas hingga bawah tubuh sang istri. “Meskipun sudah tak senikmat saat kau belia. Namun, aku rasa masih ada pria yang mau memungutmu!”


Plak! Anyelir menampar pipi sang suami. Tangannya bergetar, enam tahun pernikahan tak pernah sekalipun mereka bertengkar hebat hingga melayangkan tamparan. Tak pernah sedikitpun sang suami berkata kasar padanya.


Ada yang bilang, seseorang yang memendam segala sesuatu sendiri. Suatu saat orang itu akan meledak. Apakah saat ini adalah diri Krisan yang sesungguhnya?


Memungut? Apakah dirinya sampah yang bisa dipungut?


“Keluarlah! Kita bertemu di pengadilan,” ujar Krisan tanpa menoleh pada Anyelir. Wajahnya masih miring ke samping setelah ditampar oleh istrinya.


Anyelir berusaha keras untuk menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh. Mundur selangkah untuk menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Perkataan kasar suaminya begitu menorehkan luka.


Mungkin, jika Krisan adalah suami yang sering berkata kasar, dirinya tak akan sakit hati mendengar ucapan sang suami saat ini. Namun, Krisan tak pernah sekalipun bicara kasar, meninggikan suaranya pun tidak. Karena itu, sekalinya sang suami berkata kasar, akan sangat menyakiti hatinya.


Anyelir mengusap pipinya yang sehabis menangis. “Baiklah. Mulai sekarang, aku bukan istrimu lagi!” ujarnya.


Anyelir berbalik badan dan pergi dari ruangan sang suami.  Air mata tak terbendung lagi. Sedih, marah dan merasa konyol. Bagaimana mungkin mereka bercinta sebelum bercerai


Dia memang merasakan keanehan sang suami sebulan ini. Namun, tak pernah terpikirkan dirinya akan diceraikan oleh sang suami. Dia sangat percaya, dirinya sangat dicintai sang suami, hingga tak mungkin Krisan menceraikannya.


Anyelir terus mengendarai kendaraannya dengan air mata yang terus mengalir. Hingga tanpa sadar, dia berada pada jembatan. Tempat mereka pertama kali bertemu.


Dia turun dari mobil, melangkah mendekat, pada tempat dia berdiri enam tahun lalu. Anyelir mengangkat kakinya. Naik pada handrail jembatan. Satu pukulan berat dia rasakan saat sang suami menceraikannya. Enam tahun hidup bersama Krisan, membuatnya tak sanggup berpisah dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2