
"Huft, pasti bisa!" seru Anyelir di depan cermin. Wajahnya full dengan riasan. Dia mendekati sang suami. "Apa aku cantik?"
"Cantik, sangat cantik. Kau mau ke mana?" tanya Krisan menatap lekat sang istri. Kemeja putih ketat dengan rok hitam selutut. Rambut hitam panjangnya dikuncir sangat rapih. Bibir ranum berwarna merah menggoda.
"Mencoba baju magangku. Besok, aku mulai magang, untuk tugas akhirku," jawab Anyelir.
"Kenapa tidak di perusahaanku saja?"
"Perusahaanmu baru merintis. Aku dapat magang di bursa saham terbesar," jelas Anyelir.
Krisan menarik pinggang sang istri, mendudukkannya di pangkuannya. Mencubit dagunya. "Sangat cantik. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu menggunakan pakaian seperti ini untuk magang," ujar Krisan seraya merremas buah kenyal milik sang istri. Anyelir hanya bisa teriak atas apa yang telah dilakukan oleh Krisan. "Terlalu ketat dan terlalu mencetak!" tambahnya.
"Benarkah?"
"Ya, ganti yang lebih longgar. Rokmu juga, gunakan hingga di bawah lutut."
"Ish! Old banget sih," keluh Anyelir.
"Bukan old! Tapi kau istriku. Tidak ada yang boleh menyentuhmu. Bahkan hanya melihatmu saja aku tak akan membiarkan!"
"Bagaimana ini? Jika aku sudah bekerja, aku akan berbaur dengan siapa saja. Tidak mungkin tidak ada yang melihatku."
"Bekerja?" tanya Krisan menaikan alisnya.
"Setelah lulus, tentu saja harus bekerja," timpal Anyelir.
"Siapa yang mengizinkanmu bekerja? Aku sudah mati-matian bekerja untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Sekarang, meskipun masih perusahaan kecil, tapi aku yakin, aku masih sanggup menafkahimu tanpa kau harus bekerja. Sebelum punya perusahaan saja bisa menghidupimu, masa sudah menjadi bos malah membuatmu bekerja!"
"Lalu, untuk apa aku kuliah?"
"Pendidikan itu memang penting. Meskipun hanya jadi ibu rumah tangga, tetap harus memiliki pendidikan tinggi."
Anyelir hanya memajukan bibirnya. Krisan hanya terkekeh melihat sang istri. "Pokoknya, ganti baju magangmu ini. Aku tidak mau melihat kau menggunakan pakaian ketat lagi. Wajahmu ini, tak boleh menggunakan make up!"
"Ish! Untuk apa kau membelikan aku banyak perlengkapan make up?" dengus Anyelir.
"Ya untuk seperti biasa. Untukmu dinas malam," bisik Krisan.
Anyelir hanya mendecak, dia bangkit dari pangkuan sang suami. Namun, Krisan tak tinggal diam. Dia langsung membopong Anyelir ke ranjang. Wajah penuh riasan hanya boleh ditampakkan untuk Krisan.
Krisan mencium Anyelir, menghapus lipstik di bibir sang istri. "Warna merah menyala ini, sangat menggoda, Sayang."
"Percuma, tidak bisa di pakai di luar," dengus Anyelir. "Auw," teriak Anyelir, tiba-tiba Krisan merremas tubuhnya. "Kau ini, senang sekali membuatku terkejut!" protesnya.
Krisan hanya terkekeh. "Berapa banyak lipstik yang kau inginkan. Aku pasti akan membelikan. Tapi, tidak untuk dilihat orang lain. Mengerti?"
"Iya Suamiku. Mas-ku tersayang. Cintaku, kekasihku," ujar Anyelir dengan tatapan penuh cinta. “Kenapa kau baik sekali padaku?”
“Karena kau adalah istriku. Kau adalah cintaku,” ucap Krisan pasti.
“Aku beruntung karena kau mencintaiku. Tapi, bagaimana jika kau tak mencintaiku lagi?”
“Itu tidak akan pernah terjadi.”
“Benarkah? Siapa yang tahu masa depan. Karirmu semakin meroket, akan banyak cobaan di depan mata. Wanita cantikpun banyak yang akan menggodamu.”
__ADS_1
“Tapi kau yang berhasil menggodaku.”
“Jangan asal bicara! Tidak ada yang tahu kedepannya akan seperti apa.”
“Kalau begitu, lihat saja nanti. Aku hanya akan mencintaimu saja.”
“Baiklah, aku percaya. Tapi, jika kau sudah tak mencintaiku lagi, lalu pergi meninggalkanku. Aku pastikan kau akan menyesal seumur hidup.”
Krisan terkekeh. “Menyesal? Kau mau memotong sumber kenikmatanku biar aku tidak bisa merasakan surga dunia lagi?”
“Ih, ngapain aku melakukan itu! Jika kau meninggalkanku untuk perempuan lain. Aku yakin, perempuan itu tak lebih cantik dariku, dan kau akan menyesal telah meninggalkanku. Terlebih lagi, aku tidak akan kembali lagi padamu jika kau sudah meninggalkanku. Mencari wanita yang lebih cantik dariku akan sangat sulit. Tapi, mencari pria yang lebih tampan dan mapan darimu sangat mudah bagiku!” tutur Anyelir dengan menaikan dagunya.
“Ya, ya, ya. Kau benar, aku akan sangat menyesal jika menyia-nyiakan bidadari sepertimu.”
Anyelir tertawa. “Aku hanya bercanda. Mana mungkin tak ada wanita yang lebih cantik dariku. Tapi, perkataanku tidak akan kembali lagi padamu jika kau meninggalkanku, itu sangat serius!”
“Hal itu tak akan terjadi Nawangwulan!”
“Nawangwulan?” tanya Anyelir mengerutkan dahinya.
“Iya, kau adalah bidadari yang turun dari kahyangan dan aku adalah Jaka Tarub yang mencuri selendangmu.”
“Bukan kahyangan. Tapi, bidadari jatuh dari jembatan,” kekeh Anyelir yang baru sadar Nawangwulan adalah bidadari Jaka Tarub.
“Bridge Of Love!” timpal Krisan.
“Ya benar. Itu adalah jembatan cinta kita.”
“Sekarang, waktunya kita membuktikan cinta kita.” Setelah berkata, Krisan langsung mencium sang istri. Mengekpresikan cinta mereka setiap malam.
Anyelir tak pernah membangkang suaminya. Dia menuruti semua permintaan Krisan. Selama pernikahan, bukan Anyelir tak pernah merias diri. Semua perlengkapan make up-nya lengkap. Namun, Anyelir hanya berhias untuk sang suami. Tak pernah sekalipun menolak saat Krisan meminta haknya sebagai suami.
Kembali ke pesta dansa. Ingatan Krisan saat Anyelir mempersiapkan magang telah sirna. Di depannya, terdapat sosok Anyelir yang baru.
Senyum aristokratnya tersinggung sangat sempurna di wajah Anyelir. Menciptakan wajah yang elegan dan sedikit meremehkan. Tidak ada rasa hormat pada sang suami. Tak ada lagi tatapan penuh cinta dari Anyelir.
Krisan mengencangkan pelukannya di pinggang sang istri. Menariknya, hingga mereka berhadapan. Anyelir sedikit panik. Namun, dirinya tetap mencoba untuk tenang.
“Aku tidak akan pernah menceraikanmu,” lirih Krisan. Mencoba untuk melembut.
“Sudah kubilang. Aku yang akan mengurus perceraian. Jadi, aku yang akan menceraikanmu!” timpal Anyelir.
“Itu tidak akan terjadi Anyelir!”
“Benarkah?” Anyelir menyunggingkan senyum smirk. “Apa kau berubah pikiran?”
“Ya, kebodohanku adalah menceraikanmu. Namun, aku sadar aku tak bisa hidup tanpamu.”
“Tidak bisa hidup tanpaku? Kau tampak baik-baik saja selama tiga tahun ini! Apa kau pikir aku bodoh?”
“Aku mencarimu selama tiga tahun ini.”
“Owh! Aku terharu …,” ucap Anyelir mengejek. “Tapi sayangnya … semua itu tak berguna! Kau hanya masa lalu yang harus dihempaskan!”
“Anyelir, tak bisakah kau melihat hatiku? Aku masih mencintaimu. Aku pun yakin, kau juga mencintaiku!”
__ADS_1
“Hati? Apa kau menggunakan hatimu sangat mengatakan masih ada pria yang akan memungutku?”
Tatapan Anyelir nanar. Suaminya dengan kejam mengatakan kata-kata merendahkan seperti itu.
Anyelir tidak tahu orang lain dalam menghadapi rumah tangga. Mungkin, untuk sebagian orang, kata-kata Krisan bukan sesuatu yang harus diperbesar. Meminta maaf, lalu selesai masalah. Namun, tidak bagi Anyelir. Kata-kata itu sangat menyakitkan hatinya.
“Anyelir, aku tahu perkataanku sangat kejam untukmu. Bisakah kau memaafkanku?”
Krisan tahu istrinya sangat s*nsitif. Karena itu, hanya sebuah kalimat kecil bisa sangat menyakiti hatinya.
“Aku pastikan tidak akan ada pria yang memungutku! Karena, para pria yang akan memujaku. Termasuk para pria yang lebih hebat darimu.”
Krisan bisa melihat Lukas yang tertarik pada istrinya. Pria yang lebih kaya darinya. Dia yakin, masih banyak lagi pria yang menyukai istrinya. Tak akan dia biarkan Anyelir menjadi bahan buruan para lelaki.
“Kau tahu aku seperti apa. Aku bukan pria yang akan tinggal diam jika miliknya direbut orang lain! Kau hanya akan menjadi wanita seorang Krisan!”
“Tapi aku bukan milikmu!” tegas Anyelir.
Krisan mulai kehilangan kesabaran. "Kau ingin membangkang?" tanya Krisan dengan nada tegas. Baru kali ini, dia bersikap tegas pada Anyelir. Wajahnya penuh keseriusan.
“Membangkang? Membangkang dari siapa? Apa selama ini aku seorang tahanan? Owh. Jadi, selama ini kau menganggapku sebagai tahanan?” tanya Anyelir sinis.
“Apa kau merasa seperti tahanan?” tanya Krisan. Dia sudah berusaha memberi yang terbaik untuk istrinya. Meskipun selama ini, banyak aturan yang ditetapkan untuk Anyelir.
Anyelir menatap tajam Krisan. “Aku terbuai akan perhatianmu. Aku terlena akan kebaikanmu. Aku pikir itu semua cinta. Namun, setelah aku pikir lagi. Apa yang kau lakukan padaku bukan karena cinta. Aku hanya burung dalam sangkar yang kau pelihara. Kau mengekangku dengan segala aturan yang kau tetapkan padaku. Tapi sekarang, aku bukanlah burung di dalam sangkar lagi. Aku bebas, kau … tidak berhak atas diriku lagi!”
Tangan Krisan sedikit naik ke atas, meraba punggung polos sang istri. Kulit sang istri masih terasa lembut, sama seperti sebelumnya. Dia menatap ke dalam netra sang istri.
Ingin memaki Anyelir yang dengan bangga menggunakan pakaian terbuka. Namun, setelah mendengar ucapan Anyelir membuat Krisan berpikir. Apakah selama ini dia terlalu mengekang istrinya? Bahkan tidak banyak yang tahu bahwa Anyelir adalah istrinya karena Krisan terlalu menyembunyikan Anyelir dari hadapan umum.
“Bisakah kita bicara dengan kepala dingin?” pinta Krisan merendahkan nada bicaranya. Dia mencoba untuk berdamai, banyak yang perlu mereka bicarakan. Krisan pun ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Anyelir saat menghilang.
“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Kris!”
“Aku mohon. Banyak yang perlu kita bicarakan. Banyak yang perlu diperbaiki.”
Anyelir melepas sentuhannya pada Krisan tepat saat musik pun berhenti. “Enyahlah dari hidupku! Kau hanya kepingan masa laluku yang aku tak ingin pernah kembali lagi ke masa lalu. Aku datang untuk mengakhiri semuanya!”
Anyelir berbalik meninggalkan Krisan. Lukas hanya sesekali melihat Anyelir yang berdansa dengan Krisan. Meskipun tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, mereka tampak saling kenal.
Anyelir berjalan keluar ruangan. Dia datang untuk menghargai undangan Lukas. Namun, siapa sangka bertemu dengan mantan suaminya. Rasa sesak begitu menyakiti hatinya.
Langkah kakinya terhenti karena Lukas menghadangnya. “Mau ke mana? Pesta belum selesai,” ujarnya.
“Maaf, aku masih ada urusan. Terima kasih atas undangannya.”
“Apa kita masih bisa makan siang bersama?”
“Tentu,” ujar Anyelir tersenyum.
Dia keluar dari ruangan. Berhenti sebuah mobil di depannya. Anyelir langsung masuk ke dalam mobil, duduk di belakang lalu memejamkan matanya.
“Bisa kita mampir ke apotik dulu?” tanya Anyelir pada sang sopir. Kepalanya sedikit pusing. Dia tak ditemani Vinnie hari ini.
“Baik, Nona,” ujar sang sopir.
__ADS_1
Anyelir membuka matanya saat mendengar suara yang dikenalnya. “Kau ….”
“Hai. Apa kau merindukanku?”