
“Apa kau tidak terlalu kasar pada istrimu?” tanya Aryo asisten sekaligus sahabatnya.
“Apa kau tidak berpikir aku terlalu baik padanya? Aku bahkan masih memberikan harta padanya setelah kita bercerai nanti!”ujar Krisan berapi.
“Itu karena kau masih mencintainya. Kau sudah menikah dengannya selama 6 tahun. Rasa cintamu seharusnya lebih besar dari rasa bencimu.”
“Itu karena aku tidak tahu siapa dia sebenarnya!” hardik Krisan.
Dirinya berusaha sukses bukan semata-mata untuk membahagiakan Anyelir. Namun, juga untuk mencari tahu penyebab kematian orang tuanya. Dia merutuki dirinya sendiri karena baru saja mengetahui kebenarannya sebulan terakhir.
“Saat aku pertama kali melihatnya. Aku seperti merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Namun, pada saat itu aku tak ingat dan jatuh pada pesonanya. Kalau aku tahu siapa dia sebenarnya. Aku akan membiarkannya jatuh ke dalam sungai saat itu. Dia hidup bahagia selama ini. Dia selalu dilimpahkan kemewahan sejak kecil, dan dengan bodohnya, aku berusaha keras untuk memanjakannya dengan kemewahan! Seandainya kebenaran ini terungkap lebih awal. Tidak mungkin aku menikahinya,” tambah Krisan.
“Dia tidak tahu apa-apa. Lagi pula orang tuanya telah meninggal, mereka sudah mendapat karma.” Aryo melirik sekilas pada Krisan. “Kau bahkan masih menikmati bercinta dengan istrimu itu. Tiga jam bukan waktu yang singkat untuk bercinta dengan musuhmu!” dengusnya.
Aryo bisa melihat kesedihan Anyelir saat keluar dari ruangan Krisan. Tak terbayang sedihnya wanita itu. Terlebih lagi, Krisan menyerangnya habis-habisan.
Krisan hanya melirik tajam pada sang sahabat. “Lalu, setelah tahu semuanya. Apa kau masih berpikir, aku masih bisa hidup bersama dengan wanita yang orang tuannya telah membunuh orang tuaku? Usiaku masih 8 tahun saat itu. Aku masih ingat jelas bagaimana pria itu tersenyum bahagia karena telah menghancurkan keluargaku. Tatapan mata pria itu, mengapa baru aku sadari bahwa mata itu adalah mata Anyelir,” ujar Krisan menunduk. Bahkan dia terpesona pertama kali pada istrinya karena tatapan sang istri.
Aryo tidak tahu rasa sakit sedalam apa yang dirasakan oleh Krisan. Namun, dia hanya menyayangkan keputusan Krisan untuk bercerai. Mereka masih saling mencintai, masih sangat jelas terlihat dari keduanya. Hanya saja, kenyataan pahit diterima oleh Krisan.
“Pikirkan dulu baik-baik. Dia belum tahu yang sebenarnya. Jika kau tiba-tiba menceraikannya seperti ini, dia tak akan tahu penyebab dirimu menceraikannya. Atau mungkin, kau ceritakan saja yang sebenarnya pada istrimu,” usul Aryo.
Aryo masih membujuk sang sahabat. Dia tahu bagaimana Krisan begitu mencintai istrinya. Dari masih hidup sederhana, tak sekalipun Krisan menuntut Anyelir memasak atau membersihkan rumah. Bahkan Krisan sering diejek oleh teman-temannya. Memiliki istri sangat cantik tetapi tidak memiliki kekayaan. Maka, sang suami akan menjadi budak sang istri.
Memiliki istri yang cantik, menjadi incaran banyak pria. Setiap lelaki akan memandang istrinya. Karena itu, Krisan sebisa mungkin tak pernah menunjukan Anyelir pada rekan kerjanya. Tak berniat memamerkan Anyelir, tak juga ingin membanggakan pada semua orang telah memiliki istri yang cantik. Anyelir, disimpan untuk dirinya sendri. Bahkan Krisan tak mengizinkan Anyelir bekerja. Jika pun berkunjung ke kantor, akan ada lift khusus untuk Anyelir datang padanya dan tidak berbagi lift dengan karyawan lainnya. Maka dari itu, tidak banyak yang tahu sosok istri Krisan.
Krisan hanya mengusap wajahnya kasar. Dia tahu istrinya sangat manja, dia bahkan tak tega jika melihat Anyelir menangis. Jika dia bilang alasan yang sebenarnya, dia yakin Anyelir akan sangat sedih. Terlebih lagi, dari Anyelir menceritakan tentang kedua orang tuanya, tampak gadis itu begitu bahagia. Namun, dia tak bisa meneruskan pernikahan mereka.
“Berikan aku dokumen pembangunan hotel,” ujar Krisan pada Aryo. Mencoba mengalihkan pikiran dengan pekerjaan.
Mereka masih di kantor, Aryo melirik sekilas pada jam dinding yang sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. “Apa masih ingin bekerja?”
__ADS_1
“Ya,” jawab Krisan singkat. Dia menoleh pada sahabatnya. “Jika kau ingin pulang, pergilah.”
“Kau akan di sini?”
“Ya, aku akan menginap di kantor.”
“Kalau begitu, aku pulang.”
“Aryo, bisakah kau mampir ke rumahku dulu? Tolong ambil berkas PT Canic di ruang kerjaku. Kemarin aku bawa pulang dan lupa membawanya kembali.”
“Baiklah, aku akan mampir ke rumahmu dulu, setelah itu akan aku antar ke sini lagi,” ujar Aryo dengan cemberut.
“Jangan menampakan wajah seperti itu. Jarak rumahku ke sini tak jauh!” dengus Krisan.
Ya, Krisan memang membeli rumah mewah tak jauh dari kantornya. Namun, dia tak meminta pelayan rumahnya untuk mengantar dokumen. Dia meminta Aryo karena dokumen tersebut penting dan hanya Aryo orang yang dipercaya.
Krisan menyibukkan diri dengan pekerjaan selagi menunggu dokumen yang diambil oleh Aryo. Tidak lama ponselnya berdering, Aryo menelponnya, dengan malas mengangkat teleponnya.
*
*
*
“Tidak ditemukan, Tuan,” ujar Aryo. Dirinya bisa bersikap profesional. Dia bisa menjadi sahabat dan juga asisten yang handal.
“Tidak mungkin! Dia tak mungkin menceburkan diri ke sungai!” rancau Krisan tak jelas. Hanya jembatan mereka bertemu menjadi tempat tujuan Krisan mencari istrinya. Terlebih lagi, dari gps sang istri berhenti di jembatan tersebut.
Ya, mobil istrinya pun berada di jembatan tersebut, ponsel Anyelir pun berada di dalam mobil.
Dia mendapat kabar dari Aryo bahwa Anyelir belum pulang setelah pergi dari kantornya. Krisan mendapat kabar sudah lewat tengah malam, karena Aryo mampir ke rumah Krisan untuk sekadar mengambil dokumen di ruang kerja Krisan di rumah, dan kebetulan bertemu dengan kepala pelayan.
__ADS_1
Sang kepala pelayan menanyakan apakah Anyelir bersama dengan suaminya. Menghilangnya Anyelir membuat Krisan pusing.
“Nyonya tidak membawa barang-barang apapun, Tuan,” ujar Aryo lagi.
“Apa tidak bisa cek CCTV?” tanya Krisan.
“Beberapa bagian jembatan sedang dilakukan renovasi dan tak terdapat CCTV. Bagian jalan setelah jembatan terdapat CCTV tetapi sedang rusak.”
Krisan mengguyar rambutnya. Dia mengerahkan kemampuannya untuk mencari keberadaan sang istri. Lokasi jembatan tidak banyak berubah dari 6 tahun lalu. Jembatan yang sejatinya jarang dilalui masyarakat.
Beberapa orang terus mencari di sekitar jembatan dan sungai. Beberapa penyelam pun ikut membantu. Seseorang mendekati Krisan dengan membawa sebelah sepatu high hells. “Apa ini milik istri Anda?”
Krisan mundur selangkah, tanpa menyentuh sepatu itu pun, dia tahu itu milik sang istri. Ya, dia mengetahuinya karena itu sepatu limit edition. Dia sendiri yang mengantar sang istri berburu sepatu mewah itu.
“Dari mana kau dapat itu?” tanya Krisan pias.
“Dari sungai, Tuan. Namun, kami tidak menemukan istri Anda, hanya sepatu itu yang kami temukan,” ujar sang penyelam yang termasuk ke dalam bagian team search and rescue. Dia tak berani menyimpulkan istri Krisan tenggelam atau hanyut di sungai.
Wajah Krisan bertambah pias. Bahkan dia ikut mencari ke dalam sungai. Namun, tak membuahkan hasil.
Hari terus berlalu, tak sedikitpun mendapat petunjuk sang istri ditemukan. Tak terasa bulan berganti, dan tahun pun silih berganti. Krisan berdiri di atas jembatan, menantikan istrinya kembali. Kesedihan selalu meliputi dirinya. Dia sangat meyakini istrinya masih hidup.
“Apa masih mau di sini?” tanya Aryo yang selalu senantiasa menemani Krisan.
“Sebentar lagi,” ujar Krisan yang masih berdiri di jembatan. Hal yang sering dia lakukan setelah kepergian Anyelir.
“Boleh aku bicara sebagai sahabat?” tanya Aryo.
“Bicaralah.”
Aryo membuka mulutnya, lalu menutup kembali. “Tidak jadi.”
__ADS_1
Krisan hanya melirik sekilas pada Aryo, mendengus lalu berkata, “Ayo kita pergi.”