
Siapakah kekasih Miranda?
Miranda diisukan kencan dengan seorang pengusaha sukses.
Foto kencan model ternama Miranda tersebar di internet.
Miranda digendong seorang pria. Siapakah pemilik punggung kokoh itu?
Siapakah lelaki gondrong itu?
Miranda tersenyum melihat berita yang ada di layar ponselnya. Photo dua tahun lalu yang tak sengaja didapatnya dari seorang reporter yang menguntitnya. Photo Krisan menggendong dirinya karena mabuk. Tak tampak wajah Krisan, hanya punggung kokoh milik pria itu yang tampak jelas. Rambut gondrong Krisan yang dikuncir pun menjadi ciri khas.
Photo yang ditakutkan tersebar akan gaya hidupnya yang selama ini ditutup rapat. Namun, photo tersebut bukan menguak gaya hidupnya, melainkan asmaranya.
“Aku tidak tahu siapa yang menyebar photo itu,” terang Cindy sang asisten. Dia melirik layar ponsel Miranda yang sedang menampilkan berita tentang sang model.
“Biarkan saja,” ujar Miranda mengulas senyum.
“Kau tidak marah?”
“Untuk apa aku marah? Tidak ada yang salah dengan photo itu.”
Cindy hanya menganggukkan kepalanya pelan. Bukan photo tak senonoh. Mereka baru saja selesai syuting iklan. Cindy dan Miranda bersiap meninggalkan lokasi. Namun, saat mereka keluar sudah banyak awak media yang menunggu kedatangan Miranda.
“Miranda, bisa minta sedikit waktunya? Siapa pria di photo tersebut?”
“Apakah itu kekasih Anda?” tanya seorang reporter lainnya.
“Apakah dia seorang pengusaha?”
“Maaf, Miranda masih ada jadwal,” ujar Cindy.
Para awak media enggan memberi jalan pada mereka.
Miranda mendongakkan kepalanya, dia tersenyum pada awak media. “Itu photo lama dengan seorang teman. Tolong jangan menggiring opini,” paparnya dengan menahan senyum.
“Teman atau kekasih?” tanya seorang reporter.
Miranda mengulum senyum tanpa menjawab pertanyaan sang reporter.
“Apa dia adalah tunangan Anda?” tanya seorang reporter lagi. “Bukankah Anda pernah bilang akan bertunangan?”
“Doakan saja yang terbaik,” jawab Miranda tersenyum seraya meninggalkan para reporter.
Miranda masuk ke dalam mobilnya, dirinya tersenyum puas.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Cindy.
“Tidak apa,” timpal Miranda.
Cindy memicingkan matanya. “Jangan-jangan, kau yang menyebarkan photo itu?”
“Bukan, aku hanya kehilangan photo tersebut saat ponselku bermasalah beberapa waktu lalu,” sanggah Miranda.
Cindy semakin memicingkan matanya. “Benarkah?”
“Tentu saja!”
“Kau tidak sedang membuat gimmick bukan, agar dirimu selalu ada dalam pemberitaan? Photo pria itu adalah Tuan Krisan. Apa kau menyukainya? Atau hanya sekadar untuk menaikan popularitas mu?”
“Gimmick? Apa aku perlu melakukan itu?”
“Kau menyukainya?”
“Apa aku tak boleh menyukainya?” tanya Miranda menatap Cindy.
“Bukankah dia sudah menikah? Dia sendiri bukan, yang bilang sudah menikah?”
“Apa selama ini kau pernah melihat istrinya? Bahkan karyawannya pun tak tahu bos mereka sudah menikah atau belum!”
Cindy terdiam, selama menjadi asisten Miranda dan beberapa kali bertemu dengan Krisan. Dia pun tak pernah melihat tanda-tanda pria itu telah memiliki istri. Tak terlihat memiliki kekasih pula.
“Bukankah kau bilang, dia menggendong seorang wanita di kantornya?” tanya Cindy.
__ADS_1
“Bukankah aku juga pernah digendong olehnya? Dia membantuku saat aku mabuk dan tak terjadi apapun setelah itu!” jelas Miranda.
Cindy hanya menghela napasnya pelan. “Ya, kau benar. Mungkin, dia memiliki jiwa penolong yang tinggi.”
“Jika pria lain yang menggendongku, pasti aku sudah habis dilecehkan!” dengus Miranda.
Cindy melirik sekilas pada Miranda. “Pria langka. Sukses dan sopan.”
......ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ......
“Kenapa diam saja?” tanya Krisan.
Krisan tak membawa mobil Anyelir. Dia sendiri yang menjemput sang istri.
“Kau buat malu saja!” ucap Anyelir menyandarkan tubuh pada kursi penumpang depan.
“Malu? Ada apa dengan diriku?” tanya Krisan heran.
“Kau berteriak seperti itu pada Lukas. Sangat memalukan!” keluh Anyelir.
“Apa itu salah? Meminta pria lain untuk tak menyentuh istriku?”
“Dia hanya membantuku yang hampir terjatuh!”
"Itu bukan membantu tapi mencuri kesempatan," timpal Krisan.
"Terserah apa katamu saja!" ujar Anyelir membuang muka. Dia memilih menatap kaca jendela.
Anyelir hanya memutar bola matanya jengah. Kesal dengan kelakukan suaminya. Beruntung Lukas bisa menerima penjelasannya. Meskipun tampak jelas kekecewaan di wajah pria itu setelah mengetahui dia masih menjadi seorang istri Krisan.
Bukan maksud dia membohongi atau menutup pernikahannya. Anyelir hanya berpikir pada saat itu, dirinya dan Krisan tak mungkin kembali lagi bersama.
"Kenapa lewat sini?" tanya Anyelir menyadari mobil Krisan tak mengarah ke apartemennya.
"Kita pulang," ujar Krisan.
"Pulang?"
"Ya, rumah kita. Aku tak mengubah sedikitpun rumah kita."
"Bukankah kau sudah bersedia memulai kembali?" tanya Krisan mengerenyitkan dahi.
Anyelir menunduk. "Ya, tapi aku belum siap untuk tinggal bersama lagi. Antarkan aku ke apartemenku," pintanya.
"Sayang ...."
"Ku mohon, antar saja ke apartemen. Aku tidak ingin terburu-buru," ujar Anyelir sedikit memelas.
Krisan mengeratkan genggaman tangannya pada kemudi. "Baiklah, kita pelan-pelan saja."
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Krisan mengubah arah ke apartemen. Membuat Anyelir mengurungkan bercerai saja sudah merupakan kemajuan. Dia tak akan gegabah agar istrinya tak mengubah pikirannya.
"Jangan lupa antar mobilku ke sini," ujar Anyelir setibanya di apartemen.
"Ya, nanti akan kusuruh orang mengantar."
Anyelir membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Krisan mengikuti istrinya dari belakang.
"Kenapa kau ikut turun?"
"Istriku di sini. Jadi, aku juga harus di sini."
"Kris, jangan seperti ini. Aku belum siap untuk tinggal bersama."
"Ya, aku tahu. Tapi, apa kau lupa bahwa kita tetangga?"
Anyelir hanya menaikan alisnya sebelah, dia berjalan mendahului Krisan. Jemarinya menekan tombol lift. Lift mulai bergerak ke lantai unit apartemen mereka.
Hingga akhirnya lift terbuka. Sebelum keluar dari lift, jemari Krisan menekan semua tombol yang ada di lift. Anyelirpun terkekeh melihat kelakuan Krisan.
"Aku belajar darimu," ucap Krisan.
"Iseng saja!" ejek Anyelir.
__ADS_1
"Biarin!"
Mereka terus berjalan, tangan Krisan tiba-tiba menggenggam tangan Anyelir. Sang wanita hanya mengulum senyum, sudah sangat lama tangannya tak digandeng seperti itu oleh sang suami. Dia teringat kenangan masa lalu. Berjalan sepanjang taman dengan saling bergandengan tangan.
Hingga akhirnya sampai di depan unit apartemen Anyelir. "Kalau kebiasaan buruk itu jangan ditiru," ujar Anyelir sembari menampilkan senyum manis. "Sudah sampai," lanjutnya.
"Ya, lalu?" tanya Krisan yang tak beranjak pergi. Bahkan dia tak melepas genggaman tangannya.
Dia masih menatap lekat sang istri. Sudah begitu banyak wanita cantik yang dia lihat. Yang lebih cantik dari Anyelir pun ada. Namun, senyum istrinya selalu membuatnya terpesona.
"Pulanglah ke apartemenmu," titah Anyelir seraya mencoba melepas genggaman tangan mereka.
"Terlalu besar, kau tak mau menemaniku? Atau aku yang tinggal di sini," ucap Krisan sedikit terbata.
"Pergilah," ujar Anyelir dan dia berhasil melepas genggaman tangan mereka. Telunjuknya mendorong tubuh Krisan agar menjauh.
Krisan hanya terkekeh, dia mencium kening Anyelir tanpa aba-aba. "Istirahatlah, pasti kau lelah."
"Ya," ujar Anyelir sedikit canggung.
Dia mulai membuka pintu apartemennya. Masuk ke dalam dan menatap sejenak Krisan sebelum menutup pintu.
"Sayang ...," ujar Krisan.
"Ya. Apa?"
"Tidak apa, mimpi indah."
"Ya. Kau juga."
"Besok, biar aku antar."
"Tidak perlu repot, aku bisa bawa mobil sendiri."
"Tidak repot, kita searah."
"Baiklah. Aku masuk dulu."
"Ya," jawab Krisan dengan berat. "Belum berpisah, aku sudah merindukanmu."
Anyelir terkekeh. Perkataan Krisan yang sering diucapkan sebelum berangkat kerja. Kini, dia mendengar kembali. "Kalau begitu, mimpikan aku."
"Ya, aku akan memimpikanmu."
Anyelir tersenyum, dia menutup pintunya. Bibirnya tersinggung senyum. Dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu merebahkan tubuhnya di ranjang. Belum semenit dia menikmati kasur. Ponselnya berdering. Dia mengulas senyum, sang suami menelponnya.
"Ada apa?" tanya Anyelir.
"Sudah selesai mandi bukan?"
"Ya."
"Video call ya?"
"Untuk apa?"
"Rindu."
"Dasar gombal!" ujar Anyelir terkekeh. Namun, dia menyetujui Krisan untuk mengubah panggilan telepon menjadi video.
Krisan tersenyum lebar menatap sang istri. "Mau aku ceritakan sebuah kisah?"
"Mau," ujar Anyelir tersipu malu.
Krisan mulai bercerita sebuah kisah. Dulu, mereka pernah menjalin hubungan jarak jauh karena Krisan sempat dinas selama seminggu di luar kota. Perekonomian yang masih sangat minim tak memungkinkan Anyelir ikut.
Selama itu pula, Krisan selalu melakukan video call hingga Anyelir tertidur.
"Dulu, kau sering bercerita."
"Ya, saat kita berpisah seminggu."
"Aku merindukan masa-masa kita kesulitan ekonomi. Meski hanya makan dengan nasi dan sebutir telur, hidup kita bahagia," terang Anyelir sendu.
__ADS_1
Krisan terdiam. Ya, Anyelir adalah wanita yang menemaninya dari nol. Gerakan gegabahnya membuat mereka mengalami perpisahan. "Kita akan bahagia, selamanya akan bahagia," jelas Krisan.
Dia tak akan membuat Anyelir menangis lagi. Bodoh, konyol. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Kebodohan yang dia lakukan tak setimpal dengan apa yang telah terjadi. Krisan mematri di hatinya untuk memberikan kebahagiaan pada sang istri.