Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 47 Pria Hebat


__ADS_3

“Di mana rumahmu?” tanya Renan.


“Sebentar lagi. Apa kau buta membaca google map?” tanya Miranda seolah merendahkan.


“Apa kau pikir aku pengemudi taxi online?” tanya Renan meninggikan suara.


“Lurus saja, lalu belok kanan.” Miranda tak ingin terlalu banyak bicara dengan Renan. Dia langsung menunjukan arah rumahnya. “Putar balik!” seru Miranda.


“Ada apa?” tanya Renan, dia melihat banyak orang di depan sebuah rumah.


“Paparazi.” Miranda langsung mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Cindy. Namun, ponselnya habis baterai.


Renan mengerti dan langsung memutar arah. “Kau bukan artis papan atas, mengapa banyak sekali paparazi mencarimu?” keluhnya.


“Apa kau tak punya televisi di rumah? Atau kau tak punya quota internet?” dengus Miranda.


“Apa hubungannya!” tandas Renan.


“Kau bisa melihatku di sana!” ketus Miranda.


“Cih, aku bahkan tidak tahu siapa dirimu! Padahal, aku punya banyak teman model internasional!” sindir Renan.


“Kau saja yang tak tahu informasi!” ketus Miranda.


“Lalu, sekarang mau ke mana?”


“Ke tempat orang lain tak mengenal diriku!”


“Baiklah, aku bisa antar kau ke tengah hutan atau kulempar kau ke tengah laut!”


Miranda hanya memutar bola matanya malas. “Berikan ponselmu!” pintanya menyodorkan tangan.


“Untuk apa? Kita tak perlu sampai bertukar nomor ponsel.”


“Aku hanya butuh ponselmu untuk menguhubungi asistenku! Ponselku habis baterai!” Miranda mengangkat ponselnya sendiri yang layar ponselnya berwarna hitam.


Renan mengulurkan tangan, mengambil charger di dashboard. “Gunakan ini!”


“Butuh waktu untuk menyalakan ponselku!” hardik Miranda. Dia langsung mengambil ponsel Renan yang juga terletak di dashboard mobil. Dia menekan tombol di samping ponsel. Layar ponsel Renan menjadi terang, terlihat sebuah wallpapaer dengan gambar dua tangan yang saling menggenggam. Sudut bibir Miranda ke atas sebelas, menduga photo tangan tersebut adalah tangan Renan dan kekasihnya.


Renan hanya sedikit mendecak. Sedetik kemudian, dia langsung merampas ponselnya dari tangan Miranda.


“Apa yang kau lakukan?” teriak Miranda. “Aku hanya meminjam ponselmu! Mengapa pelit sekali.”


Miranda mencoba mengambil kembali ponsel dari tangan Renan. Sedangkan sang pria tak ingin ponselnya diambil Miranda. Di ponselnya masih terdapat photo dari kekasihnya. Meskipun sebagian besar sudah ia hapus. Namun, dia masih menyimpan sedikit photo kenangan bersama sang mantan.


Renan dan Miranda perebutan ponsel hingga akhirnya Renan tak bisa mengendalikan laju kendaraannya.


“Awas!” teriak Miranda.

__ADS_1


Mobil yang mereka tumpangi mengarah pada pohon besar di pinggir jalan. Renan berusaha keras agar mobil yang ia tumpangi tak menabrak.


Cit ….!


Mobil berhenti dengan jarak tipis dari pohon besar. “Apa yang kau lakukan?” hardik Miranda.


“Seharusnya kau bertanya pada dirimu,” sanggah Renan.


“Aku hanya ingin meminjam ponselmu! Reaksimu sangat berlebihan!” ketus Miranda.


“Aku sudah bilang, gunakan ponselmu sendiri!”


Miranda membuang napasnya kasar. Dia meraih charger dan menghubungkan ke ponselnya sendiri. Renan hanya melirik sekilas lalu melajukan kembali mobinya.


Menunggu sekitar lima menit. Miranda mengaktifkan kembali ponselnya. Dia mencoba menghubungi Cindy dengan ponsel yang masih terhubung dengan kabel charger. “Cepatlah angakat! Kemana kau!” gumamnya.


Berulang kali menghubungi asistennya, tetapi Cindy tetap tak mengangkat panggilan teleponnya. Hampir putus ada, saat akan menyentuh icon end di layar ponsel. Cindy mengangkat panggilan teleponnya.


“Di mana kau?” tanya Cindy dengan suara marah.


“Aku sudah kembali ke rumah, tapi banyak paparazi. Jadi, aku pergi lagi,” jelas Miranda.


“Jangan kembali dulu, terlalu banyak orang. Akan aku atasi orang-orang di sini!”


Tut! Cindy memutuskan panggilan sepihak.


“Aku memang bukan presiden. Tapi setidaknya, aku punya prestasi! Aku punya banyak fans!” ketus Miranda.


“Fans-mu yang buta hingga tak bisa melihat idola yang mereka kagumi!” ejek Renan.


Miranda hanya menoleh menatap jalanan, dia tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Renan. Pasrah pada keadaan, terserah lelaki itu akan membawanya kemana.


Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen milik Anyelir. “Kenapa kita ke sini?” tanya Miranda.


“Mau ke mana lagi? Ke hotel?” ketus Renan, dia berjalan mendahului Miranda.


Miranda hanya bisa mengikuti Renan dari belakang. Dia melihat kesekeliling, apartemen cukup mewah. “Apa kita akan tinggal bersama?”


“Aku hanya menampung orang yang tak memiliki tujuan. Setelah masalahmu dengan para reporter selesai, cepat pergi dari sini!” Renan terus berjalan dan menuju kamar Anyelir. “Kau bisa menggunakan kamar ini.”


“Kamar siapa ini?”


“Anyelir.”


“Fransisca?”


“Ya, sama saja!”


“Kalian tinggal bersama sebelumnya?”

__ADS_1


“Ya.”


“Kalian hanya sepupu ….”


“Lalu kenapa? Dia pun sudah punya suami!”


“Tidak, hanya saja … lupakan! Aku tidak akan lama tinggal di sini. Paling besok aku sudah pergi dari sini.”


“Bagus!”


“Di mana kamarmu?”


“Di sebelah.”


Miranda mengehela napasnya pelan. Renan melihat gerik Miranda. “Kau pikir kita akan tidur sekamar?”


“Bu—kan, bukan seperti itu. Tentu saja pisah kamar,” ujar Miranda sedikit gugup.


“Ekspresimu seperti khawatir padaku.”


“Tentu saja! Aku itu cantik. Bisa saja kau menyerangku tengah malam!” ujar Miranda mengangkat dagunya. Sudah banyak pria yang tergila-gila padanya, hanya saja dirinya tertarik pada Krisan karena berlaku sopan padanya.


“Kau tak menggunakan pakaian pun di depanku, aku tidak akan tergoda!” seru Renan.


Miranda mendecih. “Siapa yang bisa menjamin hal itu!”


“Kau tidak begitu memukau untuk berdiri di sampingku! Kau bisa membuktikannya sendiri!” ucap Renan pasti.


“Benarkah?” tanya Miranda mengangkat dagunya, dia menatap lekat pada Renan.


“Tentu,” ucap Renan datar.


Miranda menelisik Renan. Tatapan mata pria itu teduh, tidak ada tatapan lapar dari matanya. Semakin membuat Miranda kesal. Apakah Renan sama dengan Krisan yang tak mudah tergoda dengan seorang wanita? Mengingat kembali Renan begitu marah saat dirinya mengambil ponselnya. Semakin membuat Miranda bertambah kesal. Begitu istimewakah wanita yang menjadi kekasihnya?


“Kau terlalu ketus padaku. Jangan-jangan kau menyukaiku!” ucap Miranda asal bicara.


Renan terkekeh. “Apa kau tak punya cermin? Seharusnya kau bercermin. Pria pun akan memilih siapa yang cocok dengannya.” Dia menunjuk-nunjuk pundak Miranda hingga sang wanita mundur ke belakang. “Pria tak suka wanita kecentilan sepertimu!”


Miranda menepis tangan Renan yang terus mendorongnya. Dia berjalan mendekat pada Renan hingga jarak mereka sangat dekat. “Banyak pria yang sebenarnya berpura-pura hebat. Setia dengan satu wanita. Namun, hati dan pikirannya mengkhianati idealismenya. Ada yang berselingkuh secara diam-diam. Ada pula yang berselingkuh hanya dengan hati. Seolah mencintai istrinya, selalu berada di samping sang istri. Namun, hatinya mencintai wanita lain. Seberapa hebat seorang pria, ada saatnya dirinya tergoda oleh wanita. Apa kau lupa, seorang pria bisa menghancurkan dunia. Tapi wanita, bisa menghancurkan dunia pria,” ucap Miranda sangat dekat dengan wajah Renan. Bahkan, napas Miranda menyapu wajah Renan.


Renan hanya membeku di tempat, dia mendorong kasar Miranda lalu berjalan keluar dari kamar Anyelir. “Aku akan pergi, kalau kau lapar, di kulkas ada bahan makanan. Kau bisa menggunakannya.”


“Kau tidak akan pulang?”


Renan mengorek telinganya yang tak gatal. “Aku pulang atau tidak, bukan urusanmu. Berhenti jadi wanita cerewet!”


“Bukannya kau yang terlalu cerewet sebagai seorang pria?” tandas Miranda.


Renan mengabaikan Miranda dan keluar dari unit apartemen Anyelir. Entah mengapa pikirannya kacau. Dia pergi ke sebuah club, memesan beberapa minuman. Langsung menegak cairan itu langsung ke tenggorokannya. “Ada apa denganku,” lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2