
Miranda mengelap tangannya yang basah. "Terima kasih atas makan malamnya."
"Ya," ucap Renan.
"Aku tidur dulu. Besok, pagi-pagi sekali, Cindy akan datang menjemputku."
"Aku tidak ada maksud mengusir mu. Jika kau membutuhkan tempat tinggal, kau masih bisa di sini."
Miranda menggeleng pelan. "Kau sudah cukup membantu."
"Ya, baiklah," ucap Renan.
Miranda menunduk sekilas, tak sengaja melirik pakaian yang ia gunakan. "Oh, ya. Aku menggunakan kamar mandi dan memakai pakaian yang ada di lemari tanpa izin. Aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya tak bisa menggunakan pakaian kotor."
"Tidak apa, yang kau pakai milik Anyelir."
Miranda hanya mengangguk kecil. "Sampaikan permintaan maaf dan terima kasihku padanya."
"Ya."
Miranda membalik tubuh dan berjalan menuju kamar Anyelir. Renan hanya menatap punggung Miranda dengan raut wajah tak terbaca.
Menutup pintu dan bersandar dibalik pintu. Miranda menyentuh dadanya sendiri. Mengingat sentuhan tangan mereka di dalam busa. Seketika menggelengkan kepalanya pelan, mengusir yang ada di pikirannya.
Dua orang yang tak bisa tidur dalam kamar yang berbeda. Renan menyalakan layar ponselnya. Membuka galery photo dan menatap beberapa photo mantan kekasihnya. "Bagaimana kabarmu? Apa kau bisa melupakanku?"
Renan menutup matanya mencoba untuk beristirahat. Berusaha keras untuk melupakan sang mantan kekasih. Kerap kali sangat sulit mengusir kenangan lama. Namun malam ini, bayangan kekasihnya pudar dengan sangat mudah dan berganti dengan wajah wanita yang beberapa saat menjengkelkannya.
Dia bangkit dari tidurnya, duduk dibatas ranjang dan menangkup wajahnya sendiri. "Kenapa wanita itu mengganggu terus?" gumamnya.
...----------------...
Pagi-pagi buta Miranda sudah siap untuk meninggalkan apartemen. Dia mengangkat tangannya untuk mengetuk kamar Renan. Ragu untuk membangunkan pria itu hanya untuk sekedar pamit. Namun, dia beranikan diri untuk mengetuk pintu.
Renan membuka pintu saat mendengar pintunya diketuk. "Kau mau pergi sekarang?"
"Ya, ini lebih baik pagi-pagi buta," jawab Miranda.
Renan menelisik penampilan Miranda, gadis itu sudah menggunakan pakaian kemarin. "Di mana assisten mu?"
"Dia menunggu di basement," jawab Miranda.
"Aku antar kau," ucap Renan. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah jaket bahan untuk menutupi piyama yang digunakan.
Miranda hanya melirik sekilas pada Renan. Pria yang baru bangun tidur tetapi tampilannya enak dilihat. Wajah bantal namun tampak sangat bersih segar. Sangat jelas pria itu menjaga penampilannya.
__ADS_1
Mereka menuju basement apartemen. Cindy menyalakan mesin mobil saat dirinya melihat Miranda mencari keberadaannya.
Miranda langsung bergegas menghampiri mobil Cindy. "Aku pergi dulu. Terima kasih sudah membantuku," ujarnya pada Renan.
"Ya, kau bisa datang padaku jika membutuhkan bantuan," ujar Renan. Tulus atau hanya sekedar berbasa basi. Renan pun tak tahu mengapa mengatakan tawaran bantuan tersebut.
"Aku tahu kau bisa diandalkan."
Renan hanya memberi senyum simpul. "Hati-hati di jalan."
Miranda membuka pintu mobil hendak masuk. Namun, belum kakinya berpijak ke dalam mobil. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang menatap Renan.
Cup! Miranda mencium pipi Renan. "Terima kasih." Sehabis mencium pipi Renan, Miranda langsung masuk ke dalam mobil dan menghadap depan tanpa menoleh lagi pada Renan. Sedangkan sang pria hanya membeku ditempat.
Mobil bergerak, Cindy melajukan mobil dengan kecepatan stabil. Miranda hanya melihat Renan yang berdiri terdiam melalui kaca spion.
"Apa kau mulai menyukai pria itu?" tanya Cindy.
"Mana ada!" sanggah Miranda.
"Lalu, mengapa kau menciumnya?"
"Itu hanya ucapan terima kasih karena dia telah menolongku."
"Nona, Siang ini tidak ada jadwal meeting. Apa Nona ingin makan siang di kantin kantor atau di luar?" tanya Vinnie.
"Aku akan makan di luar," jawab Anyelir.
Anyelir dan Vinnie keluar kantor. Vinnie berkendara menuju restoran yang sudah disebutkan Anyelir.
"Belok kiri," ujar Anyelir.
"Bukankah harusnya sebelah kanan?" tanya Vinnie heran.
"Aku ingin ke suatu tempat dulu."
Anyelir menuntun jalan, Vinnie hanya mengikuti perintah Anyelir. Butuh waktu lebih dari setengah jam sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Mereka berdiri di depan sebuah rumah mewah.
“Rumah siapa ini?” tanya Vinnie.
“Dulu, ini adalah rumahku,” jawab Anyelir sendu melihat rumah masa kecilnya.
Vinnie hanya melirik sekilas pada Anyelir, dia mengikuti bosnya masuk ke dalam bangunan mewah tersebut. Pintu pagar tak terkunci, tak ada besi yang mengikat pagar tersebut. Anyelir hanya mengernyitkan dahi.
Rumah mewah yang tampak bersih dan tak ada tanda-tanda kekosongan selama beberapa tahun. Anyelir hanya ingin tahu keadaan rumah orang tuanya. Melihat rumah yang terawat, membuatnya menduga bahwa rumah tersebut sudah menjadi milik orang lain. Ya, saat dirinya bertemu dengan Krisan, rumah tersebut memang sudah menjadi milik bank.
__ADS_1
Seorang wanita paru baya keluar dari rumah tersebut. Dulu, dia dan Krisan pernah mendatangi rumah itu untuk mencoba membeli kembali. Namun, sang pemilik rumah menolak menjual dan meminta harga sangat tinggi.
Bisnis Krisan baru mulai berkembang, Anyelir tak tega jika harus menguras uang suaminya demi rumah masa kecilnya. Karena itu, akhirnya Anyelir bilang pada Krisan bahwa rumah itu sudah tak penting lagi dan Anyelir tak pernah mengungkit rumah masa kecilnya.
Berbeda dengan saat ini, dia memiliki uangnya sendiri. Mencoba peruntungannya untuk memiliki rumah itu lagi. Begitu banyak kenangan dia dan juga orang tuanya di dalam rumah itu.
“Apa Anda pemilik rumah ini?” tanya Anyelir pada wanita paru baya itu.
“Bukan. Saya Lani, hanya pekerja di sini,” jawab sang wanita paru baya lembut.
“Bisa saya bertemu dengan pemilik rumah ini?” izin Anyelir.
“Pemilik rumah ini?”
“Ya. Beberapa tahun lalu aku pernah datang ke rumah ini. Tapi aku lupa siapa pemilik rumah ini, saya ingin bertemu dengannya.”
Lani menelisik Anyelir, melihat dari atas hingga bawah. Anyelir tak nyaman dengan tatapan Lani. “Bukankah pemilik rumah ini adalah Anda?” tanya Lani, setelah yakin akan penglihatannya bahwa Anyelir adalah pemilik rumah.
“Apa maksudmu?” tanya Anyelir bingung.
Lani tersenyum, meskipun tampilan Anyelir berbeda. Namun, dia yakin Anyelir adalah orang yang sama yang ada di dalam photo di dalam rumah tersebut. “Saya adalah orang yang bertanggung jawab membersihkan rumah ini, sudah hampir 4 tahun bekerja di sini. Setahun pertama, saya hanya membersihkan bangunan kosong tanpa ada isi di dalamnya. Baru sekitar tiga tahun terakhir, rumah ini diisi beberapa perabotan. Di dalam, ada photo Anda. Jadi saya pikir, ini adalah rumah Anda,” terang sang wanita paru baya.
“Photoku?”
“Ya, saya yakin itu Anda.”
“Boleh saya masuk?”
“Tentu,” jawab Lani. Tidak curiga dengan orang asing yang datang. Lani sudah sangat yakin bahwa wanita yang berjalan di sampingnya adalah wanita yang ada di dalam photo di ruang tamu.
Anyelir dan Lani masuk ke dalam rumah. Vinnie mengikuti dari belakang. “Kau hanya sendiri membersihkan rumah ini?” tanya Anyelir. Rumah mewah dan megah, tentu akan lelah jika dikerjakan seorang diri.
“Tidak. Kami memiliki tim yang membersihkan seminggu sekali. Tim kami baru saja pulang dan saya orang terakhir yang akan mengunci pintu.”
Lani membuka pintu ruang tamu. Anyelir masuk ke dalam rumah itu, matanya melebar saat masuk ke dalam rumah. Dia langsung dihadapkan dengan photo pernikahannya dengan Krisan. Photo pernikahan yang sangat sederhana.
Anyelir melangkahkan kaki hingga dia berdiri tepat di bawah photo pernikahan. “Apa pria ini yang membeli rumah ini?” tanyanya dengan mata mengembun.
“Saya tidak tahu. Saya hanya bekerja atas perintah Tuan Aryo. Namun, dia bilang, orang yang ada di photo ini adalah pemilik rumah ini,” jelas Lani.
Air mata Anyelir menetes. Hatinya menghangat, sudah sangat jelas bahwa suaminya yang membeli rumah ini. Namun, mengapa dulu Krisan menceraikannya? Apa yang disembunyikan suaminya itu?
"Saat Tuan Aryo meminta saya untuk membersihkan rumah ini. Masih ada beberapa barang dari pemilik sebelumnya. Namun, sang pemilik tersebut berkata padaku bahwa barang-barang dari pemilik sebelumnya lagi tak dibuang olehnya dan disimpan di gudang," ucap Lani.
"Boleh aku lihat?" pinta Anyelir.
__ADS_1