
Miranda hanya menangis terduduk setelah kepergian Renan. Pria itu menolak ajakannya dan lebih memilih meninggalkannya. Apa yang salah dengannya? Banyak pria yang mendekatinya. Namun, Miranda tak pernah sekalipun menyukai pria-pria yang mendekatinya. Mengapa saat dia mulai menyukai, pria itu menjauh darinya?
Hanya bisa menangis tersedu, Renan hanya mengatakan kata maaf untuknya. Jarum jam terus berputar. Hingga pagi menjelang, Miranda tak beranjak dari ruang tamu rumahnya.
Cindy datang ke rumah Miranda dan melihat gadis itu tertidur dengan posisi terduduk di lantai dan kepala yang bersandar di sofa. “Kenapa kau tertidur di sini?” tanyanya sembari berjalan setengah berlari menghampiri Miranda.
Dia menepuk pundak Miranda. Melihat pakaian yang digunakan Miranda. Cindy yakin, gadis itu sama sekali belum membersihkan diri. “Bangunlah!”
Beberapa kali Cindy membangunkan Miranda dan gadis itu mulai membuka matanya. Miranda menatap asistennya lalu mulai mengeluarkan air mata kembali.
Cindy mulai panik melihat bos-nya menangis tersedu. “Ada apa?” tanyanya seraya menepuk pelan punggung sang artis untuk menenangkannya.
Miranda tak berbicara. Dia hanya bisa menangis. Cindy hanya bisa membiarkan Miranda menangis untuk meluapkan perasaannya.
...****************...
Cokelat hangat digenggaman Miranda. Cindy menyiapkan itu untuk menghangatkan Miranda. Dia bahkan menyampirkan selimut ke punggung atasannya itu. “Minum pelan-pelan. Tenangkan dirimu.”
Miranda hanya menyesap minuman manis itu. Namun, dia tak merasakan rasa manis dari cokelat. Hanya ada rasa hambar dari gelas yang dipegangnya.
Dengan sabar Cindy menunggu Miranda tenang. Hingga akhirnya Miranda menceritakan semuanya pada Cindy. Dari awal kecurigaannya hingga Renan meninggalkannya. “Kenapa kau baru memberitahu sekarang?” tanya Cindy miris.
Miranda mengusap setengah wajahnya. “Entahlah. Aku hanya menduga saja. Lebih tepatnya, aku menyangkal,” ucapnya menunduk.
Cindy hanya menatap prihatin. Miranda adalah tipe wanita yang tidak suka dikejar. Dia lebih suka dengan pria yang dia suka terlebih dulu. “Apa dia akan kembali pada … mantannya?” tanyanya. Berat untuk mengatakan apakah Renan kembali pada kekasih prianya.
“Aku tidak tahu," lirih Miranda.
“Kalau begitu, lupakan dia! Biarkan dia berjalan di jalannya sendiri. Kau tidak ada keharusan untuk menuntunnya ke jalan yang lurus. Karena sebagian dari mereka tak pernah menganggap apa yang dilakukan adalah kesalahan. Mungkin ini yang terbaik untukmu sebelum langkah kalian semakin jauh. Lebih awal lebih baik. Jika kalian tetap melanjutkan hubungan dan dia kembali lagi ke kehidupannya setelah kalian menikah, itu bisa lebih menyakitkan bukan?"
“Aku bukan seorang berhati malaikat yang ingin menariknya kembali. Hanya saja … dia pria yang kusukai,” ucap Miranda mulai meneteskan air matanya lagi.
__ADS_1
Dia mencintai pria itu tanpa peduli latar belakang ataupun masa lalunya. Meskipun, tentu dirinya ingin Renan menjadi pria normal. Hanya saja, belum tentu orang lain sependapat dengannya. Bahkan ada sebagian yang mengatakan pria seperti Renan bukan kesalahan ataupun kelainan.
“Lalu mau bagaimana lagi? Kamu menangis di sini sedangkan dia mungkin sedang bahagia dengan pacarnya yang ….” Cindy menghentikan ucapannya. Membayangkan saja sudah membuatnya ingin muntah. Renan memang tampan. Namun, saat mengetahui yang sebenarnya membuatnya merasa jijik. Bagaimana mungkin sahabatnya bisa tergila-gila dengan pria seperti itu! Ya, itulah yang ada di benak Cindy.
“Sudah! Lupakan pria itu. Kau sudah tahu dia seperti apa! Bagaimana mungkin kau bisa menyukai pria setengah matang seperti itu? Kalau telur setengah matang sih enak. Ini, mentah atau matang saja tak jelas!” cerocos Cindy lagi.
Miranda bangun dari duduknya. Dia hanya menatap sinis asistennya. Dia hanya butuh dukungan, bukannya makian karena dia mencintai pria seperti Renan.
“Kau mau ke mana?” teriak Cindy.
“Tidur!” teriak Miranda. Dia melangkahkan kaki ke anak tangga. “Kau pulanglah! Hari ini aku libur. Jangan ganggu kesedihanku!” lanjutnya.
Cindy hanya mendengus, dia beranjak dari duduknya. “Kau boleh bersedih. Tapi jangan lama-lama. Pria seperti itu tak pantas kau tangisi!”
Miranda tak menoleh, dia terus melangkahkan kakinya. Namun, air mata terus mengalir di kedua matanya. Seburuk itukah dirinya hingga kalah saing dengan seorang pria.
Dia langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang, mengingat kembali eskpresi pria yang ia cintai. Jelas tampak kesedihan di mata Renan. Dia yakin pria itu juga mencintainya. Namun, dia lebih memilih melepaskan karena tak ingin menyakiti.
Miranda melempar ponsel dan memejamkan mata, mengingat kembali mimik wajah Renan saat melepasnya. Jelas sekali pria itu begitu sedih. Tak mungkin dia tak menyukai dirinya. Terlebih, tampak sekali Renan menikmati ciuman mereka sebelumnya. Bahkan dia bisa merasakan perubahan tubuh pria itu. Miranda langsung bangkit dari tidurnya. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah bersiap, dia langsung datang ke kantor Anyelir. “Aku ingin bertemu dengan Fransisca,” ujarnya pada Vinnie.
“Ditunggu sebentar,” jawab Vinnie.
Anyelir bersedia bertemu dengan Miranda. Sang artis langsung mengutarakan tujuan kedatangannya. “Boleh aku minta alamat Renan di Singapura?”
“Kau mau ke sana?” tanya Anyelir hanya mengerutkan dahi. Dia tahu, Renan sedang dekat dengan Miranda akhir-akhir ini. Dia bahkan tahu, mereka memiliki perjanjian untuk hubungan mereka. Anyelir tak mengusiknya, terlepas hubungan mereka hanya untuk membantu. Namun, Anyelir bisa melihat Renan mulai menyukai Miranda.
Ya, Renan menceritakan padanya. Bahkan sebelum pergi, Renan mengatakan akan mengakhiri hubungannya dengan Miranda. Dia tak ingin melibatkan Miranda dalam hidupnya.
“Ya,” jawab Miranda pasti.
__ADS_1
Anyelir hanya mengangguk, dia langsung mencatat alamat apartemen Renan. “Biasanya dia akan tinggal di apartemen jika hanya singgah sebentar di sana.”
Miranda menerima kertas dari Anyelir. “Apa kau tahu tempat dia dan teman-temannya berkumpul?”
Anyelir hanya menelisik Miranda. “Kau sudah tahu yang sebenarnya tentang Renan bukan?” tanyanya.
“Yang aku tahu, aku mencintainya,” jawab Miranda pasti. Hanya itu yang ingin dia yakini. Dia tak peduli hal lainnya.
Anyelir menatap Miranda dalam, menelisik ketulusan di mata gadis itu. “Kau tahu siapa dia. Dirimu sendiri yang mengambil keputusan. Dia hanya mencoba untuk tak menyakitimu. Kau yang akan mengambil resiko,” jelas Anyelir.
“Aku tidak akan menyesal,” ucap Miranda pasti.
Anyelir tersenyum. Dia melihat kegigihan dari Miranda. Berharap gadis itu yang akan menarik sepupunya dari kegelapan. Dia melihat jam di dinding. Hari sudah tidak pagi lagi.
"Kemungkinan dia sudah selesai meeting. Tapi aku yakin dia tak ada di kantor pusat. Pergilah ke pabrik, kemungkinan dia ada di sana," jelas Anyelir.
...----------------...
Miranda berlari ke bandara tanpa sepengetahuan Cindy. Dia akan mengejar cintanya. Dia yakin, Renan pun mencintainya.
Berbekal alamat dari Anyelir. Dia tergesa menemui Renan. Dia langsung menuju alamat pabrik.
Maafkan aku, lebih baik kita tak bertemu lagi.
Miranda berlari dengan antusias. Ucapan Renan menggema di kepalanya. Hari sudah tak siang lagi. Matahari pun sudah mulai pamit.
Nihil! Tidak ada hasil saat dia sampai di pabrik. Renan sudah pergi meninggalkan pabrik. Miranda mencoba menghubungi Renan. Namun nomornya telah diblokir.
Dia langsung pergi apartemen Renan. Berulang kali menekan bel. Namun, tidak ada yang membuka pintu. Dia terduduk di lantai, mencoba menunggu pria yang dicintainya.
Jarum jam terus berputar. Miranda hanya bisa termenung. Hingga akhirnya bangkit dari duduk dan meninggalkan apartemen Renan. Dia pergi ke satu alamat yang diberikan oleh Anyelir. Tinggal satu alamat yang belum dia datangi. Miranda menatap club malam di depannya.
__ADS_1
Menggenggam erat ujung pakaiannya. Menarik napas dan masuk ke dalam club tersebut. Club yang pertama kali ia datangi.