
Anyelir meminta waktu pada Krisan untuk memikirkan hubungan mereka. Ya, dirinya belum menjawab pada sang suami untuk meneruskan pernikahan atau mengakhirinya. Masih banyak kegamangan di hati Anyelir.
Sudah beberapa hari mereka tak bertemu. Krisan disibukan dengan pekerjaannya, begitupula dengan dirinya. Namun, bukan karena itu mereka tak bertemu. Anyelir sengaja menghindar dari Krisan untuk mencari keputusan yang tepat tanpa ada pengaruh dari Krisan. Karena itu, dia tak ingin bertemu dengan suaminya.
"Vinnie, apa jadwal hari ini?"
"Meeting dengan klien pukul 10, Nona. Sudah ada jadwal untuk satu minggu ini. Jum'at malam akan ada malam amal yang digelar oleh oleh keluarga Bronson dan Anda diundang ke acara tersebut. Apa Nona bersedia datang?"
"Malam amal?" tanya Anyelir mengerutkan kening.
"Ya, Keluarga Bronson setiap tahun akan mengadakan malam amal sebagai penghormatan terhadap leluhur keluarga mereka. Hanya tamu undangan tertentu saja yang bisa menghadiri acara tersebut. Nona mendapat undangan untuk perwakilan dari Tuan Petra. Karena Damian, Tuan Besar Bronson berhubungan baik dengan paman Nona. Oleh karena itu, yang mendapatkan undangan akan merasakan kehormatan yang besar. Meskipun, terkadang ada pihak-pihak yang mencoba untuk masuk."
"Maksudmu? Pihak yang mencoba untuk masuk?"
"Ya, Nona. Keluarga Bronson termasuk keluarga konglomerat. Banyak yang ingin bertemu langsung dengan Tuan Abraham Bronson. Dia adalah penerus keluarga Bronson. Anak dari Damian Bronson. Tuan Abraham selain tampan, dia memiliki sifat dermawan dari sang ayah. Dia lah yang saat ini terus menjalankan malam amal. Kemungkinan besar Tuan Besar Damian Bronson pun akan hadir. Namun, tidak bisa dipastikan juga. Tuan Abraham, selain tampan dan dermawan. Dia pun sangat humble. Dia sangat ramah, lesung pipi menambah ketampanannya dan jangan lupakan tinggi badan 1,9 m yang menambah kesan manly. Tidak hanya itu, dia Ju—"
"Hentikan! Aku tidak meminta profil pria tersebut! Apa kau kira ini biro jodoh? Aku hanya ingin tahu tentang mengapa orang-orang tak diundang ingin datang juga?" Anyelir menatap sinis Vinnie yang tumben sekali berbicara cukup banyak. "Jangan bilang padaku orang-orang tak diundang itu hanya ingin melihat ketampanan pria itu!" dengusnya.
Vinnie mengulum senyum malu. Dia sudah pernah melihat Abraham Bronson yang menurutnya sangat tampan. "Maaf Nona. Pernah ada tamu tak diundang rela membayar sebuah undangan dari tamu yang diundang. Orang tersebut ingin bertemu dengan Tuan Abraham untuk mengajak kerja sama. Karena Tuan Abraham sangat selektif memilih rekan bisnis."
"Jadi, dia pewaris tunggal? Tidak seperti Lukas Tomoshita bukan?" tanya Anyelir.
Lukas Tomoshita memang memegang Dekhasi Corporation. Namun, dirinya tidak bisa mengambil keputusan secara mutlak. Karena dia bukanlah pewaris. Perusahaan tersebut, masih memiliki petinggi lainnya.
"Ya, Nona. Tuan Abraham adalah The Real Billionaire," pungkas Vinnie.
"Sepertinya, kau sangat mengaguminya," sindir Anyelir.
"Saya rasa, setiap wanita akan tertarik dengannya," ujar Vinnie mengulas senyum.
"Sepertinya kau sudah mulai berani padaku!" dengus Anyelir.
"Maaf Nona," ujar Vinnie menunduk.
"Tidak apa. Aku suka kau yang dapat mengekspresikan dirimu."
Vinnie mendongak. "Apa saya boleh menemani Nona saat malam amal nanti?" tanya Vinnie penuh harap. Setiap undangan tentu diperbolehkan membawa pasangan.
"Apa aku bilang akan datang?" tanya Anyelir menaikan alisnya sebelah. Dia hanya ingin menggoda Vinnie.
Vinnie menghela napas pelan. Meskipun dia tahu diri tak mungkin memiliki Abraham sebagai suaminya. Namun, memandang Abraham dari kejauhan bisa membuat hatinya senang.
Anyelir terkekeh. "Akan aku pikirkan datang atau tidak ke sana."
Wajah Vinnie seketika menjadi cerah. Ponsel Anyelir berdering tanda notifikasi dari chat yang masuk, nomor telepon yang tak tersimpan di ponselnya. Namun, seretan nomor tersebut sangat dihafalnya. Dia tak bisa melupakan nomor sang suami.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu nomorku?" gumam Anyelir. Dia menoleh pada Vinnie. "Kau pergilah."
"Baik Nona."
Anyelir membaca pesan dari Krisan setelah Vinnie keluar dari ruangannya.
[Sudah tiga hari. Aku yang datang ke kantormu? Atau kau yang datang ke kantorku?]
Anyelir mengetikkan balasan untuk Krisan.
[Nanti aku kabari.]
[Jangan terlalu lama. Jika kau tak datang sampai besok siang. Aku akan membawamu pulang ke rumah kita!]
"Apa-apan dia! Kenapa jadi seolah aku yang bersalah!" dengus Anyelir.
Anyelir tak membalas pesan Krisan lagi. Dia melanjutkan pekerjaannya. Meeting internal, bertemu dengan Klien. Anyelir keluar dari perusahaan rekan bisnisnya di waktu sudah sore. Dia kembali ke apartemennya. Renan sedang berada di Singapura untuk menemui ayahnya. Petra meminta Renan kembali hanya untuk beberapa hari membantu perusahaan di Singapura.
"Hai," sapa Krisan di depan lift.
Lamunan Anyelir buyar saat mendengar suara Krisan. Baru pagi ini mereka berkirim pesan dan sore hari mereka bertemu. Selama beberapa hari ini mereka tak bertemu, bahkan hanya sekadar pertemuan tak sengaja seperti saat ini.
"Kenapa kau di sini?" tanya Anyelir.
"Apa kau lupa bahwa aku tinggal di depan unit apartemenmu? Aku tak melanggar janji untuk menemuimu. Kita hanya tak sengaja bertemu bukan?"
Ting! Suara lift berbunyi, mereka masuk ke dalam lift. Anyelir melihat kantong belanjaan di tangan Krisan. "Apa kau memasak untuk makan malammu?"
"Ya," jawab Krisan singkat. Selama tinggal di apartemen, dia memang menyiapkan sendiri keperluannya. Dia menoleh pada Anyelir. "Tapi, sebentar lagi akan ada yang membuatkan makan untukku."
Anyelir hanya mendengus, tak ingin menjawab ucapan Krisan. Lift terbuka, mereka menuju unit apartemen mereka masing-masing.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Krisan sesaat sebelum Anyelir masuk ke apartemennya.
"Kenapa?"
"Jangan makan dulu. Aku akan masak. Cicipilah."
"Tidak perlu repot. Aku masih banyak bahan makanan di rumah."
"Aku akan masak sapo tahu dan pangsit isi bebek."
"Pangsit isi?" tanya Anyelir. Pangsit yang biasanya isi ayam. Tetapi Krisan membuat isian daging bebek. Dulu, dia sangat menyukai makanan itu.
"Ya, datanglah tepat jam 7," ujar Krisan masuk ke dalam unit apartemennya tanpa menunggu jawaban Anyelir.
__ADS_1
Krisan sibuk menyiapkan hidangan makan malamnya. Tidak hanya sapo tahu seafood dan pangsit isi. Dia pun membuat beberapa hidangan lainnya. Semua yang dia buat adalah kesukaan Anyelir.
Anyelir menekan bel tepat pukul 7 malam. Krisan membukakan pintu. "Di mana Renan?"
"Dia sedang berada di Singapura. Dalam beberapa hari lagi akan kembali. Apa kau keberatan tak ada dia?"
Krisan tersenyum. "Tentu saja tidak. Ayo masuk."
Anyelir masuk ke dalam unit apartemen Krisan. Matanya mengedar melihat sekeliling, interior dengan barang-barang mewah. "Sekarang kau suka barang mewah," ucap Anyelir.
"Aku belajar darimu," timpal Krisan. Dia memang tak terlalu mementingkan barang branded. Dia hanya membeli jika memang sesuai dengan seleranya.
Anyelir mengikuti langkah Krisan hingga mereka masuk ke area dengan suasana temaram. Sebuah meja bundar yang di atasnya tersedia berbagai jenis makanan. Terdapat lilin di atas meja tersebut. Ada satu vas bunga kecil di tengah meja bundar itu. Bunga krisan putih dan bunga anyelir putih berada di dalam satu vas tersebut. Tampak indah dipandang mata.
Anyelir hanya menundukkan kepalanya. Krisan menarik kursi dan mempersilakan Anyelir untuk duduk. "Terima kasih," ucap Anyelir.
Anyelir menatap setiap hidangan yang tersedia. Semua adalah makanan kesukaannya, menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya. Rasa yang sama, kemampuan memasak Krisan masih sama. Saat mereka masih bersama, kerap kali Krisan yang memasak. Meskipun, lebih banyak beli makanan jadi karena kesibukan Krisan bekerja.
Anyelir mengunyah dengan pelan, menikmati setiap gigitan. Suasana romantis seperti ini pernah terjadi. Krisan yang tak memiliki banyak uang, membuat kejutan makan malam romantis di rumah mereka sendiri. Makan malam romantis untuk memperingati anniversary pernikahan mereka yang kedua. Masa-masa di mana keuangan mereka berada di titik terendah.
Krisan hanya bisa menatap Anyelir sembari sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya. Hingga mereka selesai dinner tanpa ada perbincangan. Dia menatap bunga dalam vas. "Indah bukan?" tanyanya.
Anyelir mengikuti arah pandang Krisan. Dua jenis bunga dengan warna yang sama. Sedikit memiliki kemiripan, tetapi berbeda. "Ya."
"Mereka akan selalu bersama."
"Tidak juga, diletakan dalam vas yang berbeda pun akan indah. Jika dijadikan satu tempat seperti ini. Siapa yang terlihat dominan? Jika pertama kali yang dilihat bunga krisan, orang akan bilang itu adalah bunga krisan. Namun, jika yang mereka lihat itu anyelir. Maka, mereka akan bilang bunga dalam vas tersebut adalah bunga anyelir. Tidak bisa langsung mendefinisikan satu jenis bunga jika terdapat lebih dari satu macam bunga. Terlebih, bunga-bunga tersebut memiliki warna yang sama dan juga hampir mirip."
"Kau benar, diletakan terpisah memang masih terlihat cantik. Namun, jika disatukan seperti ini, akan menambah keindahannya. Mereka akan melihat dua bunga seperti ini menjadi satu kesatuan."
Anyelir tahu maksud arah pembicaraan Krisan, tidak sekali suaminya menjadikan bunga seperti nama mereka dalam satu vas. Ya, dia selalu bilang, mereka akan selalu bersama seperti bunga di dalam vas. Anyelir pun pernah merangkai bunga ala seni jepang menggunakan bunga krisan dan anyelir.
"Terima kasih atas makan malamnya. Aku pamit," ujar Anyelir bangkit dari duduknya.
Krisan mengantar Anyelir. Belum sampai pintu, dia pun berkata, "Aku menunggu jawabanmu."
Anyelir menoleh. "Batas waktunya besok bukan?"
"Ya. Aku akan ada di kantorku," jawab Krisan. Mengisyaratkan bahwa dia akan menunggu di kantornya.
Tak ada ekspresi di wajah Anyelir. Tak ada wajah malu-malu, ceria atau bersedih. Membuat Krisan tak bisa menebak apakah istrinya memenuhi permintaan rujuknya.
Anyelir pulang ke apartemennya, kebiasaannya untuk menatap langit-langit di kamarnya seolah meminta jawaban. Dia mengambil ponselnya, belum cukup malam untuk beristirahat. Dia membuka situs online shop.
Memilih beberapa barang untuk diantar saat itu juga, Anyelir menunggu di apartemennya. Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya barang pesanannya datang juga.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Anyelir pada sang kurir.
Dia mengulas senyum dan memasukan barang belanjaannya ke dalam. Anyelir duduk di ruang tamu dan mulai merangkai bunga di depannya. Ya, bunga yang dibeli malam-malam. Beruntung toko bunga tersebut belum tutup. Mata yang masih terjaga, membuat dirinya mengasah kemampuannya dalam ikebana.