
“Siapa yang berani melakukan ini?” tanya Andy pada Prambudi.
“Maaf Tuan, untuk kali ini, saya tidak bisa membantu,” ujar Prambudi.
“Bagaimana bisa?” tanya Andi dengan menahan emosi. Dirinya tak bisa mengeluarkan anak buahnya di kantor polisi.
“Ini sesuai perintah atasan. Ada seseorang dibalik insiden ini, tak mungkin saya melanggarnya, karena sudah sangat jelas konsekuensi apa yang harus saya terima,” jelas Prambudi. Dia melirik sekilas pada Andy. “Sepertinya, kali ini Anda salah menyinggung seseorang,” tambahnya.
Andy hanya mengepalkan tangannya. Siapa orang dibalik Anyelir? Bagaimana mungkin ada orang yang bisa mengendalikan Prambudi selain dirinya. Terlebih lagi, Prambudi tak bisa membantunya karena ada pihak lain yang lebih berkuasa.
*
*
*
Malam yang kelam, bukan berarti sendu berkelanjutan. Sebelumnya, Anyelir memang sudah mempersiapkan gugatan cerai pada Krisan. Hari ini, gugatan cerai dilayangkan Anyelir pada Krisan.
Krisan merobek surat permohonan cerai yang dikirim oleh Anyelir. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Anyelir. Namun, belum menyentuh icon hijau, pintu ruangannya terbuka. Albert datang menghampiri Krisan.
“Apa yang kau bawa?” tanya Krisan pada sang detektif.
“Semua tentang istri Anda,” jawab Albert.
Krisan membaca hasil yang didapat dari detektif sewaannya. Dia membaca secara runut laporan yang diberikan oleh Albert.
“Keluarlah,” lirih Krisan.
Albert pamit undur diri, dia hanya melirik sekilas pada bos-nya yang tampak menyesal. Krisan sampai membaca dua kali hasil laporan dari Albert.
Dugaannya benar, istrinya dengan gegabah melompat dari jembatan. Dibawa oleh Petra ke Singapura dan mengalami koma selama 10 bulan. Hanya itu isi laporan dari Albert.
Krisan memejamkan matanya. Meneteskan air matanya kembali. Mengapa dulu dirinya gegabah. Seharusnya, dia berpikir jernih. Dia tahu istrinya pun tak pernah berpikir panjang. Istrinya lemah dan cepat putus asa.
Sedalam itukah cintamu padaku? Kini, aku yang akan menunjukan seberapa besar cintaku padamu.
...***...
"Sepertinya, ada penghuni baru," ucap Renan setelah dia dan Anyelir keluar dari lift. Di tangannya terdapat kantong belanjaan.
Hari Minggu, mereka memutuskan berbelanja untuk mengisi kulkas. Anyelir tak suka ada asisten rumah tangga yang menetap di apartemennya. Dia memilih untuk membersihkan apartemennya sendiri. Ya, dia membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri.
"Berisik sekali. Seperti sedang merombak isi apartemen saja," dengus Anyelir.
Tidurnya tak nyenyak, sudah dua malam unit apartemen di depannya menimbulkan suara bising.
Bukan bising karena pesta. Hantaman palu dan juga suara bor menggembur tembok. Suara derit furniture yang dipindahkan menjadi alasan Anyelir tak tidur dengan nyaman.
Renan menyeringitkan dahi. "Bukankah peredam suara di apartemen ini sangat baik? Aku tidak dengar suara bising saat kita di dalam. Kecuali saat ini, kita berada di luar," timpal Renan.
Anyelir hanya mendelik. Ya, dia tak bisa tidur bukan karena bising, itu hanya alasan dirinya saja. Alasan utamanya sulit tidur adalah karena selalu terpikirkan mantan suaminya.
"Sepertinya kau harus membersihkan telingamu!" dengus Anyelir, mencari alasan.
"Permisi," ujar seorang pekerja membawa sofa yang terlihat mewah.
Sontak, Anyelir dan Renan menepi memberi jalan pada pekerja. Mereka melihat para pekerja yang memasukan barang-barang ke dalam apartemen.
"Sepertinya orang kaya yang pindah," ucap Renan. Dia membuka pintu apartemen.
"Memangnya, kita bukan orang kaya?" dengus Anyelir. Mereka masuk ke dalam unit apartemen. Anyelir membuka jaket hoodie yang digunakan dan menyisakan kaos tank top.
"Ya, setidaknya kita tak kelaparan." Renan menoleh pada Anyelir. "Oh ya, bagaimana dengan Andy?" tanyanya sedikit berteriak. Dia menuju ke dapur dan meletakan barang-barang di atas meja dapur.
Anyelir sudah menceritakan tentang Yudha, anak buah Andy yang mencoba untuk menculiknya. "Yudha masih mendekam. Sedangkan Andy masih bebas. Yudha pasti berkilah hingga tak menarik Andy ke dalam bui."
"Siapa yang membantumu?" tanya Renan, tangannya masih aktif membuka kantong belanjaan.
"Polisi," ujar Anyelir menghampiri Renan dan membantu merapihkan barang belanjaan.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku."
Anyelir mendengus. "Krisan datang tak sengaja karena bertemu dengan Vinnie di jalan. Tapi sebelumnya, Vinnie memang sudah lapor polisi."
"Andy merupakan pengusaha yang berdiri dua belah jalur. Hitam dan putih adalah dunianya. Dilihat dari identitas dirinya, seharusnya Yudha dengan mudah keluar dari kantor polisi. Tidak mungkin masih mendekam dalam penjara, kecuali ada yang lebih berkuasa yang tak bisa membantu Andy."
"Kejahatan pasti akan kalah dengan kebenaran. Mungkin, kepolisian sedang merombak regulasi. Hingga, tidak ada lagi keistimewaan orang-orang yang mengaku berkuasa," tutur Anyelir sembari menyusun bahan masakan ke dalam kulkas.
"Tapi, itu sangat tidak mungkin," timpal Renan.
"Tidak ada yang tidak mungkin," pungkas Anyelir. "Ah, sial sekali malam itu. Bukannya dapat kerja sama malah mendapat musibah!" keluh Anyelir.
"Aku minta maaf karena tak memberitahumu tentang Andy."
"Tak masalah, aku pun tak mengatakan padamu kalau aku bertemu dengannya."
"Lain kali, kau harus bilang padaku jika ingin bertemu rekan bisnis."
"Ya, ya, ya. Ngomong-ngomong, kita mau masak apa hari ini?"
"Kita buat hotpot saja bagaimana?"
"Boleh!" ucap Anyelir sumringah. Sepupunya sangat pandai memasak. Keahlian memasak Renan lebih hebat dari Krisan.
"Ayo bantu aku," pinta Renan.
Anyelir dan Renan menyiapkan satu jenis masakan untuk makan siang mereka.
"Mau dipotong seberapa?" tanya Anyelir, di tangannya terdapat tahu.
"Kotak-kotak sedang saja," ujar Renan seraya membuat bumbu untuk kuah hotpot. "Mau spicy atau tidak?"
"Tentu yang pedas," timpal Anyelir.
"Kita lupa beli soy sauce."
"Bisakah kau turun ke bawah dan membelinya? Mini market di bawah menjualnya," pinta Renan seraya mengerilingkan matanya.
Anyelir menampakan wajah malasnya. "Apa harus pakai itu? Meskipun hanya di lantai dasar, tetap saja harus berjalan ke sana!"
"Minyak wijen, minyak cabai, soy sauce, bawang putih, cuka, pepper sauce, saus seafood, daun bawang. Itu yang wajib ada, kalau tidak, rasanya tak akan enak."
"Baiklah, baiklah. Aku beli!" Anyelir meraih kembali jaket hoodie-nya dan memakainya, menutup kepalanya dengan hoodie tersebut. Pusing mendengar ocehan sepupunya.
Anyelir keluar dari apartemen dan menuju mini market di lantai bawah. Dengan terpaksa berjalan gontai mencari soy sauce.
Tidak sulit mendapat barang yang dicari. Dia langsung pergi setelah mendapat soy sauce. Jejeran rak berisi barang-barang yang dijual tersusun rapih.
Dia melewati jejeran snack. Matanya tertuju pada makanan ringan terbuat dari kentang. Anyelir menghembuskan napasnya, keripik kentang kesukaan sang suami. Meskipun, makanan tersebut banyak mengandung MSG. Namun, tak menghentikan Krisan berhenti mengkonsumsinya.
Tangannya terulur mengambil keripik kentang tersebut. Tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain yang juga mengincar keripik kentangnya.
Anyelir kesal karena orang itu tak melepas keripik kentangnya. Dia menoleh ke samping. "Sedang apa kau di sini?" tanya Anyelir sinis melihat orang yang sedang berebut keripik kentang dengannya.
"Tentu saja belanja," jawab Krisan.
"Apa kau stalker?" tanya Anyelir meninggikan suaranya satu oktaf.
"Apa ini mini market-mu?" tanya Krisan balik.
"Banyak mini market di kota ini. Mengapa harus ke sini? Mini market ini diperuntukkan untuk penghuni apartemen. Jangan bilang kau tak sengaja lewat dan berhenti untuk berbelanja. Itu terkesan membuat alasan!"
"Kau terlalu percaya diri!" Krisan memicingkan matanya. Dia langsung mengambil keripik kentang itu, lalu pergi meninggalkan Anyelir.
Anyelir mendengus karena Krisan pergi begitu saja. Dia sengaja melambatkan langkahnya karena Krisan terlebih dahulu menuju kasir. Setelah memastikan Krisan keluar dari mini market. Anyelir baru membayar barang belanjaannya.
Anyelir kembali ke apartemen dengan hati yang kesal. "Ini," ucapnya seraya memberikan soy sauce.
"Kenapa muram?" tanya Renan masih dengan fokus akan masakannya.
__ADS_1
"Tidak sengaja bertemu dengan anjing gila!" dengus Anyelir.
"Bagaimana mungkin ada anjing liar di sini?"
"Jangankan anjing liar, zombie pun bisa saja ada!"
"Terlalu banyak nonton drama!" ejek Renan. "Makanan udah siap. Aku pindah ke meja dulu."
Anyelir tersenyum lebar melihat hotpot di depannya. Udang, daging suki, jamur enoki, bakso di dalam hotpot tersebut sangat menggugah selera.
"Ayo kita makan!" seru Anyelir.
"Cuci tanganmu dulu."
"Sudah."
Anyelir langsung mengambil isi hotpot ke dalam mangkuk kecilnya. Suara bel mengganggu aktivitas makan mereka.
"Siapa yang bertamu," gumam Anyelir.
"Aku saja yang buka. Kau makanlah," ujar Renan.
Dia menuju pintu untuk melihat tamu yang datang. "Kau ...."
"Hai, aku tetangga baru. Datang ke sini untuk menyapa." Krisan menyodorkan paper bag pada Renan. "Ini untukmu, sebagai tanda perkenalan."
"Jadi, kau penghuni baru depan apartemen ini?" tanya Renan seraya menerima paper bag pemberian Krisan.
"Ya, baru hari ini. Maaf sebelumnya aku tak ramah padamu. Itu sebagai permohonan maaf." Jari Krisan menunjuk paper bag di tangan Renan.
Renan membuka paper bag tersebut. "Ikat pinggang?"
"Ya, tak bisa kau melihatnya? Itu sangat spesial."
Renan mengeluarkan ikat pinggang dari dalam paper bag. Menelisik ikat pinggang tersebut. Seketika mulutnya terbuka lebar. "Apa ini adalah ikat pinggang Gucci Stuart Hughes Belt?"
"Ya," jawab Krisan.
Renan melihat takjub pada ikat pinggang di tangannya. Ikat pinggang dengan kandungan 30 karat batu berlian dan 30 karat emas, maka tak heran dinobatkan sebagai ikat pinggang paling mewah di dunia.
Harga ikat pinggang yang dibanderol seharga 250.000 dolar AS. Bukan dirinya tak sanggup membeli. Namun, ikat pinggang tersebut hanya memproduksi beberapa item saja. Entah apa yang dilakukan Krisan sehingga mendapatkan ikat pinggang tersebut.
"Apa tidak menyukainya?" tanya Krisan.
"Bukan-bukan itu. Hanya saja, tak menyangka kau bisa mendapatkannya. Ini benar-benar barang yang sulit didapatkan."
"Baguslah jika kau suka."
"Untuk membalas kebaikanmu. Apa kau mau ikut makan bersama kami? Kebetulan aku memasak hotpot sendiri."
"Bolehkah?"
"Tentu."
Krisan dan Renan masuk ke dalam. Terukir senyum simpul di wajah Krisan. Semakin dirinya yakin dengan Renan yang tak mungkin mencintai istrinya.
Mereka langsung menuju dapur. Ya, Renan dan Anyelir sepakat untuk makan di meja dapur dibanding meja makan.
"Kenapa lama sekali, memang siapa yang datang?" tanya Anyelir setelah mendengar jejak kaki.
Jarak dapur dan ruang tamu cukup jauh, sehingga membuat Anyelir tak mendengar percakapan dua orang pria di ambang pintu.
"Hai," sapa Krisan.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Anyelir.
"Dia tetangga baru, aku mengundangnya untuk makan siang bersama," ujar Renan menjawab pertanyaan Anyelir.
"Apa?" Anyelir terkejut. Dia mengorek telinganya, memastikan dirinya tak mengalami masalah pendengaran.
__ADS_1