
“Aku jemput sepulang kerja,” ucap Krisan.
Krisan mengantar Anyelir kembali ke kantornya. Mereka tiba di kantor sudah pukul 3 sore. Terlalu lama berdebat di jembatan membuat Anyelir menghabiskan waktu jam makan siang.
“Tidak perlu, antarkan saja mobilku ke sini," tolak Anyelir.
“Baiklah, nanti akan aku suruh orang untuk mengantarkan.”
“Ya sudah, aku pergi dulu.” Anyelir bersiap membuka pintu mobil. Namun, Krisan menarik lengannya. “Ada apa?” tanyanya heran.
“Cium dulu,” pinta Krisan.
Anyelir hanya menghembuskan napasnya pelan. Dia tak mempedulikan ucapan sang suami. Bersiap untuk keluar dari mobil Krisan.
Krisan menarik lengan sang istri. Cup! Dia mencium kilat tepat di bibir sang istri. Lalu memberi senyum lebar pada Anyelir.
Tak ingin berdebat, Anyelir memilih pergi dari mobil suaminya. Krisan mulai menyalakan mesin mobil. Anyelir hanya bisa menatap kepergian sang suami lalu masuk ke dalam kantornya sendiri.
Apa keputusanku benar?
Anyelir masuk ke dalam kantornya, langkahnya terhenti kerena Vinnie menghadangnya. “Ada apa?”
“Tuan Lukas mencari Anda, Nona,” jawab Vinnie.
“Lukas? Dekashi?”
“Ya, Nona.”
“Untuk apa dia ke sini?”
“Dia hanya bilang ingin bertemu denganmu.”
“Baiklah. Di mana dia?”
“Di ruangan Anda, Nona.”
Anyelir menemui Lukas di ruangannya. “Hai,” sapa Anyelir seraya mengulurkan tangan.
"Hai," sapa Lukas seraya berdiri dan menerima uluran tangan Anyelir.
"Ada apa mencariku?" tanya Anyelir sembari memberi isyarat tangan agar Lukas duduk kembali di kursinya.
"Aku hanya merasa kau sedang menghindar dariku," ucap Lukas mendaratkan b*kongnya di kursi.
"Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu." Anyelir duduk di depan Lukas.
"Aku mengajakmu bertemu, tapi kau tak pernah mau bertemu denganku."
"Bukan tak mau. Aku hanya sedang sibuk. Kau tahu sendiri, semenjak kita tak bekerja sama, aku harus mencari perusahaan lain untuk bekerja sama dengan perusahaanku."
"Maaf, aku tidak bisa mengambil keputusan mutlak," ujar Lukas merasa bersalah.
__ADS_1
"Sudahlah tak apa. Namanya bisnis harus profesional. Mungkin aku belum cukup meyakinkan untuk bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Dekashi."
Anyelir dan Lukas mengobrol sebentar. Namun, Anyelir menghindar untuk membicarakan tentang kehidupan pribadi. Lukas adalah pria beristri, dia tak ingin terlibat dalam rumah tangga orang lain.
"Aku dapat undangan acara malam amal. Apa kau bersedia datang bersamaku?" tanya Lukas penuh harap.
"Emm, undangan keluarga Bronson?"
"Ya. Kau tahu?"
"Aku pun diundang."
Lukas melebarkan matanya, tak menyangka Anyelir pun diundang. "Oh, kau pun diundang?"
"Kenapa? Apa aku tak pantas diundang?"
"Bukan, bukan seperti itu. Hanya saja, biasanya tak banyak yang diundang."
"Nyatanya aku diundang," timpal Anyelir.
"Kalau begitu, pergi saja bersamaku."
"Aku belum tahu bisa datang atau tidak. Belum kupikirkan apakah akan menghadirinya. Terlebih, aku tak mengenal keluarga itu. Aku diundang karena pamanku mengenal keluarga Bronson."
"Yang benar saja kau masih memikirkan datang atau tidak, sedangkan orang lain berharap diundang ke acara tersebut."
"Aku bukan salah satu orang yang berharap," ujar Anyelir menaikan satu alisnya. Dia mengangkat tangannya dan melirik arlojinya. "Maaf, aku masih ada rapat."
Anyelir menggigit bibir dalamnya, Lukas tak ada tanda-tanda pergi dari ruangannya. "Apa kau tak ada urusan lain?" tanyanya, mencoba mengusir secara halus.
"Apa sepulang kerja kau ada acara? Bisakah kita makan malam bersama? Kebetulan, aku sedang tidak sibuk sore ini. Aku bisa menunggumu selesai rapat."
Anyelir menghela napas pelan. "Aku tidak bisa berjanji karena rapat kali ini banyak yang harus dibahas. Kemungkinan lembur bisa saja terjadi. Aku rasa, kau tak perlu menungguku," tolaknya secara halus.
Dengan berat hati Lukas berdiri. "Baiklah, lain kali kita atur jadwal dulu."
"Ya, seperti itu saja."
Mereka berpisah, Anyelir tak berbohong, dia masuk ke ruang rapat sedangkan Lukas pergi meninggalkan kantor Anyelir. Namun, bukan berarti dia pergi ke Dekashi Corporation. Dia pergi ke cafe dekat kantor Anyelir.
Jarum jam terus bergulir, Anyelir bersiap untuk pulang. Tak menyangka di lobby perusahaannya ada seorang pria yang menunggunya. "Kau belum pulang?"
"Ya, kebetulan aku ada di sekitar sini. Kuputuskan untuk datang lagi. Felling-ku mengatakan kau belum pulang," papar Lukas.
"Oh."
"Kau tidak lembur bukan? Bagaimana jika kita makan malam bersama?"
"Aku agak kurang enak badan. Sepertinya, kita pergi lain kali saja."
"Apa kau sakit? Aku antar ke rumah sakit bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat sejenak."
"Kau pasti belum makan. Sebaiknya, isi perut dulu."
Anyelir berpikir mencari alasan agar Lukas segera pergi. "Tadi sudah terlalu banyak makan cemilan saat rapat. Aku rasa sudah cukup, aku hanya perlu istirahat."
Raut wajah Lukas tampak kecewa. Namun, dia pun tak bisa memaksa Anyelir. "Baiklah." Dia hendak pergi, seketika dia kembali menoleh pada Anyelir. "Bagaimana jika aku antar pulang?"
"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri," ujar Anyelir. "Akan merepotkan jika besok harus menggunakan taxi," tambahnya.
Dia pun tak tahu mobilnya sudah terparkir di basement atau belum. Krisan belum mengabari dirinya. Dia berencana untuk menggunakan taxi. Namun, keberadaan Lukas mengurungkan niatnya memesan taxi. Dia memilih untuk pergi ke basement seolah mobilnya ada di sana.
"Baik, jika itu maumu. Selamat beristirahat."
"Terima kasih," ujar Anyelir. Sedikit tak enak menolak ajakan Lukas. Dia yakin, pria itu sengaja menunggu dirinya. Namun, Anyelir tak suka terlalu dekat dengan pria beristri.
Anyelir melangkah menuju basement. Dia berharap mobilnya sudah terparkir di sana. Baru beberapa langkah, tiba-tiba langkah kakinya tak stabil. "Auw!" pekiknya.
"Ada apa?" tanya Lukas seraya menghampiri Anyelir dan memegang lengan sang gadis yang hampir terjatuh.
"Tidak apa. Hanya terkilir," jawab Anyelir.
Lukas melihat ke kaki Anyelir, hak sepatu Anyelir yang patah. Sepatu high heels yang cukup tinggi. "Biar kubantu."
"Terima kasih. Tolong tuntun aku ke kursi lobby," pinta Anyelir.
"Mau apa? Kau mau pesan taxi? Atau mau memanggil asistenmu? Lebih baik aku yang antar saja," tutur Lukas dengan tangan masih memegang erat tangan Anyelir.
Anyelir baru saja ingin menolak tawaran Lukas. Namun, suara bariton terdengar di area tersebut.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!" ucap Krisan tegas.
Anyelir dan Lukas langsung menoleh ke sumber suara.
"Istri?" gumam Lukas.
Krisan berjalan menghampiri dua orang yang saling bersentuh. Rahangnya mengeras, geram melihat sang istri disentuh pria lain. Dia menepis tangan Lukas yang menggenggam erat lengan Anyelir. "Ya, dia istriku," ujarnya penuh keyakinan.
Lukas menoleh menatap Anyelir. "Apa maksudnya?"
Anyelir melirik sekilas pada Lukas lalu menunduk. "Ya, aku adalah istrinya," lirihnya.
"Apa? Bukankah kau belum menikah?" tanya Lukas tak percaya dengan apa yang didengar.
"Kami sudah menikah selama 9 tahun," sambung Krisan.
Lukas tampak bingung, saat dia pertama kali bertemu dengan Anyelir. Petra mengatakan bahwa Anyelir wanita lajang.
Anyelir bisa melihat kebingungan di wajah Lukas. "Kami berpisah selama tiga tahun ini. Secara tak sengaja, kami bertemu lagi," jelasnya sembari menundukan kepala.
Bukan niat hati malu memiliki suami. Namun, dirinya pun tak membantah saat Petra memperkenalkan dirinya sebagai wanita lajang pada Lukas. Pada saat itu, Anyelir dalam kondisi benar-benar membenci Krisan dan berharap dirinya tak mengenal sang suami.
__ADS_1
"Jadi, kalian sudah bercerai?"