
"Good job Vinnie!" puji Anyelir.
Vinnie hanya tersenyum, dirinya diberi kesempatan untuk memimpin jalannya meeting. Anyelir ingin anak buahnya terus berkembang. Mereka baru saja bertemu dengan klien dan kesepakatan mereka berjalan dengan mulus.
"Masih ada meeting sore ini," ujar Vinnie.
"Ya," jawab Anyelir. Dia mengeluarkan botol vitamin dan dalam tasnya. Mengambil satu butir dan dengan cepat memasukan ke dalam mulut. "Kau minumlah, kau juga membutuhkan vitamin." Anyelir menyodorkan botol vitamin pada Vinnie.
"Terima kasih Nona, aku sudah memiliki vitaminku sendiri," tolak Vinnie.
Anyelir tak bisa memaksa orang lain sesuai kehendaknya. Dia memasukan kembali botol vitamin ke dalam tas.
Hari terus berlanjut, suaminya belum juga pulang. Anyelir hanya menyibukkan diri dengan bekerja. Begitu pula dengan Vinnie yang ikut sibuk dengan berbagai macam pekerjaan. Dirinya ingin melupakan Aryo.
Senja terlewati begitu saja. Tak bisa menikmati senja karena terlalu banyak pekerjaan. Anyelir dan Vinnie pulang di hari yang mulai gelap.
Anyelir merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah membersihkan diri. Dia membuka album photo yang ia dapat dari rumahnya. Tidak banyak barang yang ada di gudang rumahnya. Barang-barang seperti sofa, guci dan lemari, itu adalah barang-barang yang ikut disita oleh bank, yang ada di dalam gudang hanyalah barang-barang pribadi.
Pembeli rumahnya tak tega membuang album photo keluarganya. Maka, dia simpan di dalam gudang. Satu persatu Anyelir membuka album photo tersebut. Photo masa kecilnya bersama orang tuanya.
Wajahnya tersenyum melihat photo tersebut. Dia membuka photo album lainnya, di sana terdapat photo masa muda orang tuanya. Tak hanya photo orang tuanya, di sana juga ada photo teman-teman orang tuanya. Dia terus membalik lembar demi lembar.
Bibir Anyelir tersenyum melihat kedua orang tuanya bergaya bersama seorang pria. Anyelir menelisik photo yang mulai menguning itu. Sudah tak terlihat jelas, tetapi Anyelir masih bisa melihat ketampanan teman ayahnya itu. Bibir Anyelir tersinggung ke atas. Melihat photo itu membuatnya merindukan suaminya.
Anyelir menutup album photo dan menyimpannya kembali. Dia mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya, mencoba menghubungi sang kekasih. Sudah pukul 11 malam, dia yakin di Jerman sudah pagi.
"Sayang," ujar Krisan.
"Kau sudah bangun?" tanya Anyelir.
"Ya. Apa kau merindukanku? Sangat jarang kau menghubungiku," gumam Krisan.
"Apa kau tak merindukanku?" tanya balik Anyelir. Dia membalik tubuhnya hingga posisi dirinya kini telungkup.
"Tentu aku merindukanmu," ucap Krisan pasti. "Sangat, sangat merindukanmu," tambahnya.
"Kalau rindu, cepatlah pulang," tantang Vinnie.
"Kalau aku sudah ada di depanmu, memang kau mau apa?" tantang balik Krisan.
Anyelir berdahem, membersihkan tenggorokannya lalu berbisik, "Aku akan melakukan apapun yang kau minta."
"Benarkah?" tanya Krisan tertahan.
__ADS_1
"Tentu, tapi hanya berlaku hari ini," ucap Anyelir sensasional.
"Kau jangan menyesal!" ucap Krisan tegas.
Anyelir terkekeh. "Bagaimana jika kita video call saja, kau bisa memandangku sampai puas.”
“Tidak mau! Kau hanya akan menggodaku!” sebal Krisan.
“Hanya tidak bertemu beberapa hari kenapa jadi kesal seperti itu? Bahkan kita pernah pisah bertahun-tahun!” keluh Anyelir.
“Karena itu, aku tak ingin sampai berpisah kembali denganmu. Aku ingin mengantongimu kemanapun aku pergi!”
“Kalau begitu, cepat datang dan kantongi aku,” goda Anyelir.
Tut! Sambungan telepon terputus. Anyelir melihat layar ponselnya, sambungan teleponnya terputus. “Apa signal buruk?” gumamnya. Dia mulai menoleh ketika merasakan ada pergerakan di kamarnya. “Argh!” teriaknya. Seseorang langsung melompat ke atas ranjang dan memeluknya.
“Aku tagih ucapanmu!” ujar Krisan.
“Kenapa kau ada di sini? Kapan kau pulang? Bukannya kau ada di Jerman?” Beruntun pertanyaan keluar dari mulut Anyelir. Dia terkejut melihat suaminya tiba-tiba ada di depan matanya.
“Aku sudah ada di depan rumah saat kau menelponku,” jawab Krisan.
“Kau bohong padaku! Dasar licik!” maki Anyelir.
“Aku tak bohong. Aku sudah berusaha secepat kilat untuk pulang untuk mengantongimu.”
“Mudah,” ujar Krisan lalu mencium bibir kekasihnya.
Anyelir membalas setiap ciuman sang suami. Krisan membalik tubuh sang istri dan mulai mengukungnya. Rindu yang membuncah membuat Krisan tak bisa menahan gejolak di dada.
“Kau tidak lelah?” tanya Anyelir disela Krisan menciumnya.
“Tidak. Aku ingin sekarang. Kau tidak akan menolakku bukan?” tanya Krisan tanpa menghentikan aktivitas tangannya untuk melepas pakaian yang mengganggu.
Anyelir menangkup wajah sang suami. Dia menelisik secara keseluruhan wajah sang suami. Berakhir pada sebuah tatapan dalam ke netra sang suami. Mereka bersitatap, Krisan tak mengerti maksud sang istri yang menatapnya secara intens.
“Ada apa?” tanya Krisan, bingung dengan kelakuan sang istri.
“Krisan ….”
Krisan terkekeh. “Kenapa memanggilku seperti itu?”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Hanya agak aneh saja, kau memanggilku Krisan seperti awal kita saling mengenal saja,” papar Krisan, di bibirnya masih terdapat senyum, teringat kembali hari pertama mereka bertemu. Awal hubungan mereka, Anyelir selalu memanggilnya dengan lengkap. Lambat laun, Anyelir mengganti menjadi Kris, Mas, Sayang, lalu, terus berganti seiring mereka bersama, dan panggilan Krisan hanya dipakai oleh orang lain.
“Kenapa tertawa?” tanya Anyelir menelisik.
“Teringat masa lalu, saat mati lampu. Dari sana hati bergetar melihatmu,” jelas Krisan mengingat masa lalu. Lampu mati saat Anyelir sedang mandi dan keluar hanya dengan melilitkan handuk.
“Ternyata kau suamiku,” gumam Anyelir.
“Ya memang aku suamimu. Memang siapa lagi?” dengus Krisan. Heran dengan istrinya.
Anyelir terkekeh. “Kau secara kilat ada di depan mataku. Padahal kau tidak bilang padaku sebelumnya kau akan pulang hari ini. Aku pikir kau hantu pria penggoda yang sedang menyamar menjadi suamiku.”
Krisan melebarkan matanya. “Sembarangan saja kalau bicara!”
“Habis, kau tiba-tiba datang. Jerman ke sini butuh belasan jam. Ini dalam hitungan detik sudah ada di depan mataku. Bagaimana aku tidak curiga!”
“Aih! Pikiranmu ini. Aku memang sengaja pulang tak bilang padamu agar menjadi kejutan. Tapi, kau malah menuduhku sebagai genduruwo!”
“Aku tidak bilang begitu! Aku bilang kau hantu penggoda yang sedang menyamar.”
“Bukankah genduruwo juga menyamar sebagai suami orang?”
“Tapi aku tidak bilang begitu!” Anyelir mengerutkan dahinya, membayangkan makhluk halus mirip kera dengan bulu lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Tubuh besar dan kekar dengan warna hitam dan mata merah. Membayangkan menyeramkannya makhluk tersebut. “Dari pada gunderuwo lebih baik bertemu dengan Incubus, meskipun iblis tetapi dia tampan!” tambahnya.
“Aih! Istriku kebanyakan baca horor! Untuk apa bercinta dengan iblis tampan Incubus jika sudah memiliki suami yang tampan sepertiku!”
“Siapa yang ingin bercinta dengan iblis. Aku ‘kan hanya memastikan kau iblis yang sedang menyamar atau tidak!” bela Anyelir.
“Ya sudah, sekarang aku buktikan padamu bahwa aku adalah suamimu yang asli,” ucap Krisan sembari mencoba mencium Anyelir.
Anyelir menahan wajah Krisan yang akan menciumnya. “Bagaimana caranya kau membuktikan padaku bahwa kau adalah suamiku yang asli?”
“Karna yang palsu tidak akan bisa memberimu kepuasan,” bisik Krisan langsung menyambar bibir sang istri.
Tak diragukan lagi, setiap sentuhan sangat dikenal oleh Anyelir. Dia bukan meragukan suaminya atau termakan mitos atau mistis. Dia hanya merasa sang suami bertambah mencintainya. Krisan berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya agar bisa secepatnya pulang.
Tak menolak, Anyelir memenuhi keinginan sang suami. Bukan hanya menjalankan tugas sebagai istri, dia pun menerima haknya sebagai istri. “Kesayangan aku,” lirih Anyelir.
“Kesayangan aku,” jawab Krisan. Napasnya masih tersengal setelah olah raga malam bersama sang istri. Dirinya menempelkan dahi mereka. “Aku mencintaimu, Anyelir,” tambahnya.
“Aku juga mencintaimu, Mas,” jawab Anyelir.
Krisan menarik kepalanya, menatap sang istri dan membeku ditempat. Sekali lagi dikejutkan dengan panggilan Anyelir padanya. ‘Mas’ sebuah panggilan yang sudah sangat lama ia dengar. Dulu, dirinya kerap kali dipanggil dengan sapaan seperti itu.
__ADS_1
Entah mengapa, Anyelir tak ingin berpisah kembali dari Krisan. Meskipun, dia selalu merasa ada yang disembunyikan oleh Krisan.
“Aku sangat-sangat mencintaimu, Anyelir, Sayangku, Cintaku.”