Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 30 Om-Om tua penikmat belia!


__ADS_3

Hari terus berganti, selama itu pula hubungan Krisan dan Anyelir berjalan cukup baik. Meskipun, Anyelir belum bersedia satu atap degan suaminya.


Hubungan mereka layaknya remaja yang sedang pacaran. Krisan akan datang menjemput kekasihnya untuk berangkat kerja dan mengantarkan pulang setelah kerja.


"Kenapa mengajakku ke sini?" tanya Anyelir.


Dia melihat sekeliling, restoran mewah ada di depan matanya. Krisan menjemputnya selepas kerja.


"Tentu saja untuk makan," jawab Krisan. Dia melambaikan tangan meminta seorang waiters untuk menghampiri mereka. “Kau mau pesan apa?” tanyanya pada Anyelir.


“Bukankah kita mau datang ke malam amal?” tanya balik Anyelir.


“Acaranya jam 9 malam. Apa kita mau kelaparan selama itu?”


Krisan mengajak Anyelir untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh keluarga Bronson. Tak disangka, ternyata Anyelir pun diundang. Maka dari itu, kartu undangan Anyelir diberikan pada Vinnie dan Aryo.


Anyelir hanya mengangguk. Dia hanya memesan satu hidangan yang menurutnya rendah kalori. Krisan memesan makanan untuknya. Mereka mengobrol hingga makanan tersaji.


“Jadi, ini tempat yang kau bilang?” tanya Anyelir seraya menatap hidangan di atas meja.


“Tempat?” tanya Krisan bingung.


“Iya, bukankah kau bilang akan mengajakku ke suatu tempat sebelum datang ke malam amal?”


“Bukan, kita akan ke suatu butik, kita cari gaun untukmu.”


“Aku punya banyak di apartemen.”


“Gaun dengan punggung terbuka?” tanya Krisan menaikan alisnya sebelah.


Anyelir hanya mendecak pelan, dia hanya meminum air mineralnya.


“Kau tidak makan?” tanya Krisan yang tak melihat Anyelir memakan makanannya.


“Bukannya tak ingin makan,” ujar Anyelir menunduk. “Aku belum pembuangan hari ini?”


“Kau belum BAB?” tanya krisan memastikan.


“Nggak usah kencang-kencang gitu ngomongnya!” keluh Anyelir.


Krisan hanya menghela napas pelan. Dia merasa bicara dengan nada yang stabil. “Apa perutmu sakit?”


“Tidak. Hanya saja, jika aku makan, aku takut perutku membuncit. Nanti tidak bagus saat menggunakan gaun.”


Krisan terkekeh. “Sudah makan saja, kau masih terlihat cantik.”


“Usiaku sudah tidak muda lagi. Tidak seperti dulu yang makan banyak tidak mempengaruhi berat badanku. Sekarang, jika tak mengontrol makan, berat badanku langsung naik,” celoteh Anyelir. “Usia remaja memang lagi cantik-cantiknya! Tidak seperti sekarang yang sudah tua!” keluhnya.


Krisan meletakan sendoknya. “Kalau kau sudah tua, bagaimana dengan diriku?”


Anyelir melirik ke suaminya. Lalu tertawa mengingat jarak usia mereka yang terpaut 7 tahun. “Kau benar, kau sudah mulai memasuki paruh baya,” kekeh Anyelir.


“Apa kau bilang? Usiaku masih jauh 40 tahun!”


“Ya, beberapa tahun lagi,” timpal Anyelir dengan masih terkekeh.


“Apakah aku sudah tampak tua? Banyak yang bilang aku masih seperti usia 28 tahun.”

__ADS_1


Anyelir memiringkan kepalanya, menelisik sang suami. Memang tak tampak seperti usia 35 tahun, suaminya masih terlihat gagah meskipun terdapat bulu-bulu halus di wajahnya. “Ya, lumayanlah untuk di bawa kondangan!” serunya.


“Seperti aku tak pantas untukmu saja!” keluh Krisan. “Sudah, habiskan makananmu!”


“Tidak mau!”


“Untuk apa dipesan jika tak di makan?”


Anyelir mengambil sendok dan mulai mencicipi makanannya sedikit. Dia mengangkat piringnya dan menyodorkan pada sang suami. “Habiskan,” ucapnya dengan manja.


Krisan hanya menghembuskan napas dan menerima piring sang istri. Dia mulai menghabiskan sisa makanan sang istri.


“Mulai besok, kita lari pagi.”


“Bukankah kau rajin lari dengan treadmill?”


“Ya, tapi besok kita lari di taman joging.”


“Oh, kau mau lari di taman?”


“Denganmu.”


“Tidak mau!”


“Kenapa tidak mau? Usiaku jauh lebih tua darimu. Jangan sampai kau yang lebih muda tapi tampak lebih tua dariku!” ejek Krisan dengan nada bercanda.


“Sembarangan! Sudah sangat jelas kalau aku masih terlihat bak remaja! Kalau dipikir, aku tuh bodoh bisa menikah diusia sangat belia. Dibohongi oleh Om-Om untuk menikah. Om-Om tua penikmat belia!” cibir Anyelir.


“Aish! Mulutmu! Benar-benar harus diberi pelajaran!”


Anyelir hanya terkekeh. Mereka memang kerap saling ejek karena usia mereka yang terpaut lumayan jauh.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Anyelir canggung ditatap intens oleh suaminya.


“Tidak apa. Aku hanya merindukanmu yang seperti ini.”


Anyelir berdahem. Ya, dia sangat sadar betapa manja dirinya pada Krisan kala itu.


“Kenapa tidak dilanjutkan makannya?” tanya Anyelir.


“Tidak lezat," jawab Krisan.


“Benarkah?”


“Ya, tiba-tiba sudah tidak lezat. Ada yang lebih lezat lagi.”


Anyelir mengedarkan matanya di atas meja, dia melihat makanan yang dipesan Krisan sudah habis. Hanya tinggal makanan pesanannya yang belum dihabiskan oleh Krisan. “Apa yang lebih lezat?”


“Kamu,” ucap Krisan tak melepas tatapannya pada sang istri.


Anyelir hanya melebarkan matanya. “Sudah. Ayo kita pergi. Nanti tak keburu datang ke acara malam amal.”


“Ayo,” ujar Krisan sembari berdiri.


Mereka pergi ke suatu butik. Tempat yang belum pernah Anyelir datangi sebelumnya.


“Butik apa ini?”

__ADS_1


“Butik milik Antonio Dandora, designer dari Italia.”


“Kau tidak pernah mengajakku ke sini? Apa dengan wanita lain kau ke sini?” tanya Anyelir memicingkan matanya.


“Antonio baru datang setahun lalu. Kebetulan aku bekerja sama dengannya. Jangan berpikir yang aneh-aneh.”


Anyelir hanya memajukan bibirnya. Hal tersebut tak lepas dari pandangan Krisan. Dia tersenyum melihat sang istri cemburu. Ya, Anyelir memang pencemburu. Sedangkan, dirinya tak boleh cemburu dengan alasan, Anyelir hanya akan memuja para artis negri ginseng. Meskipun, pada kenyataannya, dirinya lebih posesif dari sang istri.


Mereka masuk ke dalam butik tersebut. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang tak tampak seperti orang lokal. Sang pelayan yang terlihat begitu belia dengan rambut pirang, kulit putih dan bermata biru. Sang pelayan mempersilakan mereka masuk ke dalam butik.


“Gaun ini cocok untuk Anda,” ujar sang pelayan dengan membawa gaun berwarna pink.


“Fross Grass, bawakan aku gaun itu,” titah Krisan.


“Tapi, Tuan Antonio mengatakan untuk tak mengeluarkan gaun itu,” tolak sang pelayan.


“Aku mau gaun itu!” ujar Krian tegas. “Bilang padanya, aku yang mengambil gaun itu!”


Sang pelayan tampak bingung. Antonio mengatakan gaun tersebut tak akan di jual. Sedangkan di depannya, pria yang ia tahu sangat dekat dengan bos-nya itu.


“Bawakan padaku!” ucap Krisan lagi.


Mau tak mau, sang pelayan butik masuk ke dalam ruang kerja Antonio. Di dalam butik hanya ada dirinya, sang pemilik sedang berada di luar kota.


“Jangan memaksa, aku bisa menggunakan gaun apapun,” bisik Anyelir pada Krisan.


“Kau harus menggunakan gaun yang paling special,” ujar Krisan tersenyum lebar. Dia ingin memperkenalkan Anyelir bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


Tidak membutuhkan waktu lama, sang pelayan membawa sebuah gaun berwarna hijau botol. Model gaun ini terbuka di bagian bahu sebelah kanan. Terdapat motif bunga di sisi bahu yang tertutup. Anyelir cukup terpesona dengan gaun yang dibawa oleh sang pelayan.


“Cobalah,” bisik Krisan.


Anyelir melirik sekilas pada sang suami. Lalu mengikuti sang pelayan ke ruang ganti. Anyelir mulai melepas pakaiannya dan mencoba gaun tersebut. Gaun yang sangat pas di tubuhnya. Pinggang yang ramping terbungkus oleh gaun fross grass.


Sang pelayan meninggalkan Anyelir sendiri. Anyelir menatap pantulan dirinya di cermin. Dia mengambil lipstik dari dalam tasnya dan mengoleskan ke bibirnya. Lipstik berwarna merah dan riasan yang masih melekat sempurna, tak perlu dirinya menambah riasan secara berlebihan.


Krisan datang menghampiri sang wanita. Juga menatap pantulan istrinya di cermin. Selalu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh istrinya. Pakaian yang menurutnya tak terlalu terbuka. Hanya satu pundak yang terlihat. Dia melangkah semakin dekat, dan pada akhirnya memeluk Anyelir dari belakang. "Sangat cantik," pujinya seraya menghirup aroma rambut Anyelir.


Anyelir hanya tersenyum. Tubuhnya diputar oleh sang suami. Kini mereka saling berhadapan. "Aku semakin tak rela menunjukan dirimu di depan umum."


"Kau ingin aku terkurung di dalam sangkar?"


Krisan hanya menghembuskan napasnya pelan. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Krisan menatap dalam manik mata kekasihnya. Dia tak tahan melihat bibir merah sang kekasih. "Warna bibirmu terlalu merah."


"Benarkah? Tidak cocok ya?" tanya Anyelir. Dia mencoba melepas pelukan sang suami. Berniat untuk mengambil tisu dan menghapus lipstik di bibirnya.


"Mau ke mana?" tanya Krisan.


"Mengambil tisu. Bukankah kau bilang warna lipstik-ku terlalu merah?"


Krisan menarik tangan Anyelir, tangannya menggenggam erat pinggang sang istri dengan mantap. "Aku tahu cara membuat warnanya, agar tak begitu merah," bisiknya lalu mencium sang istri.


Anyelir hanya bisa mengikuti permainan sang suami. Krisan tak memberikan kesempatan Anyelir untuk melepas tautan bibir mereka.


Tangan Krisan mulai tak terkondisi. Dari pinggang dan terus mengikuti lekuk tubuh sang istri.

__ADS_1


Setelah puas meraup warna merah di bibir sang istri, Krisan menempelkan dahinya pada dahi Anyelir. "Boleh aku minta hak-ku sebagai suami malam ini?" lirihnya jelas dengan suara menahan sesuatu yang sangat besar.


__ADS_2