Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 72 Dua Pisau


__ADS_3

Renan langsung mengantar Miranda ke rumahnya. Mereka tiba sudah sore hari. Tak ada keinginan Renan untuk pergi kencan. Mereka bukan di luar negri yang tak terlalu banyak mengenalnya.


"Kau berjanji untuk membuat kimchi denganku," ujar Miranda.


"Katakan saja kapan kau mau. Kita akan lakukan," jawab Renan.


Miranda mengangguk. "Ya."


Mereka masuk ke dalam rumah Miranda. "Aku harus pergi, kau istirahatlah."


"Kau mau ke mana?" tanya Miranda.


"Menemui Anyelir. Masih ada yang harus di bahas dengannya."


"Apa kau tidak lelah?"


"Lelah, tapi harus diselesaikan."


"Pulang jam berapa?"


"Emm, mungkin pukul 9."


"Aku akan menunggu."


Renan menaikan alisnya sebelah. Tidak mungkin juga dirinya sampai tepat di pukul 9, pasti akan lebih malam. Apa yang diucapkan oleh Miranda seolah mereka memang tinggal bersama.


"Ya," jawab Renan.


Renan mengecup bibir Miranda sekali, lalu dia pergi meninggalkan sang artis untuk bertemu Anyelir.


Miranda mengecek ponselnya. Dia membaca pesan dari Cindy yang akan datang ke rumahnya malam ini. Secepat kilat Miranda membalas pesan itu agar sang asisten tak datang ke rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana hasilnya?" tanya Anyelir.


"Berjalan lancar," jawab Renan singkat. "Berangkat sekarang?"


"Ya, tentu. Kau seharusnya tak perlu datang. Aku bisa datang sendiri menemui klien."


"Siapa yang kemarin memohon padaku untuk ikut?" ejek Renan.


"Bukan begitu, aku hanya kurang percaya diri karena kau lebih memahami materinya."


"Aku hanya akan memantau mu. Jika memang harus dibutuhkan, aku yang akan melengkapi. Tapi jika tidak perlu, aku tidak akan melakukan apapun!" tandas Renan. Selain itu, Renan juga ingin melindungi Anyelir. Orang yang akan bertemu dengannya bisa dikatakan haus wanita.


"Baiklah, baiklah." Anyelir melirik sekilas Renan. "Bagaimana hubunganmu dengan Miranda?"


Renan hanya mengulum senyum. "Lumayan."


Anyelir menyeringai. Dia menghampiri sang sepupu dan merangkulnya. "Pasti sesuatu yang baik bukan?" tanyanya menelisik.


Renan lagi-lagi hanya menahan senyum dan mengangguk kecil. "Dia menerimaku apa adanya."


"Dia wanita yang tulus. Jangan pernah menyakitinya."


"Itu yang ku harapkan," ucap Renan menatap Anyelir. "Kau tahu bagaimana lingkaranku bukan?"


Anyelir melepas rangkulannya dan berdiri di depan sang sepupu. Dia menyentuh kedua pundak Renan. "Kau tidak sendiri, ada aku di sini. Bukankah kau putus secara baik-baik?"


"Ya, aku mencoba yang terbaik untuk tak ada yang tersinggung atau tersakiti."


"Aku rasa tidak akan ada masalah. Kalian tidak memiliki dendam," ucap Anyelir tulus.

__ADS_1


"Semoga," jawab Renan singkat.


Renan menarik pinggang Anyelir dan memeluknya. "Terima kasih telah menjadi saudaraku. Terima kasih telah mendukung setiap keputusanku. Terima kasih atas semua bantuanmu."


Anyelir menerima pelukan Renan, dia menepuk pelan punggung sang sepupu. "Kau telah banyak membantuku. Apa yang kulakukan tidak seberapa."


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Krisan yang tiba-tiba masuk dalam ruangan Anyelir.


Anyelir melepas pelukannya sedangkan Renan hanya tersenyum. "Sedang apa kau ke sini?" tanya Anyelir.


"Apa aku tak boleh menemui istriku?" tanya balik Krisan.


Anyelir hanya mendecak. "Aku masih ada pekerjaan, baru akan menemui klien."


"Kalau begitu, aku yang akan menemanimu," timpal Krisan.


"Kau pikir ini perusahaanmu!" ketus Anyelir. "Kau ingin ikut karena ingin memata-matai perusahaanku ya?" tanya Anyelir memicingkan mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Krisan hanya mendengus kesal saat Anyelir menceritakan tentang Renan. "Jadi, dia sudah normal?" tanyanya serius.


"Dia sudah menemukan cintanya!" dengus Anyelir. Dia menarik selimut, bersiap untuk tidur.


Krisan menemani sang istri bertemu dengan klien. Namun, dirinya hanya menunggu di luar ruangan karena bukan perusahaannya yang bekerja sama.


"Lalu, kenapa dia memelukmu?" tanya Krisan menarik bahu sang istri.


Anyelir menatap sang suami. "Bukankah kau bahkan tak keberatan jika aku tinggal bersamanya? Bukankah kau tak akan khawatir dia akan menciumku?" tanya Anyelir seraya memicingkan mata.


"Itu dulu sebelum tahu dia bisa kembali menjadi pria sejati," timpal Krisan.


"Apa kau pikir selama ini dia bukan pria sejati?"


Krisan diam sejenak. Alisnya terangkat sebelah. "Apa namanya menyukai sesama pria jika bukan pria sejati? Apa kau yakin dia benar-benar mencintai Miranda dan bukan hanya untuk menutupi orientasinya?"


"Jadi maksudmu, dia itu sebenarnya dua pisau?"


Anyelir menggeleng. "Aku rasa dia bukan bis*ks."


Krisan hanya terdiam sejenak. "Apa karena dia sudah merasakan bahwa dengan wanita lebih nikmat? Bagaimanapun, wanita adalah segala bentuk keindahan."


"Jangan bicara sembarangan tentangnya. Meskipun dia memiliki kekasih pria. Tapi hubungan dengan pacarnya tidak sampai melibatkan ranjang!" kesal Anyelir.


"Benarkah? Bukankah biasanya mereka lebih frontal dalam berhubungan?"


"Renan tidak seperti itu. Dia punya batasannya sendiri, tak akan mungkin melakukan hubungan sebelum menikah."


"Apa itu dapat dipercaya?"


"Dulu sih dia bilangnya seperti itu. Dia itu old, memiliki pemikiran s*x after married. Jadi, tak mungkin sampai melakukan hal terlarang," bela Anyelir. Namun, hatinya sedikit ragu.


Krisan tersenyum mengejek. "Bagaimana mau s*x after married, kalau dia menjalin kasih dengan sesama. Apa yang mereka lakukan jika tak melakukan hal itu!" timpal Krisan.


"Dia bilang tidak melakukannya! Setelah putus, dia pun mengatakan semua hubungannya dengan mantan pacarnya itu padaku. Mereka hanya ditahap kissing," papar Anyelir.


Krisan bergidik, membayangkan Renan berciuman dengan mantan kekasihnya membuatnya merinding.


"Bagaimana dengan Miranda? Apa dia juga menjaga prinsipnya itu?" tanya Krisan menelisik, membuang jauh pikiran kotornya itu.


"Itu ... aku belum bertanya padanya," lirih Anyelir.


"Jangan-jangan setelah merasakan melakukan dengan wanita dan tahu nikmatnya surga dunia, dia menjadi normal kembali," gumam Krisan. "Lain kali, jangan biarkan dia memelukmu!" hardik Krisan.

__ADS_1


"Renan orang yang berprinsip. Jadi, aku rasa ... dia akan menjaganya."


"Mustahil! Aku tahu yang ada di dalam pikiran pria normal. Jika memang dia mencintai Miranda dan dilihat dari pergaulan artis itu, mereka pasti sudah melakukan itu."


Anyelir memicingkan mata. Kesal dengan suaminya. "Kenapa kau selalu berpikiran negatif pada mereka? Apa kau tidak pernah membaca novel Twilight Saga? Edward Cullen sangat menjaga Bella Swan. Meskipun mereka tidur di ranjang yang sama dan bermesraan. Tapi, Edward tidak melakukan diluar batas sampai akhirnya mereka menikah!"


"Itu hanya fiktif," sanggah Krisan. Ya, dia tak pernah tertarik dengan novel atau drama.


"Memang apa yang kita lakukan saat masih tinggal bersama sebelum menikah? Apa kau menerkamku? Jangan kau pikir pria baik hanya dirimu saja. Jangan kau pikir laki-laki yang berprinsip no s*x before married hanya dirimu saja! Masih banyak pria baik lainnya!" kesal Anyelir.


"Sudah hentikan perdebatan ini! Pokoknya, mulai sekarang kau harus jaga jarak dengan Renan. Aku tak mau melihat hal seperti tadi lagi!" seru Krisan.


Anyelir hanya mendecak, dia langsung memunggungi Krisan.


"Hei, kenapa seperti ini?" tanya Krisan mencoba menarik pundak sang istri.


"Lepaskan! Jangan ganggu aku!" protes Anyelir.


"Kau dengar tidak ucapanku?"


"Aku dengar. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak hanya berpelukan dengannya bahkan kami pernah tidur di ranjang yang sama." Apa yang diucapkan oleh Anyelir bukan untuk membuat Krisan cemburu. Dia hanya mengatakan yang sesungguhnya.


"Apa selama ini dia mengambil keuntungan darimu dengan berpura-pura menjadi gay?"


Anyelir memencet hidung Krisan. "Kenapa kau menjadi bodoh seperti ini? Ada orang yang tidak akan berhasr*t jika bukan berhadapan dengan orang yang dicintainya. Tak ada perubahan seorang pria saat bersamaku. Berbeda jika dia berdekatan dengan Miranda yang sulit mengontrol dirinya."


Krisan menyipitkan mata. "Bukankah kau tadi bilang belum bertanya padanya sejauh mana hubungan mereka? Kenapa sekarang kau bilang Renan tak bisa mengontrol dirinya saat bersama Miranda?" cecar Krisan.


"Ish! Aku malas bicara denganmu!" keluh Anyelir. Renan hanya menceritakan ciuman panasnya dengan Miranda di dalam mobil yang membuatnya hampir tak bisa mengontrol diri. Karena itu, Anyelir bisa mengatakan hal itu.


"Aku tidak mau tahu, yang jelas, jangan pernah mau disentuh pria lain! Mau itu pria matang atau setengah matang!" tegas Krisan.


"Dasar posesif! Bicara saja dengan tanganmu!" Anyelir tak ingin berdebat lagi. Dia memilih untuk memejamkan mata.


"Aku bukan posesif. Tapi sedang menjaga istriku."


"Hemm," gumam Anyelir tanpa membuka matanya.


Krisan langsung menarik pinggang sang istri agar bisa ia peluk. "Hemm apa?"


"Tidurlah Kris, ini sudah malam," pinta Anyelir.


"Ini mau tidur."


"Lepaskan, jangan dipeluk seperti ini. Aku tidak leluasa." Anyelir mencoba melepas pelukan dari Krisan. Bukan tak cinta, hanya saja terkadang dia ingin bergerak bebas saat tidur.


"Siang tak protes saat pria lain memelukmu. Tapi suamimu yang memeluk, kau menolak!" keluh Krisan.


Anyelir hanya menghela napas. Dia tahu sang suami sangat tidak suka ada pria yang menyentuhnya. Dia langsung masuk ke dalam pelukan sang suami. "Bukan seperti itu, aku hanya tidak mau lenganmu lelah karena menjadi bantalku."


"Alasan saja!" protes Krisan.


"Yang pentingkan sekarang aku sudah masuk dalam pelukanmu."


Krisan bisa mengecup pucuk kepala Anyelir. Dia mengusap dan melihat rambut Anyelir. "Rambutmu sudah mulai panjang. Pangkal rambut hitam alami."


"Seperti tak tahu saja warna rambut asliku hitam!" dengus Anyelir.


"Tahu, aku bahkan masih ingat kau memiliki rambut hitam dan lurus."


"Emm. Nanti aku akan ke salon untuk mewarnai dan membuatnya bergelombang," ujar Anyelir.


Anyelir memang mewarnai rambut dengan warna cokelat dan membuatnya bergelombang. Itu semua ingin mengubur masa lalunya dan melupakan Krisan.

__ADS_1


"Tidak usah, biarkan saja. Aku suka apa yang ada di dirimu. Bagaimanapun kondisi di dirimu," jelas Krisan.


Anyelir tak menanggapi lagi ucapan Krisan. Dia hanya mengeratkan pelukan pada sang suami. Dia tahu, suaminya lebih menyukai rambut alaminya. Rambut hitam dan lurus.


__ADS_2