
Gedung yang cukup besar, Anyelir pergi ke tempat yang sedikit tenang. Terdapat sebuah ruangan terbuka tanpa pintu. Ruangan yang hanya berisi lukisan-lukisan zaman dulu. Dilihatnya satu persatu lukisan tersebut seraya menikmati minuman di tangannya. Tak lama, seseorang datang menghampiri Anyelir.
"Kau semakin cantik," ucap seorang pria.
Anyelir menoleh menatap pria tersebut. Dia melebarkan matanya. Cukup terkejut tetapi dia bisa mengontrol mimik wajahnya.
Anyelir meletakan gelas yang di pegang pada meja di samping. "Setahuku, kau tidak diundang," ujar Anyelir.
Andy melangkah semakin mendekat pada Anyelir, dia menyinggung senyum sinis. Dirinya memang tak diundang, menggunakan segala cara agar bisa hadir.
"Jangan kau pikir, kau istimewa bisa diundang di sini," ucap Andy.
"Tapi setidaknya, aku masih punya harga diri untuk tidak menjadi tamu tak diundang!" ujar Anyelir penuh penekanan. "Oh ya, bagaimana kabar Yudha? Kau tidak bersamanya? Bukankah dia orang kepercayaanmu?" tanya Anyelir sinis, dia masih membenci Andy.
Wajah Andy mengeras, dia masih belum bisa mengeluarkan Yudha dari penjara. Entah mengapa dirinya sulit bergerak. Bahkan beberapa usahanya seakan ada yang menyerang. Para pemegang saham menarik saham mereka. Tujuannya datang ke malam amal untuk mengajukan kerja sama dengan Abraham Bronson.
"Jangan berpikir kau lebih baik dariku. Kau ke sini juga bukan semata-mata untuk acara amal. Kau ingin mendekati Abraham dengan kecantikanmu, bukan?"
Anyelir mendecak. Ingin sekali dia memaki laki-laki tak tahu malu di depannya. Bukan hanya kelakuan yang buruk. Namun, tampangnya yang juga tak bisa dikatakan indah di pandang.
Bukan niat hati mencela ciptaan Tuhan. Melainkan Andy yang tidak bisa menghargai apa yang telah Tuhan berikan. Merekonstruksi wajah yang menurutnya menjadi menyeramkan. Dagu yang terlalu runcing membuatnya tampak tak normal.
"Apa tujuanku datang ke sini tidak ada urusannya denganmu," ujar Anyelir, lalu mencoba untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Andy tak terima dengan perilaku Anyelir, dia menarik lengan kiri sang gadis. "Mau ke mana?"
"Lepaskan tangan kotormu!" hardik Anyelir.
Andy tersenyum smirk. "Apa kau merasa dirimu bersih? Kau hanya mengandalkan kecantikan untuk bisnismu bukan? Jika kau naik ke ranjang ku, aku bisa membantu perusahaanmu lebih maju."
"Aku tidak perlu dirimu untuk membangun perusahaanku. Setidaknya, aku akan memilih ke ranjang siapa aku harus naik, dan ... aku akan memilih naik ke ranjang pria yang enak di pandang."
"Apa katamu?" tanya Andy geram.
"Lepaskan tanganmu!" Suara berat Krisan menggema.
Anyelir menoleh dan menatap sang suami yang baru saja hadir. Begitu pula dengan Andy yang ikut menoleh ke sumber suara.
"Kau lagi. Pergilah dari sini!" usir Andy. Tak ada rasa takut pada Krisan karena Andy tahu perusahaan Krisan jauh di bawahnya.Ya, Krisan hanya seorang CEO dari perusahaan berkembang.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau melepaskan tanganmu! Kau lah yang harus pergi dari sini!" tegas Krisan.
Krisan menghampiri Anyelir dan Andy, dia menarik lengan kanan Anyelir. Namun, Andy tak mau melepas tangan Anyelir.
"Banyak orang ku di luar. Kau tahu apa yang akan terjadi padamu jika melawanku. Aku tidak bertindak padamu karena kita pernah bekerja sama sebelumnya. Namun, jika kali ini kau mencampuri urusanku. Tidak hanya perusahaanmu yang hancur. Kau pun akan hancur!" cerocos Andy.
Krisan mencengkram lengan Andy yang menahan lengan Anyelir. Tatapannya tajam, mengintimidasi lawan hanya dengan dengan sebuah tatapan.
Mengerahkan sedikit kekuatannya hingga akhirnya Andy melepas cengkeramannya pada Anyelir.
Krisan melepas cengkeramannya pada lengan Andy. Anyelir langsung berjalan cepat mendekati Krisan.
"Beraninya kau ...."
__ADS_1
Andy mengepalkan tangan dan bersiap meninju Krisan. Namun, seorang pria berdiri di antara mereka. Menghentikan gerak Andy yang akan melayangkan pukulan.
"Jangan buat keributan di sini. Silakan Anda pergi dari sini," ujar Herry, menatap tajam pada Andy.
Andy menurunkan kepalan tangannya. Dia tahu, pria di depannya adalah orang kepercayaannya Abraham.
Vinnie datang ke ruangan tersebut. Krisan menoleh pada Vinnie. "Kau bawa Nona-mu dari sini."
Vinnie mengangguk dan menghampiri Anyelir. "Silakan Nona."
Anyelir tampak bingung, tetapi dia tetap mengikuti Vinnie. Krisan melirik sekilas pada sang istri, mengisyaratkan untuk pergi bersama asistennya.
"Aku tidak membuat keributan. Lebih baik kau mengeluarkannya dari sini," ujar Andy. Tatapannya tertuju pada Krisan. Mengisyaratkan pada Herry untuk mengusirnya.
Krisan hanya memicingkan matanya. "Kau urus dia!" ujarnya pada Herry. Dia berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu.
Herry hanya mengangguk, dia langsung mencekal lengan Andy.
"Apa yang kau lakukan? Aku kenal dengan Tuan Abraham. Seharusnya pria itu yang keluar dari sini!" geram Andy.
Bagaimana mungkin dirinya diusir sedangkan Krisan diperbolehkan hadir di sana. Terlebih lagi, mengapa Herry mematuhi perintah Krisan?
"Kris, kau hanya seorang CEO kecil. Beraninya kau mengusikku!" teriak Andy.
Krisan menghentikan gerak kakinya. Dia mendekati Andy yang masih dalam cekalan Herry.
"Bukan aku yang mengusik mu! Tapi kau yang mengusikku. Fransisca Anyelir Galenka, kau telah mengusik wanita itu, dan dia adalah istriku. Aku sudah cukup baik tak membuatmu mendekam dipenjara. Namun, sepertinya kali ini kau tidak bisa ditolong lagi. Jadi, persiapkan dirimu!" papar Krisan.
"Apa maksudmu? Beraninya kau mengancamku! Ingat siapa dirimu, dengan mudah aku akan menghancurkan mu!"
Dia berbalik dan meninggalkan Herry dan Andy. Sudah tak bisa dibiarkan, Krisan akan menjaga istrinya. Kemarahannya sudah tak terbendung, tak akan memberikan kesempatan kedua untuk Andy.
Beberapa security pun sudah hadir di sana. Membantu Herry membereskan sisanya.
"Lepaskan aku!" hardik Andy.
"Diam dan keluar dari sini," ucap Herry tenang.
"Kenapa kau mematuhi perintahnya? Apa kau sedang menghianati Tuan Abraham?" tuduh Andy seraya menunjuk ke dada Herry.
"Perintah Tuan Krisan sama saja dengan perintah Tuan Abraham," jelas Herry penuh ketegasan.
Andy hanya membulatkan matanya. Mencoba untuk memastikan pendengarannya tidak salah dengar.
...----------------...
Krisan masuk ke sebuah ruangan. Terdapat Anyelir dan Vinnie di dalam. "Kau sudah kembali?" tanya Anyelir.
"Ya," jawab Krisan.
"Bagaimana dengan pria itu?"
"Bagaimana apanya? Tentu saja dia diusir dari sini."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Anyelir penasaran.
"Tentu saja bisa. Dia tamu tak diundang, sudah seharusnya dia pergi." Krisan mengulurkan tangan. "Ayo, masih ada satu acara lagi. Ada barang yang akan dilelang dan hasil dari lelang akan disumbangkan."
"Oh, ya." Meskipun masih penasaran. Namun, Anyelir tak mau ambil pusing, dia mengikuti pergi suaminya.
Acara lelang dimulai, beberapa barang telah di lelang. Mulai dari patung, guci dan perhiasan. Sebuah kalung menarik perhatian Krisan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Krisan.
"Cantik."
"Kau mau?"
"Ha?"
Krisan mulai menawar harga, beberapa orang pun tertarik dengan kalung bersejarah tersebut. Saling tawar diantara tamu. Hingga akhirnya Anyelir menghentikan Krisan.
"Sudah, jangan dilanjutkan. Biarkan orang lain memilikinya. Terlalu mahal untuk sebuah kalung," papar Anyelir.
"Tidak apa. Ini pun untuk amal."
Krisan terus menaikan harga hingga tak ada lagi yang menawar. Kalung tersebut jatuh ke tangan Krisan.
"Kalung itu menjadi milikmu," bisik Krisan pada Anyelir.
Bukan ucapan terima kasih yang diucapkan Anyelir. "Kalau bukan untukku, memang untuk siapa lagi!" dengusnya. Dia masih mengingat tentang Miranda, hal itu membuatnya kesal.
Krisan hanya menghela napas. "Tentu untukmu," lirihnya. Mencoba membuat sang istri terharu. Namun, kenyataan tak seperti yang diharapkan.
Acara telah usai, tepat pukul 12 malam. Anyelir dan Krisan bersiap untuk pulang. Mereka melihat Vinnie sendiri.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Anyelir.
"Sendiri. Saya akan naik taxi," jawab Vinnie.
"Aku panggilkan orang untuk menjemputmu," usul Krisan.
"Terlalu lama, lebih baik kita antar saja. Mobil pun masih muat," sambung Anyelir.
Vinnie hanya mematuhi bos-nya. Dia masih tahu diri untuk duduk di bangku penumpang depan. Tidak mungkin dirinya duduk di belakang bersama bosnya.
Mobil bergerak, menuju alamat rumah Vinnie. Tiba-tiba Vinnie berteriak. "Awas!"
Citt ....! Brak!
"Anyelir!" seru Krisan. Dia melindungi tubuh Anyelir dengan tubuhnya. Serpihan kaca bertebaran.
Mobil berhenti setelah menabrak pembatas jalan. Sang sopir tak bisa mengendalikan kemudinya. Meskipun dia sudah berusaha untuk tak menabrak.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Krisan khawatir. Dia memeriksa tubuh sang istri.
"Aku baik-baik saja," dia menatap sang suami. "Kepalamu ... kepalamu berdarah!" panik Anyelir.
__ADS_1
Krisan langsung meraih kepala Anyelir, memeriksa keadaan sang istri. "Benar tidak ada yang terluka?"
"Aku tidak apa. Kepalamu yang berdarah!" seru Anyelir semakin panik.