Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 45 Keseimbangan Bumi


__ADS_3

Renan menatap tak suka pada Miranda. Jelas sekali saat itu, Miranda memaki tanpa berpikir. “Kita masih ada urusan,” ujarnya pada Anyelir.


Anyelir melirik Miranda. “Katakanlah, aku masih ada urusan.”


“Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu,” ujar Miranda. Dia melirik sekilas pada tas yang digunakan Anyelir. Dia tahu, itu tas keluaran terbaru dan tak semua orang berkesempatan mendapatkannya.


“Bagaimana jika kita ke restoran sekalian makan siang. Kalian bisa berbincang di private room,” usul Aryo.


Miranda hanya mengangguk. Melihat anggukan sang model, membuat Anyelir tak tega pada Miranda. Bagaimanapun, wanita itu masih memiliki niat baik.


Mereka berjalan keluar, Aryo berjalan dibelakang, dia menghampiri Vinnie. “Ikut kami.”


“Aku?” tanya Vinnie memastikan.


“Tentu. Kau harus menemani nona-mu bukan?”


Vinnie hanya mengangguk dan mengikuti para petinggi. Mereka tiba disebuah restoran yang berada di lantai dasar Mall. Miranda menggunakan kaca mata hitam dan juga masker untuk menutupi wajahnya.


“Kau tidak terlalu terkenal. Tidak usah bersikap layaknya superstar,” bisik Renan.


Miranda hanya memicingkan mata dibalik kaca mata hitamnya. Geram dengan lelaki menyebalkan itu.


“Kalian masuklah, kami akan berada di room sebelah,” ujar Aryo.


Anyelir dan Miranda masuk ke ruangan yang ditunjuk Aryo. Renan ikut berjalan di belakang Anyelir.


“Sedang apa kau?” tanya Aryo yang ikut melangkahkan kaki menghentikan Renan.


“Aku akan ikut bersamanya,” ujar Renan.


“Aku hanya ingin bicara empat mata dengannya,” sambung Miranda.


“Siapa yang bisa menjamin kau tidak berbuat buruk padanya?” tanya Renan pada Miranda.


“Kami hanya akan berbincang,” tukas Miranda.


“Tidak ada yang bisa memastikan, mengingat makianmu tempo lalu,” ucap Renan sinis.


“Aku bisa sendiri, kau pergilah dengan Aryo,” ujar Anyelir pada Renan.


“Denganku atau tidak sama sekali!” ancam Renan.


Anyelir hanya menghembuskan napasnya pelan. Renan adalah orang yang berjasa padanya. “Biarkan sepupuku ikut masuk,” ucapnya.


“Sepupu?” tanya Miranda memastikan pendengarannya.


“Ya,” jawab Anyelir.


Mereka masuk ke dalam private room. Meskipun sedikit malu karena telah memaki Renan. Namun, Miranda tak ingin menampakan pada Renan si pria angkuh.

__ADS_1


Aryo dan Vinnie masuk ke room sebelah. “Kau tak seperti dirimu,” ujar Vinnie seraya duduk di sebuah kursi.


“Ada apa denganku?” tanya Aryo bingung.


“Kenapa kau tidak khawatir pada Miranda? Sudah jelas dia yang menggiring gossip itu!” keluh Vinnie.


Aryo hanya terkekeh. “Dia tidak berbahaya. Hanya seorang artis yang menyukai Krisan. Tak akan berbuat lebih!”


“Tuan!” potong Vinnie membenarkan ucapan Aryo yang menyebut Krisan hanya dengan nama. “Hanya karena tidak ada orangnya kau menyebutnya hanya dengan nama.”


“Hei! Aku dan Kris adalah sahabat. Aku bebas memanggilnya apa. Apa kau tak menyadari saat kita berkunjung ke rumahmu!” tandas Aryo.


Vinnie hanya mengangguk pelan. Ya, dia bisa melihat keakraban Krisan dan Aryo. “Tapi, kau tampak profesional dalam bekerja.”


“Itu karena kami bos dan atasan. Aku hanya tak ingin dilihat karyawan lain seolah tak menghargai atasanku. Meskipun, Kris tak pernah mempermasalahkan panggilanku padanya,” papar Aryo. “Ayo pesan makan.”


Mereka memesan makan untuk dua porsi. “Apa aku harus memesan makan untuk room sebelah?” tanya Vinnie.


“Tak perlu, mereka bisa melakukan sendiri,” jelas Aryo.


“Kenapa kau sangat santai? Sudah sangat jelas Miranda tak ada niat baik,” keluh Vinnie.


“Sudah kukatakan dia tak berbahaya. Dia hanya ingin meminta maaf secara langsung,” ujar Aryo.


Tentu dia tahu niat Miranda, sudah merupakan ancaman Krisan agar Miranda meminta maaf pada Anyelir. Hanya dengan ancaman tersebut, Aryo yakin, Miranda tak akan berbuat bodoh.


Mereka mengobrol bersama dengan santai. Aryo sangat pandai membuat suasana menyenangkan. Mereka mengobrol tentang apapun, tampak harmonis di mata orang yang melihatnya. Namun, tidak di room sebelah. Miranda dengan gugup meminta maaf. Hanya sebuah kata maaf, tetapi membuat dirinya seperti dipermalukan.


Renan masih menatap sinis pada Miranda. Dia sudah tahu cerita Miranda dari Anyelir yang membuat Krisan dan Anyelir mengadakan konferensi pers.


“Tidak bisakah hanya berbicara berdua?” pinta Miranda.


“Anggap saja aku tidak ada!” timpal Renan.


Miranda membuang napasnya kasar, dia melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. “Baiklah, kedatanganku hari ini adalah untuk meminta maaf padamu. Aku tidak bermaksud menggiring opini. Yang menyebarkan photoku digendong Krisan juga bukan diriku. Setelah itu, fans lah yang berasumsi.”


“Tapi kau tak menjelaskan pada publik dan membuat semua orang berpikir bahwa kau menjalin hubungan dengan suami sepupuku ini. Satu hal lagi, kau membuat sepupuku tampak buruk karena dicap sebagai selingkuhan, padahal dialah istri sahnya,” potong Renan.


Miranda hanya melirik sekilas pada Renan. Dia malas berdebat dengan pria yang menurutnya banyak bicara dan menyebalkan.


Anyelir menyentuh lengan Renan, mengisyaratkan agar sepupunya tak berkomentar. “Ini tidak sepenuhnya salahmu. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah padaku.”


“Dia tak merasa bersalah, dia hanya ingin mengamankan dirinya sendiri. Publik juga bisa melihat, siapa yang sedang berpura-pura!” cerocos Renan.


“Bisakah kau diam? Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang laki-laki. Lebih baik kau menggunakan rok saja! Kau lebih cocok menjadi seorang wanita!” Tumpah amarah Miranda. Dia sudah tak bisa mengontrol kesabarannya lagi. Baginya, Renan sangat menjengkelkan.


“Apa kau bilang? Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri. Hilang satu wanita sepertimu di bumi ini tidak akan menghilangkan keseimbangan bumi. Dunia akan lebih damai tanpa ada dirimu! Kau hanya mengotori bumi!” cibir Renan tak mau mengalah.


Miranda melebarkan matanya mendengar hinaan Renan. “Ada juga dirimu! Kau banyak bicara, tak tampak seperti pria sejati! Seorang pria yang membenci seorang wanita seolah dirimu tak lahir dari seorang wanita! Seharusnya kau memeriksakan dirimu. Aku rasa kau memiliki masalah di jiwamu!” sungutnya.

__ADS_1


Renan terdiam, dirinya memang memiliki masalah. Apakah dia harus memberitahu orang lain? Sedangkan dirinya ingin kembali menjadi pria normal.


“Apakah kalian masih ingin bertengkar?” Anyelir mencoba menengahi. Dia tahu sepupunya sedang merasa tak baik. “Lebih baik kita makan siang. Aku rasa, room sebelah sudah menyelesaikan makan siang mereka.”


Renan tak mengeluarkan suara lagi. Anyelir memesan makanan untuk mereka bertiga. Hanya Anyelir dan Miranda yang sesekali berbincang.


“Kemana kau selama ini? Aku tahu Kris sudah menikah. Namun, semua orang mengira itu hanya rumor karena tak pernah ada seorang istri di sampingnya,” ujar Miranda menatap Anyelir. Ya, karena hal itu membuat dirinya salah paham dan mengira hal itu hanya rumor yang dibuat Krisan agar tidak ada wanita yang mendekatinya.


“Kami hanya tak ingin mengumbar hubungan kami,” jawab Anyelir singkat. Tak mungkin dirinya mengatakan yang sesungguhnya terjadi.


Miranda hanya mengangguk dan meneruskan makannya. Dia tak akan bertanya tentang rumah tangga Krisan Anyelir. Jelas dari jawaban singkat Anyelir bahwa wanita itu tak ingin berkata banyak tentang rumah tangganya.


“Kau tidak terlalu buruk,” ujar Miranda. Setelah berbincang dengan Anyelir, dia bisa menilai Anyelir bukan wanita bin*l. Meskipun, dari penampilan Anyelir yang sangat menggoda pria.


“Apa itu pujian?” tanya Anyelir seraya tersenyum.


“Tidak buruk, bukan berarti sangat baik,” timpal Miranda.


“Ya, kau juga tak terlalu buruk,” imbuh Anyelir.


“Aku masih ada urusan. Apa kau masih mau di sini?” tanya Renan menatap Anyelir.


“Tidak. Aku harus kembali ke kantor,” jawab Anyelir.


“Aku tak bisa mengantarmu.” Renan masih ada yang harus dikerjakan. Mereka datang dengan dua mobil, mobilnya dan Aryo.


“Tidak apa. Aku bisa menumpang pada Aryo,” timpal Anyelir. Dia menoleh pada Miranda. “Bagaimana denganmu?”


“Kau tenang saja, aku bisa mengatasi diriku,” ujar Miranda.


Renan berdiri siap meninggalkan private room. Aryo sudah melakukan pembayaran. Dia dan Vinnie menunggu orang-orang yang ada di dalam private room sebelah. Setelah keluar, Renan langsung pergi.


“Apa kami boleh menumpang?” tanya Anyelir pada Aryo.


“Tentu,” jawab Aryo.


“Apa kau yakin di sini sendiri?” tanya Anyelir pada Miranda.


“Pergilah, asistenku akan tiba sebentar lagi,” ucap Miranda.


Anyelir, Vinnie dan Aryo pergi meninggalkan Miranda. Sedangkan sang artis terus menghubungi Cindy yang tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya.


“Kemana kau?” lirih Miranda.


Melihat daya di ponsel yang menunjukan daya rendah. Kemungkinan, ponselnya akan mati sebentar lagi. Dia membenarkan kaca mata hitamnya, memutuskan untuk pergi menggunakan taxi. Miranda menunggu taxi di lobby. Namun, dirinya dihampiri seorang wanita paruh baya.


“Apa kau Miranda?” tanya sang wanita paruh baya.


“Bukan,” jawab Miranda singkat.

__ADS_1


Tiba-tiba sang wanita paruh baya menarik kaca mata hitam Miranda. “Kau Miranda!” serunya.


Sontak mereka menjadi pusat perhatian. Seketika Miranda dikerubungi oleh banyak orang. Ditengah keramaian, tangan Miranda ditarik seseorang. Dia hanya melihat tangan halus yang sedang menarik pergelangan tangannya, dengan cepat memasukannya ke dalam mobil. “Kau ...."


__ADS_2