Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 64 Ice Cream


__ADS_3

"Kenapa diam saja?" tanya Miranda yang melihat perubahan sifat Renan. Wajah pria itu tampak mengeras. Tampak tidak nyaman.


"Oh, tidak apa," ucap Renan fokus dalam berkendara. "Apa kau mau aku antar pulang?"


"Tidak!" tegas Miranda. "Aku lapar. Maukah menemaniku makan?"


"Aku ...."


"Aku sangat lapar," ujar Miranda. Dia tahu Renan akan menolak ajakannya.


Renan menghembuskan napasnya. "Mau makan apa?"


"Tempat yang tidak banyak orang mengenalku," jawab Miranda.


Renan tak menjawab lagi, dia langsung mempercepat laju kendaraannya. Sudah hampir satu jam mereka belum tiba di restoran. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pantai. "Kita makan di restoran dekat sini saja."


"Baik."


Renan memesan restoran dengan pemandangan langsung pantai. Mereka duduk di sofa besar dengan payung pantai yang besar sebagai atapnya. Memesan beberapa jenis makanan laut dan beberapa minuman.


“Kenapa mengajakku ke sini?” tanya Miranda.


“Hanya menduga kau suka tempat terbuka,” jawab Renan.


Miranda hanya mengangguk. “Tapi aku tidak ingin tanganku kotor,” ujarnya melihat ikan dan udang bakar di depannya.


“Kau bisa menggunakan sendok,” timpal Renan.


“Bagaimana caranya membuka kulit udangnya?” tanya Miranda menaikan alis sebelah. “Kecuali … ada yang mau membantuku membukanya,” lanjutnya.


Renan tak membalas ucapan Miranda. Namun, dia tetap mengupas kulit udang dan meletakan di atas piring Miranda.


Miranda hanya tersenyum dan menikmati makanannya. Mereka makan dengan diam. Sesekali Miranda mengajak bicara. Namun, Renan hanya akan menjawab dengan singkat. Pikirannya masih teringat pertemuannya dengan Qiaz.


Miranda merasa ada yang berbeda dengan Renan. “Pria yang tadi itu, teman apa?” tanyanya.


Renan mengangkat kepalanya. “Apa?”


“Yang tadi bertemu di club? Qiaz?”


“Oh. Temanku di Singapura.”


“Tampaknya, kalian cukup saling mengenal.”


“Ya, hanya saling kenal,” timpal Renan tanpa ingin berbicara lebih lanjut.


Miranda meletakan sendoknya di atas piring. Dia mengambil jus jeruk dan meminumnya. “Aku sudah selesai.”


“Kau hanya makan sedikit. Apa masih diet?”

__ADS_1


“Bukan diet. Tapi memang sedang menjaga makan.”


Renan hanya mengangguk. Dia pun tak ingin makan banyak. “Kalau begitu, aku antar kau pulang.” Dia bangkit dan mencuci tangannya. Tidak lupa menggunakan hand sanitizer setelahnya.


“Aku mau makan ice cream,” ujar Miranda saat Renan kembali dari mencuci tangan.


“Makan ice cream?” tanya Renan memastikan.


“Iya. Kenapa? Bukankah sangat cocok makan ice cream di pantai?”


“Tapi ini malam!”


“Lalu? Apa ada aturan kapan harus makan ice cream?”


Renan menaikan sudut bibirnya ke atas. Miranda bertingkah menyebalkan kembali. “Bukankah kau bilang jaga makan?”


“Ya benar, dan ice cream terbukti dapat menenangkan pikiran! Bukankah lebih baik daripada mengkonsumsi alkohol?”


Renan tak bicara lagi, dia hanya memesan ice cream untuk Miranda. “Pesan satu cup ice cream,” ujarnya pada sang pelayan restoran.


“Aku mau yang cone!” timpal Miranda.


“Cone satu,” ucap Renan.


Tidak perlu menunggu lama, ice cream pun datang. Miranda langsung menerima ice cream tersebut. “Kau tidak pesan?”


Miranda menjilat ice cream. Dia menyodorkan pada Renan yang duduk di sampingnya. “Cobalah, ini sangat enak.”


“Tidak, terima kasih,” tolak Renan. Dia menarik kepalanya agar tak terkena sodoran ice cream.


“Cobalah sedikit saja. Ini sangat enak.” Miranda semakin menyodorkan ice cream-nya pada Renan.


“Tidak. Terlalu banyak kalori!” timpal Renan.


“Sedikit saja tak akan membuatmu gemuk!”


“Tidak mau!” tolak Renan lagi.


Miranda menghadap Renan. “Lihat ini, ini sangat enak.” Miranda menjilat ice cream tepat di depan wajah Renan. “Rasanya sungguh berbeda.”


“Mana ada, semua ice cream sama saja!” timpal Renan.


“Coba dulu yang ini.” Miranda menyodorkan tepat di mulut Renan.


Renan mengalah, dia mulai menjulurkan lidahnya untuk mencicipi. Namun, Miranda menarik ice cream tersebut dan dia sendiri yang menjilatnya.


Renan hanya melirik pada Miranda yang mempermainkannya. Sang gadis hanya tersenyum lebar. “Ini, cobalah.” Dia menyodorkan kembali ice cream-nya.


“Jangan harap aku mencobanya!” ujar Renan.

__ADS_1


“Cobalah.” Tangan Miranda masih tepat berada di depan wajah Renan.


“Tidak mau!”


“Kali ini aku serius,” ucap Miranda menyipitkan mata. Memberikan tatapan memohon.


Renan hanya menghembuskan napasnya pelan. Dia mulai mendekatkan wajahnya pada ice cream. Menjulurkan lidahnya untuk mencicipi. Namun, Miranda ikut memajukan wajahnya. Dia pun menjilat ice cream itu.


Dua orang dewasa dengan jarak yang dekat dan hanya terhalang oleh ice cream yang menempel. Mereka saling tatap. Miranda seolah masuk ke dalam netra Renan. Dia seperti mulai mengerti keadaan. Dirinya berada dilingkungan artis. Begitu banyak orang yang ditemui. Namun, dia ingin menyangkal apa yang ada dipikirannya.


Bertemu dengan Qiaz menguatkan dugaannya tentang Renan. Namun, dia berusaha menyangkal. Entah mengapa dia tak ingin menjauh dari pria di depannya. Entah mengapa hatinya bergetar cepat jika berdekatan dengan pria di depannya.


Renan menarik kepalanya, sisa ice cream menempel di hidungnya. “Wajahku menjadi kotor!” keluhnya. Dia mulai mencari tisu.


Miranda menggeser tisu agar Renan tak mengambilnya. “Biar aku yang bersihkan.”


“Tidak, aku bisa sendiri,” tolak Renan. Dia mengambil tisu dan membersihkan hidungnya. Dia menoleh pada Miranda. “Bersihkan wajahmu.”


Miranda hanya menjulurkan lidah dan menjilat bibir atasnya yang terkena ice cream. “Bukan sebelah situ, sebelah kiri juga ada,” tambah Renan.


Miranda tak berniat menggunakan tisu, dia hanya mengulum bibirnya untuk membersihkan sisa ice cream. Renan gemas karena sisa ice cream yang masih tersisa di mulut gadis itu. Dia mengambil tisu dan mengelap mulut Miranda.


Namun, Miranda menjilat ice cream lagi dan sengaja memakan tanpa mempedulikan cara makannya yang berantakan.


“Makannya yang benar!” ketus Renan.


“Ada dirimu yang membersihkan.”


“Kau pikir aku pelayanmu?”


Miranda menggeleng. “Bukan. Tapi kekasihku,” jawabnya singkat. Dia memajukan wajahnya lagi. “Bersihkan lagi,” pintanya.


Renan hanya mengedipkan matanya sekali. “Kau tidak lupa bukan status pacaran kita yang hanya berpura-pura,” ucapnya mengingatkan mereka hanya berpura-pura menjadi kekasih.


“Tidak setelah apa yang kita lakukan di mobil.” Tentu tidak akan terlupakan ciuman panas mereka di dalam mobil. Terlebih, Miranda sudah mengatakan dirinya menyukai Renan.


“Itu ….”


Clup! Miranda menyodorkan kembali ice cream ke mulut Renan hingga sang pria tak melanjutkan kembali kata-katanya. “Coba lagi, ini enak bukan.”


Menyebalkan! Sikap seenaknya Miranda muncul lagi. Tetapi, Renan tak bisa marah seperti sebelumnya. Dia senang melihat wajah wanita itu.


“Miranda ….”


“Ayo makan lagi. Jangan biarkan aku menghabiskan ice cream ini sendiri!” timpal Miranda.


Lagi-lagi, Miranda memotong ucapan Renan. Tak ingin mendengar ocehan Renan tentang hubungan mereka. Ya, dia ingin Renan menjadi kekasihnya. Dia ingin menjalin hubungan dengan benar. Meskipun, hatinya getir jika mengingat dugaannya. Namun, dia yakin, Renan pasti bisa mencintainya dengan tulus. Dia yakin, mereka pasti akan bahagia.


Renan hanya terdiam, dia menerima kembali ice cream yang diberikan Miranda. Melihat gadis itu yang selalu memotong ucapannya. Renanpun terdiam dan tak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya mengambil tisu dan membersihkan mulut Miranda.

__ADS_1


__ADS_2