
"Kau seperti tentara Jepang," ejek Anyelir saat melihat kepala Krisan di balut kain kasa.
Mereka sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan mobil yang baru saja mereka alami. Krisan bersikeras agar Anyelir dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Setelah memastikan istrinya baik-baik saja. Dirinya baru bersedia diobati.
"Kenapa? Tidak tampan kah?" tanya Krisan.
"Tidak ada yang bilang dirimu tak tampan. Hanya lucu saja melihatmu seperti ini," kekeh Anyelir.
Anyelir mendekati sang suami menelisik wajah Krisan. Dia memeluk suaminya. "Kenapa kau melindungi ku?"
Tak menyangka, suaminya melindungi dirinya dengan tubuhnya sendiri. Hal itu membuktikan bahwa Krisan benar-benar mencintainya.
"Kalau bukan kau. Lalu, siapa yang sepatutnya ku lindungi?" tanya Krisan seraya mengusap lembut rambut kekasihnya.
Anyelir mendongak. "Sakit tidak?"
"Hanya luka kecil."
Anyelir keluar dari dekapan sang suami. "Kau istirahatlah. Aku ingin melihat keadaan Vinnie dan sopir dulu."
"Ya. Kasih tahu aku kabar mereka."
"Ya."
Anyelir keluar dari ruangan dan menemui sang sopir dan Vinnie. Wajah Vinnie mengalami beberapa besetan dari pecahan kaca. Dahinya pun terluka, dirinya diharuskan dirawat di rumah sakit. Sang sopir pun mengalami luka yang cukup berat. Namun, tidak ada yang kritis di antara mereka berdua.
Anyelir menunggu di dalam kamar perawatan Vinnie. Sedangkan Krisan sendiri di dalam kamar perawatanya. Tidak lama, Aryo masuk ke dalam ruangan Krisan.
“Bos. Apa kau baik-baik saja?” tanya Aryo.
“Apa aku terlihat sekarat?”
Aryo hanya mendecak. “Beruntung sopir mu bisa menghindar. Meskipun, harus mengalami luka kecil.”
“Apa kau sudah mencari tahu? Apakah ini murni kecelakan?”
“Aku sudah menemui sopir mu. Dia bilang, tiba-tiba ada sebuah truck di depan mobil. Sehingga, dia membanting stir. Sopir truck tersebut sudah di bawa ke kantor polisi. Namun, masih dalam penyelidikan.”
“Kalau begitu, selidiki juga. Aku merasa ini sebuah kesengajaan.”
“Baik. Akan dilaksanakan.”
“Kau lihat keadaan Vinnie. Suru istriku ke sini,” titah Krisan. Meskipun baru sebentar ditinggal sang istri. Krisan sudah merindukan Anyelir.
“Baik.”
...****************...
__ADS_1
Krisan tak diharuskan dirawat di rumah sakit. Dia hanya mendapatkan beberapa jahitan di kepala dan luka di pundaknya. Sudah ada sopir lain yang menjemput mereka. Sedangkan Aryo diminta untuk menjaga Vinnie.
Dengan alasan pusing, Krisan menjadikan paha Anyelir sebagai bantal.
Tak menolak, Anyelir hanya mengusap rambut suaminya. Hari yang sudah larut, membuat Anyelir memejamkan mata karena lelah.
Mobil berhenti di tempat tujuan. Tak tega membangunkan Anyelir, Krisan menggendong sang istri bak pengantin baru. Dia membawa Anyelir ke unit apartemennya sendiri.
Dengan perlahan meletakan sang wanita di atas ranjang. Krisan menatap lembut sang istri. Dia tersenyum, hanya dengan menatap bisa membuat hatinya hangat.
Menikah hanya karena cantik. Itu yang sering orang bilang padanya. Cantik, manja dan pemalas. Krisan tak pernah marah. Itu memang kenyataannya. Namun, tak sedikitpun dirinya menyesal mencintai gadis yang terlelap itu.
Perlahan Krisan melepas sepatu high heels milik Anyelir. Ingin mengganti pakaian sang istri namun diurungkan karena takut membangunkannya.
Krisan lebih memilih membersikan dirinya sendiri. Setelah itu, dia berjalan mendekati ranjang. Tidak ada perubahan dari sang istri, tampak begitu lelap.
Dia naik ke atas ranjang. Membenarkan posisi kepala sang gadis secara perlahan agar lebih nyaman. Memperlakukan Anyelir bagaikan sebuah guci yang rapuh.
Klik!
Dia mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur yang redup. Suasana temaram mengisi ruangan tersebut. Menoleh kembali ke arah sang istri.
Mencium kening Anyelir dan berbisik, "Kesayangan aku."
Mata Anyelir bergerak tetapi tak terbuka. Krisan masih belum mengantuk, menatap Anyelir yang tertidur menjadi hiburannya. Sudah sangat lama mereka tak seranjang.
Kedua pipi telah habis bergantian diciumnya. Kini, tatapan Krisan tertuju pada bibir ranum sang istri. Ditempelkan bibirnya ke bibir sang istri.
Semakin gemas, berulang kali Krisan mencium wajah Anyelir. Hingga akhirnya ... Anyelir merasa terganggu.
Dia mulai mengerjapkan mata dan perlahan membuka matanya, bertepatan dengan Krisan yang hendak menciumnya kembali. "Apa yang kau lakukan?"
"Sudah bangun?" tanya Krisan.
Anyelir masih belum sadar sepenuhnya. Dia menoleh, menatap sekeliling. "Di mana kita?"
"Apartemen," jawab Krisan. Cup! Dia mencium bibir Anyelir sekilas.
"Apartemenmu?" tanya Anyelir memastikan. Tatapan matanya sayu.
"Ya."
"Kenapa ke sini?"
"Aku tidak tahu sandi apartemenmu."
"Aku mau pulang," pinta Anyelir hendak bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Di sini saja. Ini juga rumahmu."
Krisan menahan Anyelir hingga sang gadis tak bisa bangkit dari tidurnya. Krisan menindih istrinya. Mereka bersitatap. Hening, hanya ada saling tatap. Krisan tak melepas tatapannya pada sang gadis. Menatap semakin dalam.
"Jam berapa sekarang?" tanya Anyelir memecah keheningan. Dia sedikit gugup.
"Jam dua," jawab Krisan tanpa melepas pandangannya pada Anyelir.
"Aku harus kem—"
"Tidurlah di sini," ujar Krisan memotong ucapan Anyelir. "Kesayangan aku," tambahnya.
Anyelir hanya membuka mulutnya tanpa suara. Kata 'Kesayangan aku' kata yang dulu sering dia ucapkan pada sang suami. Ternyata masih diingat oleh Krisan.
"Kau akan selalu menjadi kesayangan aku," bisik Krisna lalu mencium Anyelir.
Anyelir hanya melebarkan matanya. Dia mulai membalas ciuman sang suami. Krisan meneruskan aksinya karena tidak ada penolakan dari Anyelir.
Ciuman tersebut berlangsung lama, hingga akhirnya secara perlahan turun ke arah leher. Memberikan tanda kemerahan di leher jenjang sang istri.
Tangan Krisan tak tinggal diam, tangan tersebut bergerilya pada tubuh Anyelir yang masih lengkap menggunakan gaun.
Bahu yang terluka tak mempengaruhi aktivitas tangannya, seakan tak pernah terluka di sana. Dia bahkan masih mampu menopang tubuhnya sendiri. Krisan membuka piyamanya sendiri.
Anyelir tanpa sadar membantu sang suami membuka piyamanya. Anyelir menyentuh punggung kokoh Krisan.
Bibir Krisan selalu menempel pada tubuh sang istri. Ciuman terus berlanjut hingga ke tulang selangka Anyelir. Tak pernah puas, selalu memberikan tanda strawberry di tubuh sang istri.
Tangan Krisan menarik gaun yang digunakan Anyelir. Bibirnya terus turun ke bawah. Melepas kerinduan selama ini. Tiga tahun lebih dirinya menahan rindu. Kini, dia akan melepaskan kerinduan itu.
Tubuh wanita berbeda dengan tubuh pria. Begitu lembut dan kenyal. Namun, Krisan merasakan sedikit perbedaan di tubuh sang istri. Meskipun selama tiga tahun tak menjamah sang istri. Namun, dia sangat mengenal tubuh istrinya.
Merasakan sedikit guratan pada salah satu kelinci kembar sang istri. Krisan menarik kepalanya.
Klik! Lampu tidur dinyalakan kembali oleh Krisan. Suasana temaram menjadi terang benderang. Tatapan Krisan tertuju pada bagian kenyal tubuh istrinya.
Bibir Krisan bergetar melihat bekas luka di dada sang istri. Tatapannya menjadi sendu dan sedih.
Perlahan Anyelir mengerjapkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya, dari terangnya cahaya yang menusuk mata.
Napas Anyelir tersengal, ingin tahu penyebab suaminya menghentikan gerakannya. Anyelir mengikuti arah pandang Krisan.
Seketika dia menyadari sesuatu. Dia menarik bantal di samping untuk menutup tubuhnya. Namun, tangannya dihentikan oleh Krisan.
Krisan menatap sang istri. Dia tahu Anyelir sempat koma. Namun, dia tak ada saat sang istri menderita. Matanya mulai berembun, air mata mulai menetes dari mata Krisan.
Sekarang Krisan tahu mengapa Anyelir membencinya hingga menginginkan perceraian. Melihat bekas luka tersebut, entah sedalam apa rasa sakit yang dialami Anyelir.
__ADS_1
"Maafkan aku, maafkan aku," lirih Krisan. Dia merasa gagal menjadi seorang suami karena telah membuat Anyelir menderita.