Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 53 Sate


__ADS_3

“Apa sudah mendapat obatnya?” tanya Vinnie dengan mata terpejam.


Aryo tersadar akan lamunannya. “Belum aku temukan.”


“Coba cari di rak dinding di atas meja,” ucap Vinnie.


Aryo langsung meletakan kembali kotak kaca dan beralih ke rak dinding yang ada di atas meja belajar. Hanya ada satu rak dinding yang terpasang. Obat demam tergeletak di sana. Aryo mengambilnya dan menghampiri Vinnie.


“Minum obat dulu.” Aryo membuka bungkus tablet dan menyodorkan pada sang gadis, tak lupa memberikan segelas air.


Dengan singkat Vinnie menenggak obat tersebut. Dia memejamkan matanya kembali setelah menenggak obat. “Pulanglah, aku baik-baik saja.”


“Kau tidurlah. Aku akan pulang setelah kau tidur.”


Vinnie terlalu lemah untuk mengusir Aryo, dia memilih untuk memejamkan matanya. Reaksi obat sangat cepat. Tak lama, Vinnie sudah terlelap.


Aryo mengambil handuk kecil yang menempel pada dahi Vinnie. Merendamnya ke dalam air dan memerasnya. Lalu, kembali mengompres gadis yang sedang terbaring lemah. Menatap wajah pucat tersebut, pikirannya tertuju pada kulit apel yang pernah ia buat. Menatap Vinnie terlalu lama membuatnya terkantuk. Hingga … menjatuhkan kepalanya di sisi ranjang Vinnie.


...****************...


“Kenapa datang ke sini?” tanya Anyelir. Dia melihat sang suami menunggunya, dirinya baru selesai rapat. Entah sudah berapa lama sang suami menunggunya.


“Kenapa kau ada di sini?” jawab Krisan dengan balik tanya.


Anyelir hanya memajukan bibirnya. “Kau tidak datang ke acara jamuan?”


“Kau sendiri kenapa tidak datang?”


“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! Tinggal jawab yang benar saja!” timpal Anyelir kesal.


Krisan hanya tersenyum, dia menarik pinggang sang istri. “Apa perlu ditanyakan mengapa aku di sini?”


“Jangan bilang karena merindukanku!” dengus Anyelir.


“Tidak, tapi aku sudah ketergantungan padamu.”


“Jangan bicara omong kosong! Ayo kita pulang!” ujar Anyelir mendorong Krisan, dia berjalan mendahului suaminya. “Kau bahkan bisa hidup baik-baik saja saat kita berpisah,” lirihnya.


Krisan hanya menghembuskan napas pelan. Wanita memang sulit melupakan meskipun kata memaafkan sudah keluar dari mulutnya. Namun, sampai kapanpun kesalahan yang ia perbuat tak akan bisa dilupakan sang istri.


Dia hanya berjalan cepat mengimbangi langkah sang istri. Meraih pinggangnya dengan erat, menyiratkan bahwa dirinya tak ingin kehilangan Anyelir lagi. Krisan dengan sigap membukakan pintu untuk Anyelir.


“Apa kau sudah makan?” tanya Krisan.


“Hanya minum susu.”


“Bagaimana jika makan dulu. Aku pun belum makan.”

__ADS_1


Anyelir menoleh pada sang suami. “Kau belum makan?” Krisan hanya mengangguk sebagai jawaban. “Kenapa tidak makan? Seharusnya makan dulu, kau ‘kan ada magh!” dengus Anyelir.


“Ini mau makan. Kita mampir dulu ya.”


“Beli makanan dipinggir jalan saja, agar cepat.”


“Oke.”


Krisan mengemudikan mobilnya, matanya mengedar mencari penjual di malam hari. “Ada tukang sate. Apa kau mau?”


“Boleh,” jawab Anyelir singkat.


Mereka turun dari mobil. Tukang sate yang menyewa garasi rumah seorang warga. Ada beberapa mobil yang berhenti, begitu pula dengan kendaraan bermotor. Hanya ada beberapa bangku bundar sebagai tempat para pengunjung menikmati sate. Krisan memesan dua porsi sate.


Anyelir mengedarkan matanya. Penjual sate tak menyediakan banyak kursi. Pelanggan yang datang banyak, yang makan di tempat juga lumayan banyak. “Kita duduk di mana?” bisiknya pada sang suami.


“Di mobil saja,” jawab Krisan.


Mereka kembali ke dalam mobil, Anyelir pun melihat beberapa pengunjung menikmati sate mereka di dalam mobil. Bahkan, sepasang remaja menikmati hidangan tersebut di atas kap mobil.


“Suasana malam masih sangat ramai,” gumam Anyelir.


“Tukang sate di sini memang terkenal. Dia tak ingin berpindah tempat atau memperluas lahan. Pengunjung disuru untuk mencari tempat duduk sendiri,” jelas Krisan sedikit terkekeh.


“Seharusnya kita bawa pulang saja. Mobil akan bau sate.”


Anyelir hanya mengangguk, dia tak masalah makan di pinggir jalan. Dia memasukan satu tusuk sate ke mulutnya, mengunyahnya dengan semangat. Namun, lambat laun, melambatkan ritme mengunyah makanannya. “Rasa sate ini ….”


“Ya, sate yang selalu aku beli untukmu,” ucap Krisan.


“Jadi, kau beli di sini?” tanya Anyelir menatap Krisan.


“Ya.”


Pluk! Anyelir menepuk pundak sang suami. “Kau ini! Sering membelikan aku sate tapi tidak pernah mengajakku langsung ke sini!” keluhnya.


Krisan hanya terkekeh. “Bukanya malam, aku bisa beli saat pulang kerja saja. Lagi pula, apa kau tak lihat, begitu banyak pemuda di sini. Aku tak mau kau jadi santapan mata pria lain. Apalagi kau masih sangat belia. Orang akan menganggap aku hanya sekedar kakakmu atau mungkin ojekmu!” dengusnya.


“Apa sekarang aku sudah tidak menjadi pusat perhatian?” tanya Anyelir menaikan sebelah alisnya.


“Masih, tapi sekarang sudah tampak lebih dewasa. Semua orang yang melihat kita, tak akan berpikir kita adik kakak!”


Anyelir hanya tersimpul senyum, dia menikmati kembali sate di tangannya. Seketika dirinya tertawa.


“Ada apa?” tanya Krisan.


“Tidak apa.”

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Krisan tak menyerah.


“Aku hanya teringat masa lalu.”


“Apa?”


“Saat kau sering pulang malam membeli sate. Pada saat itu, aku mencium aroma parfum dari tubuhmu ….” Anyelir tak melanjutkan kembali ceritanya.


Krisan hanya tertawa, dia mengingat masa itu. “Jujur, aku bahagia saat itu. Kau cemburu buta hingga menuduhku selingkuh. Padahal parfum yang aku gunakan adalah parfummu sendiri,” kekeh Krisan.


Anyelir hanya tersenyum malu mengingat masa lalu. Dirinya pernah curiga pada sang suami yang pulang lambat saat bekerja. Dia menuduh Krisan memiliki selingkuhan. Pada kenyataannya, Krisan mencari tambahan pekerjaan untuk memberinya kejutan ulang tahun. Begitu besar cinta Kirsan untuknya. Hal itu yang membuatnya penasaran kenapa suaminya sampai tega menceraikannya.


Krisan menatap sang istri dari samping. “Kau terharu bukan saat itu?”


Anyelir mengangguk. “Ya, aku sangat terharu meskipun kau bau asap kendaraan!” timpal Anyelir.


Krisan menaruh dua tusuk sate ke piring Anyelir. “Makan yang banyak, kau suka sate bukan?”


“Kau ingin membuatku gendut?” tanya Anyelir memicingkan mata.


“Bukan gendut. Lebih bersisi lebih empuk,” sahut Krisan terkekeh.


Anyelir hanya tertawa ringan. Mereka menghabiskan makan malam mereka. “Ayo kita pulang,” ajak Anyelir sesaat menghabiskan sate.


“Ayo.”


“Sesekali kita naik motor.”


“Boleh. Kita bisa melewati pemakamam di malam hari!”


“Ish! Tidak mau, nanti mendengar suara horor lagi!”


“Tapi jadi punya cerita.”


“Cerita kita sudah banyak, tidak usah tambah cerita lagi.”


“Bilang saja kau takut!” cibir Krisan.


“Aku takut? Siapa yang dulu berteriak, ‘Jangan ganggu aku! Jangan ganggu aku!’” ejek Anyelir.


“Itu karena masih muda, masih labil!”


“Usiamu saat itu 25 tahun, tidak bisa dikatakan muda lagi! Lagi pula, kau aneh, meragukan aku manusia atau bukan.”


“Habis, pertama bertemu kau pakai gaun putih, rambut panjang hitam lagi! Siapa yang tak berpikir kau itu hantu!”


“Itu hanya alibimu untuk menutupi ketakutanmu!” ejek Anyelir.

__ADS_1


Mereka bercanda sepanjang perjalanan. Membahas tentang masa lalu mereka. Manis pahit kehidupan telah mereka lewati.


__ADS_2