Bridge Of Love

Bridge Of Love
BAB 26 Hanya Mencintaimu


__ADS_3

“Mobilku ada di parkiran!” hentak Anyelir. Dia sudah berada di dalam mobil Krisan.


“Tidak akan hilang!” ujar Krisan.


Krisan mengisyaratkan pada sopir-nya untuk menjalankan mobil. Anyelir hanya pasrah dan duduk dengan tenang.


“Kita mau ke mana?” tanya Anyelir.


“Kau mau ke kemana?”


“Pengadilan agama!” ketus Anyelir.


“Mau nikah lagi?”


“Mau cerai!”


“Masih menyangkal!” dengus Krisan.


Anyelir menghembuskan napas pelan. “Aku harus kembali ke kantor!”


“Ini jam makan siang. Kita baru beberapa menit bertemu. Kita makan siang bersama saja.”


Tidak ada yang bicara lagi. Anyelir tahu, pemotretan Krisan dengan Miranda hanyalah untuk kepentingan bisnis. Namun, dia seorang wanita, naluri seorang wanita begitu kuat. Dia sangat yakin, tatapan Miranda pada Krisan memiliki maksud tertentu.


Mereka tiba di sebuah restoran. Krisan kembali menyampirkan jas pada pundak istrinya. Anyelir mencoba membuka jas tersebut. Namun. Krisan menahannya agar Anyelir tidak membuka jas itu.


Dia merasa sudah cukup sabar selama ini. Terlebih lagi di pesta dansa, istrinya sangat menguji kesabarannya dengan menggunakan pakaian dengan punggung terbuka. Memamerkan punggung mulusnya.


Krisan memesan tanpa meminta persetujuan Anyelir. Dia sangat tahu selera istrinya. Sang pelayan restoran mencatat semua pesanan Krisan. Sesaat sang pelayan restoran akan pergi, terdengar suara Anyelir.


“Aku belum pesan, jangan pergi dulu,” ujar Anyelir.


“Silakan, Nona,” ujar sang pelayan restoran.


Krisan menaikan alisnya sebelah, Anyelir menyebutkan beberapa menu. Tidak hanya menu utama, dia memesan menu pembuka dan juga minuman lain. Semua pesanannya berbeda dengan yang Krisan sebutkan.


“Ada lagi, Nona?”


“Cukup, itu saja.”


“Baik. Mohon ditunggu untuk pesanannya.”


“Apa kau sanggup menghabiskan semuanya?” tanya Krisan setelah sang pelayan restoran meninggalkan meja mereka.


“Tentu,” jawab Anyelir pasti.


Krisan tak melepas pandangannya pada sang istri. Hal itu membuat Anyelir tak nyaman. “Kenapa menatapku seperti itu?”


“Ada apa?”

__ADS_1


“Membuatku risih!”


“Kenapa? Sudah lama yah tak dipandang seperti ini?” tanya Krisan, dia menopang dagunya dengan tangannya.


Anyelir hanya mendecih. “Apa perlu aku tunjukan padamu, bagaimana para pria menatapku?”


Krisan mendengus sebal. “Pria lain menatapmu karena lapar. Berbeda denganku yang menatapmu penuh kerinduan.”


“Tapi terlihat sama dengan para pria itu,” timpal Anyelir.


“Benarkah? Aku tidak merasa seperti pria lain, karena cintaku tulus padamu.”


“Apa kau tidak pernah berkaca? Untuk apa punya kaca lebar tidak dipakai!” sindir Anyelir.


“Kututup tirai,” jawab Krisan. Kamar mereka memang terdapat satu dinding kaca di sebelah ranjang. Itu adalah ulahnya agar saat mereka bercinta bisa menatap pantulan diri mereka di cermin. “Tapi akan segera dibuka. Cermin tersebut akan berfungsi seperti sebelumnya,” ujar Krisan penuh senyum.


“Tak tahu malu!”


Obrolan mereka harus terputus saat makanan satu persatu dihidangkan. Mereka mulai memakan makanan yang tersedia di meja. Krisan menatap sang istri yang hanya memakan pesanannya sendiri.


“Kenapa tidak dimakan?”


“Ini lagi makan.”


“Maksudku yang ini,” tunjuk Krisan pada beberapa hidangan lainnya.


“Itu bukan pesananku.”


“Aku tidak memintamu memesannya. Seharusnya kau tanyakan dulu, aku mau atau tidak!”


“Bukankah semua yang kupesan adalah kesukaanmu?”


“Itu dulu, bukan sekarang. Lagi pula, seharusnya kau tanya dulu, aku bersedia atau tidak memakannya.”


Krisan mengigit pelan bibirnya. Mereka pernah berselisih saat makan di restoran. Dulu, Krisan pernah menanyakan makanan apa yang mau dipesan. Namun, Anyelir marah dan menuduh Krisan tak pernah mengetahui kesukaannya, sehingga selalu bertanya apa yang mau dimakan. Sejak saat itu, Krisan berinisiatif langsung memesan kesukaan sang istri.


“Ya sudah, lanjutkan saja makannya.” Krisan tak ingin memperpanjang masalah. Mau bagaimanapun, dirinya yang akan selalu tampak salah.


Dia sudah merasa kenyang, Krisan menghentikan makannya. “Mulai hari ini atau besok?”


“Apa?”


“Pulang ke rumah.”


“Tentu aku akan pulang ke rumahku sendiri.”


“Pulang ke rumah kita.”


“Kita tak punya rumah bersama,” ujar Anyelir dengan menyedot jus jeruknya.

__ADS_1


“Anyelir, aku sedang membahas pernikahan kita.”


“Pernikahan kita telah berakhir. Segera urus surat cerai. Kau bebas melakukan apapun setelah ini,” ujar Anyelir santai.


“Kenapa seperti ini lagi? Kau masih cemburu dengan pemotretan tadi?”


“Tidak. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak ingin kembali bersamamu!” Anyelir bangkit dari duduknya. “Aku sudah selesai. Kau habiskan makananmu!” tunjuk Anyelir pada beberapa hidangan yang belum di makan.


Krisan ikut bangkit, memanggil pelayan restoran dan mengeluarkan beberapa lembar uang. “Makanan itu belum tersentuh, bungkus dan berikan saja pada orang,” ujar Krisan pada sang pelayan restoran seraya menunjuk beberapa hidangan yang memang belum tersentuh. Lalu pergi mengejar Anyelir yang berjalan mendahuluinya. Dia menarik lengan Anyelir.


“Lepas!” hardik Anyelir.


“Jangan berteriak. Jangan bertengkar di tengah jalan!” tegas Krisan yang mulai jengah dengan sang istri. Dia menarik sang istri dan memasukan ke dalam mobil. Meminta sang sopir untuk keluar dari dalam mobil. Mereka duduk di bangku belakang.


Krisan memang sangat menyayangi Anyelir. Namun, terkadang dia begitu tegas. Terlebih, jika itu masalah berpakaian ataupun yang mengusik rumah tangga mereka.


“Biarkan aku pergi!”


“Kau terlihat sangat dewasa. Bisakah kau pun mendewasakan pikiranmu? Jangan berbelit-belit lagi. Hanya karena pemotretan tadi kau mengubah keputusanmu untuk rujuk denganku! Apakah itu masuk akal? Aku yakin, kau pun tahu bahwa aku dan dia tak ada hubungan apapun!”


Anyelir membulatkan matanya. “Jadi, aku yang kekanakan? Aku yang berbelit-belit?”


“Ayolah Anyelir, kau bukan gadis baru lulus sekolah lagi. Usia semakin bertambah. Kita selesaikan masalah kita dengan dewasa.”


“Aku memang kekanakan! Aku tidak bisa masuk dalam pola pikirmu! Aku manja, aku tidak bisa apa-apa. Kita memang berbeda. Mungkin, kau bisa bersama dengan wanita itu. Aku rasa, usia kalian tak jauh beda! Kau akan terbebas oleh wanita sepertiku, wanita yang hanya membebanimu!”


Krisan menarik napasnya. “Anyelir, jangan masukan orang lain dalam hubungan kita. Aku dan dia tak ada hubungan apapun. Kau pun tahu itu. Berhentilah memperbesar masalah kecil. Aku tidak mau kita bertengkar terus karena masalah kecil! Sudah beberapa kali aku bilang, kau bukan merupakan beban. Jadi, jangan mencari-cari masalah."


Enam tahun pernikahan mereka, tidak semulus yang terlihat. Terkadang mereka akan bertengkar masalah kecil meskipun dengan cepat terselesaikan.


“Masalah kecil? Bukankah masuknya wanita lain adalah masalah besar pada hubungan rumah tangga?”


“Tidak ada wanita lain di rumah tangga kita. Aku hanya mencintaimu, kau pun masih sangat mencintaiku. Kau mau aku bagaimana lagi membujukmu?”


“Apa kau pikir, kau sendiri tak pernah memperbesar masalah kecil?”


“Ya, tidak pernah!”


“Benarkah?” Anyelir menatap nanar sang suami. “Apa kau lupa, kau memeluk wanita lain sebelum menceraikanku? Apa itu juga masalah kecil? Karena itu juga kita berpisah selama tiga tahun! Karena itu juga aku koma! Apa itu juga masalah kecil bagimu? Apa itu hal sepele bagimu?” cecar Anyelir dengan mata yang berapi. “Apa aku sungguh tak berarti bagimu? Apa selama ini kau meremehkanku? Masalah perceraian yang kau anggap kecil, merupakan masalah besar bagiku hingga aku memilih untuk mengakhiri hidupku!”


Air mata tak terbendung lagi, bukan masalah Miranda. Dia sangat yakin Krisan tak ada hubungan dengan model itu. Namun, terkadang wanita hanya ingin lebih dimengerti, diperhatikan dan dipercaya.


Ya, selama ini dirinya memang dimanja oleh sang suami. Namun, Krisan menyimpan bebannya sendiri tanpa mau berbagi. Dirinya selalu merasa bodoh karena suaminya tak terbuka dengannya.Termasuk alasan Krisan menceraikannya.


Wajah Krisan pias, tak ingin kehilangan Anyelir lagi. Anyelir mencoba membuka pintu mobil. Namun, ditarik oleh Krisan. Dia berlutut, menggenggam erat tangan Anyelir.


“Maafkan aku. Bukan itu maksudku. Yang kumaksud adalah Miranda, tidak pernah ada wanita lain selain dirimu. Sungguh, hanya kau wanita satu-satunya di hatiku.”


Anyelir menatap dalam wajah sang suami. “Sungguh?”

__ADS_1


“Hanya kau satu-satunya wanita di hatiku.”


“Lalu, kenapa kau menceraikanku? Apa alasan sebenarnya? Jangan bilang padaku bahwa kau bosan padaku. Seperti yang kau bilang, aku pun tahu kau hanya mencintaiku.”


__ADS_2