
Jingga di sore hari, cukup menghangatkan siapa pun yang sedang menikmati senja yang indah. Namun, itu semua tidak bisa menjamin bisa membuat setiap orang merasa hangat. Miranda tak bisa menikmati senja yang indah. Menutup rapat jendela mobil dari senja yang indah.
"Apa aku harus benar-benar minta maaf?" tanya Miranda dengan nada kesal.
"Bukankah kau sudah setuju untuk meminta maaf langsung pada istri tuan Krisan!" dengus Cindy.
Jemarinya menggenggam stir mobil. Bersiap untuk menjalankan mesin tetapi sang bos ragu untuk meminta maaf. Mereka berhenti di tepi jalan yang sepi. Jendela mobil yang gelap dan tak tampak dari luar. Bisa saja menganggap orang yang ada di dalam mobil adalah sepasang kekasih yang sedang menghabiskan moment bersama.
"Setelah dipikir lagi, untuk apa aku melakukan itu! Kenal pun tidak. Mereka saja yang tiba-tiba klarifikasi. Padahal, tidak perlu begitu juga!" keluh Miranda.
Cindy hanya menghela napasnya. "Sebelum kau dihujat dan dipaksa meminta maaf, lebih baik kita duluan yang meminta maaf! Jemari netizen sungguh luar biasa, bisa menemukan potongan-potongan berita yang tersembunyi sekecil apapun. Terlebih ekspresimu itu yang seolah membenarkan bahwa kau menjalin hubungan dengan Krisan!"
Cindy menoleh menatap jalan di depannya. "Setidaknya, jika kau meminta maaf. Kalau ada yang mengungkit masalahmu, kau sudah selangkah di depan. Bahkan kau akan dibilang berjiwa besar," sambung Cindy.
"Sudah, jalankan mobilnya!" dengus Miranda.
“Ke tempat Nona Fransisca?” tanya Cindy memastikan.
“Toko kue!”
Cindy mengeritkan dahi. “Kau ingin membawa kue untuk permohonan maaf?”
“Tidak perlu membawa barang! Belikan aku strawberry cheese cake, macaron, matcha latte dan juga sandae strawberry. Aku lapar!” dengus Miranda.
“Kau tidak lupa itu makanan tinggi kalori bukan?”
“Sudah jangan banyak bicara! Aku bilang beli ya beli!” hardik Miranda.
Cindy hanya mendecak. Dia mulai menjalankan mobil menuju toko kue. Membeli semua pesanan Miranda. Cukup lama Miranda menghabiskan waktu di dalam mobil seraya menikmati makanan yang ia pesan. Setelah kenyang, dia memerintahkan Cindy untuk menemui Anyelir.
Cindy melajukan mobilnya ke apartemen Anyelir. Informasi yang dia dapat adalah alamat apartemen.
Sepanjang perjalanan Miranda hanya menampilkan wajah malas. Tak sudi jika harus meminta maaf. Namun, dia harus menjaga image-nya.
__ADS_1
“Apa kau sudah siap?” tanya Cindy.
Miranda membenarkan kaca mata hitamnya. Di kepalanya tersangkut hoodie dari sweater yang digunakannya. Meskipun sudah malam hari, dirinya tidak bisa keluar rumah dengan mudah. Banyak orang yang mengenalnya. Karena itu, dia harus menyamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Renan merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak peduli akan kondisi apartemen yang sepi. Terlalu lelah membuat dirinya tak mencari sang pemilik apartemen.
Dia memilih mengistirahatkan tubuhnya tanpa memikirkan permasalahan apapun. Perlahan dirinya mulai belajar untuk melupakan sang kekasih. Belajar untuk memperbaiki diri bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah kekeliruan. Ya, dia meyakini apa yang telah terjadi pada dirinya adalah sebuah kekeliruan.
Bukan mendiskriminasi, bukan intoleran. Dia hanya meyakini apa yang sudah menjadi keputusannya. Bukan juga menghakimi bagi orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Dia hanya ingin terlepas yang selama ini mengganggunya.
"Aku bisa! Aku bisa!" gumam Renan.
Mencoba terlelap. Namun, pikirannya tak bisa terkontrol untuk tetap bekerja. Berpikir tanpa minta dikendalikan. Meratapi nasibnya, menerawang ke masa lalu kelam yang membuatnya tersesat.
Dirinya menjadi h*mos*ksual bukan karena faktor biologis atau trauma. Faktor lingkungan dan gaya hidup menjadi penyebab utama dirinya menyimpang. Ya, menyimpang. Itu yang diyakini oleh Renan. Seandainya dirinya berani menolak. Seandainya dirinya tak terlarut dalam sebuah pergaulan tak sehat. Mungkinkah dirinya terbebas dari hal itu?
Meskipun, sebagian tak setuju dikatakan menyimpang. Meyakini bahwa hal tersebut memang sudah ada di dalam diri. Setiap orang bebas berpendapat. Namun, hati memiliki keyakinan sendiri, dan Renan ingin kembali seperti apa yang ia yakini.
Hanya saja, dia merasa harus bangkit sebelum masuk lebih dalam ke dunia yang banyak orang definisikan sebagai kaum pelangi.
Mengapa di sebut kaum pelangi? Karena memiliki banyak warnakah? Entahlah! Renan tak ingin memikirkan hal itu. Dia hanya menyakini dirinya harus keluar dari dunia tersebut, sebelum dirinya tak mungkin untuk keluar dari lingkaran warna-warni pelangi. Menguatkan diri bahwa dia sudah bukan merupakan bagian dari pelangi tersebut.
Bel berbunyi, dengan kesal Renan membuka matanya yang terpejam. Tidak mungkin Anyelir memencet bel sedangkan wanita itu tahu sandinya.
Renan bangkit dan menuju pintu. "Siapa sih?" gumamnya.
Renan membuka pintu apartemennya tanpa mengintip dari lubang pintu. "Anda siapa?" tanyanya, menatap dua orang wanita di depannya.
"Aku Miranda," jawab Miranda. Dia mengerenyitkan dahi saat melihat seorang pria yang membuka pintu. Pria yang cukup tampan dengan wajah yang dia yakin sangat terawat.
Renan tak mengenal Miranda. Meskipun banyak model yang ia kenal. Namun lebih banyak model luar negri yang ia kenal.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Renan santai.
"Aku ingin bertemu dengan Fransisca,” ujar Miranda mulai kesal karena respon Renan yang menurutnya kurang baik.
"Dia sedang tidak ada di rumah!" jawab Renan acuh.
Miranda melirik arloji di tangannya. Sudah pukul 10 malam, dia sengaja datang di malam hari agar tak terendus media tetapi yang dicari tidak ada di tempat. “Kapan dia pulang?” tanyanya sedikit ketus. Sebal karena membuang waktunya.
Renan menelisik Miranda. Dilihat dari gestur tubuh gadis itu, dia menduga sang gadis tak menyukai Anyelir. “Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?” tanya Renan dengan nada ketus.
Miranda memicingkan matanya. Dia membuka kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya. Berani sekali seorang pria berkata kasar seperti itu. Dia melihat Renan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Miranda mendengus. “Apa begini caramu bicara dengan tamu?”
“Ya. Namun, hanya pada tamu tak diundang!” ujar Renan penuh penekanan.
Miranda menggigit bibir dalamnya. Menatap pria tampan di depannya. “Apa kau tidak mengenalku?” tanyanya dengan melangkah satu langkah.
“Apa kau tidak mengenalku?” tanya balik Renan. Dia memang tak mengenal Miranda.
“Apa kau juga seorang model? Dari agency mana? Seorang orang model baru? Kau seharusnya bersikap sopan pada seniormu!” ujar Miranda merendahkan.
“Jadi, kau seorang model? Tapi aku tidak pernah melihatmu di catwalk or runway international!” ujar Renan dengan senyum smirk.
Miranda mengepalkan tangan. Dirinya memang bukan model yang berjalan di runway internasional. Bisa dikatakan dirinya seorang artis yang juga memerankan beberapa film. Bukan sekelas dengan super model seperti Gigi Hadid. Namun, dirinya cukup dikenal di dalam negri.
“Baiklah! Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Katakan pada Fransisca bahwa aku datang menemuinya!” ucap Miranda dengan angkuh.
“Untuk apa kau ingin menemuinya?” tanya Renan.
“Kau tidak perlu tahu urusan kami!” ujar Miranda. Melihat reaksi Renan yang tak mengenal dirinya. Membuatnya menduga bahwa pria itu tak mengetahui berita yang beredar. Hingga membuat dirinya tak perlu mengatakan apapun pada Renan.
“Tentu aku harus tahu, karena dia kekasihku!” ucap Renan. Dia belum tahu Anyelir dan Krisan telah bersama. Dia pun tak melihat berita tentang penyataan yang dibuat oleh Krisan. Hingga, dirinya masih berpura-pura menjadi kekasih Anyelir.
__ADS_1
“Apa!” ujar Miranda terkejut. Tidak hanya dia, Cindy yang sedari tadi berdiri di belakang Miranda pun terkejut.