
Anyelir dan Krisan keluar dari dalam butik. Perlu upaya bagi Anyelir untuk melepas pelukan sang suami. Mereka masuk ke dalam mobil.
Bukan tak mengerti maksud Krisan. Anyelir hanya belum siap. Dia menyandarkan tubuh di kursi belakang, sedangkan Krisan duduk manis di sampingnya. Entah kapan ada sang sopir di mobil suaminya.
Anyelir melihat sebuah majalah bisnis. Dia meraih majalah tersebut karena cover depannya terpampang pria yang dicintainya.
"Sudah terbit. Cepat sekali," gumam Anyelir.
"Ya, hari ini," sambung Krisan.
Anyelir menatap wajah suaminya di majalah yang sedang berdampingan dengan Miranda. Bibirnya menyungging, tak menyukai gambar tersebut. Dia meletakkan kembali majalah bisnis tersebut ke tempatnya.
Krisan melihat mimik wajah sang istri. Dia mencoba meraih tangan Anyelir yang bertumpu pada pahanya. Namun, gerakannya terbaca oleh Anyelir.
Sang gadis mengangkat tangannya sebelum Krisan menggenggam tangannya. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mulai memainkan sosial media.
Meskipun dirinya tak mengikuti akun gossip. Namun, terkadang ada sebuah brand yang menjadi sponsor akun media sosial yang ia punya.
Sebuah majalah online menjadi iklan dalam jeda dirinya memainkan media sosial. Sebuah berita yang menarik untuk membuka tautan tersebut.
Dia sangat minim informasi tentang artis dalam negeri. Namun, sosok artis yang sekilas lewat di layar ponselnya membuatnya penasaran.
Loading hanya beberapa detik untuk membuka tautan tersebut. Tak perlu lama halaman gossip terbuka. Sosok Miranda yang sedang digendong oleh seorang pria.
Punggung pria tersebut dan rambut gondrong yang dikuncir. Meskipun tak terlihat tampak depan, dia sangat yakin bahwa pria itu adalah suaminya.
Mata Anyelir memicing, ibu jarinya terus menggulir halaman tersebut. Tampak photo sang suami dan sang model berdampingan. Photo yang sama dengan di majalah bisnis.
Dia membaca isi berita tersebut, tidak ada yang menyebutkan mereka menjalin kasih. Namun, ada sebuah statement dari Miranda yang mengatakan 'Doakan saja yang terbaik' bukan kalimat penyangkalan. Dari segi pandangan Anyelir, kalimat tersebut mengandung kalimat harapan.
Anyelir menutup halaman majalah online tersebut. Dia beralih ke akun gossip. Benar saja, berita tentang Miranda sedang memenuhi akun gossip tersebut.
Tidak jauh beda dengan majalah online tadi. Namun, ada beberapa penambahan photo Krisan dan Miranda di acara peluncuran produk baru setahun silam. Seolah dicari kembali bukti-bukti yang menguatkan bahwa photo pria yang sedang menggendong Miranda adalah Krisan.
Dari tiga photo yang diambil di lokasi berbeda. Saat Krisan menggendong Miranda. Saat peluncuran produk baru, dan photo terakhir saat wawancara di kantor Krisan.
Kali ini, ada komentar netizen yang menambah isi berita. Membanding-bandingkan ketiga photo tersebut. Ditambah dengan pernyataan Miranda, yang pernah berkata bahwa dirinya memiliki seorang tunangan yang tidak bisa dipublikasikan.
Krisan penasaran dengan apa yang dilihat oleh Anyelir, dia melirik sedikit pada layar ponsel istrinya. Namun, Anyelir menggeser ponselnya agar Krisan tak dapat melihatnya.
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Melihat berita seorang suami selingkuh dengan seorang artis," ucap Anyelir dengan tenang.
"Entah apa yang dipikirkan sampai bisa selingkuh," timpal Krisan.
"Mana aku tahu yang ada di pikiranmu!" ujar Anyelir.
"Aku?" tanya Krisan bingung.
__ADS_1
"Ya, kamu!" Anyelir menyodorkan ponselnya pada Krisan.
Krisan menerima ponsel Anyelir, melihat dirinya sedang menggendong Miranda. Dia melirik Anyelir sekilas, seketika wajahnya menjadi pias.
"Aku tidak selingkuh. Aku hanya membantunya. Saat itu dia mabuk. Aku hanya mengantarnya dan tak melakukan apapun," papar Krisan dengan panik.
Anyelir hanya memutar bola matanya. "Terserah kau saja," ujarnya tenang.
Krisan memijat keningnya. "Sayang, sungguh aku tidak selingkuh."
"Aku tidak menuduh mu selingkuh." Anyelir menatap depan tanpa ada keinginan melirik sang suami.
Krisan melirik sang istri. Dia tahu Anyelir sedang marah padanya. Tak ingin terjadi pertengkaran, dia pun yakin istrinya tak akan meragukan dirinya.
Mereka tiba di tempat tujuan. Gedung megah dengan bergaya eropa. Pilar-pilar tampak mewah dengan warna brown light. Krisan keluar dari mobil dan membukakan pintu Anyelir. Sang wanita menerima uluran tangan Krisan.
Mereka masuk ke gedung tersebut. Kedatangan Krisan dan Anyelir menjadi pusat perhatian. Bukan sebagai orang nomor satu ataupun memiliki kekayaan melimpah. Namun, semua mata tertuju pada Anyelir yang memukau. Hanya memandang, tidak ada yang berani mendekati Anyelir.
Riasan di wajahnya tak tampak tebal, bahkan sebagian riasannya telah memudar, karena Anyelir tidak banyak menambahkan make-upnya. Kecantikan alami terpancarkan, bibirnya tidak terlalu merah lagi karena ulah Krisan yang menghapus perona di bibirnya.
Gaya rambut half updo menjadi solusi untuk Anyelir. Sanggul tak penuh tetapi membuat tampilannya begitu elegan. Sangat cocok dengan rambut pirang bergelombangnya.
Krisan sendiri seperti biasa akan menguncir rambut gondrongnya. Rambut gondrong yang terlihat rapi saat dikuncir. Wajah yang lumayan tampan, sangat cocok berdampingan dengan Anyelir.
Krisan dengan bangga menggandeng Anyelir. Namun, setelah melihat tatapan para pria pada istrinya, membuat dirinya kesal sendiri.
Krisan hanya mengangguk. "Apa acaranya sudah dimulai?" tanyanya.
"Anda belum terlambat bos," jawab Aryo.
Tidak lama, seseorang menghampiri mereka. "Kris, lama tak jumpa," ujar Abraham. Dibelakangnya berdiri seorang pria bernama Herry, orang kepercayaannya.
Krisan memeluk Abraham. "Ya, terima kasih telah mengundangku."
"Datang dengan siapa?" tanya Abraham melirik wanita di samping Krisan.
"Ini Anyelir, istriku," jawab Krisan pasti. Dia tak menutupi sang istri. "Dia sebenarnya pun diundang. Dia perwakilan dari Perusahaan GLK," tambahnya.
Abraham menaikan alisnya. Tidak terkejut mendengar Krisan memperkenalkan seorang istri, karena Krisan pernah mengatakan dirinya telah menikah. Namun, yang membuatnya terkejut adalah Anyelir sebagai perwakilan PT GLK yang menjadi istri Krisan.
"Kau perwakilan GLK? Apa kabar paman Petra?" tanyanya pada Anyelir. Dia tersenyum ramah. Yang Abraham kenal adalah Petra.
"Dia baik," jawab Anyelir.
Abraham mengulurkan tangan pada Anyelir. Bahkan dia menyapa Aryo dan Vinnie. Tampak ramah dan bersahabat.
Hanya sebentar Abraham bergabung, dia harus menyapa tamu undangan lainnya.
"Ternyata kau benar, dia tampan," bisik Anyelir pada Vinnie. Namun, dia pastikan Krisan mendengar pujiannya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berbohong padamu, Nona," jawab Vinnie sembari tersenyum. "dia pun belum menikah. Sayang Anda sudah menikah," tambahnya.
Vinnie sudah tahu bahwa Anyelir adalah istri Krisan. Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui status Krisan dan Anyelir.
Obrolan Vinnie dan Anyelir dengan suara pelan masih bisa didengar oleh Krisan. Dia menarik lengan sang istri. "Ingat! Kau sudah menikah."
"Ada apa denganku? Aku hanya memujinya," bela Anyelir.
"Dan aku hanya mengingatkanmu," balas Krisan.
Anyelir duduk di kursi paling depan bersama Krisan. Setiap meja sudah ada nama para tamu undangan. Meja depan adalah nama Krisan dan partner.
Sedangkan meja Anyelir berada di tengah. Tempat tersebut diduduki oleh Vinnie dan Aryo. Abraham naik ke atas podium, berterima kasih pada para tamu undangan yang hadir. Terdapat pula acara inspirasi sukses.
Mata Anyelir mengedar, bertepatan dengan Lukas yang menatapnya. Lukas hanya melirik sekilas pada Anyelir, tidak ada niatan dirinya menghampiri wanita itu.
Anyelir hanya memberi senyum dan menunduk. Meskipun tak pernah memberi harapan pada Lukas. Namun, entah mengapa dirinya merasa sedikit bersalah.
"Aku yang bekerja sama dengannya saja biasa saja. Kenapa kau jadi canggung?" bisik Krisan. Dia melihat interaksi Anyelir dan Lukas.
Kesal, itu yang dirasakan. Begitu banyak pria yang menyukai istrinya. Krisan tak pernah menyesali keputusannya untuk menyembunyikan Anyelir dulu.
"Matamu saja yang melihatku canggung!" cibir Anyelir.
Aryo menghampiri Krisan. "Bos, aku pamit terlebih dahulu. Ada kendala pada PT Brigten," ujarnya. Dia mendapat informasi bahwa salah satu anak perusahaan KRS mengalami sedikit masalah.
"Kau uruslah," ucap Krisan.
Aryo pamit dan menghampiri Vinnie. "Aku harus pergi. Kau mau aku panggilkan sopir untuk menjemputmu?" tanyanya. Vinnie berangkat dengannya. Aryo bertanggung jawab atas gadis itu.
"Tidak perlu, aku bisa naik taxi," jawab Vinnie.
"Baik. Kalau begitu, aku pamit dulu."
Acara terus berlangsung, tiba seorang artis mengisi acara. Penyanyi terkenal menghibur tamu undangan.
Abraham menghampiri Krisan. Dia meminta izin pada Anyelir untuk berbincang secara pribadi dengan Krisan.
"Kau tunggu di sini dulu. Aku ada sedikit urusan," ujar Krisan.
"Kau pergilah, aku bisa sendiri," ucap Anyelir.
Krisan dan Abraham pergi. Begitu pula dengan Anyelir yang mencari tempat yang sedikit tenang. Dia tak suka dengan bisingnya lantunan lagu yang sedang dinyanyikan oleh sang penyanyi.
Gedung yang besar, Anyelir pergi ke tempat yang sedikit tenang. Dia membawa segelas minuman untuk dinikmati. Tak lama, seseorang datang menghampiri Anyelir.
"Kau semakin cantik," ucap seorang pria.
Anyelir menoleh menatap pria tersebut. Dia melebarkan matanya. Cukup terkejut tetapi dia bisa mengontrol mimik wajahnya.
__ADS_1