
Brak!
Miranda meletakan ponselnya dengan keras di atas meja. Dia baru saja dihubungi oleh Krisan terkait pernyataannya yang menggiring opini masyarakat bahwa mereka menjalin hubungan.
Tak ingin membuat sang istri tak nyaman. Krisan langsung meminta Miranda membuat klarifikasi tentang berita yang beredar.
Tidak hanya itu, Krisan pun meminta Miranda meminta maaf langsung pada Anyelir.
"Apa yang harus aku lakukan!" teriak Miranda.
"Klarifikasi dan meminta maaf langsung!" ujar Cindy.
"Aku? Meminta maaf? Apa salahku? Aku tidak menyebutkan nama, aku tidak mengatakan secara jelas aku dan dia bertunangan. Yang beranggapan seperti itu adalah netizen!" keluh Miranda.
"Tapi bicaramu seolah menggiring ke arah sana. Menurutku, kau hanya perlu klarifikasi saja dan meminta maaf secara langsung pada istrinya. Hanya tinggal bilang pada netizen bahwa bukan tuan Krisan tunanganmu. Bilang saja kau hanya bekerja sama saja, dan untuk tunangan, itu masih menjadi rahasia."
"Tapi dia menuntutku untuk meminta maaf pada istrinya. Kau pikir aku pelakor? Ini keterlaluan! Bahkan dia mengancam mencabut diriku sebagai brand ambassador dari produk mereka. Tidak hanya itu, dia bilang bisa memutuskan kerja sama brand-brand yang telah kontrak denganku!" dengus Miranda.
"Benarkah?" tanya Cindy tak percaya.
"Apa kau pikir aku bohong? Dia mengatakan begitu lantang!" ketus Miranda.
"Tak disangka dia begitu mencintai istrinya," ujar Cindy dengan mata berbinar. "Ternyata rumor itu benar."
"Rumor apa?"
"Dulu, saat tuan Krisan bilang pada kita dia telah beristri. Aku sempat bertanya pada karyawan-karyawannya. Ada yang mengatakan dia masih belum menikah dan ada juga yang mengatakan sudah menikah, tapi sang istri dirahasiakan karena terlalu mencintai. Dia takut sang istri dilirik pria lain!"
Miranda melempar bantal pada Cindy. "Sok tahu!" dengusnya.
Cindy memeluk bantal yang dilempar Miranda. "Tapi saranku, kau minta maaf langsung dulu, baru klarifikasi. Nanti kau akan mendapat simpati dari netizen. Kau tidak merebut pria lain. Namun, kau meminta maaf padanya karena kekacauan ini. Kau akan dibilang berjiwa besar. Bukan kesalahanmu tapi meminta maaf," cerocos Cindy.
Miranda hanya berpikir sejenak. Dia melirik sekilas sang asisten. Yang dia tahu, Krisan hanya seorang CEO perusahaan berkembang. Namun, entah mengapa, pria itu seperti tak boleh disinggung.
Acara malam amal adalah bukti Krisan bukan orang sembarangan. Bahkan dirinya tak mendapat undangan dari Abraham, meskipun dirinya pernah bekerja sama dengan perusahaan Bronson. Hanya orang-orang dari kalangan elit dan terpilih saja yang bisa datang ke acara keluarga Bronson.
"Baiklah, hanya meminta maaf. Apa susahnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa? Meninggal?" tanya Anyelir penasaran.
__ADS_1
Vinnie menyodorkan ponselnya pada Anyelir. Berita tentang kematian pengusaha yang telah mencoba mencelakai mereka, kehilangan nyawa setelah terjadi pertikaian di dalam penjara.
Anyelir mengembalikan ponsel Vinnie setelah membaca berita kematian tersebut. "Tidak disangka Andy berakhir tragis."
"Aku pikir kekuasaannya besar. Ternyata dirinya masih bisa dipenjarakan. Entah siapa pelaku dibalik ini semua," timpal Vinnie.
Anyelir hanya mengerutkan kening. Sempat mencari tahu tentang pria itu. Pria yang bisa dibilang memiliki kekuasaan besar. Bisa dipenjarakan entah siapa yang melaporkan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Andy.
Anyelir hanya mendapat kabar Andy yang dipenjara karena terlibat bisnis narkoba dan juga penggelapan pajak.
"Inilah yang disebut di atas langit masih ada langit," ujar Anyelir.
Vinnie hanya mengangguk. Bekerja di perusahaan dan mengenal banyak pengusaha membuat Vinnie mengerti rantai bisnis.
"Kau tunggu di sini. Aku keluar sebentar," ujar Anyelir. Dia berniat mencari sang suami yang pamit mencari Aryo yang sedang menyelesaikan proses pembayaran rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bukan kita, Bos," jelas Aryo, merendahkan suaranya.
"Yang penting tidak ada yang tahu apa yang telah kita lakukan," ujar Krisan tenang.
"Ini murni perbuatan musuhnya. Mendapat celah karena Andy tidak punya kekuasaan lagi. Maka, dihabisi langsung di penjara," ucap Aryo.
Krisan hanya mengangguk. Atas apa yang telah Andy lakukan membuat Krisan tak memberi kesempatan pada pria itu lagi. Dirinyalah yang mengirim Andy ke penjara. Melaporkan tidak kejahatannya. Namun, bukan berarti dirinya menggunakan hukum rimba. Siapa sangka, hal ini dimanfaatkan oleh musuh Andy yang lain.
"Apa sudah ada informasi terbaru tentang Petra?" tanya Krisan. Ya, dia masih menyelidiki paman sang istri.
"Belum. Albert masih memberikan informasi yang tidak terlalu penting. Hanya seorang pengusaha biasa saja," terang Aryo.
Krisan hanya menautkan alis. Dia selalu merasa ada hal yang disembunyikan. Pencarian istrinya yang sangat sulit. Namun, secara kebetulan mereka dipertemukan kembali. Seperti sang istri sengaja dilepaskan agar mereka bertemu.
"Terus cari tahu tentangnya. Jangan sampai bocor!" titah Krisan.
"Baik, Bos," jawab Aryo.
"Kris!" panggil Anyelir yang tiba-tiba datang. Kedatangannya membuat dua pria yang berbincang serius menjadi canggung.
"Sayang," ujar Krisan. Dia menghampiri sang istri. "Sejak kapan kau di sini? Aku tak mendengar langkah kakimu?"
"Memangnya kau bisa mengetahui siapa yang datang hanya dengan mendengar derap langkah seseorang?" tanya Anyelir memicingkan mata.
__ADS_1
"Tentu saja. Tapi hanya derap langkah kakimu yang aku tahu," ujar Krisan mengukir senyum.
"Ish, gombal terus! Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah mengurus administrasi kepulangan?" tanya Anyelir menatap Aryo dan Krisan bergantian.
"Ya, sudah selesai," ucap Krisan.
Aryo menoleh pada Krisan dan Anyelir. "Saya bantu Vinnie dulu," izinnya.
Krisan hanya mengangguk. Begitu pula dengan Anyelir. "Kalau sudah selesai mengurus administrasi, kenapa tidak masuk? Malah duduk di sini!" tandas Anyelir.
Dia mendengar sepintas perbincangan Aryo dan sang suami. Bahkan dia mendengar nama sang paman. Tidak mungkin hanya mengurus administrasi rumah sakit harus dua orang yang melakukannya.
"Aku lihat kau sedang asik mengobrol dengan assistenmu. Jadi, aku dan Aryo memilih duduk di sini. Takut ada pembicaraan antar gadis yang tidak boleh diketahui pria," ujar Krisan seraya mencolek hidung sang istri.
Anyelir menepis tangan Krisan. "Dan kalian para pria sedang berbincang bahasan yang tak boleh diketahui oleh para wanita?" tanyanya menaikan alis sebelah.
"Ya, kau tidak boleh tahu."
"Kenapa?"
"Nanti menyesal kalau tahu."
"Apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak boleh tahu!"
"Cepat katakan!"
"Tidak mau!"
"Cepat katakan! Apa yang kau sembunyikan?" cecar Anyelir. Dia menarik lengan Krisan yang mencoba melarikan diri darinya.
"Baiklah-baiklah. Akan aku kasih tahu padamu. Tapi kau jangan menyesal!"
Krisan mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi belanja online dan menunjukan halaman pemesanan.
Anyelir mengambil ponsel sang suami. Matanya melebar saat melihat barang dengan status 'dikirim'. Tidak hanya 1 barang, ada 7 barang yang sedang dikirim. "Dasar mes*m!" hardiknya.
Anyelir mengembalikan ponsel Krisan lalu masuk ke ruang perawatan Vinnie dengan wajah malu. Tak bisa dibayangkan jika dirinya memakai apa yang sedang dibeli suaminya.
Krisan hanya terkekeh melihat reaksi sang istri setelah mengetahui apa yang telah ia beli. Hanya membeli pelengkapan dinas malam mereka. Terkadang Krisan membutuhkan hal-hal tersebut untuk variasi dan kesenangannya. Dia menatap layar ponselnya. "Apa kurang banyak?" gumamnya.
__ADS_1