
Di tempat lain, seorang pria paruh baya terlihat masuk ke dalam ruang kerja Beni Athaya. Satu berkas pria itu letakkan di atas meja. Beni bertanya, apa orang kepercayaannya itu bisa mendapatkan apa yang dia mau. Pria itu menggeleng pelan.
"Identitas Orion sangat mencurigakan. Tapi saya lihat dia sangat perhatian pada Sera." Beni menganggukkan kepala, setuju pada pendapat Adnan, kepala pelayan keluarga Athaya, orang kepercayaan Beni, ayah dari Vano. Puluhan tahun mengabdi pada keluarga kaya itu, membuat Adnan hafal dan tahu seluk beluk keluarga Athaya.
"Itu yang terpenting. Aku tidak peduli latar belakang seseorang. Asal mereka baik pada cucu-cucuku, aku tidak akan mengusik mereka."
Hening sesaat menyapa. Dua orang yang sudah tak lagi muda itu menatap ke luar jendela. Di mana sebuah rumah hijau terletak di sana. Dulu tiga cucunya. Felix, Sera, Darrel ditambah Vano sangat suka bermain di sana. Menanam bunga, dan tanaman lainnya. Membuat suasana rumah itu terasa begitu bahagia.
Kredit Pinterest.com
"Aku rindu masa-masa itu, Ad," tatapan Beni menerawang jauh. Di masa lalu sambil bekerja dari ruang kerjanya, dia bisa mendengar jeritan Sera kecil yang menangis karena dibuli kakak dan sepupunya. Dengan alasan karena Sera perempuan sendiri. Saat seperti itu akan ada satu anak yang membela Sera. Valdy, teman Vano. Anak tetangga Vano yang sering ikut bermain di rumah besar itu.
Beni menghembuskan nafasnya kasar. Semua berubah saat Felix berusia 17 tahun. Sebuah kecelakaan menyebabkan Felix dan Valdy meninggal. Keluarga Athaya berduka dan sangat kehilangan. Pun dengan keluarga Valdy. Meski bukan keluarga kaya raya seperti keluarga Athaya, tapi kehilangan putra tunggal mereka, membuat keluarga itu terguncang. Pada akhirnya, keluarga itu pindah, entah ke mana. Tidak ada kabar berita tentang keberadaan orang tua Valdy.
"Kenapa aku jadi teringat Valdy," gumam Beni.
"Ada yang salah?" Adnan bertanya, dan Beni menggeleng pelan. Pada akhirnya Beni hanya memberi perintah, untuk terus mengawasi kedua orang tua Sera. Kematian Felix, membuat ayah dan ibu Sera sangat membenci gadis itu. Mereka terus menyalahkan Sera atas kematian sang kakak.
"Mau sampai kapan mereka menyiksa Sera. Tidakkah cukup menghukum anak itu dengan membuangnya ke Milan selama sepuluh tahun. Hidup sendirian di sana tanpa keluarga."
Beni menghela nafas, karena hal tersebut, pria tua itu selalu bersikap hangat pada Sera. Beni berusaha menunjukkan kalau dia sangat menyayangi Sera. Di tengah kebencian yang ditunjukkan oleh dua orang tuanya serta bibi dan sepupunya sendiri.
Darrel sendiri berubah sifat setelah pria itu beranjak dewasa, dengan hasutan sang ibu memenuhi kepala Darrel. Mempengaruhi Darrel untuk merebut SJ dari Felix dan Sera. Setelah kematian Felix, kesempatan Darrel kian terbuka lebar. Terlebih Sera yang kemudian dipindahkan ke luar negeri. Dengan alasan kuliah di sana.
Beni tahu kemelut tengah terjadi dalam keluarganya. Harta membuat anak dan cucunya saling serang, meski masih secara halus. Yang paling Beni sesalkan adalah Felix, cucu sulung yang menjadi korban dari keserakahan keluarganya sendiri. Ditambah Valdy yang bukan siapa-siapa, tapi ikut terseret masalah keluarga Athaya.
__ADS_1
Beni sangat tahu kalau kecelakaan Felix bukan kecelakaan biasa. Ada unsur kesengajaan dalam kejadian itu. Namun sampai sekarang, semua penyelidikan Beni mengalami jalan buntu. Semua bukti menunjukkan kalau hal itu murni kecelakaan tanpa ada unsur sabotase.
"Kakek hanya berharap bisa bertemu lagi denganmu. Meminta maaf atas semua kesalahan kakek. Kakek pikir sudah bersikap adil pada kalian, tapi ternyata belum. Mereka masih tidak terima dengan apa yang telah kakek berikan. Mereka sangat serakah, ingin menguasai semua sendiri. Maafkan Kakek Felix, Valdy."
Tanpa seorang pun tahu, ada yang mendengar monolog Beni. Pria itu lalu berbalik, meninggalkan ruangan kerja kakek Sera. Masuk ke kamar Alea yang dia tahu kosong, dan tempat paling aman yang ada di rumah itu.
"Bagaimana keadaannya?"
Pria itu terdiam, mendengar jawaban seseorang dari ujung sana. Ada gurat harapan terlihat di wajah laki-laki tersebut. Dia menarik nafas setelah panggilan terputus. "Kali ini kau akan siap untuk membalas mereka yang sudah menyebabkan Sera meninggal." Tangan pria itu terkepal kuat. Sepuluh tahun dia menunggu, tak lama lagi hari itu akan datang.
*
*
"Aduh......"
"Malah tidur!" satu suara membuat Alea menegakkan tubuhnya. Terkejut dengan Orion yang sudah berdiri menjulang dihadapannya. Pria itu menatap tidak suka pada Alea.
"Apa? Aku manusia.....aihhhh....."
"Masih belum kapok aku cium tadi siang karena banyak membantah. Mau aku ulangi lagi?"
Alea mendelik mendengar ancaman Orion. "Kau mengancamku untuk keuntunganmu sendiri. Kalau kau suka bermain perempuan, cari satu sana. Ajak main sampai pagi. Tapi jangan pikir kalau aku sama murahannya seperti mereka."
Alea menepis tangan Orion yang menjepit dagunya. "Kau mulai berani ya?" tantang Orion.
"Aku akan melawan mereka yang menindasku!" tegas Alea. Keduanya kembali terlibat adu pandang. Sampai Orion memalingkan wajahnya, enggan memperpanjang perdebatannya dengan Alea. Pria itu yakin kalau Alea bukan tipe yang akan menyerah dengan mudah.
__ADS_1
"Benarkah? Aku sepertinya tidak percaya," Orion mendekatkan wajahnya ke arah Alea. Gadis itu reflek memundurkan diri. Menghindari kontak fisik dengan Orion adalah pilihan terbaik untuk Alea. Apa lagi setelah kejadian pria itu yang berani menciumnya.
"Benarkah? Tapi aku lebih tidak percaya perasaanmu pada Kak Sera. Dia baru meninggal sebulan yang lalu dan kau sudah berani menyentuh gadis lain." Alea mengangkat wajahnya, memberi pandangan penuh tantangan pada Orion.
Orion tersenyum samar. Alea sesaat terpana, melihat Orion tersenyum untuk pertama kalinya. "Apa kau pikir hubungan kami seperti yang kau bayangkan?"
Sorot mata Alea semakin tajam. Apa maksud perkataan Orion? Apa pria itu sedang mengatakan kalau dia dan Sera tidak saling cinta.
"Maksudmu apa? Apa kau tidak mencintai Kak Sera?"
Kali ini Orion jelas tersenyum lebar. "Cinta? Apa kau pikir cinta hadir untuk kami? Kami kalangan atas tidak mengenal kata cinta. Kami hanya mengenal pernikahan....yang saling menguntungkan....."
Plakkkkkk....
Entah kenapa Alea merasa sakit dengan ucapan Orion. Tidak terima jika Sera hanya dimanfaatkan saja. Pria itu jelas menyiratkan kalau dia tidak mencintai Sera. Wajah Orion berubah kelam. Detik berikutnya, pria itu mencekal dua tangan Alea. Menjatuhkan tubuh Alea ke atas karpet. Lantas menindih tubuh gadis itu.
"Kau berani menamparku?! Aku beritahu, belum pernah ada orang yang berani menyentuh wajahku tanpa seizinku! Tapi kau, lancang menamparku!"
Orion kembali menampilkan sisi gelapnya, yang lagi-lagi membuat Alea ketakutan. Orion sungguh mengerikan.
****
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1