
Annika berjalan gontai masuk ke lobi kantornya, gadis sebaya Alea itu kembali dibuat pusing dengan pertanyaan orang tua Alea. Jika Alea magang ke Milan, kenapa Alea tidak pernah menghubungi mereka. Tidak mengabari mereka. Alea memang sering berselisih paham dengan kedua orang tuanya. Namun gadis itu tidak pernah lupa memberi kabar pada ayah dan ibunya meski hanya lewat pesan.
Nika yang bertetangga dengan Alea, tentu tahu. Meski hubungan keluarga Alea tidak baik, tapi orang tua Alea sangat menyayangi putri tunggal mereka itu. Nika akui kadang sikap Alea kerterlaluan pada ayah dan ibunya.
Alea suka seenaknya sendiri saat minta sesuatu. Tidak peduli keadaan orang tua mereka yang sedang susah. Orang tua Alea selalu bekerja keras agar apapun yang menjadi keinginan Alea bisa terwujud. Namun hal itu tidak pernah Alea sadari.
"Aduuhhh...eh maaf." Annika buru-buru minta maaf saat dia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Kau melamun ya?" Suara An seketika membuat Nika mengangkat wajahnya.
"Aku...ya begitulah." Jawab Nika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keduanya lantas berjalan beriringan.
"Apa Vano merepotkanmu?" An bertanya saat mereka berada di dalam lift. Nika baru-baru ini bergabung dengan tim designer utama setelah design Frienship Bracelet-nya berhasil menarik perhatian Vano. Kepala divisi design itu berencana akan merilis design Nika setelah seri Black Rose selesai diluncurkan.
"Tidak, tuan Aciel sangat membantu mengembangkan kemampuanku. Aku belajar banyak darinya." Wajah Nika seketika berubah sumringah saat membicarakan soal pekerjaan. Gadis itu sejenak melupakan urusan Alea. An dan Nika berbincang banyak hal sembari menyusuri lorong yang menghubungkan lantai di mana ruangan Alea berada dan gedung divisi design. Keduanya rupanya punya minat yang sama. Sama-sama suka berolahraga.
"Bagaimana kalau hari Minggu nanti kita bersepeda?" tawar An.
"Beneran? Kamu memangnya gak sibuk? Setahuku asisten CEO itu kesibukannya gak pandang waktu." Nika berkata pelan. Keduanya mulai akrab akhir-akhir ini.
"Nanti aku lihat lagi schedule-ku." An menjawab sambil menggaruk kepalanya.
Nika terkekeh, diikuti oleh An yang juga tertawa. Tawa Nika terhenti saat dua bola matanya melihat Alea yang berjalan beriringan dengan Orion, diikuti oleh Atika dan Xuan di belakang mereka.
"Alea....." gumam Nika. Gadis itu reflek berlari ke arah Alea. An tentu terkejut dengan hal itu, detik berikutnya, An melambaikan tangannya pada Xuan.
"Tunggu dulu! Siapa dia?" An menahan tangan Nika yang sudah setengah jalan mengejar Alea, yang oleh Xuan diarahkan untuk berbelok begitu melihat kode dari An.
__ADS_1
"Dia Alea temanku!" Jerit Nika.
"Kau tidak salah orang kan? Dia adalah Serafina Athaya, atasanku."
Deg, Nika memundurkan langkahnya. Mendengar perkataan An. Gadis itu jelas melihat kalau itu Alea, tapi kenapa An menyebut Alea adalah Sera.
"Apa mungkin hal itu benar-benar terjadi. Alea punya kembaran alias doppelganger." Nika termenung di tempatnya berdiri. Teringat kebiasaan Alea yang suka melukis sepasang mawar kembar saat gadis itu memiliki waktu luang di luar tugas kuliah dan parti time yang bejibun.
Nika pernah bertanya soal kesukaan Alea. Gadis itu hanya menjawab kalau dia suka melukis itu, Alea merasa ada seseorang yang menunggu bantuan darinya.
"Tapi itu tadi jelas Alea bukan Sera." Gumam Nika masih mematung di tempatnya.
Huuffftt
"Hampir saja." An menghembuskan nafasnya lega, dia sudah berada di samping Xuan yang tertawa melihat tampang cemas rekan kerjanya.
Untuk sekarang mereka aman. Tapi lain waktu, siapa yang tahu. Xuan dan An kembali ke pos masing-masing. Hari ini ada banyak klien yang ingin bertemu untuk membahas kerja sama dengan Star Jewelry.
Berbeda dengan Xuan dan An yang mulai sibuk bekerja, Nika justru harus menghadapi cibiran dari teman-teman satu timnya di divisi design. Beberapa kali rekan kerja Nika melihat gadis itu bicara dengan Xuan dan An, membuat rekan kerja Nika menaruh curiga, kalau gadis itu masuk ke divisi design dengan bantuan Xuan dan An yang diketahui adalah asisten CEO tempat mereka bekerja.
Nika berkali-kali menarik nafasnya guna melonggarkan sesak di dada. Bekerja di bawah banyak tekanan membuat Nika mulai frustrasi. Vano mengakui kemampuan dan melihat bakat Nika, tapi yang lain tidak seperti itu. Mereka menganggap kalau Nika masuk ke tempat itu dengan cara kotor.
"Begini kalau bekerja di tempat yang mulut dan tangan sama kreatifnya. Tangannya sibuk mendesign, mulutnya sibuk mencemooh." Batin Nika. Gadis itu akan berusaha bertahan, sebab yang dikatakan oleh mereka tidak benar. Nika merasa punya kemampuan dan layak berada di sana.
"Akan kubuktikan kalau yang mereka katakan tidak benar. Aku punya kemampuan," Nika bertekad dalam hati. Walau dia tahu kalau hal tersebut akan sulit. Dalam keadaan itu, Nika teringat Alea. Gadis itu meski sangat menyebalkan, tapi selalu memberi dukungan pada apapun yang Nika lakukan. Alea dan Nika saling support untuk hal yang baik dalam perkembangan diri mereka.
"Aku rindu padamu Lea." Bisik Nika setelah kembali gagal menghubungi nomor Alea. Gadis itu memandang wajah Alea yang tersenyum di sampingnya dalam sebuah bingkai foto yang berada di atas meja kubikelnya.
__ADS_1
"Lihat, dia bahkan bermimpi dekat dengan CEO kita." Celetuk seorang rekan Nika yang lewat di belakang gadis itu. Nika menarik nafasnya, lebih memilih mengabaikan suara-suara yang hanya akan membuat kepalanya bertambah pusing.
Namun dari celetukan rekan kerja Nika membuat gadis itu penasaran, seberapa mirip Alea dan CEO Star Jewelry yang mereka bilang serupa itu. Nika bertekad akan bertemu Sera. Begitulah monolog Nika dalam hati saat gadis itu keluar dari dari ruangannya pada sore hari, saat jam kerja sudah selesai.
Saat tiba di pintu keluar lobi, mata Nika membulat. Melihat seseorang yang begitu ingin dia temui secara personal. Alea keluar dari lift seorang diri. Tanpa Orion, Axa, Xuan maupun An. Bahkan Atika pun tidak ada.
Nika kembali membeku saat melihat rupa Sera yang benar-benar mirip dengan Alea. "Bukan... dia bukan Sera, tapi Alea." Nika bergumam, menatap Alea yang tampak sibuk dengan ponsel di tangannya, hingga tidak melihat Nika.
Alea melewati Nika tanpa mengetahui kehadiran Nika di sana. Berjalan tergesa menuju parkiran di mana sebuah mobil Ferrari F8 Spider berwarna merah berada. Alea berhenti sejenak, sebelum membuka pintu. Saat itulah Nika berlari ke arah Alea.
"Alea!!!" teriak Nika keras
Gerakan tangan Alea yang ingin membuka pintu mobil terhenti. Gadis itu terdiam sekaligus terkejut. Mendengar panggilan dari suara yang sangat dia kenal. "Annika." Bisik Alea lirih.
Tubuh Alea membeku dengan keringat dingin mulai bercucuran di dahi gadis itu. "Tenang Alea. Tenang. Jika kau tidak berulah, Nika tidak akan tahu itu kau." Batin Alea cemas.
Gadis itu bergeming saat langkah Nika terdengar mendekat.
"Kau Alea kan?"
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1