
Alea menatap tajam pada Orion, pria itu terlihat santai menghadapi tatapan maut dari Alea. Sungguh Alea tidak habis pikir, baru juga jahitannya di buka, sudah ngeluyur aja sampai sini.
"Lukamu bagaimana?" Senyum Orion mengembang mendengar pertanyaan Alea. Gadis itu mulai perhatian padanya. Satu hal yang membuat hati Orion berbunga-bunga.
Keduanya kini tinggal berdua setelah pak Anto pergi bekerja dan bu Lani membuka tokonya yang kemarin libur. "Masih sedikit nyeri sih." Balas Orion singkat.
"Bawa obat gak? Lagian kamu ngapain sih jauh-jauh ke sini. Di suruh diam kok ngeyel. Lukanya pasti terbuka lagi, nyetir dari sana ke sini kan jauh." Senyum Orion makin lebar mendengar ocehan Alea. Dia senang sekali Alea begitu cemas padanya.
"Kan ada setir otomatis Al. Jadi aku gak perlu pegang kemudi." Astaga!! Kenapa Alea jadi begoo begini ya. Orion senyum-senyum sendiri saat Alea mengambil obat di mobil pria itu. Baru juga dikasih perhatian sedikit saja, Orion sudah seperti anak SD yang bisa pergi piknik. Senang luar biasa. Bagaimana jika Alea bisa bilang "I love you" bisa lompat ke langit tu si Orion.
Orion merebahkan tubuhnya di sofa setelah minum obat, membiarkan Alea memeriksa lukanya sebentar. Tidak berdarah lagi, jadi aman. Alea tengah mandi saat ini, sebab wanita itu belum membersihkan diri. Pikiran Orion melayang pada pembicaraannya dengan Felix. Di mana pria itu sama sekali tidak menyalahkan Orion atas apa yang Abraham lakukan pada mereka, keluarga mereka. Keluarga mereka juga sepakat akan hal itu. Hal yang begitu berat untuk keluarga itu hadapi adalah kematian Sera. Meida bahkan pingsan setelah mereka mengunjungi makam Sera hari itu. Meski lagi-lagi, Orion menempatkan Sera di tempat paling indah yang pernah mereka lihat.
Beni beberapa kali menghela nafas, mencoba mengendalikan diri. Sebagai orang tua, tentu dia sudah banyak melihat orang datang dan pergi dalam hidupnya. Namun kematian Sera, salah satu cucu kesayangannya tentu sebuah pukulan tersendiri bagi kakek itu. Vano dan Darrel lagi-lagi kicep tidak bersuara, melihat nisan Sera di depan mata mereka.
"Tidur di sini saja ya atau cari hotel biar tidurmu nyaman." Tawar Alea, menunjuk kasur yang kemarin mereka pakai.
"Beli kasur yang lebih besar aja. Kasurmu mini banget, gak bisa gerak." Alea melongo mendengar ucapan Orion. Mulai ngadi-ngadi deh ni orang.
Di tempat lain, Tessa mendatangi Messa di kamarnya, bertanya apa sang adik ada hubungan dengan Darrel. Messa menjawab tidak, sebab dia merasa memang tidak ada hubungan. Sang kakak memperingatkan untuk berhati-hati pada Darrel karena pria itu seorang casanova. Felix bercerita banyak soal Darrel pada Tessa. Gadis itu mulai menerima Felix jadi kekasihnya.
"Jangan khawatir, Kak. Aku bisa jaga diri." Messa meyakinkan sang kakak. Messa sedikit terkejut saat tahu siapa Darrel. Salah satu pria paling tajir di kota. "Apa dia sama seperti kekasihmu?"
"Lebih kurang. Kan mereka sepupu."
__ADS_1
Messa membulatkan bibirnya, teringat pembicaraan dengan sang kakak soal Darrel. Ganteng, tajir tapi kelakuannya bejattt, eiittss nanti dulu. Messa sedang menikmati masa jomblonya, setelah kemarin langsung memutuskan sang pacar.
Messa berjalan santai menuju pintu samping rumah sakit di mana staf dan karyawan rumah sakit banyak yang masuk dari sana. Gadis itu beberapa kali mengangguk pada sfaf yang dia kenal. Baru saja akan membuka handle pintu, tangan Messa ditarik menjauh dari sana.
"Wooiii, ini apaan sih?! Gue mau kerja!"
"Libur dulu!" balas suara itu seenaknya.
"Gak bisa gitu. Nanti gue dipecat."
"Gue beli ni rumah sakit."
Alah busyeett, tu orang ngomongnya enak banget. Messa menarik tangannya dari cekalan tangan Darrel, orang yang sudah menyeret dirinya sampai ke samping mobil sport pria itu. Messa berusaha menjelaskan soal pekerjaannya. Sementara Darrel terlihat tidak peduli. Pria itu benar-benar seenaknya sendiri.
"Gak ada hubungannya sama gue! Pergi main sana sama cewek-cewekmu itu."
"Tapi gue maunya main sama elu." Dugh, Darrel memejamkan mata saat Messa menendang kakinya. Gadis di depannya sungguh bar-bar.
"Bisa gak sih, gak main fisik. Gue seret ka kasur, habis lu!"
Messa mendelik mendengar ucapan frontral dari Darrel. Messa berbalik pergi meninggalkan Darrel yang mematung di tempatnya. Enggan meladeni tingkah konyol Darrel. Sedang Darrel langsung berkacak pinggang, kesal, baru kali ini ada cewek ngacangin dia.
Di tempat lain, kobaran api tampak melahap sel tahanan di mana Abraham di penjara. Semua orang menjadi panik. Alarm kebakaran sudah berbunyi dari tadi. Pihak keamanan penjara mulai mengevakuasi tahanan dan narapidana yang lain. Mereka dikumpulkan di satu gedung yang dinilai aman. Dengan penjagaan ekstra ketat.
__ADS_1
Setelahnya mereka mulai memadamkan api, dibantu petugas pemadam kebakaran dan para sipir penjara. Meski baru melahap tiga sel tahanan, tapi api rupanya sudah membumbung tinggi, sangat besar. Dua mobil damkar yang dikerahkan kewalahan dibuatnya.
Perlu waktu satu jam untuk menjinakkan api, dengan usaha ekstra keras. Setelah satu jam pemadaman api yang berlangsung dramatis. Api berhasil dipadamkan. Petugas damkar mulai melakukan penyisiran. Mencari tahanan yang mungkin jadi korban kebakaran. Pasalnya sipir penjara mengetahui kebakaran itu setelah api menjilat atap penjara yang lumayan tinggi.
Petugas damkar menyusuri tiap sudut sel tahanan, menggunakan baju tahan panas, membuat mereka leluasa bergerak. Di dua sel tahanan mereka tidak menemukan apa-apa. Namun di sel ketiga, petugas itu berteriak. Mereka menemukan dua jasad yang sudah hangus dan rusak terpanggang api. Luka bakar seratus persen, bahkan wajah saja sulit dikenali.
Setelah dibawa keluar dari puing-puing bekas kebakaran. Sipir penjara mulai mencocokkan data dengan tahanan yang dievakuasi. Hasilnya, dua nama tidak ada di daftar tahanan yang dipindahkan.
"Sepertinya proses kejahatan mereka batal disidangkan di dunia." Celetuk seorang sipir.
"Langsung sidang di akhirat kali ya." Sambut yang lain asal.
Felix menggeram kesal, begitu menerima laporan kebakaran yang menimpa penjara tempat Abrahan di tahan. Pria itu tidak yakin kalau kebakaran itu adalah murni kecelakaan. "Pasti ada unsur kesengajaan dan sabotase di sana." Felix juga tidak percaya kalau satu jasad yang ditemukan itu adalah Abraham.
Ya pihak penjara memberi penyataan kalau dua jasad yang ditemukan itu adalah Abraham dan Ilario del Munte, seorang tahanan dari Italia yang rencananya akan dideportasi ke negara asalnya minggu depan, karena penyalahgunaan izin tinggal dan kepemilikan narkobaa. Bukti kejahatan Ilario kurang kuat karena itu pemerintah akan mengembalikan pria itu ke negaranya biar diurus pihak sana.
"Ini pasti ada yang tidak beres." Insting Felix menyuruhnya waspada. Setelah beberapa waktu mengalami masa tenang, sepertinya masa sulit dan penuh kepanikan itu akan datang lagi. Dan satu orang yang begitu membuat Felix cemas. Alea, dia yakin Abraham akan langsung menargetkan gadis itu. Jika...dugaan Felix soal Abraham yang menipu pihak penjara itu benar.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.
***
__ADS_1