Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
All Clear


__ADS_3

Sementara itu, satu mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit. Tempat di mana Sera dan Alea pernah dirawat, dengan hasil Sera meninggal dan Alea selamat. Axa segera masuk ke dalam, di mana dokter Made sudah menunggunya. Hari ini Axa berencana mengambil data dan rekam medis milik Sera dan Alea yang berada di sana. Dokter Made, dokter yang menangani kecelakaan Sera waktu itu. Dokter yang juga teman Orion semasa di Milan, dokter itu juga yang melakukan transplantasi kornea hingga Alea bisa melihat lagi.


Dua hari belakangan ini, dokter Made memberitahu kalau ada seseorang yang berusaha masuk ke bagian database rumah sakit. Orang itu berusaha mencuri data soal Sera dan Alea. Hal itu membuat dokter Made curiga, hingga dia meminta Orion untuk mengambil rekam medis dua gadis itu. Agar lebih aman. Dokter Made selaku pemimpin rumah sakit, tentu mampu melakukan itu.


Hingga di sinilah Axa, berjalan menuju ruangan dokter Made. Hari menjelang malam ketika Axa sampai di tempat itu. Pria tinggi tersebut mengetuk pintu ruangan dokter Made. Tak ada jawaban. Axa seketika curiga, hingga perlahan masuk ke tempat yang tak biasanya gelap.


Ceklek....


Pintu dibuka, Axa melangkah masuk. Pria itu memanggil dokter Made, kembali tidak ada sahutan, hingga Axa menghidupkan lampu. Saat itulah dia melihat dokter Made yang tergeletak di lantai dengan luka di perut.


"Dokter...dokter Made...." Axa segera menekan tombol di bawah meja kerja dokter Made. Tombol yang terhubung ke pos securiti terdekat.


"Apa yang terjadi, Dok?" Axa mengangkat kepala dokter Made. Pria itu melihat luka di perut dokter Made, luka tembak. Dokter Made berusaha membuka mata. Dengan ucapan terputus-putus, pria itu berusaha memberitahu letak rekam medis fisik Sera dan Alea. Catatan digital medis kedua gadis itu sudah dikunci oleh Xuan hingga tak seorang pun bisa mencurinya. Tapi catatan fisik tersimpan di ruang arsip rumah sakit. Meski untuk rekam medis Sera dan Alea, semua kunci dipegang langsung oleh dokter Made.


"Gunakan kartu ini untuk masuk ke ruang arsip khusus di Restriction Area. Gunakan kode....Dokter Made membisikkan satu deret angka ke telinga Axa....untuk menemukan arsip mereka. Kau bisa mengeluarkan arsip mereka menggunakan kartu itu tanpa dideteksi oleh sistem."


Tubuh dokter Made langsung melemah setelah menuturkan instruksi yang lumayan panjang pada Axa. Axa dengan cepat memapah tubuh dokter itu keluar dari sana. Menunggu bantuan ternyata tidak kunjung datang, membuat Axa tidak sabar. "Bertahanlah dokter." Pinta Axa.


"Pergilah, sebelum dia bisa mengambil berkas mereka."


"Xuan akan menahan mereka." Axa berusaha menenangkan dokter Made. Di ujung lorong, Axa melihat dua petugas sekuriti yang langsung berlari begitu melihat Axa yang memapah dokter Made.


"Maaf, Dok. Kami diberi obat tidur." Seorang pria langsung membantu Axa, sementara yang lain mencari bantuan. Sebuah brankar beserta seorang dokter dan perawat datang setelah securiti memanggil mereka.


"Pergilah." Dokter Made berujar setelah ditidurkan di atas brankar. Axa mengangguk paham.


"Jaga dokter Made. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya." Dua sekuriti itu mengangguk paham pada perintah Axa.


Setelahnya Axa melesat menuju gedung arsip rumah sakit yang ada di sayap kanan rumah sakit. Axa yakin kalau orang yang dimaksud dokter Made sudah berada di gedung tersebut. Namun informasi dari Xuan mengatakan kalau arsip Sera dan Alea masih aman.

__ADS_1


"Akses diterima."


Pintu di hadapan Axa otomatis terbuka begitu akses dari kartu dokter Made disetujui. Pria itu masuk dengan perlahan. Sedikit berjingkat. "Di ruang sebelah." Xuan memberi Axa petunjuk. Setelah masalah tes DNA Alea teratasi untuk sementara waktu. Xuan langsung memantau kamera pengawas yang ada di gedung arsip untuk membantu Axa.


Axa mendongakkan kepala, mencari petunjuk arah ke Restriction Area. Dan kebetulan berada di ruang sebelah.


"Berapa orang?" Axa bertanya melalui ear piece-nya. Dua, Axa dapat sebagai jawaban.


"Harusnya kau mengirim lebih banyak kecoa untuk ku jadikan samsak hidup. Lumayan buat membakar kalori." Kata Axa setengah menggerutu. Dua orang kurang banyak untuk seorang Axa.


Satu pukulan Axa terima sebagai sambutan begitu pria itu melangkahkan kaki ke ruang sebelah. Axa sigap menghindar. Selanjutnya baku hantam pun terjadi. Axa yang memakai topi dan masker, berhadapan dengan seorang pria yang juga memakai penutup wajah.


Axa menendang, si pria sigap mengelak. Satu pukulan Axa dapat sebagai balasan. Axa menahan pukulan pria tersebut. "Kau berani mengusikku?" Lawan Axa meringis saat Axa meremat kepalan tangan lawannya. Semakin lama semakin sakit, seakan kekuatan Axa mampu meremukkan tulang di punggung tangan lawannya.


Buugghhhh


Aarrgghhh


Hingga bunyi "brakk" terdengar saat pria itu berhasil membanting tubuh Axa ke lantai. "Sial!" Axa mengumpat. Detik berikutnya pria itu melawan menggunakan tenaga penuh. Rupanya dia terlalu meremehkan kekuatan lawan.


Keduanya bertarung di antara rak arsip yang menjulang tinggi. Kali ini dua orang melawan Axa sekaligus. Keadaan semakin serius saat satu dari mereka menggunakan pisau dan seorang lagi mengeluarkan pistol.


"Wah, mau main keroyokan ya." Axa sigap menghindar saat serangan menggunakan pisau datang padanya. Axa merundukkan tubuhnya, saat satu peluru dilesatkan padanya. Insting Axa sangat tajam. Beberapa kali Axa berhasil menghindari tembakan, hingga akhirnya pria itu mulai jengah. Sudah cukup baginya berolahraga malam itu. Waktunya mengakhiri semua.


Axa berlari ke arah pria yang bersenjata pistol. Dooor, satu tembakkan dilepaskan ke arah Axa, pria itu melompat menghindar, dan sebuah tendangan dari Axa langsung melumpuhkan lawannya. Pria berpistol itu tidak berkutik lagi.


Axa membalikkan badannya. Bersiap menghadapi sebilah pisau yang terarah padanya. Suara baaghh, bugghhh terdengar saat Axa menghindari dan menahan pisau yang ingin melukai. Keduanya terlibat pergulatan yang cukup sengit, hingga Axa meringis kala celana jeansnya robek di bagian paha. Diiringi rembesan cairan berwarna merah. Lawan Axa berhasil melukai paha Axa.


Lawan Axa menyeringai puas, sementara Axa justru tersenyum mengejek. Luka itu hanya luka kecil untuk Axa. Detik berikutnya, Axa menyerang membabi buta ke arah pria itu. Tanpa jeda, Axa menghujani lawannya dengan tendangan dan pukulan. Serangan datang bertubi-tubi, hingga sang lawan tidak punya waktu untuk membalas, terlebih senjata pisaunya sejak tadi sudah tehempas jauh dari dirinya.

__ADS_1


Duuugghhhh


Satu tandukan dari kepala Axa menutup aksi pria itu malam tersebut. Lawan Axa roboh ke lantai. Tanpa bisa berdiri lagi. "Lemah!" Ujar Axa.


Pria itu masuk ke Restriction Area, di mana sebuah layar monitor seukuran laptop ada di depan ruang yang dindingnya full kaca. Axa melihat deretan rak arsip yang sudah terorganisasi dengan sistem digital dan komputerisasi.


"Selamat datang di Area Larangan. Tunjukkan ID Anda." Axa men-scan- kan kartu milik dokter Made.


"Selamat datang dokter Made Irawan. Silahkan masukkan kode arsip yang ingin anda lihat."


Sederet kode Axa ketikkan beserta keterangan "ambil" bukan "baca di tempat"


"Tunggu sebentar."


"Bereskan mereka untukku." Axa melenggang keluar dari gedung arsip rumah sakit dokter Made. Satu tangan pria itu membawa dua berkas berisi rekam medis fisik Sera dan Alea.


"All clear. Aku langsung pulang." Lapor Axa, diujung sana Orion tersenyum puas. Axa tidak pernah mengecewakan dirinya.


***



Kredit Instagram.com @ wei.xeng


Meets Axa


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2