Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Memburuk


__ADS_3

Alea menarik nafasnya dalam, gadis itu menatap tampilan dirinya di depan cermin besar di walk in closetnya. Alea bolak balik memutar tubuhnya, lagi-lagi rok span Sera menjadi masalah untuknya.


Padahal hari ini dia harus bertemu Xia Sun dan Xia Lin, untuk memberi bukti kalau mereka tidak meniru design Pearl Jewerly. Xuan berhasil mendapatkan bukti kalau design Pearl Jewerly memiliki perbedaan dengan design Vano.


"Lama sekali!"


Alea langsung menyembunyikan diri di balik tirai. Gadis itu hanya memakai bawahan hot pants ketat setelah tadi Alea melepas rok span Sera. Alea berpikir akan mencari bawahan yang agak panjang, agar paha mulusnya tidak ke mana-mana


"Ngapain kamu di situ?" tanya Orion galak. Pria itu kesal karena hampir sepuluh menit dia menunggu di ruang makan, tapi Alea belum juga turun.


"Ahh...itu....itu..." Alea bingung harus bagaimana. Dia tentu malu dengan keadaannya. Terlebih pria itu sekarang suka main sosor padanya.


"Itu apa? Cepatlah! Nanti kita terlambat!" Orion bertambah jengkel saja.


Alea perlahan menjelaskan alasan, kenapa dia belum turun juga. Pada akhirnya Orion berkeliling mencarikan pakaian yang agak panjang untuk Alea.


"Bukannya kalian, para perempuan suka memamerkan aset kalian?" tanya Orion setelah menyerahkan sebuah dress yang menurut Orion cukup panjang dan modelnya bisa digunakan ke kantor.


"Tidak semua suka melakukan itu!" balas Alea ketus. Ahhh, sial! Tangan Alea tidak sampai meraih resleting di belakang gaun simple itu. Alea mengumpat marah, sementara di luar walk in closet, Orion semakin menjadi amarahnya.


"Alea jangan menguji kesabaranku!" Orion mulai kehabisan kesabaran. Pria itu menunggu di depan pintu walk in closet. Kan..kan...si gunung berapi sudah meletus. Sebentar lagi lavanya akan segera menyembur.


"Alea!!!"


"Tanganku tidak sampai meraih resletingnya!" teriak Alea tak kalah keras. Orion seketika tertegun mendengar ucapan Alea. Gadis itu hanya menunjukkan kepalanya, sementara tubuhnya berada di dalam walk in closet.


Orion berdecak kesal, lantas mendekat ke arah Alea. "Mau ngapain?" Alea bertanya galak.


"Mau ngapain? Bantuin kamulah!" Ucap Orion tidak sabaran, menarik tubuh Alea lantas membalikkan tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Hei...hei....kau mau ngapain?"


Orion menelan salivanya susah payah. Melihat punggung mulus Alea terpampang di depan matanya. Bahkan tali penutup dada berwarna hitam itu begitu menggoda untuk dibuka. Namun gerakan Alea yang ingin memutar tubuhnya, membuat Orion sadar. Pria itu menahan tubuh Alea, lantas menarik resleting itu naik, hingga punggung Alea tertutup.


"Ganti lipstickmu!" Pinta Orion judes. Alea melongo, gadis itu buru-buru melihat ke arah cermin. Alea memakai warna lipstick maroon, yang tentu saja sangat menggoda Orion.


"Kenapa?" tanya Alea gusar. Orion mengatakan mereka telah terlambat tapi pria itu malah minta aneh-aneh.


"Nggak matching sama bajunya!" Orion memberi alasan. Padahal Orion hanya tidak mau tampilan Alea menarik perhatian pria lain. Buset, mode posesif on. Padahal Orion dan Alea tidak memiliki hubungan selain pekerjaan.


"Alah!" Alea melenggang keluar dari sana. Namun lagi-lagi, Orion mencekal tangan Alea. Menarik gadis itu untuk duduk di sofa. Menyerahkan selembar tisu untuk menghapus lipstick menyala yang menempel di bibir Alea.


"Hapus!" Alea melotot melihat ulah Orion. Setelah itu Orion berjalan menuju meja rias Alea. Memilah lipstick yang lembut warnanya. "Pakai ini." Orion menyerahkan pewarna bibir berwarna nude. Alea awalnya menolak, tapi Orion dengan cepat berjongkok, meraih dagu Alea lantas memoleskan benda itu ke bibir Alea. Mata Alea tak lepas dari wajah Orion. Tampan, tidak ada kata lain yang mampu menggambarkan seorang Orion pagi itu.


"Ayo." Orion melempar lipstick itu ke sembarang tempat, lantas membawa gadis itu keluar kamar.


"Kek, Alea sarapan di kantor." Alea berteriak karena Orion tidak mengizinkan gadis itu mengambil sarapan pagi.


An menyambut mobil Alea di depan lobi. Axa dan Xuan membukakan pintu untuk Orion dan Alea. "Kau bisa sarapan dulu." Orion berkata lirih. Alea mengangguk paham. Namun baru saja mereka masuk ke lobi, satu mobil tiba di depan lobi.


Keempatnya saling pandang. Gagal sudah acara sarapan Alea. Karena Xia Sun dan Xia Lin sudah berjalan masuk ke lobi Star Jewelry. Dan di sinilah mereka. Berada di ruang meeting dengan Alea sesekali menahan perih di perutnya. Meski begitu, gadis itu masih mampu meladeni adu debat dengan Xia Sun dan Xia Lin.


Dua kakak beradik itu bersikeras mengklaim kalau design itu adalah milik Pearl Jewerly. Sampai akhirnya satu bukti Xuan berikan. Xia Sun kalah telak saat Xuan menunjukkan draf rancangan asli milik Vano, meski design Vano dikeluarkan akhir-akhir ini. Namun dalam draft itu Vano jelas menuliskan tanggal pembuatannya, setahun yang lalu.


Ditambah lagi Alea mampu menunjukkan perbedaan design antara Pearl Jewerly dengan milik Vano. Setelah Xia Sun tidak lagi menyangkal, giliran Orion yang bicara. Menawarkan solusi untuk permasalahan ini.


"Kami akan meluncurkan design terbaru kami. Jadi kalian bisa menggunakan rancangan itu." Meski sebuah solusi tapi sesungguhnya cara Orion bertujuan menjatuhkan Pearl Jewerly. Xia Sun bisa menggunakan model itu, namun Star Jewerly akan selangkah lebih maju, karena design terbaru mereka dipastikan akan menguasai pasaran.


"Sial! Mereka malah menjatuhkanku?!" maki Xia Sun dalam hati. Pria itu tidak bisa berbuat banyak, karena berpikir kalau Alea tidak bisa menemukan solusi dan akan menyerah kalah. Xia Sun tidak menyiapkan rencana cadangan. Kini yang terjadi sebaliknya. Xia Sun menanggung malu, padahal dia sudah menghubungi beberapa wartawan untuk menyebarkan rumor ini.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" Xia Lin berbisik saat kedua kakak adik itu keluar dari gedung Star Jewelry. "Kita akan membiarkan mereka menang saat ini. Tapi tidak lain kali." Xia Sun menjawab lirih. Ya, kali ini dia akan mengalah, toh festival itu tinggal seminggu lagi. Tidak mungkin Star Jewerly akan bisa mencetak semua set perhiasan yang akan dipamerkan dalam festival tersebut.


"Kita lihat saja, bagaimana mereka akan mengatasi ini." Kata Xia Sun pada Xia Lin. Keduanya tertawa puas membayangkan keributan yang akan terjadi di Star Jewerly.


Sementara itu, begitu Xia Sun mengakui kekalahannya. Tim produksi segera bergerak di bawah arahan Vano. Memproduksi set perhiasan yang design-nya sudah disetujui oleh Alea dan Orion. Bagian produksi akan bekerja lembur sampai set perhiasan itu siap sebelum festival itu dimulai.


"Orion ada masalah." Xuan bergegas berlari ke arah Orion.


"Ada apa?" Alea yang menjawab.


"Alat pencetak motif Black Rose-nya masih belum diambil. Padahal Vano bilang akan menggunakannya malam ini." Axa turut bicara.


Pencetak Black Rose memang baru Vano pesan dua hari lalu. Dan benda itu tidak bisa dikerjakan cepat. Dua hari adalah waktu tercepat yang pernah digunakan untuk membuat alat pencetak perhiasan.


Mereka kembali saling pandang. Orion harus mengambil set perhiasan yang terlanjur masuk ke panitia festival. Dan batasnya hari ini.


"Kalian pergilah, aku akan menghandle kantor dengan Atika." Alea memberi keputusan.


"An akan tinggal untuk menjagamu." Orion menambahkan.


Seketika semua berlari ke pos masing-masing. Orion pergi dengan seorang pengawalnya, mengambil sample perhiasan. Xuan dan Axa akan mengambil cetakan.


Suasana bertambah kacau, saat Alea jatuh berlutut sambil memegangi perut. An dan Atika tentu panik. Saat semua sibuk, kesehatan Alea justru memburuk.


***


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2