
Alea turun dari mobil setelah Orion lebih dulu turun. Awalnya Orion menolak ide Alea untuk ikut meninjau aset yang akan digunakan untuk dijaminkan pada bank. Sebab tempatnya lumayan jauh, juga berdebu. Pria itu pikir kalau Alea jenis gadis manja yang akan menghindari tempat panas dan kotor. Namun dugaan Orion salah. Gadis itu tampak santai, bahkan terkesan pergi ke tempat itu adalah hal menyenangkan.
Alea sibuk berkeliling dan melihat-lihat. Sementara Orion berkonsultasi dengan pakar properti. Orang yang bisa memperkirakan harga suatu aset di masa depan.
Orion manggut-manggut paham dengan penjelasan si pria. Orang itu setuju untuk membuatka surat rekomendasi mengenai keadaan tanah itu juga mengenai kemungkinan kalau tanah itu akan mengalami kenaikan harga dalam 1 tahun mendatang.
Axa yang sejak mengikuti Alea kini duduk santai di sebuah batu besar. Mata elangnya mengawasi tiap gerak Alea. Gadis itu berkeliling sambil melihat-lihat tanah itu.
"Xa, kok mereka beli tanah di sini ya?" gumam Alea iseng. Hening, tidak ada yang menyahut. Alea hanya bisa menarik nafasnya pelan. Gadis itu sudah mendengar dari Xuan dan An, kalau Axa ini tipe bodyguard banget. Kaku dan irit omong sekali.
"Ya, gini deh kalau ngomong sama tembok. Gak bakal dijawab." Gerutu Alea, gadis itu terus berjalan menyusuri tanah lapang, yang ditumbuhi semak belukar. Sangat rimbun. Tidak tahu kenapa Alea jadi semakin antusias menjelajah. Menurut gadis itu, ada yang menarik di tempat itu. Entah apa. Kian jauh melangkah, keadaan bertambah sepi. Meski tempat itu hanya ditumbuhi semak, tidak banyak pohon besar yang ada di sana. Namun kesan seram itu tetap ada.
Alea kembali melangkah, ketika satu tangan menarik dirinya jatuh ke tanah berdebu. "Apaan sih?!" Alea langsung protes, tapi orang yang menarik tubuh Alea hanya diam sambil memicingkan mata, mencari sesuatu.
"Ada apa?!" geram Alea berusaha mendorong tubuh Orion yang kini tengah memeluknya.
"Tiga orang mendekat."
Orion segera menarik pistol yang ada di pinggangnya dan sebuah tembakan dilesatkan oleh Orion ke satu titik. Satu teriakan seketika terdengar. Menyusul dua lagi, setelah Orion kembali menembak.
Alea langsung membekap mulutnya sendiri. Tidak percaya jika Orion baru saja menembak orang. "Clear!" Orion berucap melalui ear piece-nya.
Pria itu menarik tangan Alea, menjauh dari tempat itu. Sementara wajah Alea sudah berubah pucat. Gadis itu tidak menyangka kalau dia baru saja melihat Orion menembak.
"Empat orang di tempat Axa." Orion segera berlari ke tempat Axa, di dekat mobil mereka. "Masuklah." Orion membuka pintu mobil. Meminta Alea masuk ke dalam mobil. Tidak ingin membuat banyak masalah. Gadis itu menurut. Tak berapa lama, terdengar suara orang berkelahi. Dan benar saja. Alea melihat Axa yang tengah berkelahi, melawan empat orang sekaligus. Alea ngeri ketika melihat beberapa kali Axa terkena pukulan dan tendangan. Meski begitu, Axa malah tersenyum. Tidak ada raut ketakutan seperti yang Alea rasakan.
Pria itu tampak bersemangat menghajar empat orang yang seolah tidak ada habis tenaganya saat melawan Axa.
"Kau tidak membantunya?" Alea bertanya dengan cemas. Sementara Orion tampak santai memainkan laptopnya. Alea kesal karena Orion tidak menjawab pertanyaannya.
"Kau mendapatkannya?" terdengar suara Orion bertanya. Dan satu jawaban langsung diterima Orion.
"Bunuh dia!" satu perintah meluncur dari bibir Orion. Di sebelahnya, Alea langsung menatap tajam pada Orion.
__ADS_1
"Jangan melihatku seperti itu. Itu pantas untuknya, berani mengumpankanmu pada mereka." Balas Orion yang kini menatap tajam pada Alea. Gadis itu balas memandang Orion.
"Kau harus membiasakan diri mulai sekarang. Keadaan seperti ini skan sering terjadi." Alea memundurkan tubuhnya saat Orion menghimpit dirinya.
"Orion....," Alea mendorong jauh tubuh pria yang akhir-akhir ini Alea rasakan tingkahnya semakin aneh. Bersamaan dengan itu, Axa masuk dengan wajah lebam di beberapa tempat. Alea dan Orion kompak menatap pria itu.
"Kau tidak apa-apa?" Alea bertanya cemas. Melihat wajah khawatir Alea, Orion mendengus kesal. Axa jadi salah tingkah melihat wajah kesal Orion.
"Aduh, Alea kau membuat singa gunung meradang." Batin Axa sambil menggelengkan kepalanya. Tak lama mobil itu melaju meninggalkan tempat itu.
"An sudah membereskan si bedebah gila itu." Lapor Axa, bukan jawaban yang Axa terima tapi satu lirikan tajam dari Orion. Axa seketika menarik nafas, menyadari kalau Orion marah padanya.
"Ampun deh kalau mulai mode cemburu-cemburuan begini." Batin Axa lagi, berpikir kalau pekerjaan mereka akan jadi lebih sulit. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. Meninggalkan tempat itu. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari Alea.
Di sisi lain, seorang gadis berambut pendek sebahu, tampak berjalan tergesa-gesa. Dengan beberapa map berada dalam pelukannya. "Antarkan design ini pada tuan Aciel."
Satu perintah dari mentornya membuat Nika berjalan terburu-buru. Pasalnya ini design terbaru dari anak magang yang akan diseleksi oleh Vano. Bagi design yang terpilih akan mendapat peluang naik ke tim designer utama yang bekerja di bawah arahan Vano langsung.
Bruukkk....
"Maaf, tuan. Tidak sengaja." Lagi gadis itu berucap. Xuan menarik dua sudut bibirnya. Nika sedikit berbeda dengan Alea. Ya, gadis yang menabrak Xuan adalah Nika. Teman baik Alea.
"Tidak masalah." Nika langsung mendongak melihat pemilik suara yang sepertinya tidak asing untuknya.
"Xuan....." seru Nika girang.
"Dasar ceroboh. Mau ke mana? Ku antar."
Tawar Xuan. Mereka sudah bertemu sebelumnya. Sesuai perintah Orion, Xuan berusaha mendekati Nika untuk mengawal gadis itu. Jangan sampai bertemu Alea.
"Mau ke tempat tuan Aciel." Sahut Nika.
"Vano?"
__ADS_1
"Bukan...tuan Aciel. Kepala tim design kita."
"Iya, namanya Devano Nayaka Aciel." Nika membulatkan bibirnya. Keduanya berjalan menuju ruangan Vano. Xuan sendiri ada urusan dengan Vano soal designnya yang dianggap sama dengan milik Pearl Jewelry.
Nika langsung undur diri begitu selesai dengan urusannya. Sedang Xuan masih berada di sana. Dua pria itu sesaat saling pandang, sebelum mulai membicarakan urusan design tersebut. Vano jelas menyangkal kalau dia meniru rancangan Pearl Jewerly. Karena itu Xuan ingin meminta draft asli rancangan Vano yang diikutkan dalam festival itu.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau Xuan pergi dari sana, tentu sesudah melapor pada Orion.
Di lantai bawah. Mobil Axa berhenti setelah Alea dan Orion kembali berdebat. Axa keluar dari mobil dengan wajah ditekuk sepuluh. Sudah wajah babak belur, sepanjang perjalanan kupingnya panas mendengar perdebatan Alea dan Orion.
"Kenapa mereka dan kenapa mukamu?"
Axa berdecak pelan. Enggan menjawab pertanyaan Xuan. Di belakang mereka pasangan, entah apa sebutan yang pas untuk Alea dan Orion, sibuk adu argumen soal tanah itu. Ternyata setelah di ajukan ke agen properti lainnya. Tanah itu dalam satu ke depan, harganya bisa naik 3 kali lipat. Itu lebih dari cukup untuk membayar pinjaman mereka pada bank.
"Itu terlalu tinggi untuk mereka."
"Bagus bukan?" Orion menyahut enteng.
"Rugi dong kita." Sanggah Alea.
Xuan dan Axa akhirnya hanya bisa saling pandang, mendengar dua orang itu ribut sendiri. Tiba di depan lift, Alea dan Orion masih berdebat. Sampai satu suara membuat tubuh Alea membeku.
"Kamu Alea bukan ya?"
Keempat orang itu terdiam, sementara Alea langsung panik. Dia takut kalau kedoknya terbongkar.
***
Up lagi readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
Anyway Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menikmati liburan...
__ADS_1
***