
Jantung Alea masih berdebar kencang. Mengingat pertemuannya dengan Nika, membuat Alea benar-benar cemas. Nika adalah orang yang paling mengenalnya luar dalam. Wajar jika gadis itu bisa mengenali Alea dengan sekali lirik.
"Untung saja aku masih bisa ngeles."
Alea berucap sambil menghembuskan nafasnya kasar. Bukannya lega, perasaannya justru semakin tidak karuan. Perasaan takut akan kedoknya yang bisa saja terbongkar kian besar.
Gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya kembali mengingat wajah shock Nika saat dia menolak mengakui kalau dirinya adalah Alea. Satu keberanian Nika temukan untuk menyangkal tuduhan sang teman. Meski begitu, kecemasan itu kembali menyeruak di dada Alea saat tahu kalau Nika bekerja di Star Jewelry.
Dia pikir kenapa dunia sempit sekali. Alea tahu kalau bekerja di SJ adalah impian Nika. Sedang dirinya bermimpi melanglang buana ke Milan. Kota yang menjadi salah satu kiblat fashion dunia. Bukan karena dia ingin menjadi designer tapi karena dia ingin menikmati damainya kota Milan saat gadis itu melukis. Vibes- nya berbeda dengan kota lain yang ada di dunia.
"Aku tidak mungkin memecatnya hanya karena alasan ini kan?" Alea kembali bergumam lirih. Hari ini dia bisa menghindari Nika. Tapi tidak tahu lain waktu apa bisa dia melakukan ini. Bagaimanapun dia juga merindukan Nika. Satu-satunya teman dan tetangga yang dia punya.
"Bagaimana kabar mereka ya?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terucap dari bibir Alea. Saat teringat ayah ibunya. Gadis itu merasa rindu dengan kedua orang tuanya. Meski mereka kekurangan tapi keduanya selalu berusaha untuk memenuhi permintaannya. Alea bisa merasakan kasih sayang dua orang tuanya.
Alea menarik nafasnya dalam, melajukan mobilnya ke suatu tempat. Tak berapa lama, mobil Alea sudah berada di depan toko yang cukup ramai. Ada rasa haru sekaligus rindu terselip di hati Alea, melihat sang ibu sibuk melayani beberapa orang yang belanja di toko kecil mereka. Tempat yang strategis membuat toko ibu Alea menjadi tujuan banyak warga untuk membeli kebutuhan hidup mereka. Senyum ramah tak lepas dari bibir ibu Alea saat melayani pembeli.
Tak berapa lama, seorang pria paruh baya datang dengan pakaian kumalnya. Ayah Alea yang bekerja sebagai kuli bangunan tampak lelah. Gurat keletihan nampak nyata di wajah yang mulai terlihat renta itu. Seketika air mata Alea mengalir. Teringat betapa buruk sikapnya pada dua orang tuanya.
Setelah melihat dan merasakan langsung, bagaimana kehidupan orang kaya, Alea menyadari kalau kehidupan sebelumnya sudah baik. Tidak ada raut wajah penuh curiga dan kepalsuan saat dia berada di rumah. Semua sangat menyayangi dirinya.
"Maafkan Alea pak, bu. Setelah ini selesai. Alea berjanji akan menjadi anak baik untuk kalian." Janji gadis itu pada dirinya sendiri. Perlahan mobil Alea bergerak meninggalkan tempat itu. Berulangkali kali Alea menyeka air mata yang mengalir di pipi. Dia teringat akan kasih sayang yang orang tuanya limpahkan kepadanya, tapi dia tidak mensyukurinya.
Ketulusan ayah dan ibu Alea jelas berbeda dengan saat dikeluarga Athaya, di mana hanya ada aset keluarga yang mereka bahas saat bertemu.
Saat Alea masih merasa melow karena melihat orang tuanya. Tiba-tiba saja ekor mata Alea menangkap pergerakan sebuah mobil yang mengikutinya. Sontak gadis itu menghubungi Xuan yang saat ini tengah berada di markas mereka.
__ADS_1
Hari ini, Alea memang pulang sendirian. Karena para bodyguard-nya sedang sibuk dengan urusan lain. Xuan meng-korfirmasi, kalau mobil itu memang mengikuti Alea. Satu mobil pengawal Xuan kirim untuk melindungi Alea. Bersamaan dengan Xuan yang juga menghubungi Orion. Di mana pria itu kini tengah berhadapan dengan Vano.
Vano tetap menaruh curiga soal siapa Alea. Dan kini, setelah bertemu Orion, Vano kembali dikejutkan dengan kenyataan lain. Kalau Orion mungkin adalah orang yang Vano kenal di masa lalu.
"Kau adalah....." satu nama terucap tanpa sadar dari bibir Vano. Sementara Orion hanya tersenyum simpul, dengan jemarinya yang mengusap pergelangan tangannya. Di mana sebuah gelang berada di sana. Tak banyak yang tahu kalau Orion memakai gelang di tangannya. Gelang yang bisa saja membuka identitas sebenar Orion. Benda yang juga Orion gunakan untuk menutupi bekas luka di tangannya.
"Kau ingin tahu siapa aku?" tantang Orion. Pria itu menatap tajam pada Vano. Sementara pria yang ada di hadapan Vano tampak shock. "Jika Orion adalah dia. Kenapa dia berbohong soal identitasnya." Batin Vano curiga.
"Apa alasanmu melakukan ini?" desak Vano. Pria itu akan senang sekali jika Orion adalah teman di masa lalunya.
"Tidak ada alasan." Orion memutar gelang di tangannya. Hingga sebuah luka cukup besar terlihat di sana.
Namun baru saja akan menjawab ucapan Orion, ponsel pria itu berbunyi. Satu pesan langsung membuat Orion berubah raut wajahnya. Antara cemas sekaligus takut. Vano mengerutkan dahi saat Orion pamit dengan tergesa-gesa.
Alea menyeringai puas setelah menendang kuat seorang pria yang coba mencekalnya. Beberapa kali menjalani sesi latihan bersama Orion, membuat kemampuan bela diri Alea meningkat pesat. Fisik dan stamina Alea bertambah baik. Orion mulai memasukkan kraf maga dalam menu latihan Alea.
Gadis itu butuh teknih serangan mematikan selain pertahanan dan feedback serangan yang baik. Duel tidak seimbang itu membuat Xuan sedikit khawatir. Pasalnya jarak yang ditempuh Orion untuk sampai ke tempat Alea cukup jauh.
Buuugghhh
Dughhh
Bunyi tendangan dan pukulan yang beradu membuat pertarungan semakin seru. Meski beberapa kali Alea terhuyung karena terkena serangan dari lawan. Namun gadis itu mampu kembali berdiri tegak dan melawan lagi.
"Menyerah saja Nona, dan ikut bersama kami." Kata seorang pria berwajah seram. Sepertinya orang itu pemimpin dari gerombolan tersebut.
__ADS_1
"Ikut denganmu? Tidak mau!" Alea menjawab judes. Si pria geram karena sejak tadi mereka tidak berhasil menangkap Alea. Gadis itu kini berubah menjadi gadis yang begitu tangguh untuk ditakhlukkan.
Beberapa pria itu berhasil Alea lumpuhkan. Pukulan dan tendangan Alea mampu membuat mereka babak belur hingga terkapar tidak berdaya di tanah.
Buuugghhh
Aarrgghhhhh
Satu pria terakhir tersungkur di tanah setelah Alea menendang perut pria itu. "Dengar! Katakan pada tuan kalian, jangan coba-coba mencari masalah denganku!"
Kata Alea sembari mengusakkan heels tujuh sentinya ke dada pemimpin gerombolan itu. Si pria hanya bisa meringis menahan perih dan sakit di dadanya.
"Ampun Nona!" teriak pria itu memohon. Rasa sakitnya tidak tertahan. Alea tersenyum puas melihat pria itu kesakitan.
Dari kejauhan Orion tampak tersenyum samar. Tidak percaya jika Alea bisa mengalahkan enam berandalan yang sempat membuat Orion cemas.
"Kau hebat sekarang, Lea." Batin Orion, pria itu hanya mengamati Alea dari kejauhan. Sementara anak buah yang dikirim Xuan membantu mengamankan dan meringkus bawahan pria itu.
****
Up lagi ya readers.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1