Bukan Gadis Pengganti

Bukan Gadis Pengganti
Drama


__ADS_3

Langit mulai menunjukkan rona kemerahan, tanda fajar hampir menyingsing. Saat itulah mobil Orion masuk ke parkiran hotel di mana Alea berada. Pria itu langsung naik ke lantai di mana Alea disekap, dengan bimbingan dari Xuan.


Tanpa Orion tahu, tak lama setelah dirinya datang, Axa, An dan Felix sampai di tempat itu. Bahkan Darrel dan Vano pun ikut dalam mobil Felix. "Di mana dia?" tanya Axa melalui ear piece-nya. Kelima orang itu langsung naik menyusul Orion.


Sementara itu, Orion mulai menyusuri koridor di mana kamar Alea di sekap. Satu persatu dia melihat nomor pintu kamar, sampai Orion menemukan tempat yang dia cari. Tanpa basa basi, Orion menendang benda persegi itu. Braaakkkkk, pada percobaan ketiga, pintu itu terbuka, nyaris lepas dari engselnya.


Orion menerobos masuk, dia tidak menemukan Alea di kamar itu, bahkan setelah menyisir tempat tersebut. Namun Orion melihat satu buah sepatu yang tertinggal di sana. Setelah Orion amati, itu sepatu Alea. Sebab sepatu sebelah itu pemberian Felix, dia tahu itu.


"Alea.....!!" Orion keluar lagi. Saat itu dia melihat pintu lift yang hampit tertutup, pria itu sempat melihat siapa orang yang ada di dalamnya. Abraham, sembari tersenyum mengejek. Orion berlari ke lift, tapi lift itu sudah tertutup dan meluncur turun.


"Mereka turun ke basement." Orion memberi info pada yang lain. Setelah Xuan memberitahu kalau Felix dan teman-temannya menyusul. Di tempat lain, lima pria itu langsung menyebar, mencoba mencegat Abraham.


Tinnggg, Orion tiba di lantai dasar hotel. Di mana basement parkiran hotel itu berada. Tempat itu ternyata lumayan luas. Orion menoleh ke kiri, ke kanan. Mencari ke sana ke sini. Panik, jika dia sampai kehilangan Alea di tempat ini, akan susah untuk melacaknya.


"Dia masih di sana." Xuan memberitahu. Satu tangan Xuan terus mencari Alea. Yang lain memantau Ilario yang menjadi target pengejaran anak buah Vincent, Sebastian Vincent Arturo, atasan Orion, mantan atasan. Aksi kebut-kebutan tengah terjadi di jalanan menuju area pelabuhan, di mana sebuah yacht mewah sudah menunggu Ilario.


"Jangan harap kau lolos kali ini!" Xuan terus terhubung dengan Miguel, orang yang bertanggungjawab untuk menangkap Ilario. "Apa yang akan kalian lakukan setelah menangkapnya?" tanya Xuan pada Miguel, pria bertato dengan aksen Italia yang sangat kental di wajahnya.


"Memberikannya pada peliharaan tuan Vin."


"Kenyang dong mereka."


"You know, piranha sangat suka daging."


"Tuanmu psycho, Miguel!" Terdengar ledakan tawa dari ujung sana. Miguel sangat suka menggoda Xuan. Bidang pekerjaan mereka bertolak belakang. Xuan adalah orang yang bergerak di balik layar, bersih itulah kesan yang ditangkap saat bertemu Xuan.

__ADS_1


Sementara Miguel, ujung tombak anak buah Vincent, pria itu sering pulang dengan wajah babak belur dan luka di mana-mana. Tak jarang dia harus masuk ke klinik yang ada di markas milik klan mafia Black Chimaera, karena luka tembak atau luka serius lainnya.


Kembali pada Orion, tampak lima orang berlari ke arah Orion. Mereka semua menggeleng, tidak menemukan Alea. Sampai Orion tetap meminta mereka untuk mencari. Alea tidak boleh keluar dari area ini. Lima orang itu mengangguk paham, lalu kembali menyebar. Mencoba menelusuri tempat itu sekali lagi. Mencari keberadaan Alea.


Pun dengan Orion, pria itu berjalan menuju sisi timur basement, di mana pintu keluar masuk basement berada. Juga jalur masuk mobil yang mengantarkan stock bahan makanan ke dapur hotel. Saat itulah tiga mobil bergerak bersamaan menuju pintu keluar, yang jaraknya lumayan jauh.


Awalnya Orion tidak terlalu peduli, dua mobil yang melewati Orion tidak menarik perhatian pria itu sama sekali. Namun mobil ketiga yang keluar dari area private basement, membuat Orion berlari kencang mengejarnya.


"Alea ada di dalam mobil itu." Info dari Xuan tersebar. Lima orang yang lain kembali mendekat ke sisi timur.


"Berhenti!!" Ingin rasanya Orion mengumpat, tapi kemudian dia teringat itu ayahnya sendiri. Orion berlari menyusul mobil yang dikemudikan dengan cepat itu. "Tutup gate-nya!" Pinta Orion pada Xuan.


"Tidak bisa. Mobil box itu mau masuk. Dia sudah ada di gerbang!" teriak Xuan kesal. Melihat mobil box yang sudah berhenti di pos pemeriksaan.


Orion berlari sekuat yang dia bisa, beruntung mobil Abraham melambat saat akan keluar gerbang. Gerbang itu hanya cukup untuk dua mobil saat berpapasan. Mau tak mau, Abraham harus bersabar. Sementara jarak Orion dan Abraham semakin dekat. Abraham menyeringai, mobilnya sudah melewati gerbang, Orion tidak mungkin menyusulnya.


Namun siapa sangka jika Orion dengan lincah melompat tinggi, menggunakan dinding mobil box sebagai pijakannya, hingga pria itu bisa melompati mobil Abraham dan berakhir mencegat mobil pria itu.


Abraham menekan rem-nya begitu dalam. Melihat Orion yang berdiri di hadapannya dengan pistol berada di tangannya. Perlahan Orion mendekat, kewaspadaan pria itu terbagi dua. Dia bisa melihat Alea di kursi belakang.


"Al!! Alea bangun!" teriak Orion. Sementara Mario dan anak buahnya langsung ikut mengepung mobil Abraham.


Terlihat pergerakan pelan dari Abraham. "Kau menyakitinya! Aku tidak akan segan melukaimu! Keluar dari sana!" Perintah Orion. Perih hati Orion saat dia harus menodongkan pistol pada ayahnya sendiri. Namun dia tidak punya pilihan. Dia tidak mau orang lain, terlebih itu Alea terluka karena ulah ayahnya.


Tangan Abraham bergerak meraih pistol yang tersembungi di samping tempat dia duduk. Hampir dia mendapatkan pistol itu, jika saja Alea tidak bangun dan merebutnya.

__ADS_1


Abraham langsung mengangkat tangannya, begitu mendapat ancaman pistol di kepalanya. "Buka pintunya!" pinta Alea galak.


Orion dan Mario tetap waspada, melihat Alea yang perlahan keluar dari mobil Abraham. Pelukan Orion langsung menyambut Alea saat gadis itu keluar dari mobil Abraham. Sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Alea. Pria itu merasakan kelegaan luar biasa. Melihat Alea baik-baik saja.


Satu tembakan terdengar, mengalihkan perhatian semua orang. Seorang petugas security ambruk bersimbah darah. Abraham yang menembakknya.


"Kalian semua bedebaahh!" Marah Abraham. Orion langsung membawa Alea bersembunyi di balik tubuhnya. Dengan Mario berdiri di hadapan keduanya. Dari kejauhan tampak Axa, An, Darrel, Vano dan Felix berlarian ke arah tempat itu. Mereka rupanya baru saja selesai duel dengan anak buah Abraham yang ada di basement itu.


"Kau yang memulainya!" Bentak Mario.


"Kalian yang mulai!" Abraham mengacungkan pistolnya ke arah Mario. Orion dengan cepat menarik Mario ke samping.


"Kalian semua akan mati hari ini." Pelatuk Abrahan sudah tertarik, saat Orion berteriak, "Bunuh saja aku sekalian, supaya kau puas sudah membunuh anakmu sendiri!"


Doooorrrr


Dua tembakan terdengar bersamaan, dengan suara Alea menjerit keras di tempat itu.


"Anakmu...." Lirih Abraham menirukan ucapan Orion. Bisa dia lihat tangis Orion sebelum Abraham ambruk ke lantai. Mengakhiri drama hari itu.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2